Industri pengolahan Indonesia mulai menunjukkan tren pertumbuhan yang lebih kencang dibandingkan ekonomi nasional. Kondisi ini menjadi perkembangan penting setelah selama bertahun-tahun pertumbuhan industri cenderung berada di bawah pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Menteri Perindustrian Sarmuji mengungkapkan, pertumbuhan industri pengolahan pada triwulan III-2026 mencapai 5,87% secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,47%.
"Alhamdulillah, pertumbuhan ekonomi di triwulan ketiga kita 5,47. Pertumbuhan sektor industri tumbuh 5,87 lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional dan jaraknya mulai agak menjauh, kita lebih tinggi," ujar Sarmuji dalam Media Gathering Forum Wartawan Industri (Forwin) di Sentul, Jumat (6/11/26).
Perubahan tersebut menjadi catatan tersendiri bagi industri manufaktur nasional. Sebab, selama kurang lebih 14 tahun, pertumbuhan industri pengolahan cenderung berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun keduanya beberapa kali bergerak beriringan.
Aktivitas industri manufaktur Indonesia semakin ekspansif pada Oktober 2026. Meski demikian, penguatan aktivitas produksi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan industri yang merata.
Pelaku usaha masih menghadapi tekanan biaya bahan baku dan energi, sementara realisasi investasi serta penyerapan tenaga kerja belum menunjukkan penguatan signifikan.
Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September 2026. Angka tersebut merupakan level ekspansi tertinggi sejak Maret 2024.
Penguatan PMI ditopang oleh peningkatan permintaan domestik dan ekspor. Pesanan baru manufaktur bahkan tumbuh dengan laju tercepat dalam lima tahun terakhir.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) pada triwulan III 2026 sebesar 52,75 atau naik jika dibandingkan dengan triwulan II 2026 sebesar 52,67.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, mengatakan nilai IKBM yang berada di atas 50 menunjukkan bahwa kondisi dan prospek bisnis industri manufaktur pada triwulan III tahun 2026 berada pada fase ekspansi.
Ia mengatakan, berdasarkan komponen pembentuknya, sebagian besar komponen masih berada pada fase ekspansi.
Komponen pesanan meningkat dari 54,46 pada triwulan II tahun 2026 menjadi 54,72 pada triwulan III tahun 2026.
Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober 2026 meningkat menjadi 53,77, naik 1,84 poin dibandingkan September 2026 yang sebesar 51,93. Meski aktivitas manufaktur menunjukkan penguatan, variabel persediaan masih berada dalam fase kontraksi selama lima bulan berturut-turut.
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Eko S.A. Cahyanto mengatakan, peningkatan IKI mencerminkan berlanjutnya ekspansi sektor industri pengolahan nasional. Dari 23 subsektor yang menjadi objek penilaian, sebagian besar menunjukkan kinerja yang baik.
“Apabila kita perhatikan, IKI dari bulan ke bulan menunjukkan sektor industri terus ekspansi dan kuat. Dari 23 subsektor yang menjadi objek penilaian IKI, dapat kami sampaikan bahwa sebagian besar tumbuh sangat baik,” kata Eko dalam Rilis IKI Oktober 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Kementerian Keuangan buka suara mengenai ekspansi aktivitas manufaktur Indonesia menguat pada Oktober 2026.
Adapun, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat ke level 54,0 dari 52,4 pada September 2026, tertinggi sejak Maret 2024.
Pelaksana tugas Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Hidayat Amir mengatakan, penguatan ini ditopang pertumbuhan permintaan baru yang tercepat sejak Oktober 2021 disertai peningkatan permintaan ekspor.
Perkembangan tersebut mendorong akselerasi produksi dan pembelian bahan baku, sekaligus memperkuat prospek industri pada kuartal IV 2026.
Menurutnya, pemerintah terus memberikan dukungan dengan menjaga keberlanjutan permintaan domestik, memperkuat daya saing industri, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Dengan begitu, konsistensi ekspansi produksi diharapkan terus berlanjut dan makin mendorong penyerapan tenaga kerja untuk kesejahteraan masyarakat.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebut target pemerintah untuk meningkatkan utilisasi kapasitas industri manufaktur nasional menjadi 80%-85% hingga akhir 2026 cukup ambisius. Pasalnya, utilisasi industri manufaktur saat ini baru mendekati 70%.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin mengatakan, kenaikan utilisasi sekitar 10-15 poin persentase dalam waktu singkat bukan perkara mudah. Meski demikian, target tersebut masih terbuka untuk dicapai oleh subsektor tertentu yang memiliki permintaan kuat dan mendapat dukungan pasokan bahan baku serta energi.
"Target tersebut ambisius dan sulit dicapai secara merata dalam waktu singkat, meskipun masih mungkin bagi subsektor tertentu yang memiliki pesanan kuat," kata Saleh dalam keterangannya kepada Kontan, Rabu (28/10/2026).
Menurut dia, indikator aktivitas manufaktur memang menunjukkan perbaikan. PMI Bank Indonesia (PMI-BI) tercatat naik dari 51,43 pada kuartal II 2026 menjadi 52,28 pada kuartal III 2026. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) September 2026 berada di level 51,93.
Page 1 of 177




