Transformasi digital di sektor manufaktur kini menjadi kebutuhan strategis untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat visibilitas operasional, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

PT Bisnis Sistem Indonesia (PTBSI) bersama Infor Indonesia menyelenggarakan Indonesia Manufacturing Symposium 2026 di Swiss-Belinn Cikarang, Bekasi, Jawa Barat

Mengusung tema “Shaping the Future: Digital Transformation & Cloud ERP in Smart Manufacturing 4.0”, forum ini mempertemukan para pelaku industri, praktisi teknologi, dan pemimpin perusahaan manufaktur untuk membahas peran penting cloud ERP dalam membangun operasional yang lebih terintegrasi, responsif, dan adaptif terhadap dinamika pasar.

Pada sesi pembuka, Senior Solution Consultant Infor Indonesia, Kris Agus Santoso, menjelaskan bahwa peran Enterprise Resource Planning (ERP) telah berkembang jauh melampaui fungsi administratif.

Kementerian Perindustrian terus memperkuat langkah dekarbonisasi sektor manufaktur sebagai bagian dari transformasi menuju industri hijau dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) Indonesia. Upaya tersebut diwujudkan melalui penguatan implementasi pengukuran, pelaporan, serta verifikasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang kredibel dan terstandar di lingkungan industri nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, transformasi industri menuju ekonomi hijau membutuhkan komitmen seluruh pelaku industri dalam menerapkan tata kelola emisi yang akuntabel dan sesuai standar internasional.

“Verifikasi emisi GRK merupakan bagian penting dalam membangun industri nasional yang berdaya saing global, berkelanjutan, serta adaptif terhadap tuntutan pasar internasional. Langkah ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mencapai target Net Zero Emission dan penguatan daya saing industri nasional di pasar global,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Senin (8/6).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan peningkatan porsi ekspor produk manufaktur Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Jika saat ini komposisi penjualan produk manufaktur masih didominasi pasar domestik dengan perbandingan sekitar 80 persen untuk dalam negeri dan 20 persen untuk ekspor, pemerintah ingin mendorong komposisi tersebut menjadi 70 persen domestik dan 30 persen ekspor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi memperkuat daya saing industri nasional sekaligus memperluas penetrasi produk manufaktur Indonesia di pasar global.

"Pasar domestik tetap menjadi kekuatan utama industri nasional. Namun ke depan, kita perlu memperkuat industri yang berorientasi ekspor agar penetrasi produk manufaktur Indonesia di pasar global semakin besar. Targetnya, komposisi yang saat ini sekitar 20 persen ekspor dan 80 persen domestik dapat meningkat menjadi 30 persen ekspor dan 70 persen domestik, tanpa mengurangi kemampuan industri memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri," kata Agus dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya mengoptimalkan potensi industri minuman ringan nasional di tengah pelemahan daya beli masyarakat yang masih dirasakan pelaku usaha. 

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan, minuman ringan merupakan salah satu bagian dari subsektor minuman yang terdiri dari air minum dalam kemasan (AMDK), kopi dan teh kemasan, serta minuman sari buah dan minuman berkarbonasi. Secara volume, produk AMDK mendominasi pangsa pasar sebesar 62%. 

Hingga saat ini, tercatat setidaknya 126 unit industri minuman ringan dengan kapasitas produksi mencapai 15,5 miliar liter per tahun.

"Industri ini menghasilkan efek ganda terhadap tumbuhnya sektor perekonomian lainnya seperti sektor transportasi, penjualan ritel, dan industri-industri pendukungnya seperti kemasan, dan lain-lain," ujar Merrijantij dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat struktur industri manufaktur yang berorientasi ekspor guna meningkatkan ketahanan industri nasional di tengah dinamika ekonomi global.

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita menargetkan peningkatan rasio penjualan produk manufaktur dari komposisi saat ini sekitar 20 persen untuk pasar ekspor dan 80 persen untuk pasar domestik menjadi 30 persen ekspor dan 70 persen domestik. Hal itu dengan tetap menjaga kecukupan pasokan dan daya saing produk manufaktur di pasar dalam negeri.

"Pasar domestik tetap menjadi kekuatan utama industri nasional. Namun ke depan, kita perlu memperkuat industri yang berorientasi ekspor agar penetrasi produk manufaktur Indonesia di pasar global semakin besar. Targetnya, komposisi yang saat ini sekitar 20 persen ekspor dan 80 persen domestik dapat meningkat menjadi 30 persen ekspor dan 70 persen domestik, tanpa mengurangi kemampuan industri memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri," kata Agus dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).

Kinerja manufaktur Indonesia mulai merangkak naik. Laporan S&P Global memperlihatkan data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat menjadi 50,0 pada Mei 2026 dari bulan sebelumnya yang berada di level 49,1. 

Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengatakan perolehan tersebut secara angka mengindikasikan kondisi operasional yang mulai stabil. Namun, indikasi stabilitas ini berpotensi hanya ilusi. 

Pasalnya, indeks manufaktur hanya ditopang oleh permintaan baru dari pasar domestik, yang mengindikasikan konsumen lokal menimbun stok untuk mengantisipasi gejolak harga di masa depan. 

Secara eksternal, ekspor turun selama tiga bulan berturut-turut dengan tingkat kontraksi paling tajam sejak Agustus 2021 akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan tingginya harga bahan baku di pasar global. Kondisi ini selaras dengan surplus neraca perdagangan April 2026 yang merosot ke level US$ 89,1 juta, terendah sejak defisit pada masa pandemi pada April 2020.