Menteri Perindustrian Sarmuji menekankan upaya pemerintah untuk mengembalikan industri manufaktur sebagai lokomotif utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia mematok laju ekspansi sektor industri mampu melampaui pertumbuhan ekonomi makro, dengan target kenaikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) dari kisaran 19 persen saat ini menjadi di atas 20 persen, bahkan menembus rentang 21 hingga 25 persen.
Untuk merealisasikan target tersebut, Kemenperin terus memperkokoh ekosistem usaha agar sektor pengolahan dapat melaju lebih cepat.
"Kita menargetkan supaya pertumbuhan industri lebih tinggi lagi, melebihi pertumbuhan ekonomi. Kenapa? Karena industri inilah sebenarnya yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi," kata Sarmuji dalam keterangan resmi dikutip Senin (12/10/2026).
Sarmuji memaparkan bahwa lompatan kontribusi industri sangat penting dalam memperkuat postur perekonomian, menciptakan nilai tambah komoditas di dalam negeri, sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri manufaktur nasional guna mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT) memiliki peran strategis dalam meningkatkan nilai tambah, ekspor, investasi, serta penyerapan tenaga kerja.
Untuk mencapai target tersebut, Produk Domestik Bruto (PDB) nasional diproyeksikan perlu meningkat sebesar Rp7.674 triliun selama periode 2026–2029, dari Rp23.312 triliun pada tahun 2025 menjadi Rp30.986 triliun pada tahun 2029. Sektor IKFT ditargetkan tumbuh sebesar 7,85 persen pada tahun 2029, dengan kontribusi terhadap PDB nasional mencapai 4,35 persen dan kontribusi ekspor sebesar 18,66 persen.
Kinerja sektor IKFT menunjukkan potensi yang menjanjikan. Pada triwulan II tahun 2026, industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36 persen, sedangkan industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 11,30 persen. Sementara itu, nilai ekspor IKFT sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai USD34,2 miliar, melampaui nilai impor sebesar USD32,75 miliar.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan pentingnya mengakselerasi pengembangan kawasan industri sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) guna mempercepat hilirisasi, memperkuat struktur industri nasional, serta meningkatkan pemerataan investasi.
“Pengembangan kawasan industri penting untuk diupayakan sebagai Proyek Strategis Nasional agar percepatan hilirisasi dan pembangunan industri dapat berjalan lebih optimal. Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait guna membahas usulan dan tindak lanjutnya,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (10/10).
Kemenperin mendukung pengusulan sejumlah kawasan industri sebagai PSN dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027. Langkah ini diarahkan untuk mempercepat pembangunan kawasan industri yang terintegrasi, mendukung hilirisasi, dan memperkuat ekosistem industri nasional.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan penguatan industri permesinan nasional untuk meningkatkan kapasitas industri dalam rangka memenuhi kebutuhan mesin dari dalam negeri.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Setia Diarta mengatakan industri permesinan menjadi salah satu sektor yang mendapat penekanan dari Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dalam rapat kerja bersama jajaran ILMATE.
"Poin pertemuan sebenarnya adalah kami menyampaikan kepada Pak Menteri. Tadi memang Pak Menteri memberikan penekanan pada industri permesinan," kata Setia di Kantor Kemenperin, Senin (5/10/2026).
Sebagai langkah awal, Kemenperin akan melakukan audit untuk mengidentifikasi kebutuhan mesin pada berbagai sektor industri. Hasil audit tersebut selanjutnya akan dikaji untuk menentukan jenis mesin yang menjadi prioritas pengembangan.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) semakin fokus mendorong industri kecil dan menengah (IKM) agar naik kelas dan mampu memperluas pasar hingga ke tingkat global. Langkah tersebut ditempuh dengan memprioritaskan pembinaan terhadap IKM yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif, sekaligus memperkuat pemanfaatan teknologi digital untuk membuka peluang ekspor.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan, besarnya populasi IKM merupakan kekuatan yang perlu dioptimalkan untuk menopang struktur industri nasional. Sebanyak 4,43 juta unit usaha sektor IKM tersebar di berbagai wilayah Indonesia, yang terdiri atas sekitar 4,41 juta industri kecil dan mikro serta 22.161 industri skala menengah.
“Kita bisa konsentrasi pada industri kecil dan menengah yang berorientasi ekspor. Karena di era sekarang, orang bisa berjualan secara online sampai ke luar negeri. Ada teman saya yang bahkan menjual dawet sampai ke Hong Kong. Jadi, urusan ekspor jangan hanya menjadi domain industri besar, tetapi industri kecil dan menengah juga harus bisa,” kata Menperin dalam rapat kerja internal dengan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) di Jakarta, Rabu (7/10).
Industri mainan merupakan salah satu bagian dari sektor industri aneka yang memiliki karakteristik dan potensi yang sangat strategis. Mainan tidak hanya dipandang sebagai produk untuk hiburan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses pendidikan, pengembangan kreativitas, kemampuan motorik, imajinasi, hingga kemampuan memecahkan masalah pada anak.
Kementerian Perindustrian terus memacu penguatan daya saing industri mainan melalui peningkatan kualitas dan standardisasi produk, pengembangan kapasitas industri, serta perluasan akses pasar. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen Kemenperin dalam memperkuat ekosistem industri mainan nasional agar semakin kompetitif dan mampu memanfaatkan peluang pasar dalam negeri maupun global.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Indonesia Toy Forum 2026. Kegiatan ini merupakan sinergi antara Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) dengan Asia Toy and Play Association (ATPA) yang bertujuan untuk mempertemukan pemerintah, pelaku industri, dunia pendidikan, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan dalam membahas peluang dan tantangan sekaligus merumuskan arah pengembangan industri mainan Indonesia.
Page 1 of 174




