Pada suatu hari yang cerah di sebuah kota, seorang pria berencana pergi ke tempat pertunjukan sirkus dengan membawa anak dan istrinya.

Niatnya sederhana, ingin memberikan hiburan kepada keluarga di hari libur sekolah.

Sebelum sampai ke tempat pertunjukan, pria tersebut harus melewati sebuah perkemahan dengan tenda yang berukuran besar berisi gajah-gajah sirkus.

Gajah-gajah dengan ukuran besar berdiri melamun dengan kondisi satu kaki yang diikat oleh rantai kecil.

Tidak ada pagar sama sekali, setiap gajah hanya diikat dengan rantai kecil di salah satu kakinya dan tidak ada yang berusaha untuk kabur, semuanya terdiam.

Suatu hari, di sebuah negeri, seorang pemimpin hendak memberikan penghargaan kepada keluarga yang bisa dijadikan teladan di wilayahnya. Karena itu, ia mengutus pejabatnya untuk mencari siapa-siapa saja keluarga yang layak mendapat penghargaan tersebut. Sang pejabat pun segera menunaikan tugasnya, mendatangi satu per satu keluarga yang dianggap layak mendapatkan kehormatan tersebut. Salah satunya, kelurga terpandang tinggal di sebuah rumah besar. Sayangnya, mereka terkenal berperangai keras, lugas, dan tidak kenal kompromi. Dari rumah besar nan megah tersebut sering terdengar percekcokan di antara anggota keluarga. Kadang hal-hal sepele pun bisa menyulut kemarahan, mendatangkan pertengkaran, bahkan tidak jarang berakhir dengan baku hantam.

Saat si pejabat masuk ke rumah dan belum lama duduk, dari dalam rumah tiba-tiba terdengar suara. Prang! Bunyi gelas pecah tersebut kemudian disusul teriakan suara dengan nada berang,  “Hei! Matamu di mana? Duh, bodoh sekali, gelas diam begitu main disenggol saja!”

Pada suatu hari, di sebuah perguruan silat, seorang murid bertanya kepada gurunya. Murid ini adalah murid terbaik dan paling disayang oleh sang guru.

“Guru, sekarang saya sudah makin dewasa, tolong ajarkan saya satu ilmu yang baru.”

Lalu gurunya bilang, “Hmm, besok pagi kamu ketemu sama saya ya, di ladang jagung di tepi hutan sebelah sana. Saya mau ajarkan kamu satu ilmu baru.”

Sang murid pun setuju saja untuk bertemu dengan gurunya.

Keesokan harinya, sang murid bertemu dengan gurunya di tepi hutan, dimana ada ladang jagung yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada ladang jagung.

Alkisah, di sebuah hutan, ada seekor kancil yang mengklaim dirinya sebagai raja hutan. Singa yang mendengar hal tersebut menjadi sangat marah. “Berani-beraninya si Kancil menyebut dirinya raja hutan, padahal jelas-jelas akulah sang raja hutan,” kata Singa dalam hati. Maka pergilah si singa mencari kancil untuk membaut perhitungan dengannya.

Saat bertemu Kancil, Singa berkata, “Hei Kancil, berani sekali kamu menyebut dirimu raja hutan. Akulah sang raja hutan.” Kancil berkata, “Hai singa, sekarang ini Anda bukan lagi raja hutan. Kalau tidak percaya, mari kita buktikan.”

Maka pergilah singa dan kancil berdua memasuki hutan. Tak lama mereka bertemu dengan kelinci. Saat kelinci melihat kancil, dia tenang-tenang saja, tetapi saat melihat singa di sebelah kancil, dia langsung lari terbirit-birit. Namun si Kancil yang cerdik berkata pada Singa, “Lihat, Kelinci saja takut padaku. Akulah sang raja Hutan.”

Pada awal kelas filsafat di sebuah universitas, profesor berdiri dengan beberapa item yang terlihat berbahaya di mejanya. Yaitu sebuah toples mayonaisse kosong, beberapa batu, beberapa kerikil, dan pasir. Mahasiswa memandang benda-benda tersebut dengan penasaran. Mereka bertanya-tanya, apa yang ingin profesor itu lakukan dan mencoba untuk menebak demonstrasi apa yang akan terjadi.

Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, profesor mulai meletakkan batu-batu kecil ke dalam toples mayonaisse satu per satu. Para siswa pun bingung, namun profesor tidak memberikan penjelasan terlebih dahulu. Setelah batu-batu itu sampai ke leher tabung, profesor berbicara untuk pertama kalinya hari itu. Dia bertanya kepada siswa apakah mereka pikir toples itu sudah penuh. Para siswa sepakat bahwa toples tersebut sudah penuh.

Segala yang terjadi, dimulai dengan khayalan. Segala yang anda capai, dimulai dengan angan-angan di pikiran.

Apa yang anda sekarang angankan, bila kita bicara tentang setahun, dua tahun ke depan? Apakah anda melihat masalah, dan segala sesuatu yang berantakan? Ataukah anda melihat peluang dan keberhasilan?

Tidak ada batas bagi imajinasi. Anda boleh mengkhayalkan apa saja. Khayalan tidak bisa dibatasi realitas fisik, kesulitan keuangan, rasa takut, penolakan dan apa saja yang mengurung anda di “dunia nyata”.

Bayangkan masa depan, dan biarkan diri anda melaju dengannya.