“Di dunia ini ada 2 tipe orang: Tipe Landak dan Tipe Serigala," begitu tulis Isaiah Berlin yang sangat terkenal dengan metafora ini.

Serigala mengetahui banyak hal. Ia licik dan pintar. Ia cepat dan lincah. Ia selalu mencari dan mencari strategi-strategi baru untuk memukul lawannya serta tetap eksis di hutan, tempat hidupnya yang dirasakannya makin tambah sempit untuk mereka berdua.

Landak, di pihak lain, mengetahui hanya satu hal besar. Ia sederhana. Ia menggunakan hanya satu strategi untuk menang, tapi ia mengeksekusinya dengan sempurna dan tidak ada cacat sama sekali. Ketika Serigala mencoba menyerangnya, Landak akan melindungi dirinya dengan duri-duri yang dimilikinya yang ia tahu merupakan satu-satunya namun strategi terbaik yang dimiliknya.

Dalam dunia yang sangat penuh dengan informasi ini, Edward de Bono di banyak tahun yang lalu telah menawarkan sebuah pemikiran tentang bagaimana kita mengelompokkan informasi itu. Ada 6 tipe kelompok informasi yang sederhana tapi mengena.

SEGITIGA: Sebuah TUJUAN, artinya informasi ini memiliki sebuah arah yang jelas yang perlu untuk kita ketahui untuk suatu kebutuhan spesifik. Misalkan, informasi tentang seminar yang penting dimana anda tertarik untuk mengikutinya.

LINGKARAN: Sebuah AKURASI, seperti target kalau kita menembak, sebuah lingkaran menunjukkan kalau informasi ini, yang paling akurat yang dapat kita pakai untuk suatu kebutuhan, seperti sebuah data statistik yang kita cari lama tetapi baru kali ini kita temukan dan ini sangat akurat dan kita butuhkan.

“Harimau mati meninggalkan belang. Gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama”. Pepatah itu sangat kental dan kita ingat sebagai perwujudan bahwa setiap perbuatan di dunia, pasti akan dikenang. Baik atau buruk, sukses atau gagal, tergantung “nama” seperti apa yang ingin dikenang.

Jika hal positif yang selalu kita tanamkan, niscaya, siapa pun kita, kelak akan dikenang—minimal di lingkungan terdekat kita—sebagai insan yang memiliki nilai positif sepanjang hidup. Termasuk saat menghadapi kegagalan. Sebab, sejatinya, dengan hal-hal positif, kegagalan pasti akan berbuah kesuksesan. Tak ada sukses yang tak melewati kegagalan. Legenda Thomas Alva Edison dengan ribuan kali kegagalannya telah sering kita dengar. Atau, kisah Steve Jobs yang pernah dipecat dari perusahaan yang didirikannya sendiri, Apple dan kemudian mampu kembali untuk menyelamatkan Apple dari kebangkrutan.

Alkisah, suatu hari, Putri datang kepada ayahnya yang sedang membaca koran di teras belakang rumah.

"Ayah," sapa Putri dengan kepala tertunduk dan nada suara yang murung.

Sambil menurunkan koran yang sedang dibacanya, sang ayah memandang putrinya yang beranjak remaja itu. "Ada apa, Nak?"

"Ayah. Putri merasa capek. Putri sudah belajar mati-matian di sekolah, untuk mendapat nilai bagus. Tapi teman sekelasku bisa dapat nilai bagus dengan cara mencontek. Itu kan tidak adil namanya. Putri juga capek karena harus membantu ibu membersihkan rumah hingga waktu belajarku jadi kurang, sedangkan temanku pada punya pembantu. Kenapa kita tidak punya pembantu, Ayah?"

Pernahkah kita memperhatikan, rumpun bambu yang menjulang tinggi saat tertiup angin? Ia meliuk ke sana kemari. Bahkan, di tengah badai sekali pun, bahkan hingga liukannya seperti hendak menumbangkannya, bambu tetap kokoh berdiri. Tak tercerabut dari akarnya. Ia tak seperti banyak pepohonan yang tumbuh besar yang sering kali meski berbatang raksasa, namun saat tertiup angin, ambruk dengan mudahnya.

Hal ini disebut oleh Lao Tzu—seorang guru dan filsuf besar Tiongkok—dalam salah satu pelajaran kehidupannya. Ia menyebut, “Sekali pun bambu meliuk diterpa angin, dia mempunyai pegangan, akar yang kuat menghujam di tanah.”

Bagaimana bambu bisa sekuat itu? Begini penjelasannya. Bambu saat pertama kali ditanam, di tahun pertama, di saat kita sibuk dan bersemangat menyiraminya agar tumbuh subur, ia seolah-olah diam saja. Bahkan, tak jarang, ilalang yang dibiarkan, malah tumbuh jauh lebih lebat dan suburnya.

Opini publik sering kali membuat kita mudah terpengaruh. Apa yang dikatakan oleh banyak orang, seolah itu yang akan jadi kenyataan. Karena itu, pengaruh lingkungan sangat bisa membentuk pribadi seseorang.

Namun, ada kalanya, seseorang sudah “terbentuk” dari sono-nya. Ada orang yang sangat kuat kepribadiannya, sehingga lingkungan seperti apa pun tak akan bisa menggoyahkan semangatnya. Sebaliknya, ada pula yang berada di lingkungan yang sangat mendukung, namun karena tidak percaya diri, melakukan apa pun jadi terasa susah. Karena itu, saya sering mengungkapkan, “1000 orang berkata tidak bisa, tidak berarti apa-apa. Tapi kalau kita yang mengatakan tidak bisa, itu baru bencana.”

Inilah pentingnya kita selalu menanamkan rasa percaya diri. Karena sejatinya, Sang Mahapencipta selalu “menitipkan” berbagai macam potensi dalam setiap insan. Namun, “titipan” itu hanya akan muncul—disadari atau tidak—hanya dengan perjuangan. Kadang, muncul ketika kita dilanda masa-masa penuh ujian, sering pula datang saat-saat penuh kesulitan datang. Bahkan, kadang muncul saat di mana kita sendiri merasa hal tersebut seolah tidak mungkin terjadi.