Siapa yang hidup di dunia ini yang tidak bergantung pada waktu? Tidak ada kan? Setiap makhluk hidup harus berjalan di koridor WAKTU. Ada waktu di mana kita sukses dan ada waktu kita gagal, ada waktu senang ada juga waktu yang membuat kita sedih. Semuanya akan terus bergulir & akan kita tinggalkan.

Di Indonesia, waktu merupakan ukuran atau gambaran "saat/moment" yang sama, untuk menggambarkan saat baik maupun saat buruk. Begitu juga bahasa Inggris "TIME" atau pun bahasa Mandarin 时间 (shíjiān) atau bahasa-bahasa lainnya. Waktu ya waktu, tidak ada perbedaannya. Namun, di bahasa Yunani kata ”waktu” itu ada 2 makna yaitu:

“Di dunia ini ada 2 tipe orang: Tipe Landak dan Tipe Serigala," begitu tulis Isaiah Berlin yang sangat terkenal dengan metafora ini.

Serigala mengetahui banyak hal. Ia licik dan pintar. Ia cepat dan lincah. Ia selalu mencari dan mencari strategi-strategi baru untuk memukul lawannya serta tetap eksis di hutan, tempat hidupnya yang dirasakannya makin tambah sempit untuk mereka berdua.

Landak, di pihak lain, mengetahui hanya satu hal besar. Ia sederhana. Ia menggunakan hanya satu strategi untuk menang, tapi ia mengeksekusinya dengan sempurna dan tidak ada cacat sama sekali. Ketika Serigala mencoba menyerangnya, Landak akan melindungi dirinya dengan duri-duri yang dimilikinya yang ia tahu merupakan satu-satunya namun strategi terbaik yang dimiliknya.

Alam diciptakan untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya dengan kebijakan untuk mendatangkan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Mineral yang terkandung dalam bumi yang mampu mendatangkan kekayaan, tumbuhan dan hewan yang dimakan menjadi sumber energi, hingga angin dan air yang bisa mendatangkan tenaga untuk energi listrik yang menerangi dunia. Semua itu jika dikelola dengan benar, akan mendatangkan segala manfaat yang diperlukan untuk semua pihak.

Tetapi sebaliknya, jika tak dikelola dengan bijak—bahkan dijalankan dengan sikap tamak dan rakus—alam pun bisa jadi “murka”. Pohon yang ditebangi sembarangan tanpa ditanami lagi, bisa mengikis tanah sehingga banjir pun tak terhindarkan. Sumber mineral di bumi yang dikelola tanpa memedulikan lingkungan, mendatangkan banyak petaka yang akhirnya sering merugikan.

“Harimau mati meninggalkan belang. Gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama”. Pepatah itu sangat kental dan kita ingat sebagai perwujudan bahwa setiap perbuatan di dunia, pasti akan dikenang. Baik atau buruk, sukses atau gagal, tergantung “nama” seperti apa yang ingin dikenang.

Jika hal positif yang selalu kita tanamkan, niscaya, siapa pun kita, kelak akan dikenang—minimal di lingkungan terdekat kita—sebagai insan yang memiliki nilai positif sepanjang hidup. Termasuk saat menghadapi kegagalan. Sebab, sejatinya, dengan hal-hal positif, kegagalan pasti akan berbuah kesuksesan. Tak ada sukses yang tak melewati kegagalan. Legenda Thomas Alva Edison dengan ribuan kali kegagalannya telah sering kita dengar. Atau, kisah Steve Jobs yang pernah dipecat dari perusahaan yang didirikannya sendiri, Apple dan kemudian mampu kembali untuk menyelamatkan Apple dari kebangkrutan.

Dalam kesempitan, tersembunyi kesempatan. Sebuah ungkapan senada diungkap oleh ilmuwan ternama, Albert Einstein, “In the middle of difficulties, lying opportunities.” Hal ini sebenarnya cukup banyak kita jumpai di mana-mana. Orang yang tadinya terimpit masalah, belakangan malah mendapat banyak berkah. Orang yang tadinya biasa-biasa bahkan cenderung minus, malah menemukan banyak hal yang mampu membuatnya melaju terus.

Sayangnya, selalu saja banyak orang masih bertanya. Bahkan, lebih banyak yang ragu. Benarkah setelah banyak kesulitan benar-benar akan muncul kemudahan? Atau, ekstremnya, malah banyak yang mengatakan, seberapa tahan kita dalam menghadapi cobaan dan tantangan, sebelum benar-benar bisa menuai keberhasilan? Dan, berdasar pengalaman yang telah saya alami, di sinilah sebenarnya letak pembeda antara orang-orang yang sukses dengan orang yang gagal. Mereka yang sukses, mereka yang berani terus melaju, mereka yang tetap berjuang, mereka yang pantang menyerah, pada akhirnya benar-benar menuai hasil seperti yang didambakan.

Pernahkah kita memperhatikan, rumpun bambu yang menjulang tinggi saat tertiup angin? Ia meliuk ke sana kemari. Bahkan, di tengah badai sekali pun, bahkan hingga liukannya seperti hendak menumbangkannya, bambu tetap kokoh berdiri. Tak tercerabut dari akarnya. Ia tak seperti banyak pepohonan yang tumbuh besar yang sering kali meski berbatang raksasa, namun saat tertiup angin, ambruk dengan mudahnya.

Hal ini disebut oleh Lao Tzu—seorang guru dan filsuf besar Tiongkok—dalam salah satu pelajaran kehidupannya. Ia menyebut, “Sekali pun bambu meliuk diterpa angin, dia mempunyai pegangan, akar yang kuat menghujam di tanah.”

Bagaimana bambu bisa sekuat itu? Begini penjelasannya. Bambu saat pertama kali ditanam, di tahun pertama, di saat kita sibuk dan bersemangat menyiraminya agar tumbuh subur, ia seolah-olah diam saja. Bahkan, tak jarang, ilalang yang dibiarkan, malah tumbuh jauh lebih lebat dan suburnya.