Pepatah bijak mengatakan, “Hidup manusia ada waktunya malapetaka, ada waktunya anugerah“. Semua itu harus mampu kita dalami dengan perbuatan nyata. Salah satunya, dengan kemampuan dan kemauan untuk beradaptasi dalam menghadapi semua tantangan perubahan.

Kemampuan beradaptasi harus dilandasi dengan sikap yang sering saya ungkapkan dalam pernyataan: Cerdas, Cermat, dan Cekatan. (3C)

Kita dituntut untuk cerdas dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang mengiringi perubahan di sekitar kita. Cerdas di sini bisa berarti mampu menciptakan inovasi baru untuk mengatasi berbagai masalah, hingga cerdas dalam bersikap saat mengalami keterpurukan. Kecerdasan yang berasal dari pola pikir positif dan otak yang diasah terus-menerus, akan menghasilkan tindakan terukur yang mampu jadi solusi bagi semua persoalan.
Tips konkret untuk menjadi orang yang cerdas: manfaatkan waktu semaksimalnya untuk belajar dan bekerja dengan baik.

Pada tahun 1939, George Dantzig adalah mahasiswa sebuah universitas di AS. Pada suatu hari, ia datang terlambat pada mata kuliah matematika Prof. Jerzy Neyman. Ketika masuk kelas, ternyata dosen dan teman-teman kuliahnya sudah pulang.

George kemudian melihat 2 buah soal pada papan tulis kelas. Pikirnya, itu pasti PR yang baru diberikan oleh sang profesor! Dia pun segera mencatat pada bukunya dan pulang.

Berhari-hari dia mencoba untuk menyelesaikan PR tersebut, berbagai cara ia coba. “Tidak biasanya dosen memberi tugas demikian sulitnya, tapi pasti ada jawabannya… pasti ada…,” gumamnya.

Pada akhirnya, ia berhasil mengerjakan soal no.1. Keesokan harinya ia pun mengumpulkan tugas tersebut, yang diletakkan di ruang kerja profesornya.

Siang hari, ia dicari oleh sang profesor yang bertanya keheranan, sekaligus penuh semangat, “Bagaimana kamu bisa menyelesaikan soal tersebut?”

Ada sebuah pepatah bijak dalam bahasa Jawa, “Gelem nangkane, ora gelem pulute” yang berarti “Mau nangkanya, tapi tak mau terkena getahnya”. Pepatah ini mengandung makna bahwa orang cenderung menginginkan hal yang baik-baik saja, tapi kurang mau atau suka menghindar untuk menghadapi konsekuensinya. Ingin sukses, tapi tidak mau gagal. Mau kaya, tapi kurang mau berjuang dengan sungguh-sungguh. Bercita-cita terkenal, tapi berusaha dengan cara instan. Ingin ini dan itu, tapi tidak mau menjalani proses dan jalan berliku untuk memperolehnya. Akhirnya, banyak orang yang ujungnya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Padahal sejatinya, justru pada saat sulit, gagal, susah, berliku, turun, bahkan terantuk dan terluka, itulah saat kita sedang “digodok di kawah candradimuka”. Di mana, saat “panas” itulah, kita sedang ditempa menjadi berlian dan permata yang tak ternilai harganya. Hanya mereka yang tahan dalam menghadapi berbagai hadangan ujian dan cobaanlah yang akan mampu mewujudkan impian.

Suatu hari, tampak seorang pemuda mendatangi guru bijak. Penampilannya lusuh. Bajunya compang-camping, sepatunya sobek, dan tubuhnya penuh luka.

Dia berkata, “Guru, saya datang dari jauh dan telah menempuh perjalanan yang berat. Saya menderita, kesepian dan sangat letih. Ini semua saya lakukan demi mencari jawaban atas penderitaan saya. Kenapa saya belum menemukan cahaya petunjuk sedikit pun?”

Orang tua bijak itu melihat si pemuda datang kepadanya membawa sebuah buntelan besar. “Apa isi buntelanmu itu?”

Jawab si pemuda, “Isinya sangat penting bagi saya. Di dalamnya ada barang-barang yang mengingatkan saya pada setiap tangisan, ratapan, dan air mata saya. Benda-benda ini menjadi penyemangat saya dalam menempuh perjalanan berat mencari jawaban.”

Seorang guru muda pulang dari memotong kayu di gunung. Di perjalanan, ia berjumpa seorang pemuda yang baru saja menangkap seekor kupu-kupu di genggamannya.

Pemuda ini dengan jemawa menantang sang guru, “Bagaimana kalau kita bertaruh?”

“Bagaimana taruhannya?” tanya sang guru.

“Coba tebak kupu-kupu dalam genggamanku ini, hidup atau mati? Kalau Anda kalah, sepikul kayu itu jadi milik saya!” Demikian kata si pemuda, lantang.

Sang guru mengangguk setuju. Lalu katanya menebak, “Kupu-kupu dalam genggamanmu itu mati.”

Pemuda itu tertawa puas, “Guru… Anda salah.” Sambil membuka genggamannya, kupu-kupu itu pun terbang lepas ke alam bebas.

Sang guru berkata, “Baiklah, kayu ini milikmu.” Setelah itu, ia pergi dengan gembira.

Seorang pria yang tidak lulus ujian masuk universitas, dinikahkan orang tuanya. Untuk mendapat penghasilan, ia pun melamar menjadi guru sekolah dasar dan mulai mengajar.

Karena tidak punya pengetahuan mengajar, belum sampai satu minggu mengajar ia sudah dikeluarkan.

Setibanya di rumah, sang istri menghapuskan air matanya, menghiburnya dengan berkata: “Banyak ilmu dalam otak, ada orang yang bisa menuangkannya, ada pula yang tidak bisa. Tidak perlu bersedih karena hal ini. Mungkin ada pekerjaan lain yang lebih cocok sedang menantimu.”

Kemudian ia melamar dan melakukan pekerjaan lain, namun sayangnya ia dipecat juga karena geraknya lambat.

Saat itu sang istri berkata: “Kegesitan kaki dan tangan setiap orang berbeda, orang lain sudah bekerja beberapa tahun lamanya, kamu hanya belajar di sekolah, bagaimana bisa cepat?”