Pada suatu hari, Singa berjalan dengan gagah di dalam sebuah hutan.

Binatang-binatang lain sangat menghormatinya.

Mereka semua memberinya jalan, kecuali Keledai.

Ia justru mencibir ketika Singa lewat.

Singa seketika marah.

Namun, ketika ia melihat bahwa yang melakukan itu adalah Keledai, Singa melanjutkan perjalanannya dengan tenang.

Ia tidak mau mengotori cakarnya yang kuat hanya untuk menanggapi binantang bodoh seperti keledai.

Ada seorang suami yang di dalam dompetnya terdapat foto istrinya. Saat teman-temannya melihat, ia dipuji sebagai suami yang sangat baik.

Lalu, satu di antara temannya bertanya apa fungsinya membawa foto sang istri. Dia menjawab: “kalau aku punya permasalahan di kantor, aku selalu memandang foto itu, dan permasalahan yang dihadapi hilang begitu saja”.

“Wah alangkah berbahagianya kamu mempunyai istri seperti itu, bagaimana bisa begitu?” tanya teman-temannya.

Sang suami menjawab kembali….

    “Ya, kalau saya melihat foto istri saya, semua permasalahan apa pun di kantor, menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan permasalahan dengan dia!”

Pada suatu hari hiduplah seekor kambing kecil yang tanduknya mulai tumbuh.

Hal itu membuat dia berpikir bahwa saat itu dia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri.

Suatu sore ketika gerombolan kambing mulai pulang ke peternakan kembali dan ibunya sudah memanggilnya.

Anak kambing tersebut tidak memperhatikan dan memperdulikan panggilan ibunya.

Dia tetap tinggal di lapangan rumput tersebut dan mengunyah rumput-rumput yang halus disekelilingnya.

Beberapa abad yang lalu, hiduplah seorang yang bijaksana dan pandai. Hanya saja, ia mempunya punggung yang bungkuk.

Ia jatuh cinta dengan seorang putri yang cantik dan menawan. Dan lagi dia anak orang kaya.

Orang bungkuk yang bijaksana ini mengunjungi sang putri di rumahnya. Sang putri sungkan untuk berbicara dengannya, apalagi berbicara sekitar perkawinan.

Kemudian ia bercerita bahwa perkawinan itu sudah ditentukan oleh Tuhan.

Ketika anak-anak lahir, para malaikat di surga memanggil mereka. Mereka sudah ditentukan untuk mempunyai pasangan. Itu sudah suatu keputusan ilahi, dan tidak seorang pun bisa mengubahnya.

Pada hari yang cerah, saat air laut mulai surut, ibu kepiting dan anaknya berjalan-jalan di sepanjang pantai.

Mereka bertemu dengan banyak makhluk. Ada manusia yang sedang berjalan-jalan, ada anjing, kodok dan lain sebagainya. Sang ibu kepiting mengamati mereka semua, lalu dia mengamati bahwa ada yang salah pada cara berjalan anaknya.

“Anakku, mengapa kau tidak berjalan lurus ke depan?” ujar sang ibu kepiting, “Coba kau lihat, manusia, anjing, kodok dan semua makhluk yang kita temui berjalan dengan arah lurus ke depan. Hanya kamu yang berjalan dengan arah menyamping,” sang ibu kepiting agak cemas karena merasa anaknya tampak aneh dari yang lain.

“Baiklah ibu, aku akan berjalan dengan arah ke depan,” ujar sang anak kepiting.

Di sebuah desa terpencil, tinggallah seorang kakek bersama dengan keluarga besarnya. Desa tempat mereka tinggal itu terletak di antara dua gunung besar.

Bila keluarga sang kakek itu hendak pergi ke desa lain, mereka harus berjalan kaki berhari-hari lamanya memutari gunung.

Tentu itu sangat melelahkan dan menyita banyak waktu.

Suatu saat, sang kakek tua dengan pemikirannya yang lugu dan sederhana mengemukakan tekadnya. Ia mengajak segenap keluarganya untuk bahu-membahu memindahkan gunung. Pada hari yang telah ditentukan, keluarga sang kakek pun mulai menggali tanah lereng gunung.

Hari demi hari dipenuhi dengan bekerja menggali-menggali dan menggali lereng gunung. Melihat kesibukan tersebut, beberapa hari kemudian para tetangga berdatangan.