Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik guna memperkuat daya saing industri nasional. Langkah ini dilakukan melalui penyederhanaan proses layanan, peningkatan transparansi, serta pengembangan inovasi pelayanan teknis yang responsif terhadap kebutuhan dunia usaha.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan, Kemenperin memiliki peran strategis sebagai fasilitator dan akselerator dalam mendorong pertumbuhan industri nasional. Oleh karena itu, kualitas dan kecepatan pelayanan publik menjadi aspek penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif dan meningkatkan daya saing industri.
"Pelayanan publik harus mengutamakan kualitas dan kecepatan. Upaya tersebut tidak hanya dilakukan melalui penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, tetapi juga dengan memperbaiki sistem kerja, menyederhanakan proses, serta mempercepat penyelesaian layanan yang dibutuhkan pelaku industri," ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (15/10).
Menteri Perindustrian Sarmuji menekankan upaya pemerintah untuk mengembalikan industri manufaktur sebagai lokomotif utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia mematok laju ekspansi sektor industri mampu melampaui pertumbuhan ekonomi makro, dengan target kenaikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) dari kisaran 19 persen saat ini menjadi di atas 20 persen, bahkan menembus rentang 21 hingga 25 persen.
Untuk merealisasikan target tersebut, Kemenperin terus memperkokoh ekosistem usaha agar sektor pengolahan dapat melaju lebih cepat.
"Kita menargetkan supaya pertumbuhan industri lebih tinggi lagi, melebihi pertumbuhan ekonomi. Kenapa? Karena industri inilah sebenarnya yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi," kata Sarmuji dalam keterangan resmi dikutip Senin (12/10/2026).
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat daya saing industri manufaktur nasional melalui penyediaan bahan baku yang kompetitif serta perlindungan terhadap industri strategis dari tekanan produk impor. Hal tersebut disampaikan seusai melakukan pertemuan dengan Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) dan The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA).
“Kami menerima berbagai aspirasi dari pelaku industri makanan dan minuman serta industri baja. Kementerian Perindustrian akan terus memberikan dukungan agar industri nasional semakin berdaya saing, termasuk mencarikan solusi terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi,” kata Menperin Sarmuji di Jakarta, Rabu (14/10).
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan pentingnya mengakselerasi pengembangan kawasan industri sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) guna mempercepat hilirisasi, memperkuat struktur industri nasional, serta meningkatkan pemerataan investasi.
“Pengembangan kawasan industri penting untuk diupayakan sebagai Proyek Strategis Nasional agar percepatan hilirisasi dan pembangunan industri dapat berjalan lebih optimal. Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait guna membahas usulan dan tindak lanjutnya,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (10/10).
Kemenperin mendukung pengusulan sejumlah kawasan industri sebagai PSN dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027. Langkah ini diarahkan untuk mempercepat pembangunan kawasan industri yang terintegrasi, mendukung hilirisasi, dan memperkuat ekosistem industri nasional.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperkuat promosi industri strategis dan manufaktur unggulan Indonesia melalui penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14-18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Paviliun Industri Strategis yang menjadi etalase produk unggulan nasional, termasuk sektor manufaktur dan teknologi tinggi yang telah mendapat pengakuan internasional.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi, dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa menyampaikan Paviliun Industri Strategis menjadi sarana untuk memperkenalkan kemampuan industri nasional kepada pembeli dari mancanegara sekaligus mendorong peningkatan daya saing produk Indonesia di pasar global.
"Paviliun Industri Strategis di TEI 2026 menunjukkan kemampuan industri manufaktur dan teknologi tinggi Indonesia yang telah bersaing di pasar global. Kami berharap kehadiran paviliun ini dapat membuka peluang kerja sama perdagangan sekaligus memperluas pasar ekspor produk industri strategis Indonesia," ujar Puntodewi.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) semakin fokus mendorong industri kecil dan menengah (IKM) agar naik kelas dan mampu memperluas pasar hingga ke tingkat global. Langkah tersebut ditempuh dengan memprioritaskan pembinaan terhadap IKM yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif, sekaligus memperkuat pemanfaatan teknologi digital untuk membuka peluang ekspor.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan, besarnya populasi IKM merupakan kekuatan yang perlu dioptimalkan untuk menopang struktur industri nasional. Sebanyak 4,43 juta unit usaha sektor IKM tersebar di berbagai wilayah Indonesia, yang terdiri atas sekitar 4,41 juta industri kecil dan mikro serta 22.161 industri skala menengah.
“Kita bisa konsentrasi pada industri kecil dan menengah yang berorientasi ekspor. Karena di era sekarang, orang bisa berjualan secara online sampai ke luar negeri. Ada teman saya yang bahkan menjual dawet sampai ke Hong Kong. Jadi, urusan ekspor jangan hanya menjadi domain industri besar, tetapi industri kecil dan menengah juga harus bisa,” kata Menperin dalam rapat kerja internal dengan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) di Jakarta, Rabu (7/10).
Page 1 of 175




