Peluang investasi Rusia di sektor manufaktur Indonesia masih terbuka lebar, terutama pada industri bernilai tambah tinggi yang sejalan dengan agenda transformasi industri nasional. 

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan, sedikitnya ada tiga sektor manufaktur yang dinilai paling prospektif untuk dikembangkan bersama. 

Sektor pertama yang berpotensi menarik minat investor Rusia adalah mesin industri, industrial engineering, dan advanced manufacturing. 

“Indonesia sedang mempercepat modernisasi industri dan peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi manufaktur yang lebih maju,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (13/7/2026).

Kedua, yakni industri hilir berbasis sumber daya alam, khususnya pengolahan mineral. Industri ini dinilai prospektif karena sejalan dengan agenda hilirisasi nasional untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Peluang kerja sama industri Indonesia di kawasan Eurasia semakin terbuka. Untuk memanfaatkannya, Indonesia membawa 16 pelaku industri dari sektor logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika (ILMATE) ke INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, pada 6– 9 Juli 2026, yang akan menampilkan berbagai inovasi, mulai dari teknologi kecerdasan buatan (AI), Virtual Reality dan RFID, industri kapal laut beserta dengan komponen maritim, drone, energi surya, logam besi baja hingga permesinan industri.

“Melalui partisipasi tersebut, Indonesia tidak hanya mempromosikan produk unggulan, tetapi juga membidik kerja sama industri yang lebih konkret melalui perluasan akses pasar, kolaborasi produksi, dan penguatan rantai pasok dengan Rusia serta negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU) dan juga BRICS,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta pada Rabu (2/7).

Menperin Agus menuturkan, keikutsertaan sektor ILMATE di INNOPROM 2026 menunjukkan bahwa kapasitas manufaktur Indonesia terus berkembang dan semakin mampu bersaing di tingkat global.

Pemerintah Indonesia memanfaatkan Forum Bisnis Indonesia–Rusia pada ajang INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, sebagai bagian dari upaya memperkuat diplomasi industri melalui pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit.

Forum bertema Palm Oil and the Future of Sustainable Energy tersebut menjadi wadah untuk memperkenalkan inovasi industri nasional sekaligus membuka peluang kerja sama investasi, perdagangan, dan pengembangan teknologi dengan Rusia serta negara-negara di kawasan Eurasia.

Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit melalui kerja sama dengan Rusia dan negara-negara Eurasia.

“Melalui inovasi, hilirisasi, dan kerja sama internasional, kami ingin menjadikan industri sawit tidak hanya sebagai penggerak ekonomi nasional, tetapi juga sebagai bagian dari solusi menuju ketahanan energi dan pembangunan industri yang berkelanjutan," ujar Menperin Agus dalam keterangannya di Rusia, Kamis (9/7).

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan Indonesia tidak lagi memposisikan diri hanya sebagai pasar tujuan ekspor atau pemasok bahan mentah, melainkan sebagai mitra strategis dalam pembangunan industri global.

Penegasan tersebut disampaikan Menperin saat menawarkan berbagai peluang kerja sama industri dan investasi kepada pelaku usaha Rusia dalam Forum Bisnis Dialog Industri Rusia-Indonesia INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, Selasa.

"Indonesia bukanlah negara yang hanya mengandalkan komoditas dan mencari pembeli. Indonesia adalah negara industri yang mencari mitra," katanya.

Menperin Agus mengatakan, industri manufaktur telah menjadi tulang punggung perekonomian nasional dan terus menunjukkan kinerja yang solid di tengah berbagai tantangan global.

Pada triwulan I 2026, sektor manufaktur tumbuh 5,04 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,55 persen.

Investor dari kawasan Eurasia kini dapat melihat langsung berbagai lokasi investasi siap bangun yang ditawarkan Indonesia melalui partisipasinya sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026 yang berlangsung pada 6–9 Juli 2026 di Ekaterinburg, Rusia.

Dalam pameran industri terbesar di kawasan Eurasia tersebut, Indonesia menghadirkan lima pengelola Kawasan Industri (KI) dengan berbagai keunggulan, mulai dari infrastruktur terintegrasi, insentif yang kompetitif, hingga konektivitas logistik yang mendukung kegiatan manufaktur.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, keikutsertaan Indonesia menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas kerja sama industri sekaligus mendukung Asta Cita melalui penguatan industrialisasi, hilirisasi, dan penciptaan lapangan kerja.

Purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026 atau masuk ke zona kontraksi. Namun, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan minat investasi di kawasan ekonomi khusus (KEK) tetap kuat dan sejumlah investor masih mengantre untuk masuk.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, PMI manufaktur tidak dapat dinilai hanya dari pergerakan bulanan karena investasi memiliki horizon jangka panjang.

"Jadi kalau membaca PMI itu kan ada ekspektasi sampai 6 bulan, 12 bulan ke depan. Itu kan juga komponen pilarnya, optimismenya malah positif sebenarnya. Jadi enggak bisa kita spot melihat angka itu," kata Susiwijono di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (6/7/2026).