Alkisah, ada seorang petani jagung yang sukses sekali dalam mengelola perkebunannya. Si petani bukan hanya mampu menghasilkan butir-butir jagung dengan kualitas yang prima tetapi juga dari hasil panennya yang sangat berlimpah.

Si petani telah beberapa kali memenangkan penghargaan, baik dari segi kualitas produk maupun kuantitasnya. Dari pemerintah pun, penghargaan tertinggi diraihnya karena dinilai sebagai pelopor kemajuan perekonomian masyarakat petani setempat.

Keberhasilan si petani bukan hanya untuk dirinya dan keluarganya saja, tetapi juga untuk petani-petani tetangganya. Dia seringkali membagi-bagikan bibit jagung berkualitasnya kepada mereka, mengajarinya cara bercocok tanam yang baik, sehingga hampir seluruh petani di daerah itu hidup sejahtera dan perekonomian pemerintah daerah pun juga meningkat tajam dan berlimpah.

Suatu hari, datang wartawan menanyakan, “Apa rahasia kesuksesan Bapak?”

Suatu pagi yang senyap, raja memutuskan untuk pergi berburu ditemani burung elang kesayangannya yang terlatih dalam berburu.

Di persimpangan jalan, raja ingin menikmati waktunya dan sengaja memilih arah yang berbeda dan berpisah dengan pengawalnya.

Tak lama, mentari bersinar dengan terik. Raja pun mulai merasa kehausan. Gerakan kuda melambat dan si elang pun terbang meninggalkannya.

Betapa gembiranya sang raja ketika melihat ada air yang mengalir dari celah-celah bebatuan di tempatnya melintas.

Ia segera melompat turun dari kuda, mengeluarkan piala perak berukuran kecil dari tas berburunya, dan menempelkan pialanya pada aliran air yang begitu pelan.

Setelah piala itu nyaris penuh dan air hendak diminum, tiba-tiba terdengar suara desing di udara.

Pada 2006, Blake Mycoskie, seorang pengusaha sekolah mengemudi melakukan perjalanan ke negara yang sudah lama menjadi incarannya untuk melancong, Argentina.

Sesampainya di sana, dia mengamati rata-rata orang memakai sepatu khas nasional mereka yang dinamai alpargata. Sepatu yang kasual, ringan, dan simpel.

Terlintas ide dalam pikirannya: kalau model sepatu seperti ini dibawa ke pasar Amerika dan sedikit dimodifikasi mungkin akan laku, tetapi dia segera meomotong ide tersebut. Pikirnya, dia sedang ingin berlibur dan tidak sedang ingin berbisnis.

Namun, situasi berubah begitu liburannya akan berakhir. Menjelang akhir liburannya, dia melihat kelompok orang yang sedang mengumpulkan donasi berupa sepatu yang akan diberikan kepada anak-anak yang membutuhkan. Ternyata di Amerika Latin banyak anak-anak yang tidak bersepatu, termasuk di negara berkembang seperti Argentina.

Dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengatakan, bahwa sukses adalah hak kita semua, hak Anda, dan hak siapa saja yang menyadari, menginginkan, dan memperjuangkan dengan sepenuh hati. Banyak yang kemudian bertanya, bagaimana bisa sukses adalah hak setiap orang, tapi yang terjadi banyak orang yang tidak sukses dalam hidupnya?

Pertanyaan semacam itu sebenarnya adalah sebuah pertanyaan dan sekaligus pernyataan, sebab jika dikaji lebih jauh, orang yang—dianggap—tidak sukses pun sebenarnya memiliki “derajat” kesuksesannya sendiri-sendiri. Hanya saja, tergantung dari sudut pandang mana seseorang membandingkan tingkat kesuksesan tersebut.

Ada kalanya, yang jadi pembanding adalah ukuran yang salah. Artinya, sampai kapan pun, ukuran itu tak akan pernah dicapai karena yang dibandingkan tidak sekelas. Misalnya, bercita-cita menjadi seperti Bill Gates sebagai ukuran suksesnya. Tentu akan sangat jauh untuk dicapai. Bukan tidak mungkin tercapai. Tapi, skala ukuran sukses inilah yang seharusnya sedari awal kita mulai dari hal yang sebanding terlebih dahulu.

Dikisahkan, ada seorang pelukis, yang dikenal luas karena kehalusan, ketelitian, dan keindahan lukisannya, serta sifatnya yang sangat memperhatikan detail objek yang digambarnya. Karena kehebatannya tersebut, pesanan lukisannya tidak pernah berhenti. Para kolektor maupun pencinta barang-barang seni sampai harus rela menunggu untuk mendapatkan karya-karyanya.

Suatu hari, setelah menyelesaikan sebuah lukisan, si pelukis merasa sangat puas dengan hasil lukisannya kali ini. Menurut pandangannya, lukisan itu sudah sangat sempurna. Melihat hasil tersebut, dia pun bermaksud mengadakan pameran lukisan. Dia ingin agar orang-orang dapat menikmati, serta mengagumi keindahannya.

Saat pameran, si pelukis meletakkan sebuah buku di dekat lukisan dengan keterangan sebagai berikut, “Yang terhormat, para pencinta dan penikmat seni. Setelah melihat dan menikmati lukisan ini, silakan isi di buku ini komentar Anda tentang kelemahan dan kekurangannya. Terima kasih atas waktu dan komentar Anda.”

Di tepi sebuah hutan, tampak dua lelaki muda sedang berlari pontang-panting sambil berteriak-teriak minta tolong. Rupanya mereka sedang dikejar-kejar oleh seekor serigala besar yang liar dan kelaparan.

Kebetulan, teriakan mereka didengar oleh seorang pemburu yang berada tidak jauh dari tempat itu. Si pemburu bergegas datang dengan senapan berburu siap di tangan.

Setelah mendapatkan posisi yang tepat, si pemburu langsung menembakkan senapannya.

Dor… dor…! Dua tembakan beruntun tepat mengenai sasaran dan langsung merobohkan serigala itu.

Kedua laki-laki muda pun bersyukur sekali setelah selamat dari maut. Masih dengan tubuh gemetaran dan berlinang air mata, keduanya mendekati si pemburu dan memperkenalkan diri.