Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mempertegas langkah reformasi regulasi untuk menjaga momentum investasi di sektor manufaktur melalui penyempurnaan aturan pengelolaan lingkungan di kawasan industri. Kebijakan terbaru ini dinilai menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat perizinan usaha sekaligus memperkuat kepastian hukum bagi investor.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerbitan Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 2 Tahun 2026 tentang Tata Cara Penyusunan dan Persetujuan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL-RPL) rinci bagi rencana usaha dan/atau kegiatan di kawasan industri.

Aturan anyar ini merupakan penyempurnaan dari Permenperin Nomor 1 Tahun 2020, sekaligus penyesuaian atas kebijakan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025, pembaruan dari PP Nomor 5 Tahun 2021. Langkah tersebut memperlihatkan fokus pemerintah dalam memangkas hambatan administratif yang selama ini kerap menjadi perhatian pelaku usaha.

Industri pulp dan kertas nasional terus menunjukkan peran strategisnya sebagai salah satu sektor manufaktur bernilai tambah tinggi yang berkontribusi positif terhadap perekonomian Indonesia. Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, sektor ini juga berperan penting dalam meningkatkan ekspor, terutama di tengah prospek pasar produk kertas yang sangat menjanjikan, khususnya untuk kebutuhan kemasan berbagai sektor industri seperti makanan dan minuman, fesyen, serta elektronika.

Berdasarkan data tahun 2025, industri kertas, barang kertas, dan percetakan memberikan kontribusi sebesar 3,73 persen terhadap PDB pengolahan nonmigas. Pada periode yang sama, ekspor pulp telah mencapai USD 3,60 miliar dan ekspor kertas sebesar USD 4,57 miliar. Industri ini juga menyerap lebih dari 280 ribu tenaga kerja langsung dan 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung, dengan total 113 perusahaan. Secara global, Indonesia menempati peringkat ke-7 untuk industri pulp dan ke-6 untuk industri kertas, serta menduduki posisi ke-2 dan ke-4 di kawasan Asia.

Pemerintah terus memperkuat agenda hilirisasi industri sebagai bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional guna meningkatkan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong daya saing industri dalam negeri di tengah dinamika perekonomian global yang penuh tantangan.

Atas dasar itulah, membangun pabrik melamin pertama danterbesar di Indonesia, proyek pembangunan oleh PT GEABH Joint Technology di Gresik, Jawa Timur.  “Ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan industri Indonesia,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang hadir secara virtual dalam Peletakan Batu Pertama (Groundbreaking).

Pembangunan pabrik melamin tersebut merupakan bagian dari pengembangan kawasan industri terintegrasi di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik yang terus menunjukkan kinerja positif dalam menarik investasi strategis. Hingga akhir tahun 2025, total investasi kumulatif di KEK secara nasional telah mencapai sekitar USD19,7 miliar, dengan kontribusi signifikan dari KEK Gresik yang mencapai sekitar USD6,1 miliar atau sekitar 31% dari total investasi KEK nasional.

Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menegaskan pentingnya konsolidasi strategis lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat daya saing industri pulp dan kertas nasional di tengah tekanan global dan dinamika kebijakan perdagangan internasional.

Ketua Umum APKI, Suhendra Wiriadinata, menyampaikan bahwa industri pulp dan kertas saat ini berada pada fase krusial yang menuntut respons kolektif dan terkoordinasi. Ketidakpastian geopolitik, tekanan rantai pasok global, serta perubahan kebijakan perdagangan internasional menuntut industri untuk semakin adaptif sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor.

“Industri tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan konsolidasi yang kuat antar pelaku usaha, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan agar kita mampu merespons dinamika global secara adaptif sekaligus menjaga daya saing nasional,” kata Suhendra dalam keterangannya, Selasa (7/4).

Indonesia mulai membangun pabrik melamin pertama dan terbesar di dalam negeri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur. Proyek ini menjadi bagian dari upaya mempercepat hilirisasi industri kimia nasional.

Investasi yang masuk mencapai US$ 600 juta atau sekitar Rp 10,2 triliun. Pabrik ini dirancang memiliki kapasitas produksi melamin hingga 120.000 ton per tahun dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal II 2027.

Proyek yang dikembangkan oleh PT GEABH Joint Technology ini akan mengolah gas alam menjadi amonia, kemudian diproses menjadi urea hingga produk turunan bernilai tambah seperti melamin dan amonium nitrat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, proyek ini menjadi bagian penting dalam pengembangan industri nasional berbasis nilai tambah.

Di tengah tekanan global, ekonomi Indonesia bisa bertahan dengan baik. Bahkan, untuk sektor manufaktur, tetap ekspansif.

Data S&P Global menunjukkan, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Maret 2026 masih di angka 50,1. Capaian ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur tetap berada di zona ekspansi, meski mengalami sedikit penurunan dibandingkan Februari yang mencapai 53,8. 

"Sektor manufaktur Indonesia tetap ekspansif pada Maret 2026, ditopang permintaan domestik dan kinerja mitra dagang utama yang terjaga,” ujar Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu, dalam keterangan resmi, Sabtu (4/4/2026).

Seperti sektor lain, manufaktur juga sedang menghadapi tekanan dari geopolitik global, kenaikan harga energi, dan gangguan rantai pasok internasional. Namun, aktivitas industri manufaktur masih berjalan dengan baik.