Suatu hari, tampak seorang pemuda mendatangi guru bijak. Penampilannya lusuh. Bajunya compang-camping, sepatunya sobek, dan tubuhnya penuh luka.
Dia berkata, “Guru, saya datang dari jauh dan telah menempuh perjalanan yang berat. Saya menderita, kesepian dan sangat letih. Ini semua saya lakukan demi mencari jawaban atas penderitaan saya. Kenapa saya belum menemukan cahaya petunjuk sedikit pun?”
Orang tua bijak itu melihat si pemuda datang kepadanya membawa sebuah buntelan besar. “Apa isi buntelanmu itu?”
Jawab si pemuda, “Isinya sangat penting bagi saya. Di dalamnya ada barang-barang yang mengingatkan saya pada setiap tangisan, ratapan, dan air mata saya. Benda-benda ini menjadi penyemangat saya dalam menempuh perjalanan berat mencari jawaban.”
Ibarat sebuah lilin, kegigihan “menyinari” diri untuk terus bertahan di tengah ancaman “kegelapan”. Jika terus dipelihara dan dimaksimalkan, banyak solusi akan bermunculan.
Dalam dunia olahraga, kita sering kali menyaksikan ketidakmungkinan yang menjadi kenyataan. Kita pun kerap dikejutkan dengan orang atau peristiwa yang berhasil mengubah kemustahilan jadi kenyataan. Dari turnamen bulutangkis, kita sering melihat seorang yang nyaris kalah, malah membalikkan keadaan dan berhasil menang. Di tenis, di ajang balapan, hingga berbagai arena olahraga lainnya. Inilah kompetisi di mana orang-orang yang pantang menyerah dan terus gigih berjuang, akan mendapatkan hasil yang gemilang.
Pada kondisi tersebut, yang dinamakan sebagai “titik darah penghabisan” benar-benar menjadi “nyata”. Kalau perlu, saat napas tinggal satu tarikan lagi, orang dengan kegigihan yang luar biasa bisa mengubah banyak hal. Mereka yang berjuang habis-habisan, akan mendapat hasil yang luar biasa gemilang.
Seorang pria yang tidak lulus ujian masuk universitas, dinikahkan orang tuanya. Untuk mendapat penghasilan, ia pun melamar menjadi guru sekolah dasar dan mulai mengajar.
Karena tidak punya pengetahuan mengajar, belum sampai satu minggu mengajar ia sudah dikeluarkan.
Setibanya di rumah, sang istri menghapuskan air matanya, menghiburnya dengan berkata: “Banyak ilmu dalam otak, ada orang yang bisa menuangkannya, ada pula yang tidak bisa. Tidak perlu bersedih karena hal ini. Mungkin ada pekerjaan lain yang lebih cocok sedang menantimu.”
Kemudian ia melamar dan melakukan pekerjaan lain, namun sayangnya ia dipecat juga karena geraknya lambat.
Saat itu sang istri berkata: “Kegesitan kaki dan tangan setiap orang berbeda, orang lain sudah bekerja beberapa tahun lamanya, kamu hanya belajar di sekolah, bagaimana bisa cepat?”
Pada tulisan kali ini, ada sebuah ungkapan tentang kesempatan yang ingin saya bahas. Kali ini dari sudut pandang kata kesempatan itu sendiri. Di dalam kata “kesempatan” ada kata “sempat”. Dalam salah satu pengertian bahasa Indonesia, sempat diartikan “ada waktu”.
Jika ditelaah lebih jauh, waktu sebenarnya sesuatu yang sifatnya mutlak. Artinya, tiap orang memiliki waktu yang sama tak lebih dan tak kurang, sama-sama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Yang membedakan adalah bagaimana tiap orang memanfaatkan waktunya. Ada yang 24 jam penuh kesibukan sehingga seolah waktu selalu kurang, ada yang hanya menggunakan waktunya untuk hal yang kurang berguna, tapi ada pula yang dengan manajemen waktu yang lebih tertata, bisa memanfaatkan waktu 24 jam agar benar-benar maksimal hasilnya.
Kembali ke soal kesempatan, ada sebuah ungkapan bijak: orang cerdik memanfaatkan kesempatan. Artinya, mereka yang sukses, bukan sekadar menciptakan kesempatan agar selalu datang, tapi lebih dari itu.
Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadikan hidup lebih baik dan memaksimalkan hasil seperti yang diinginkan. Apa saja?
Berikut enam hal yang menurut Stephen Covey, penulis buku megabestseller 7 Habits of Highly Effective People, yang akan membuat hidup kita lebih baik dan lebih terarah.
(1) Jadilah lebih proaktif. Yang dimaksud di sini bukan sekadar mengambil inisiatif untuk hal yang menjadi tanggung jawab kita. Namun, kita benar-benar harus bisa memberdayakan diri sendiri dan sekitar kita. Sehingga, apapun yang kita lakukan untu pekerjaan/profesi kita, akan jauh lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Kadang, kita meremehkan profesi kita. Padahal, setiap profesi sebenarnya pasti punya manfaatnya tersendiri. Pekerjaan/peran kita adalah satu bagian, yang menjadi “pelengkap” satu sama lain. Misalnya, seorang sopir akan jadi “kekuatan” bagi “bos” yang disopirinya, saat ia mampu mengemudi dengan profesional dan selalu mengantarkan sang bos ke tempat yang dituju dengan selamat dan tepat waktu. Tanpa disadari, perannya ini akan menjadikan banyak deal-deal besar bisa termaksimalkan.
Pada suatu masa, hiduplah dua pedagang keliling yang menjual perkakas yang terbuat dari kuningan. Kedua pedagang itu memiliki watak yang berbeda.
Pedagang pertama merupakan orang yang tamak dan rela melakukan hal-hal yang tidak balk demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.
Pedagang kedua merupakan orang yang sabar, rajin, tekun, jujur, dan baik hati.
Suatu hari, pedagang tamak melewati seorang nenek dan cucunya. Sang nenek memanggil dan menghampiri pedagang itu, lalu berkata, “Cucuku ingin perkakas makan baru. Maukah kau menukar perkakas itu dengan mangkuk tuaku ini?”
Si pedagang mengamati mangkuk tua si nenek dengan saksama. Ia membatin, “Hmmm… mangkuk ini terbuat dari emas. Harganya pasti mahal sekali. Tapi, sepertinya nenek ini tidak mengetahuinya.”
Page 13 of 33




