Suatu hari, dua orang pengembara yang berjalan di tepi pantai, melihat tiram yang terdampar di pantai akibat laut pasang.

Mereka secepatnya menunjuk tiram tersebut dan berkata bahwa tiram itu adalah miliknya.

Mereka saling dorong-mendorong dan berebutan untuk mengambil tiram tersebut.

“Secara hukum, siapapun yang melihat tiram ini terlebih dahulu, menjadi pemilik sah-nya dan berhak untuk menyantapnya, yang melihatnya belakangan, cukup menonton pemilik tiram ini makan.”

“Kalau begitu, sayalah pemilik sahnya, karena saya yang melihat tiram ini terlebih dahulu,” jawab temannya, “Untungnya saya memiliki mata yang jeli.”

Seorang Guru membuat garis sepanjang 1 meter di papan tulis, lalu berkata :

“Anak-anak, coba perpendek garis ini!”

Anak pertama maju ke depan, ia menghapus 20 cm dari garis itu menjadi 80 cm.

Pak Guru mempersilakan anak ke 2. Ia pun melakukan hal yang sama, sekarang garisnya tinggal 60 cm.

Anak ke 3 dan ke 4 pun maju kedepan melakukan hal yang sama, hingga garis itu tinggal 20 cm.

Terakhir, seorang anak yang bijak maju kedepan. Ia tidak mengurangi garis yang sudah tinggal 20 cm, namun membuat garis baru sepanjang 120 cm, lebih panjang dari garis yg pertama.

Dua laki-laki berjalan bersama menyusuri jalan ketika salah satu dari mereka menemukan sebuah dompet yang penuh dengan uang.

“Betapa beruntungnya aku!” kata pria pertama. “Aku menemukan sebuah dompet. Dari beratnya, sepertinya dompet ini penuh uang.”

“Bahasanya bukan ‘aku’ menemukan sebuah dompet” kata temannya.

“Seharusnya ‘kita’ yang menemukan dompetnya dan ‘kita’ sangat beruntung. Kita seharusnya berbagi suka dan duka selama dalam perjalanan.”

“Oh, tidak”, jawab pria pertama. “Aku yang menemukannya dan aku yang akan menyimpannya.”

Tak berapa lama terdengar suara orang berteriak, “Berhenti, Pencuri!”

Pada suatu hari, Singa berjalan dengan gagah di dalam sebuah hutan.

Binatang-binatang lain sangat menghormatinya.

Mereka semua memberinya jalan, kecuali Keledai.

Ia justru mencibir ketika Singa lewat.

Singa seketika marah.

Namun, ketika ia melihat bahwa yang melakukan itu adalah Keledai, Singa melanjutkan perjalanannya dengan tenang.

Ia tidak mau mengotori cakarnya yang kuat hanya untuk menanggapi binantang bodoh seperti keledai.

Aku akan terus melangkah
Berjuang menggapai harapan
Tak peduli anggapan maupun cercaan
Terus bergerak tidak ada keraguan

Terpeleset jatuh
Tergores luka
Bangkit tuk melangkah
Tak pernah sudi untuk menyerah

Hidup itu sulit
Bagi mereka yang tak mau mencoba
Hidup itu menyebalkan
Bagi mereka yang lemah dan berputus asa

Pada suatu hari hiduplah seekor kambing kecil yang tanduknya mulai tumbuh.

Hal itu membuat dia berpikir bahwa saat itu dia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri.

Suatu sore ketika gerombolan kambing mulai pulang ke peternakan kembali dan ibunya sudah memanggilnya.

Anak kambing tersebut tidak memperhatikan dan memperdulikan panggilan ibunya.

Dia tetap tinggal di lapangan rumput tersebut dan mengunyah rumput-rumput yang halus disekelilingnya.