Dalam kehidupan, sebenarnya kita selalu ada nilai keberimbangan. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang sukses, ada yang gagal. Ada yang bahagia, ada yang nestapa. Ada yang gembira, ada yang sedih penuh air mata. Semua konteks itu setidaknya pasti pernah kita rasakan. Hanya saja, mungkin kadarnya berbeda-beda. Namun, kadang-kadang, ada pula saatnya seseorang berada di “lapisan tengah”. Ada yang mengatakan konteks tersebut dengan sebutan wilayah abu-abu, yang di antara hitam dan putih. Artinya, sebenarnya semua tak pernah mutlak. Tergantung pada sudut pandang kita, hendak memaknai apa kondisi yang kita alami saat ini.

Namun di balik semua predikat dan rasa yang terjadi, sebenarnya jika kita pikirkan lebih mendalam, masing-masing pribadi pasti memiliki paling tidak satu hal yang jadi kekuatan utama. Ada yang menyebutnya sebagai “panggilan hati”, ada yang menyebutnya sebagai “kunci sukses”, ada yang menyebutnya sebagai “lentera jiwa”.

Suatu ketika, ada seorang pemuda yang mendapat warisan dari orangtuanya. Karena tergolong keluarga sederhana, ia hanya mendapat sedikit uang dan beberapa buah buku. Sebelum meninggal, ayahnya berpesan, “Anakku, buku-buku ini adalah harta yang tak terhingga nilainya. Ayah berikan kepadamu, baca dan pelajarilah. Mudah-mudahan kelak  nasibmu bisa berubah lebih baik. Dan ini sedikit uang, pakailah untuk menyambung hidup dan bekerjalah dengan rajin untuk menghidupi dirimu sendiri.”

Tak berapa lama, uang yang ditinggalkan pun habis terpakai. Sejenak ia melongok buku-buku peninggalan ayahnya. Ia teringat pesan dari orangtuanya agar belajar dari buku tersebut. Karena malas, ia mengambil jalan pintas. Buku itu dijual kepada teman yang mau membeli karena kasihan. Sebagai gantinya, ia mendapatkan beras untuk makan sehari-hari.

Beberapa saat kemudian, si pemuda harus mulai bekerja kasar demi menyambung hidup.

Suatu kali di sebuah desa, ada seorang istri yang mengeluhkan perubahan sikap suaminya. Sang suami yang kembali dari perang membela kerajaan, kini berubah perangainya. Jika dulu penyabar dan sangat menyayangi istrinya, kini menjadi gampang marah, mudah tersinggung, dan bahkan sering mengeluarkan kata-kata kasar.

Awalnya, sang istri berusaha terus bersabar dengan kondisi tersebut. Ia yakin, suaminya suatu saat akan berubah kembali seperti semula. Namun, beberapa bulan berlalu, entah mengapa perangai suaminya tidak juga berubah. Sang istri nyaris putus asa, bahkan sudah berniat menyudahi pernikahan mereka. Beruntung, saat mengadukan masalahnya pada seorang sahabat dekat, ia mendapat informasi adanya seorang pertapa di gunung yang sangat sakti.

Demi kecintaan yang mendalam kepada suaminya, sang istri pun menempuh perjalanan cukup jauh untuk bertemu dengan sang pertapa.

Dikisahkan, ada seorang saudagar yang masih muda usia, berwajah tampan, dan hidup bergelimang harta kekayaan. Sayangnya, sikapnya sangat sombong, mau menang sendiri, suka menyinggung perasaan orang lain, bahkan sering menindas orang-orang kecil di sekitarnya. Karena tabiat buruk tersebut, ia pun mulai dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Merasa dirinya makin tersingkir, pikirannya galau dan hatinya dipenuhi amarah yang mendalam.

Suatu hari, si saudagar muda pergi mendatangi seorang guru bijak demi meminta saran dan nasihatnya, agar orang-orang di sekitarnya tidak lagi menjauhi atau mengucilkan dirinya. Setelah mendengar semua keluh kesahnya, sang guru berkata dengan bijak, “Anak muda, sebagai terapi, lakukanlah hal-hal berikut ini: setiap saat kamu berbuat jahat, menyakiti hati orang lain, tandailah perbuatanmu dengan menancapkan sebuah paku di atas pagar depan rumahmu. Dan begitu pagar rumahmu telah penuh dengan tancapan paku, datanglah kembali kepadaku.”

Alkisah, di kesepian malam, tampak seorang pemuda berwajah tampan sedang memacu laju kendaraannya. Karena kantuk dan lelah yang mendera, tiba-tiba ia kehilangan kesadarannya dan gubraaak…..mobil yang dikendarainya melintasi trotoar dan berakhir dengan menabrak sebuah pohon besar.

Karena benturan yang keras di kepala, si pemuda sempat koma dan dirawat di rumah sakit. Saat kesadarannya mulai kembali, terdengar erangan perlahan. “Aduuuh…kepalaku sakit sekali. Kenapa badanku tidak bisa digerakkan. Oh..ada di mana ini?”. Nanar, tampak bayangan bundanya sedang menangis, memegangi tangan dan memanggil-manggil namanya.

Lewat beberapa hari, setelah kesadarannya pulih kembali, ia baru tahu kalau mobil yang dikendarainya ringsek tidak karuan bentuknya dan melihat kondisi mobil, seharusnya si pengemudi pasti meninggal dunia. Ajaibnya, dia masih hidup (walaupun mengalami gegar otak lumayan parah, tulang paha yang patah menjadi enam, dan memar di sana-sini; hal ini membuatnya harus menjalani operasi dan proses terapi penyembuhan yang lama dan menyakitkan).

Dikisahkan, ada seekor ulat kecil sejak lahir menetap di daerah yang tidak cukup air, sehingga sepanjang hidupnya, dia selalu kekurangan makanan. Di dalam hati kecilnya ada keinginan untuk pindah dari rumah lamanya demi mencari kehidupan dan lingkungan yang baru. Tapi dari hari ke hari dia tidak juga memiliki keberanian untuk melaksanakan niatnya. Hingga suatu hari, karena kondisi alam yang semakin tidak bersahabat, si ulat terpaksa membulatkan tekat memberanikan diri keluar dari rumahnya, mulai merayap ke depan tanpa berpaling lagi ke belakang.

Setelah berjalan agak jauh, dia mulai merasa bimbang, katanya dalam hati, “Jika aku sekarang berbalik kembali ke rumah lama rasanya masih keburu, mumpung aku belum berjalan terlalu jauh. Karena kalau aku berjalan lebih jauh lagi, jangan-jangan jalan pulang pun takkan kutemukan lagi, mungkin aku akhirnya aku tersesat dan… entah bagaimana nasibku nanti!”