Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berkomitmen meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing sektor industri agro, khususnya hasil hutan dan perkebunan, melalui Program Restrukturisasi Mesin dan/atau Peralatan Sektor Industri Agro Tahun Anggaran (TA) 2026.
Program ini disosialisasikan oleh Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan (IHHP), Direktorat Jenderal Industri Agro, kepada para pelaku industri di Bogor beberapa waktu lalu. Sosialisasi tersebut membahas tata cara dan mekanisme program, tata cara pendaftaran melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), pemanfaatan mesin dan peralatan produksi dalam negeri, penerapan prinsip industri hijau, kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta tahapan verifikasi hingga pencairan bantuan reimbursement.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa restrukturisasi mesin dan peralatan merupakan instrumen strategis pemerintah untuk memperkuat fondasi industri nasional. Langkah ini diharapkan tidak hanya mendongkrak kapasitas produksi, tetapi juga memperkokoh ekosistem industri dari hilir ke hulu.
Industri pelumas memiliki peran penting dalam mendukung berbagai aktivitas di sektor manufaktur. Kementerian Perindustrian terus memperkuat kemampuan industri produk pelumas di dalam negeri melalui penguatan basis manufakturnya. Hal ini tercermin dari masuknya investasi manufaktur dengan membangun kapasitas produksi baru yang sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah, pemanfaatan industri pendukung, dan substitusi impor.
“Bagi Pemerintah, investasi ini penting karena menghadirkan kapasitas produksi dan teknologi manufaktur baru, sekaligus memperkuat keterkaitan dengan industri pendukung di dalam negeri. Inilah arah industrialisasi yang kita kehendaki, yaitu investasi yang memperkuat kapasitas produksi, nilai tambah, teknologi, dan ekosistem industri nasional,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat meresmikan Shell Grease Manufacturing Plant di Marunda, Bekasi, Selasa (15/9).
Penguatan basis manufaktur tersebut sejalan dengan kinerja positif industri pengolahan nonmigas (IPNM) nasional. Pada Triwulan II 2026, IPNM tumbuh 5,32 persen secara tahunan (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. IPNM juga memberikan kontribusi pertumbuhan terbesar, yakni 0,97 poin persentase.
Indonesia dan Bulgaria memiliki sejumlah kesamaan dalam perkembangan sektor industri. Di tengah karakter ekonomi dan potensi sumber daya yang berbeda, kedua negara sama-sama memiliki industri manufaktur yang berkembang dan mencakup berbagai sektor strategis, antara lain pada industri makanan dan minuman, otomotif, mesin dan peralatan, logam, serta produk kimia.
Berbagai sektor tersebut tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan melalui perdagangan, investasi, penguasaan teknologi, dan kerja sama antarpelaku industri. Oleh karena itu, kedua negara melakukan pertemuan yang membahas kerja sama konstruktif untuk memperkuat industri di Indonesia maupun Bulgaria.
“Kami memandang pertemuan ini sebagai bentuk konkret dari upaya bersama untuk terus memajukan sektor perekonomian, khususnya di bidang industri dan manufaktur,” ujar Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (21/9).
Investor asal Taiwan disebut mulai melirik peluang pembangunan basis produksi chip di Indonesia. Pengembangan industri tersebut dinilai terbuka dalam 10 tahun ke depan, seiring percepatan pembangunan ekosistem industri baterai nasional.
Executive Director CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan sejumlah investor Taiwan telah datang untuk meminta masukan terkait peluang masuk dan membangun basis produksi chip di Indonesia.
“Dari beberapa yang saya temui, terutama salah satu yang cukup antusias adalah investor dari Taiwan. Mereka sering datang untuk minta advice kaitannya untuk masuk membangun basis produksi chip yang ada Indonesia,” kata Faisal dalam acara MediaMIND 2026 bertema “Hilirisasi Nikel dan Optimasi Nilai Tambah dalam Negeri” yang digelar secara daring, Senin (14/9/2026).
Meski demikian, Faisal mengaku belum mengetahui sejauh mana tindak lanjut dari ketertarikan investor tersebut. Menurutnya, peluang pengembangan industri chip di Indonesia cukup besar apabila didukung kepastian pasar dan minat investasi yang berkelanjutan.
Kerja sama Indonesia dengan China terkait pengembangan industri dan rantai pasok terus diperkuat. Melalui inisiatif Two Countries Twin Parks (TCTP), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang turut memperkuat konektivitas dengan ekosistem industri di China sekaligus membuka peluang kerja sama investasi, industri, dan business matching antara kedua negara.
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) Ali Murtopo Simbolon mengatakan, arah baru hubungan Indonesia-China menuju kerja sama ekonomi yang lebih konkret. Fokus utamanya berpusat pada perluasan investasi, perdagangan, pengembangan kawasan industri, serta penguatan rantai pasok.
Sementara, Direktur Pemasaran dan Pengembangan KEK Industropolis Batang, Angga Brahmana Sukma, menuturkan, KEK Industropolis Batang membuka pintu bagi kolaborasi strategis dengan pelaku industri dari China.
Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, menyoroti kembali melemahnya Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia versi S&P Global yang turun ke level 49,8 pada Agustus 2026, dari 50,2 pada Juli. Angka ini menandai sektor manufaktur nasional kembali masuk zona kontraksi berada di bawah ambang batas 50 yang memisahkan ekspansi dan pelemahan aktivitas industri.
"PMI ini bukan sekadar angka statistik. Ia mencerminkan denyut nadi sektor riil kita, terutama industri padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja. Ketika PMI kembali terkontraksi, itu sinyal yang harus direspons cepat oleh pemerintah, bukan ditunggu sampai dampaknya membesar," ujar Amin. Sabtu (12/09).
Ia menjelaskan, penurunan PMI Agustus terutama didorong oleh melemahnya kembali produksi dan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur.
Kedua indikator ini tercatat menurun dalam 5 dari 6 periode survei terakhir, menunjukkan tekanan yang cukup persisten, bukan sekadar fluktuasi sesaat.
Page 1 of 172




