Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memacu kinerja industri otomotif agar semakin memberikan kontribusi signfikan bagi perekonomian nasional di tengah pandemi dan Menteri Perindustian (Menperin) melihat ada peluang besar pada modifikasi kendaraan untuk menopang perkembangan industri otomotif.

“Apalagi industri otomotif merupakan satu dari tujuh sektor yang mendapat prioritas pengembangan dalam implementasi Industri 4.0 sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0,” kata Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Sabtu.

Menperin menyebutkan potensi pengembangan industri otomotif didukung dengan Indonesia menjadi pasar terbesar kendaraan bermotor di ASEAN dari sekitar sembilan negara, dengan kontribusi 32 persen.

Industri mebel dan kerajinan menilai laju kinerja permintaan produk untuk ekspor semakin membaik pada kuartal akhir tahun ini. Hal itu dikarenakan berkah perang dagang AS vs China.

Wakil Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan peningkatan order sudah pelaku usaha rasakan sejak September 2020 terutama dari Negara Paman Sam sebagai korelasi dari perang dagang di samping Covid-19 yang masih berjalan.

"Sekarang produk China lebih sulit masuk jadi ada ruang yang kita ambil. Artinya ada kesempatan baik karena permintaan dari AS terus meningkat dibanding negara lain. Jadi tren kuartal IV/2020 ini bertumbuh," katanya kepada Bisnis, Rabu (14/10/2020).

Kementerian Perindustrian mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memacu kinerja industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang terdampak pandemi Covid-19 cukup berat. Langkah strategis yang sedang dijalankan antara lain meningkatkan ekspor dari produk unggulan tersebut.

“Industri TPT menjadi bagian dari sektor yang mendapat prioritas pengembangan lantaran punya peran sebagai penyumbang devisa dan penyerap tenaga kerja yang banyak,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam melalui siaran pers, Minggu (18/10/2020).

Khayam menjelaskan struktur industri TPT meliputi sektor hulu (industri serat), sektor antara (industri benang dan kain), dan sektor hilir (industri pakaian jadi). Walaupun memiliki karakteristik yang berbeda, setiap sektor memiliki keterkaitan kuat antara satu dengan lainnya. Padat modal di hulu dan padat karya di hilir.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebutkan jumlah dan luas kawasan industri di Indonesia terus melonjak dan siap menampung investor.

"Hingga Agustus 2020, telah terbangun sebanyak 121 kawasan industri yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia," kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Dody Widodo di Jakarta, Senin.

Dirjen KPAII melalui keterangan tertulis menyebutkan dalam lima tahun terakhir, terjadi peningkatan jumlah dan luasan kawasan industri.

Dari sisi jumlah, naik sebesar 51,25 persen, sedangkan dari sisi luas juga melonjak lebih dari 17 ribu hektare atau sebesar 47,35 persen.

Industri material bangunan mulai menemukan titik cerah pada akhir kuartal III/2020. Walaupun permintaan komponen bangunan diramalkan akan terus menguat hingga akhir tahun, pabrikan dinilai harus bersiap kembali menghadapi penurunan permintaan di awal 2021.

Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) mendata pandemi Covid-19 telah memukul utilisasi industri ke level 30 persen pada April-Mei 2020. Namun demikian, asosiasi mendata permintaan baja ringan terus meningkat pasca-Lebaran.

"Utilisasi di September sudah 85 persen. Kenapa bisa cepat [perbaikannya]? Karena memang [pabrikan] baja ringan ini banyak di luar Pulau Jawa, jadi tidak hanya mengandalkan [permintaan di] Pulau Jawa," kata Ketua Umum ARFI Stephanus Koeswandi kepada Bisnis, Kamis (15/10/2020).

Stephanus menyatakan perbaikan pasca-Lebaran disebabkan oleh pembangunan rumah sakit darurat Covid-19 dan pembangunan rumah korban terdampak bencana. Stephanus mendata pendorong permintaan pada pasca Lebaran datang dari pembangunan rumah darurat di Palu, Lombok, dan Konawe Utara.

Pelaku industri alas kaki memproyeksi ekspor sepatu hingga akhir tahun akan stabil tumbuh di kisaran 5 persen—8 persen.

Ketua Pengembangan Sport Shoes & Hubungan Luar Negeri Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Budiarto Tjandra mengatakan bahwa secara year-to-date atau periode Januari—Agustus, ekspor sepatu tumbuh 8 persen. Namun, pada kuartal IV/2020 yang biasanya menjadi puncak order saat ini tidak bisa diharapkan.

"Kami proyeksi sampai akhir tahun ekspor hanya akan tumbuh 5—8 persen karena biasanya kuartal IV naik, tetapi tahun ini tidak akan strong," katanya kepada Bisnis, Senin (12/10/2020).

Secara global, Budiarto menyebutkan bahwa federasi industri sepatu dunia juga memprediksi permintaan sepatu tahun ini akan turun hingga 20 persen. Pasalnya, pada sisa tahun yang hanya kurang dari 3 bulan ini pelaku industri memang sudah tidak bisa berbuat banyak.

Pada 2018, ekspor sepatu tercatat US$5,1 miliar, tetapi pada 2019 hanya pada angka US$4,4 miliar. Faktor utama penurunan yang signifikan ini adalah terkait dengan daya saing.