Pantaskah kita mengeluh? Padahal kita telah dikaruniai sepasang lengan yang kuat untuk mengubah dunia.

Layakkah kita berkeluh kesah? Padahal kita telah dianugerahi kecerdasan yang memungkinkan kita untuk membenahi segala sesuatunya.

Apakah kita bermaksud untuk menyia-nyiakan semuanya itu? lantas menyingkirkan beban dan tanggung jawab kita?

Janganlah kekuatan yang ada pada diri kita, terjungkal karena kita berkeluh kesah. Ayo tegarkan hati kita. Tegakkan bahu. Jangan biarkan semangat hilang hanya karena kita tidak tahu jawaban dari masalah kita tersebut.

Jangan biarkan kelelahan menghujamkan keunggulan kita. Ambillah sebuah nafas dalam-dalam. Tenangkan semua alam raya yang ada dalam benak kita. Lalu temukan lagi secercah cahaya dibalik awan mendung. Dan mulailah ambil langkah baru.

Memahami diri sendiri secara utuh sebelum memahami orang lain, tidak dipungkiri lagi sudah menjadi bagian dari karakter sukses seseorang. Selain itu ada faktor keberhasilan lainnya yang harus kita pahami betul yaitu memahami mimpi di masa depan dan  kesalahan di masa lalu.  Lalu, hal yang tidak kalah pentingnya adalah membenahi diri sendiri.

Pembenahan diri ini lebih dikenal sebagai intropeksi. Dimana kita mencari waktu tersendiri untuk merenung secara panjang dan dalam tentang apa yang sudah kita lakukan dan memikirkan langkah ke depannya. Apa yang sudah kita lakukan termasuk kesalahan yang sudah pernah kita jalani dan efek ke depan yang akan kita hadapi.

Lebih dalam lagi, sesungguhnya intropeksi bukan sekedar perenungan. Ini lebih ke arah perbaikan diri hingga menemukan titik kerusakan yang telah membuat kita tidak bisa maju. Titik kerusakan ini mungkin tidak dirasakan sekilas oleh diri kita dan orang lain. Tapi kita bisa merasakan ada sesuatu yang salah yang menghambat jalan kita ke depan.

Di sebuah desa terdapat jembatan yang rusak. Kepala desa sepakat untuk memperbaikinya. Mereka mempekerjakan satu orang tukang untuk itu.

Ketika dalam rapat dibahas, bahwa perlu ada satu orang karyawan untuk membeli kebutuhan sang tukang. Direkrutlah orang untuk belanja.

Karena butuh orang yang memastikan agar pekerja di lapangan bekerja dengan baik direkrutlah seorang petugas pengawas lapangan.

Kemudian dikatakan bahwa untuk keperluan administrasi disepakati bahwa perlu ada seorang akuntan. Ditambahkanlah satu orang akuntan.

Kemudian karena berbicara mengenai akuntabilitas maka diperlukan auditor untuk mengawasi akuntan. Masuklah sang auditor baru.

Ada sebuah anggapan, jika ingin melihat sukses tidaknya perusahaan, lihatlah pemimpinnya. Sebab, sang pemimpinlah yang akan jadi panutan, pegangan, sekaligus teladan yang mampu mengarahkan jalannya perusahaan. Lihatlah berbagai perusahaan sukses di dunia. Hampir bisa dipastikan, ada sosok yang identik dengan nama perusahaan tersebut. Berkat tangan dingin mereka, juga moralitas dan teladan yang dibawa, perusahaannya bisa maju dan mendunia. Minimal, dikenal, atau bahkan dikenang sebagai perusahaan sukses dunia.

Faktor kepemimpinan memang sangat krusial. Karena itu, sebagai seorang pemimpin, harus mampu dan berani mengambil risiko—namun selalu dengan perhitungan matang—dan bisa menjadi teladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya. Pemimpin harus mampu “memimpin diri sendiri” dulu, sehingga memunculkan teladan bagi orang lain. Apa yang dimulai, apa yang dilakukan, apa yang diputuskan, semua menjadi hal yang penting untuk meraih sukses bagi usaha yang dijalankan.

Ada beberapa hal tentang kepemimpinan yang harus dapat dilakukan oleh seorang pemimpin.

Hari-hari sekarang ini adalah hari yang tak menentu.

Kita tak bisa memprediksi apa yang bakal terjadi dalam keluarga dan lingkungan kita dalam 3 hari ke depan.

Kita sudah melihat teman-teman yang 3 hari lalu masih menyapa, tiba-tiba tiada. Tuhan Yang Maha Kuasa memanggil lantaran covid-19.

Tidak terduga.

Karena itu hargailah waktu kebersamaan kita.

Kalau anak rewel, nakal, bikin kotor, syukurilah.

Mereka masih ada bersama kita.

Alkisah, ada seorang pengrajin emas yang sudah berumur dan terkenal di sebuah kerajaan. Selain keterampilan dan kehalusannya dalam membuat perhiasan, dia pun terkenal dengan kebijaksanaannya.

Dengan kemasyhurannya itu, banyak orang ternama datang kepadanya untuk dibuatkan perhiasan. Mendengar kabar tersebut, Sang Raja pun menginginkan sebuah cincin yang akan memperindah dan memperkuat karismanya sebagai raja.

“Paman pengrajin. Aku mendengar kehebatanmu dalam membuat perhiasan indah yang penuh makna dan pesan moral. Karena itu, aku ingin engkau buatkan sebuah cincin untuk rajamu ini. Selain indah bentuknya, engkau harus menuliskan pesan moral di dalam cincin untuk meningkatkan karisma cincin itu,” sabda baginda. “Tuliskan di cincin itu, sesuatu yang bisa disimpulkan dari seluruh pengalaman dan perjalanan hidupmu agar rajamu ini bisa menjadikannya sebagai pelajaran penting dalam kehidupan mendatang. Jelas ‘kan? Pulang dan kerjakan sebaik-baiknya! Aku akan memberikan hadiah yang bernilai bila engkau berhasil memenuhi pesanan.