Opini publik sering kali membuat kita mudah terpengaruh. Apa yang dikatakan oleh banyak orang, seolah itu yang akan jadi kenyataan. Karena itu, pengaruh lingkungan sangat bisa membentuk pribadi seseorang.

Namun, ada kalanya, seseorang sudah “terbentuk” dari sono-nya. Ada orang yang sangat kuat kepribadiannya, sehingga lingkungan seperti apa pun tak akan bisa menggoyahkan semangatnya. Sebaliknya, ada pula yang berada di lingkungan yang sangat mendukung, namun karena tidak percaya diri, melakukan apa pun jadi terasa susah. Karena itu, saya sering mengungkapkan, “1000 orang berkata tidak bisa, tidak berarti apa-apa. Tapi kalau kita yang mengatakan tidak bisa, itu baru bencana.”

Inilah pentingnya kita selalu menanamkan rasa percaya diri. Karena sejatinya, Sang Mahapencipta selalu “menitipkan” berbagai macam potensi dalam setiap insan. Namun, “titipan” itu hanya akan muncul—disadari atau tidak—hanya dengan perjuangan. Kadang, muncul ketika kita dilanda masa-masa penuh ujian, sering pula datang saat-saat penuh kesulitan datang. Bahkan, kadang muncul saat di mana kita sendiri merasa hal tersebut seolah tidak mungkin terjadi.

Sukses kemarin tak berarti sukses hari ini. Butuh perjuangan dan kesadaran, bahwa zaman terus berubah. Sehingga, kewaspadaan ekstra di hari inilah yang akan membuat usaha maju selamanya.

Sayangnya, ada beberapa orang/pihak yang kadang tidak menyadari hal ini. Perubahan dianggap sebagai sebuah hal yang biasa. Sehingga, kewaspadaan pun jadi hal bukan menjadi perhatian utama.

Karena itu, tak jarang kita menemukan berbagai produk yang di masa lalu sangat berjaya, kini seolah hanya tinggal nama. Sebut saja merek Odol, yang kini hanya jadi sebutan untuk pasta gigi. Padahal, pada zaman dulu, merek itu sangat ternama. Ingat juga merek sepeda Federal? Model sepeda gunung yang sempat berjaya di era 80-90-an. Namun, kini, model dengan nama itu seolah menghilang entah ke mana.

Alkisah, dalam sebuah kesempatan, seorang perajin karya tradisional mengikuti sebuah ajang pameran. Untuk mengikuti pameran itu, karena harus datang ke kota dari desanya yang cukup jauh, ia harus benar-benar menguras tabungannya. Tapi, semua itu dilakukan dengan keyakinan, bahwa pameran yang biasanya didatangi oleh banyak orang akan membuat produk kerajinannya diborong pembeli.

Selama ini, ia memang hidup dari menjual kerajinan di desanya. Untuk itu, ia hidup pas-pasan karena hanya mengandalkan pembeli yang datang tak pasti. Karena itu, begitu mendengar ada kesempatan ikut pameran di kota, ia nekat. Semua hasil kerajinannya dibawa ke kota dengan harapan akan mengubah nasib setelah ikut pameran.

Sehari dua hari mengikuti pameran, pengunjung hanya datang melihat karyanya. Namun ia terus saja menanamkan keyakinan, bahwa pasti akan ada pengunjung yang membeli produknya. Tetapi, hari berganti, hingga menjelang akhir pameran, produknya tidak laris terjual. Ia pun nyaris putus asa. Sebab, jika dalam pameran itu ia gagal, ia sudah berjuang habis-habisan.

Dalam kehidupan ini, tak ada satu pun proses yang kita lewati tanpa adanya perjuangan. Tak ada juga proses yang tanpa melalui hambatan dan rintangan.

Saat bayi, ketika hendak belajar berjalan, kita pasti tak sekali dua kali jatuh. Namun, selalu saja ada dorongan agar kita bangkit lagi dan akhirnya bisa berdiri, berjalan, dan bahkan berlari. Kemudian, saat menjadi anak-anak hingga remaja, sudah pasti pula kita menghadapi berbagai macam tantangan, mulai dari urusan sekolah hingga pergaulan. Begitu pula saat menginjak dewasa dan mulai bekerja atau berbisnis. Sangat banyak halangan dan rintangan yang kita alami. Semua itu, menegaskan bahwa kita memang hidup dalam dunia yang penuh pembelajaran. Hanya mereka yang mampu melewati ujian dan cobaan dengan sikap pantang menyerahlah yang akan jadi sang pemenang.

Hal ini sejalan dengan pepatah bijak dalam judul artikel ini. Maknanya, untuk mencapai keberhasilan dalam segala bidang, sikap pantang menyerah harus diutamakan. Sikap pantang menyerah ini menjadi “pintu terakhir” sebelum membuka pintu kesuksesan sebenarnya. Karena itu, hal ini juga bisa dimaknai bahwa untuk meraih sukses, kita tak boleh melepas semangat juang.

Saat ini, banyak orang yang mendambakan sukses. Tetapi, sayangnya, banyak juga yang ingin sukses secara instan dan melakukan segala cara untuk mencapai impian yang didamba. Akibatnya, sukses yang didapat pun tak cukup kokoh saat menghadapi terjangan badai kehidupan.

Sejatinya, semua pasti berproses dan perlu waktu. Layaknya manusia yang lahir tidak bisa langsung jalan. Dan, saat bisa jalan, tidak bisa pula langsung berlari. Ini sejalan dengan pengertian yang terdapat dalam judul artikel ini.

Jika ada suatu prestasi yang sepertinya didapat secepat kilat, saya yakin pasti di balik itu ada proses dan perjuangan berat, yang barangkali tidak kita ketahui. Seperti kisah miliarder muda dari usaha dunia maya—yang belakangan sering jadi inspirasi untuk mencapai kesuksesan banyak orang—mereka pun tak sehari dua hari membangun bisnisnya.

Ada orang yang mengatakan sebuah pernyataan sarkastis, namun kerap disetujui oleh banyak pihak. Kalimat tersebut adalah kalau yang tidak jujur saja susah dapatnya, apalagi dengan cara yang jujur? Sekilas, di tengah maraknya kasus korupsi yang kerap menghiasi berbagai media belakangan ini, kalimat tersebut terasa menyentak akal sehat.

Tapi, apakah kemudian kejujuran telah demikian mahalnya untuk menjalankan sebuah bisnis? Saya sendiri berpendapat, bahwa bekerja, berkarya, dan berusaha harus berdasarkan prinsip baik, benar, dan jujur. Puluhan tahun menjadi pengusaha di beberapa bidang, saya merasakan, dengan prinsip itulah, saya lebih merasa nyaman dan tenang.

Ada satu ungkapan kuno yang saya letakkan dalam judul artikel ini, 诚心诚意 - cheng xin cheng yi. Meski makin “langka”, jujur adalah salah satu bentuk “cerdas hidup” yang pada akhirnya akan memuaskan semua pihak. Dan, sebagaimana usaha-usaha yang terus berkembang dan bertahan sekian lama, kunci utama “memuaskan pelanggan”—salah satunya dengan kejujuran—masih menjadi kekuatan yang dapat memajukan perusahaan.