Kadang bila kita merenung….

Dulu saya lahir dari keluarga miskin. Ketika melihat orang kaya, saya bertanya-tanya mengapa mereka egois, tidak mau menolong orang miskin memperbaiki masa depan, bahkan tidak jarang malah memandang rendah?

Namun, ketika kemudian saya menjadi kaya karena bekerja keras, saya merasa orang miskin itu malas, tidak mau berinisiatif, maunya ditolong, iri, dan tak pernah berterima kasih.

Mengapa bisa begini?

Tak jarang dalam hidup ini, kita punya standar ganda dalam ‘Menakar dan mengukur’.

Kita kerap menilai orang lain dari ‘takaran’ atau pandangan subjektif kita dan tidak mampu memahami orang lain dari sudut pandang orang itu.

Ada seorang petani jagung yang sukses sekali dalam mengelola perkebunannya. Si petani bukan hanya mampu menghasilkan butir-butir jagung dengan kualitas yang prima tetapi juga dari hasil panennya yang sangat berlimpah.

Si petani telah beberapa kali memenangkan penghargaan, baik dari segi kualitas produk maupun kuantitasnya. Dari pemerintah pun, penghargaan tertinggi diraihnya karena dinilai sebagai pelopor kemajuan perekonomian masyarakat petani setempat.

Keberhasilan si petani bukan hanya untuk dirinya dan keluarganya saja, tetapi juga untuk petani-petani tetangganya. Dia seringkali membagi-bagikan bibit jagung berkualitasnya kepada mereka, mengajarinya cara bercocok tanam yang baik, sehingga hampir seluruh petani di daerah itu hidup sejahtera dan perekonomian pemerintah daerah pun juga meningkat tajam dan berlimpah.

Suatu hari, datang wartawan menanyakan, “Apa rahasia kesuksesan Bapak?”

Manusia besar adalah manusia yang mampu mengolah sakit hati menjadi prestasi.

Salah satu rangkaian dalam hidup yang harus kita hadapi adalah sakit hati. Sakit hati entah karena perilaku orang lain; atau entah karena perilaku kita sendiri tapi kita tidak tanggap sehingga setiap orang yang dekat dengan kita dan melakukan suatu hal kecil membuat kita menjadi sakit hati. Terbakar, terluka dan akhirnya kita berpikir bahwa mereka tidak mengerti kita.

Contoh yang paling jelas tentang sakit hati bisa dilihat di televisi. Berita suami istri saling sakit hati, lalu mengakhiri rasa sakit itu dengan tindakan kriminal. Seorang murid yang sakit hati dan melukai gurunya. Anak kecil yang sakit hati dengan temannya lalu melukainya.

Sakit hati ada di mana-mana. Sakit hati bukan lagi dikenal sebagai penyakit yang tertera di buku resep dokter. Sakit hati lebih dikenal dengan sakit perasaan. Jiwa yang sakit. Bila sakit hati itu dipendam menjadi sebuah dendam. Pandawa disakiti oleh Kurawa. Dikucilkan di hutan. Para Nabi dikucilkan pengikutnya sendiri. Para pemimpin sering ditikam dari belakang justru oleh orang yang ada di sampingnya.

Untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik, sangat diperlukan kebiasaan-kebiasaan positif. Dimulai dari berabad-abad lampau, tidak ada keahlian apa pun yang didapat yang tanpa melalui proses pengulangan yang kita sebut sebagai habit atau kebiasaan. Semua ada prosesnya! Orang paling hebat di berbagai bidang sekali pun, pasti mulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus sampai akhirnya “jadi”.

Dalam berbagai kesempatan, baik dalam seminar/webinar atau buku-buku yang saya tulis, saya selalu menekankan kebiasaan positif yang dilakukan terus-menerus akan menghasilkan karakter, yang kemudian menjelma menjadi kekuatan untuk meraih kesuksesan.

Saya sendiri, selalu mengembangkan kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya, membaca buku setiap hari untuk mengembangkan wawasan dan pola pikir. Sebab, dengan gelar SDTT alias “sekolah dasar tidak tamat”, tanpa kebiasaan menimba ilmu setiap hari, maka saya tidak akan berhasil mencapai keadaan seperti saat ini.

Di sebuah padang rumput nan luas, seusai makan dengan lahapnya, seekor rusa merasa kehausan. Ia pun lantas mencari sumber air di sekitar sana. Tak lama, ia menjumpai sebuah danau kecil yang airnya sangat bening. Tak tahan haus, ia pun langsung meminum air di sana sepuasnya. Setelah puas meminum air tersebut, sang rusa kemudian hendak melangkah pergi.

Namun, sesuatu menarik perhatiannya. Di air yang sangat bening itu, ia melihat pantulan dirinya. Tanduknya yang kokoh dan indah membuat sang rusa melihat betapa gagah dirinya. Tanduknya lantas digerak-gerakkan untuk memastikan bahwa bayangan di air itu adalah dirinya. Ia lantas bergumam, “Betapa indah tandukku ini. Aku baru menyadari, selain kuat dan bisa aku gunakan untuk mempertahankan diri, tanduk ini sangat elok menawan.”

Ia pun terus mengagumi tanduk di atas kepalanya. Dari kepala, ia memperhatikan bagian tubuh yang lain. Hingga, saat ia melihat kakinya, sang rusa tampak kecewa. “Kakiku ternyata panjang, namun kecil dan kurus. Sungguh tidak sebanding dengan keindahan tandukku. Mengapa kakiku jelek seperti ini?” keluhnya.

Pendidikan formal dan informal adalah bekal kehidupan yang tak bisa dipisahkan. Dengan pendidikan yang baik dan benar, kesuksesan sejati bisa kita dapatkan.

Saat kita masih anak-anak dan duduk di bangku sekolah, kita menghadapi banyak ujian, yang mengacu pada kemampuan dan pemahaman kita terhadap materi yang diajarkan. Ada yang lulus, ada yang tertahan. Lalu, ada suka dan ada pula duka bagi yang belum mendapatkan nilai sesuai standar. Belum berhenti di sana. Setelah lulus pun, seorang pelajar masih harus “bertarung” untuk mendapatkan sekolah yang didambakan. Ada yang ke SMP, SMU, hingga perguruan tinggi. Di sinilah ajang kompetisi kehidupan masa remaja dimulai. Yang mendapatkan sekolah favorit, tentu merasa bahagia. Sebaliknya, yang belum mendapat yang diharap, pasti timbul kekecewaan.

Namun, apakah semua “berhenti” pada titik tersebut? Tentu tidak. Pendidikan—sebagaimana pembelajaran—harus berjalan seumur hidup. Tentu, levelnya akan berbeda-beda. Pada masa remaja, pendidikan yang diutamakan adalah pendidikan dengan basis pembelajaran sebagaimana yang diajarkan dalam berbagai mata studi di sekolah. Bekal tersebut adalah modal dasar untuk menempuh jenjang pendidikan berikutnya. Yang berarti, jika ditekuni, bekal pendidikan dasar tersebut akan bermanfaat di kemudian hari.