Tak ada sukses besar tanpa dimulai dari yang kecil-kecil. Jangan remehkan prestasi kecil, karena di sanalah kita dipupuk untuk mencapai hasil-hasil lebih besar.
Semua terbentuk melalui proses. Dan, sayangnya, justru banyak orang yang lebih melihat sisi besarnya dibandingkan proses yang terjadi sebelumnya. Akibatnya, tak sedikit orang yang melihat kesuksesan orang lain dari kacamata besaran yang diraih—materi, jabatan, uang, kehormatan, dan hal besar lain—tanpa melihat lebih jauh bagaimana semua itu diperoleh.
Istilah the rising star atau bintang yang melesat kegemilangannya dengan cepat menjadi satu hal yang didamba banyak orang. Sukses pun sebisa mungkin dicapai dengan cara cara yang instan. Akibatnya, sukses yang bisa diraih pun rapuh. Jika tak waspada, mudah sekali untuk jatuh!
Pepatah Tiongkok Kuno mengatakan, perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah. Ini sebenarnya adalah “fondasi dasar” yang harus bisa kita miliki untuk meraih impian. Ada berbagai hal/proses kecil yang harus kita jaga konsistensinya untuk menjadi “kekuatan awal” terjadinya sukses besar yang kita dambakan.
Tubuh kita sebenarnya punya detektor paling canggih bernama hati nurani. Hampir setiap saat, kita punya intuisi berupa “suara hati” yang kerap muncul dalam berbagai momen. Saat-saat harus menentukan pilihan yang sulit, saat-saat akan melakukan hal yang tidak benar, suara itu akan menguat. Hanya saja, kadang kita kerap melewatkan begitu saja “bisikan-bisikan” itu. Sehingga, tak jarang, kita menyesal telah memutuskan sesuatu yang di masa depan ternyata berdampak kurang mengenakkan.
Lalu, apa dan bagaimana baiknya kita bersikap saat mendengar suara hati? Pilihan apa yang harus diambil saat nurani sudah bicara? Kebiasaan-kebiasaan kecil ini semoga bisa membantu kita untuk makin peka terhadap bisikan dari dalam diri.
Lihat wajah ke cermin saat mendengar suara hati, ketika harus menentukan apakah maju terus atau mundur dengan sebuah pilihan. Lihat perbedaan wajah saat kita berkata iya dan berkata tidak terhadap pilihan tersebut. Pilihan yang terbaik biasanya akan terlihat dari perbandingan wajah mana yang lebih cerah terhadap keputusan itu. Misalnya, saat ternyata iya membuat wajah lebih cerah, bisa jadi pilihan itu adalah yang terbaik.
Alkisah, di sebuah desa kecil, hidup dua orang pemuda yang sama-sama ingin mengubah nasibnya. Suatu hari, mereka memutuskan pindah ke kota. Namun karena kurang keterampilan dan pendidikan, mereka kesulitan mencari pekerjaan.
Ketika hampir putus asa, kedua pemuda ini menemukan tumpukan kayu bekas yang dibuang begitu saja oleh penduduk setempat. Mendapati tumpukan kayu itu, mereka langsung mengolah kayu itu menjadi aneka macam barang—perkakas dapur, almari kecil, hiasan rumah, dan lain sebagainya. Sebab, memang itu satu-satunya keahlian yang mereka miliki. Lalu, mereka pun pergi ke pasar untuk menjual karya mereka.
Rupanya, banyak orang yang menyukai hasil karya mereka. Maka, hanya dalam waktu relatif singkat, dengan modal yang tak seberapa, mereka bisa mendapatkan hasil yang lumayan untuk menyambung hidup mereka.
Hari demi hari mereka lalui dengan cara yang sama. Hingga, suatu kali, salah satu dari mereka mengeluh bosan menjalani hidup yang begitu-begitu saja.
Dikisahkan, di sebuah seminar motivasi, setelah mendengar banyak kiat-kiat dan pelajaran di sana, para peserta membawa kesan dan semangat yang membara untuk dipraktikkan di kehidupan mereka lebih lanjut. Di antara mereka, beberapa orang tampak mengalami kemajuan yang berarti. Mereka yang merasakan manfaat dan sangat terbantu setelah mengikuti seminar tersebut, memberitahu teman dan saudara-saudaranya bahwa seminar yang diikutinya sangat bagus dan luar biasa. Dia mulai melakukan anjuran yang diajarkan dan mengalami perubahan cara pandang dan kebiasaannya. Dalam kesehariaannya, dia berusaha terus menyemangati diri sendiri, aktif mengikuti kegiatan yang positif, mengarahkan seluruh perhatiannya pada usaha yang dijalankan, dan hasilnya….perubahan yang luar biasa di kehidupannya! Ia mengalami kemajuan dan bersyukur!
Ada kelompok yang lain. Setelah mengikuti seminar, mereka juga tampak bersemangat, bersiap-siap untuk mengadakan perubahan, membuat rencana sedetail mungkin. Sayangnya, setelah beberapa saat, rencana yang dibuat tetaplah rencana.
Dikisahkan, ada seorang bapak tua sedang mengunjungi anaknya di kota. Suatu sore, saat senggang, dia berjalan-jalan di seputar perumahan. Tiba-tiba terdengar bunyi suara yang menyakitkan telinga tuanya.
Mengikuti arah suara yang mengganggu itu ke sumbernya, tampak seorang anak kecil sedang belajar bermain biola. “Ngiiik!! Ngook!! Ngiik!! Ngokk!” Untuk pertama kalinya si bapak tahu tentang alat musik bernama biola dimainkan. Bapak itu berpikir, “Aku tidak ingin lagi mendengar suara yang mengerikan seperti itu.”
Hari lainnya, si bapak kembali mendengar suara yang mendayu-dayu membelai telinga tuanya. Dengan penasaran, diikutinya sumber suara merdu yang belum pernah didengarnya selama ini. Sesampainya di sana, bapak tua itu pun terperangah melihat seorang wanita tua, sang maestro, sedang memainkan sonata dengan biolanya. Diam-diam dia di sana, ikut menikmati alunan musik yang indah.
Seketika itu, bapak tua menyadari kesalahannya. Suara yang tidak mengenakkan telinga yang didengarnya dulu bukan lah merupakan kesalahan dari alat musiknya dan bukan pula salah si anak yang memainkannya. Suara mengerikan itu hanyalah proses belajar dan berlatih seorang anak untuk bisa memainkan alat musik biolanya dengan baik.
Di dalam masyarakat, hingga saat ini, banyak sekali orang masih percaya mitos-mitos yang menyesatkan yang menghambat kesuksesan kita.
Enam mitos menyesatkan tersebut adalah:
1. Mitos pendidikan: “Saya tidak bisa sukses karena pendidikan saya rendah”.
2. Mitos nasib: “Biar berjuang bagaimana pun, saya tidak mungkin sukses karena nasib saya memang sudah begini dari sononya”.
3. Mitos kesehatan: “Saya merasa diri saya tidak kuat secara fisik”.
4. Mitos usia: “Ini pekerjaan untuk anak muda, saya terlalu tua untuk pekerjaan ini”.
5. Mitos gender: “Ya jelas saja bisa, dia kan perempuan, saya kan laki-laki,” atau sebaliknya.
6. Mitos shio: “Dia kan shio macan.. memang bisa sukses, saya kan shio babi,” dan lain sebagainya.
Jika mitos-mitos itu telah dijadikan pedoman hidup, maka nasib kita akan sulit berubah. Sikap mental negatif seperti di atas, jelas merupakan pengertian yang salah. Apalagi jika sudah masuk ke alam bawah sadar kita, maka akan membawa dampak sangat negatif dalam kehidupan kita secara menyeluruh. Membuat kita kalah dan gagal sebelum berjuang!
Page 15 of 33




