Kehidupan pasti tak lepas dari aneka permasalahan. Ada yang berat, banyak pula yang ringan. Ada yang bisa diselesaikan dalam satu dua hari. Tapi sering pula baru terselesaikan berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lamanya. Dari semua masalah yang berhasil terselesaikan, ada satu kesamaan. Yakni, adanya solusi.
Solusi memang adalah jawaban dari persoalan. Namun sayangnya, ada banyak orang yang bukannya mencari solusi, tetapi menambah masalah. Padahal, semangat mencari solusi inilah yang seharusnya wajib kita kedepankan.
Lantas, bagaimana agar kita cepat mendapatkan solusi atas sebuah masalah? Kuncinya sederhana. Pahami masalah, cari inti persoalan, dan segera konsentrasikan diri untuk menyelesaikannya.
Ini sejalan dengan sebuah kisah Tiongkok kuno yang dituturkan oleh penasihat raja Xiang dari Kerajaan Chu, Zhuang Xin. Ia menceritakan kisah ada seorang peternak yang memiliki domba dan dikandangkan di ladang terbuka. Suatu ketika, salah satu dombanya hilang.
Dahulu kala di kastel nan jauh di tengah hutan, ada tiga remaja yang hidup bersama karena jati diri mereka dirampas oleh Penyihir Bayangan.
Anak lelaki yang terjebak di dalam kotak berkata, “Kita harus menemukan kembali jati diri kita agar tak bertengkar dan hidup bahagia.”
Mereka menaiki mobil kemah untuk mencari jati diri mereka.
Di perjalanan mereka bertemu Ibu Rubah yang sedang menangis di ladang yang dipenuhi salju.
Anak lelaki yang selau memakai topeng menanyakan Ibu Rubah, “Kenapa kau terus menangis?”
Ibu Rubah menjawab, “Aku kehilangan anak di ladang salju ini. Saat menggendongnya di punggungku, aku terlalu sibuk mencari makan.”
Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang bersenang-senang.
Ia bermain air yang bening di sana.
Sesekali tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat sangat menikmati permainannya.
Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing.
Setiap kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman asyik mengulurkan pancingnya.
Kadang, tangkapannya hanya sedikit. Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.
Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba mendekat.
Pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island.
Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya. Mereka mengganggap proyek itu adalah ide yang paling gila dan impossible di zaman itu.
Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu.
Ketika proyek itu baru berjalan beberapa bulan, terjadi kecelakaan yang fatal. Sayangnya, karena pertolongan yang terlambat, John Roebling tidak bisa diselamatkan.
Sedangkan Washington, walaupun nyawanya selamat, tetapi mengalami cedera parah pada kepalanya yang mempengaruhi motoriknya. Washington menjadi lumpuh dan tidak mampu berbicara. Namun demikian, impian ayahnya tentang jembatan tidak pernah padam dalam pikirannya.
Dalam masyarakat Jepang, salah satu jenis ikan yang sering diolah menjadi makanan adalah ikan salmon.
Ikan salmon akan terasa jauh lebih segar dan lezat apabila saat hendak diolah menjadi masakan, ikan ini masih dalam kondisi hidup.
Itulah sebabnya para nelayan selalu memasukkan ikan salmon hasil tangkapannya ke dalam kolam buatan agar di dalam perjalanan menuju daratan, ikan salmon tersebut dapat tetap bertahan hidup.
Meski demikian, banyak ikan salmon yang mati di dalam kolam buatan itu. Lalu, para nelayan mencari cara untuk menyiasati agar ikan salmon di dalam kolam buatan tersebut bisa bertahan hidup.
Mereka mencoba memasukkan seekor ikan hiu kecil ke dalam kolam buatan itu. Ajaibnya, hiu kecil itu berhasil membuat ikan-ikan salmon di dalam kolam yang sama terus bergerak. Karena risikonya jika tidak bergerak, ikan salmon itu akan dimangsa oleh hiu kecil.
Suatu hari di sebuah negeri. Seorang raja yang terkenal dengan kesombongan dan keserakahannya, beserta para pengiringnya, berpapasan dengan seorang paman berpakaian lusuh layaknya seorang pengemis.
Paman itu bergegas membungkuk hormat dan sang raja yang pagi itu sedang berbaik hati menyapanya, “Paman, apa yang hendak Paman minta?”
Si paman menjawab, “Yang Mulia bertanya kepada saya? Yang saya minta belum tentu Yang Mulia mampu mengabulkan.”
Dengan suara lantang sang raja berseru, “Sebutkan saja permintaanmu, tentu saja rajamu ini mampu memberi!”
Si paman menjawab tenang dan senyum, “Yang Mulia. Mohon maaf, jangan sembarang mengumbar janji dan perkataan.”
Page 11 of 33




