Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadikan hidup lebih baik dan memaksimalkan hasil seperti yang diinginkan. Apa saja?

Berikut enam hal yang menurut Stephen Covey, penulis buku megabestseller 7 Habits of Highly Effective People, yang akan membuat hidup kita lebih baik dan lebih terarah.

(1) Jadilah lebih proaktif. Yang dimaksud di sini bukan sekadar mengambil inisiatif untuk hal yang menjadi tanggung jawab kita. Namun, kita benar-benar harus bisa memberdayakan diri sendiri dan sekitar kita. Sehingga, apapun yang kita lakukan untu pekerjaan/profesi kita, akan jauh lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Kadang, kita meremehkan profesi kita. Padahal, setiap profesi sebenarnya pasti punya manfaatnya tersendiri. Pekerjaan/peran kita adalah satu bagian, yang menjadi “pelengkap” satu sama lain. Misalnya, seorang sopir akan jadi “kekuatan” bagi “bos” yang disopirinya, saat ia mampu mengemudi dengan profesional dan selalu mengantarkan sang bos ke tempat yang dituju dengan selamat dan tepat waktu. Tanpa disadari, perannya ini akan menjadikan banyak deal-deal besar bisa termaksimalkan.

Pada suatu masa, hiduplah dua pedagang keliling yang menjual perkakas yang terbuat dari kuningan. Kedua pedagang itu memiliki watak yang berbeda.

Pedagang pertama merupakan orang yang tamak dan rela melakukan hal-hal yang tidak balk demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Pedagang kedua merupakan orang yang sabar, rajin, tekun, jujur, dan baik hati.

Suatu hari, pedagang tamak melewati seorang nenek dan cucunya. Sang nenek memanggil dan menghampiri pedagang itu, lalu berkata, “Cucuku ingin perkakas makan baru. Maukah kau menukar perkakas itu dengan mangkuk tuaku ini?”

Si pedagang mengamati mangkuk tua si nenek dengan saksama. Ia membatin, “Hmmm… mangkuk ini terbuat dari emas. Harganya pasti mahal sekali. Tapi, sepertinya nenek ini tidak mengetahuinya.”

Ibarat sebuah lilin, kegigihan “menyinari” diri untuk terus bertahan di tengah ancaman “kegelapan”. Jika terus dipelihara dan dimaksimalkan, banyak solusi akan bermunculan.

Dalam dunia olahraga, kita sering kali menyaksikan ketidakmungkinan yang menjadi kenyataan. Kita pun kerap dikejutkan dengan orang atau peristiwa yang berhasil mengubah kemustahilan jadi kenyataan. Dari turnamen bulutangkis, kita sering melihat seorang yang nyaris kalah, malah membalikkan keadaan dan berhasil menang. Di tenis, di ajang balapan, hingga berbagai arena olahraga lainnya. Inilah kompetisi di mana orang-orang yang pantang menyerah dan terus gigih berjuang, akan mendapatkan hasil yang gemilang.

Pada kondisi tersebut, yang dinamakan sebagai “titik darah penghabisan” benar-benar menjadi “nyata”. Kalau perlu, saat napas tinggal satu tarikan lagi, orang dengan kegigihan yang luar biasa bisa mengubah banyak hal. Mereka yang berjuang habis-habisan, akan mendapat hasil yang luar biasa gemilang.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadikan hidup lebih baik dan memaksimalkan hasil seperti yang diinginkan. Apa saja?

Berikut enam hal yang menurut Stephen Covey, penulis buku megabestseller 7 Habits of Highly Effective People, yang akan membuat hidup kita lebih baik dan lebih terarah.

(1) Jadilah lebih proaktif. Yang dimaksud di sini bukan sekadar mengambil inisiatif untuk hal yang menjadi tanggung jawab kita. Namun, kita benar-benar harus bisa memberdayakan diri sendiri dan sekitar kita. Sehingga, apapun yang kita lakukan untu pekerjaan/profesi kita, akan jauh lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Kadang, kita meremehkan profesi kita. Padahal, setiap profesi sebenarnya pasti punya manfaatnya tersendiri. Pekerjaan/peran kita adalah satu bagian, yang menjadi “pelengkap” satu sama lain. Misalnya, seorang sopir akan jadi “kekuatan” bagi “bos” yang disopirinya, saat ia mampu mengemudi dengan profesional dan selalu mengantarkan sang bos ke tempat yang dituju dengan selamat dan tepat waktu. Tanpa disadari, perannya ini akan menjadikan banyak deal-deal besar bisa termaksimalkan.

Pada tulisan kali ini, ada sebuah ungkapan tentang kesempatan yang ingin saya bahas. Kali ini dari sudut pandang kata kesempatan itu sendiri. Di dalam kata “kesempatan” ada kata “sempat”. Dalam salah satu pengertian bahasa Indonesia, sempat diartikan “ada waktu”.

Jika ditelaah lebih jauh, waktu sebenarnya sesuatu yang sifatnya mutlak. Artinya, tiap orang memiliki waktu yang sama tak lebih dan tak kurang, sama-sama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Yang membedakan adalah bagaimana tiap orang memanfaatkan waktunya. Ada yang 24 jam penuh kesibukan sehingga seolah waktu selalu kurang, ada yang hanya menggunakan waktunya untuk hal yang kurang berguna, tapi ada pula yang dengan manajemen waktu yang lebih tertata, bisa memanfaatkan waktu 24 jam agar benar-benar maksimal hasilnya.

Kembali ke soal kesempatan, ada sebuah ungkapan bijak: orang cerdik memanfaatkan kesempatan. Artinya, mereka yang sukses, bukan sekadar menciptakan kesempatan agar selalu datang, tapi lebih dari itu.

Pernahkah Anda memperhatikan seekor harimau yang sedang membidik mangsanya? Ia akan meringkuk perlahan-lahan, mengamati calon mangsanya. Saat itu, dengan kewaspadaan penuh, harimau mengintai, mana buruan yang paling memungkinkan untuk dijadikan mangsa. Setelah sekian lama menatap dan perlahan-lahan mendekati buruannya, ia akan dengan segera meloncat, mengerahkan segenap kekuatan, serta dengan sigap menangkap incarannya. Semua proses itu tampaknya sangat cepat. Saat buruannya berlari, ia dengan sigap bisa mencari titik lemahnya, sehingga sang buruan akhirnya menyerah dan jadi santapan harimau.

Jika dicermati, tingkah harimau tersebut tak lepas dari kesungguhannya menyiapkan diri untuk menetapkan buruan mana yang akan dikejarnya. Tak heran, jika sudah menyerang, buruannya pun tak berkutik, meski bahkan, secara teori sang buruan kadang mampu berlari lebih cepat dari harimau. Inilah salah satu naluri alamiah seekor harimau untuk mencapai “tujuan”. Dengan kesungguhannya—untuk memenuhi kebutuhan hidup—harimau mampu “menang” di hampir semua “arena” perburuannya.