Berjuang sampai titik darah penghabisan bukan omong kosong semata. Keyakinan dalam dirilah yang akan menguatkan kita mencapai sukses yang sebenarnya.

Kata-kata pantang menyerah sepertinya mudah diucapkan. Namun, pada kenyataannya, banyak yang memilih untuk menyerah karena merasa memang sudah berjuang maksimal dan belum memperoleh hasil sesuai dengan yang diharapkan. Padahal, banyak teori sukses telah dibaca, direnungkan, diresapi, dan dipraktikkan. Tak jarang, bahkan jungkir balik menjalankan segala macam usaha dan aneka daya telah dimaksimalkan. Begini sudah, begitu sudah. Lantas, apalagi yang harus dilakukan sehingga kita tidak menyerah kalah?

Mencuplik lagu almarhum Chrisye, “Badai Pasti Berlalu”, maka jawaban dari semua kondisi itu pasti selalu ada jalan. Yang jadi pertanyaan, seberapa sanggup kita bertahan di tengah amukan gelombang ujian yang menerpa usaha kita? Seberapa kuat kita punya tenaga untuk bertahan dalam berbagai ancaman gelombang yang siap meluluhlantakkan usaha yang sudah dibangun susah-payah sebelumnya?

Di siang hari yang cerah, tampak seorang ibu di depan pintu rumahnya kedatangan seorang pengemis muda. Ia tampak berpakaian lusuh, berbadan dekil, dan sebelah tangannya kurang lengkap. Si pemuda berkata sopan, “Ibu yang baik, bolehkah saya minta sedikit makanan dan minuman, saya dari pagi belum makan. Tolong beri sedekah makanan pada orang seperti saya, Bu.”

Dengan senyuman lembut tapi tegas, si ibu menjawab, “Boleh, tetapi engkau harus mengerjakan sesuatu sebelum engkau menikmati makanan itu. Apakah engkau sanggup?”

Si pemuda pun menjawab, “Baiklah, pekerjaan apa yang harus saya kerjakan?”

Segera si ibu menunjuk ke arah setumpuk batu bata yang ada di halaman rumah,”Anak muda, pindahkan semua batu bata itu ke belakang rumah.”

Dengan raut muka terkejut, si pemuda menjawab. “Maaf Bu, bagaimana saya dapat memindahkan semua batu itu dengan sebelah tangan seperti ini?” Pengemis muda itu tampak keberatan.

Seorang anak muda berbicara dengan gurunya.

Ia bertanya, “Guru, bisakah engkau tunjukkan dimana jalan menuju sukses?”

“Hmmm…..,” Sang guru terdiam sejenak.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, sang guru menunjuk ke arah sebuah jalan. Anak muda itu segera berlari menyusuri jalan yang ditunjukkan sang guru. Ia tak mau membuang-buang waktu lagi untuk meraih kesuksesan.

Setelah beberapa saat melangkah tiba-tiba ia berseru, “Ha! Ini jalan buntu!”

Benar, dihadapannya berdiri sebuah tembok besar yang menutupi jalan. Ia terpaku kebingungan, “Barangkali aku salah mengerti maksud sang guru.”

Kembali, Anak muda itu berbalik menemui sang guru untuk bertanya sekali lagi, “Guru, yang manakah jalan menuju sukses?”

Sang guru tetap menunjuk ke arah yang sama.

Seberapa sering Anda berupaya tapi gagal? Bagaimana Anda menyikapinya? Mari kita merenung sejenak, untuk menjawab pertanyaan ini. Sebab, dari pertanyaan ini, sebenarnya kita bisa mulai mengukur kapasitas dan mentalitas diri, terutama dalam menghadapi dinamika kehidupan yang serba tak pasti.

Sebab, ini adalah pertanyaan paling mendasar yang menentukan kita gagal atau sukses. Mengapa? Karena pada dasarnya tak ada orang sukses yang tak pernah gagal. Malah, banyak orang yang sangat sukses setelah berkali-kali gagal. Bahkan, jika dikorek lebih jauh lagi, hampir bisa dipastikan, tingkat kegagalan yang sudah pernah dialami mungkin banyak sekali. Lantas, bagaimana ia bisa bangkit dan sukses luar biasa? Di sinilah rahasianya: konsistensi.

Berkali-kali saya bertemu dengan pengusaha sangat sukses. Berkali-kali pula jika ditelusuri lebih jauh, mereka punya sikap dan kebiasaan yang—analogi sederhananya—“mirip” mesin. Ini sama sekali bukan sikap yang kaku atau cenderung monoton. Tapi, mesin yang saya ungkapkan adalah mesin yang bekerja rutin, konsisten, dan sesuai target. Dalam pengertian bahasa Jawa, ada sebuah ungkapan, yakni ajeg. Secara harfiah, kata ini mewakili konsistensi seseorang dalam melakukan suatu hal.

Apa yang bisa kita lakukan dengan terjadinya banyak perubahan di sekitar? Sekadar menerima dan berusaha beradaptasi, atau berusaha menaklukkannya? Tentu, langkah terbaik adalah bersikap aktif dan berusaha untuk memaksimalkan segala potensi. Tetapi, pilihan itu bukan tanpa halangan. Pasti, segala kesulitan, ujian, dan tantangan akan selalu menghadang.

Untuk itu,simak sebuah kisah yang bisa menjadi pembelajaran bagi kita tentang bagaimana menghadapi perubahan dan mengantisipasinya dengan aktif untuk mengubahnya menjadi keberhasilan.

Alkisah, ada seorang pemuda yang mengadu pada gurunya. Ia merasa, dirinya selalu kurang beruntung. Ia menganggap, dirinya memang terlahir dengan sejumlah kesialan sehingga apa pun yang dilakukannya selalu gagal. Karena itu, ia meminta nasihat pada gurunya agar bisa mengubah nasibnya itu.

Sang guru kemudian memintanya untuk menanam dua buah biji kacang. Satunya diminta untuk dipelihara dengan baik-baik, dirawat, dan diperhatikan sungguh-sungguh. Sedangkan satunya lagi diminta oleh gurunya agar dibiarkan tumbuh secara alami, tanpa harus diperhatikan seperti yang pertama.

Seorang pemilik kebun buah-buahan yang sudah cukup tua dan hampir meninggal dunia, memanggil dua orang putranya.

Ia memberi pesan kepada mereka “Sudah bertahun-tahun kebun kita selalu menghasilkan buah-buahan yang baik. Lihatlah tanganku ini. Kasar karena sering mencangkul kebun kita. Dan kamu berdua tak pernah bekerja membantuku. Sekarang aku akan memberitahukan kepadamu. Aku telah menyembunyikan harta karun di kebun kita. Harta karun itu milikmu berdua. Cangkullah dan galilah tanah di sekitar pohon buah-buahan!”

Tak lama lagi, pemilik kebun itu meninggal dunia.

Sekarang kebun buah-buahan itu menjadi milik kedua putranya. Tanpa menunda-nunda lagi, mereka berangkat ke kebun untuk menggali harta karun yang diceritakan oleh Bapak mereka.

Mereka menggali dan mencangkul setiap hari. Sekitar beberapa bulan mereka bekerja keras, datanglah musim buah-buahan. Tapi kedua orang bersaudara itu belum juga menemukan harta karun yang tersembunyi.