Pada awal kelas filsafat di sebuah universitas, profesor berdiri dengan beberapa item yang terlihat berbahaya di mejanya. Yaitu sebuah toples mayonaisse kosong, beberapa batu, beberapa kerikil, dan pasir. Mahasiswa memandang benda-benda tersebut dengan penasaran. Mereka bertanya-tanya, apa yang ingin profesor itu lakukan dan mencoba untuk menebak demonstrasi apa yang akan terjadi.

Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, profesor mulai meletakkan batu-batu kecil ke dalam toples mayonaisse satu per satu. Para siswa pun bingung, namun profesor tidak memberikan penjelasan terlebih dahulu. Setelah batu-batu itu sampai ke leher tabung, profesor berbicara untuk pertama kalinya hari itu. Dia bertanya kepada siswa apakah mereka pikir toples itu sudah penuh. Para siswa sepakat bahwa toples tersebut sudah penuh.

Segala yang terjadi, dimulai dengan khayalan. Segala yang anda capai, dimulai dengan angan-angan di pikiran.

Apa yang anda sekarang angankan, bila kita bicara tentang setahun, dua tahun ke depan? Apakah anda melihat masalah, dan segala sesuatu yang berantakan? Ataukah anda melihat peluang dan keberhasilan?

Tidak ada batas bagi imajinasi. Anda boleh mengkhayalkan apa saja. Khayalan tidak bisa dibatasi realitas fisik, kesulitan keuangan, rasa takut, penolakan dan apa saja yang mengurung anda di “dunia nyata”.

Bayangkan masa depan, dan biarkan diri anda melaju dengannya.

Suatu hari, di sebuah negeri, seorang pemimpin hendak memberikan penghargaan kepada keluarga yang bisa dijadikan teladan di wilayahnya. Karena itu, ia mengutus pejabatnya untuk mencari siapa-siapa saja keluarga yang layak mendapat penghargaan tersebut. Sang pejabat pun segera menunaikan tugasnya, mendatangi satu per satu keluarga yang dianggap layak mendapatkan kehormatan tersebut. Salah satunya, kelurga terpandang tinggal di sebuah rumah besar. Sayangnya, mereka terkenal berperangai keras, lugas, dan tidak kenal kompromi. Dari rumah besar nan megah tersebut sering terdengar percekcokan di antara anggota keluarga. Kadang hal-hal sepele pun bisa menyulut kemarahan, mendatangkan pertengkaran, bahkan tidak jarang berakhir dengan baku hantam.

Saat si pejabat masuk ke rumah dan belum lama duduk, dari dalam rumah tiba-tiba terdengar suara. Prang! Bunyi gelas pecah tersebut kemudian disusul teriakan suara dengan nada berang,  “Hei! Matamu di mana? Duh, bodoh sekali, gelas diam begitu main disenggol saja!”

Suatu ketika, di daratan Tiongkok, hidup seorang panglima perang yang sangat terkenal. Sang Panglima dianggap memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang-orang biasa. Yakni, ia memiliki keahlian memanah yang tiada tandingannya.

Suatu hari, sang panglima ingin memperlihatkan keahliannya memanah kepada rakyat di negerinya. Lalu, Sang Panglima memerintahkan prajurit bawahannya agar menyiapkan papan sasaran yang diletakkan cukup jauh, serta 100 buah anak panah untuknya.

Setelah semuanya siap, pada hari yang telah ditentukan, Sang Panglima memasuki lapangan dengan penuh percaya diri, lengkap dengan perangkat memanah di tangannya. Di lapangan tersebut, berbondong rakyat yang ingin menyaksikan kehebatan panglima negerinya pun berkumpul. Mereka penasaran, bagaimana Sang Panglima mampu memiliki kehebatan memanah yang luar biasa.

Alkisah, di sebuah hutan, ada seekor kancil yang mengklaim dirinya sebagai raja hutan. Singa yang mendengar hal tersebut menjadi sangat marah. “Berani-beraninya si Kancil menyebut dirinya raja hutan, padahal jelas-jelas akulah sang raja hutan,” kata Singa dalam hati. Maka pergilah si singa mencari kancil untuk membaut perhitungan dengannya.

Saat bertemu Kancil, Singa berkata, “Hei Kancil, berani sekali kamu menyebut dirimu raja hutan. Akulah sang raja hutan.” Kancil berkata, “Hai singa, sekarang ini Anda bukan lagi raja hutan. Kalau tidak percaya, mari kita buktikan.”

Maka pergilah singa dan kancil berdua memasuki hutan. Tak lama mereka bertemu dengan kelinci. Saat kelinci melihat kancil, dia tenang-tenang saja, tetapi saat melihat singa di sebelah kancil, dia langsung lari terbirit-birit. Namun si Kancil yang cerdik berkata pada Singa, “Lihat, Kelinci saja takut padaku. Akulah sang raja Hutan.”

Bila kita menganggap masalah sebagai beban, kita mungkin akan menghindarinya. Bila kita menganggap masalah sebagai tantangan, kita mungkin akan menghadapinya. Namun, masalah adalah hadiah yang dapat kita terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, kita melihat keberhasilan dibalik setiap masalah.

Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapilah dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses.

Tanpa masalah, kita tak layak memasuki jalur keberhasilan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.

Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan pula, eraman hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing yang tinggi.