Perusahaan manufaktur global berbasis produk berbahan kulit yang berorientasi ekspor asal Korea Selatan, PT Simone Batang Indonesia bakal membangun pusat produksi di Indonesia. Pihaknya sepakat mengucurkan duit senilai Rp429 miliar untuk membangun pusat produksi di KEK Industropolis Batang.

Tak hanya itu, investor kakap tersebut juga akan menyerap 6.000 Tenaga Kerja. Simone akan membangun fasilitas produksi di atas lahan seluas 8,28 hektare. Masuknya investasi ini menjadi relevan di tengah upaya Indonesia memperkuat daya saing industri manufaktur global, khususnya dalam menarik relokasi dan ekspansi perusahaan internasional.

Direktur Pemasaran & Pengembangan KEK Industropolis Batang, Indri Septa Respati, menyampaikan bahwa ini bisa menjadi awal tren perusahaan internasional menjadikan kawasan Indonesia sebagai basis produksi untuk pasar ekspor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kinerja sektor manufaktur Indonesia yang mengalami kontraksi pada April 2026 tidak lepas dari ketidakpastian global, khususnya dampak konflik geopolitik terhadap rantai pasok dunia.

Menurut Airlangga, ketegangan global membuat pelaku industri semakin berhati-hati, terutama terkait potensi gangguan lanjutan pada supply chain.

"Manufaktur turun karena memang masa depan dari perang ini kan masih, masih tidak pasti. Jadi dari supply chain juga khawatir bahwa gangguan berikut adalah supply chain," ujar Airlangga kepada awak media di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (4/5/2026). 

Ia menjelaskan, tekanan tersebut tidak hanya berasal dari sisi distribusi, tetapi juga menjalar dari sektor energi ke industri turunan seperti petrokimia, plastik, hingga kemasan dan logistik. Padahal, sektor manufaktur sangat bergantung pada kelancaran logistik dan stabilitas permintaan.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan bahwa industri manufaktur menegaskan perannya sebagai kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional yang mencerminkan ketahanan industri di tengah dinamika global.

Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen (year-on-year), dengan industri pengolahan tetap mendominasi struktur perekonomian melalui kontribusi sebesar 19,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan di Jakarta, Rabu menegaskan, capaian tersebut menjadi bukti ketahanan sektor manufaktur yang tetap terjaga.

“Kinerja industri manufaktur tetap solid karena adanya permintaan yang meningkat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Ini menegaskan bahwa manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional,” ujar Menperin.

Kinerja industri pengolahan nasional pada April 2026 masih menunjukkan ketahanan di tengah dinamika global yang semakin kompleks, tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang berada pada level 51,75 atau tetap dalam fase ekspansi.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Arief mengatakan, meskipun IKI mengalami perlambatan tipis sebesar 0,11 poin dibandingkan bulan sebelumnya, kondisi tersebut masih mencerminkan resiliensi industri nasional.

“Dampak krisis energi akibat gejolak geopolitik memengaruhi sejumlah subsektor tertentu, seperti industri kimia dan sektor hilir lainnya termasuk tekstil,” ujarnya di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Secara umum, seluruh variabel pembentuk IKI masih berada dalam fase ekspansi, yakni variabel pesanan sebesar 51,43, produksi 51,34, dan persediaan 53,13. Namun, variabel pesanan dan produksi mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, yang mengindikasikan perlambatan permintaan dan aktivitas produksi.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus memperkuat kinerja industri manufaktur nasional.

Hal tersebut ditegaskan dalam pertemuan antara Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Menperin mengatakan, pertemuan tersebut membahas berbagai tantangan yang dihadapi pelaku industri di lapangan sekaligus merumuskan langkah strategis sebagai solusi kebijakan.

“Kita bedah berbagai macam kendala yang mungkin dihadapi pelaku usaha industri, kemudian kita carikan jalan keluarnya. Kami juga memberikan apresiasi karena Kementerian Keuangan telah membuka dan mengkanalisasi berbagai permasalahan, termasuk melalui pembentukan tim debottlenecking,” ujarnya.

Menurut dia, koordinasi erat antara Kemenperin dan Kemenkeu menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan yang tepat sasaran, baik dalam bentuk stimulus maupun insentif, guna mempercepat pertumbuhan sektor manufaktur sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

Dalam menghadapi persaingan pasar global yang semakin ketat, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) industri menjadi agenda prioritas Kementerian Perindustrian. Apalagi, sektor industri manufaktur nasional membutuhkan talenta unggul yang memiliki keahlian teknis tinggi serta daya inovasi yang kuat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, penciptaan SDM kompeten yang mampu mendukung pertumbuhan sektor industri manufaktur nasional dapat dilakukan melalui penyelenggaraan pendidikan vokasi yang saat ini menjadi prioritas nasional.

“Pendidikan vokasi menjadi fondasi utama untuk mendukung pertumbuhan sektor manufaktur yang berkelanjutan agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, baik di dalam negeri maupun pasar global,” kata Menperin dalam keteranannya di Jakarta, Selasa (28/4).