Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menilai kebangkitan industri mulai terlihat dari capaian kinerja sepanjang 2025. Hal ini mendorong rencana investasi senilai Rp5 triliun yang dipastikan masuk tahun ini.
Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengatakan, pihaknya optimistis industri keramik nasional akan mengalami rebound signifikan pada 2026 dan menargetkan utilitas produksi mencapai 80% atau tertinggi dalam 1 dekade terakhir.
“Target ini realistis dengan catatan dukungan kebijakan pemerintah tetap konsisten dan persoalan struktural industri segera diselesaikan,” ujar Edy Suyanto melalui keterangan resminya, Rabu (14/1/2026).
Optimisme tersebut dipicu berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai telah pro-industri, peningkatan kapasitas produksi, serta prospek pertumbuhan konsumsi domestik yang masih sangat besar.
Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) menilai prospek industri baja nasional pada 2026 masih dihadapkan pada berbagai tantangan, meski peluang pertumbuhan tetap terbuka di sejumlah segmen dan pasar tertentu.
Direktur Eksekutif IISIA Harry Warganegara mengatakan kinerja produksi dan ekspor industri besi dan baja sepanjang tahun ini masih berada dalam tahap pemulihan yang terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan industri belum berlangsung merata.
“Meskipun terdapat peluang pertumbuhan pada segmen dan pasar tertentu, pelaku industri masih menghadapi tantangan struktural,” kata Harry kepada Bisnis, Minggu (11/1/2025).
Menurut Harry, permintaan baja di dalam negeri belum sepenuhnya kembali ke level normal. Melemahnya aktivitas sektor konstruksi menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju konsumsi baja nasional.
Pengusaha mendukung langkah pemerintah dalam penguatan industri tekstil dan garmen nasional. Langkah itu salah satunya dilakukan melalui revitalisasi supply chain.
Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto menilai perhatian Presiden Prabowo Subianto merupakan sinyal politik dan ekonomi yang sangat kuat bagi keberlanjutan sektor padat karya tersebut.
Anne mengatakan, komitmen Presiden yang menempatkan industri garmen dan tekstil sebagai sektor strategis perlu diterjemahkan secara konkret oleh kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah dalam bentuk kebijakan, regulasi, dan instrumen pelaksanaan yang nyata.
"Industri ini berperan vital dalam penciptaan lapangan kerja dan stabilitas sosial-ekonomi nasional," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).
Dunia usaha menilai arah kinerja industri manufaktur pada 2026 akan sangat ditentukan oleh kombinasi faktor domestik dan global. Setelah melewati fase pemulihan di 2025, tantangan berikutnya adalah memastikan momentum tersebut tidak berhenti sebagai rebound jangka pendek.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan, setidaknya ada dua faktor utama yang akan membentuk outlook manufaktur tahun depan.
"Outlook 2026 akan sangat dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, efek lanjutan kebijakan 2025, seperti paket stimulus, deregulasi impor, dan pembenahan perizinan. Jika implementasinya konsisten, ini bisa menurunkan sebagian tantangan struktur biaya dan memberi ruang ekspansi manufaktur," ujar Shinta kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (8/1/2025).
Pemberian insentif bagi industri manufaktur dengan skenario lokalisasi bisa berdampak lebih besar pada ekonomi dibandingkan skema tanpa komponen lokal. Pasalnya, kebijakan tersebut mampu memperkuat rantai pasok domestik dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Namun, efektivitas kebijakan ini mensyaratkan pengawasan ketat agar komponen lokal benar-benar diproduksi di Indonesia, bukan sekadar impor yang diberi label lokal. Tanpa kontrol tersebut, insentif berisiko kehilangan tujuan strategisnya dan hanya menjadi subsidi tanpa efek industrialisasi yang nyata.
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menilai pemberian insentif bagi industri manufaktur dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara lebih berkelanjutan karena sektor ini berpotensi besar menciptakan lapangan kerja, terutama pada industri padat karya. Menurutnya, insentif sebaiknya tidak hanya difokuskan pada industri otomotif, tetapi juga mencakup sektor manufaktur lainnya, dengan penekanan pada penggunaan komponen lokal.
Industri manufaktur nasional ditargetkan dapat tumbuh 6,89% pada 2026. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi 2024 sebesar 4,75% dan proyeksi 2025 yang mencapai 5,93%.
Target kinerja tersebut tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025-2029 melalui Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 41 Tahun 2025.
Dalam Renstra tersebut, target laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas tahun ini cukup agresif jika dibandingkan dengan realisasi kinerja yang stagnan dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan, secara historis, laju pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas tak pernah melampaui capaian pada 2011 yang tembus 7,46%. Dalam 1 dekade, rata-rata pertumbuhannya hanya tumbuh di kisaran 4%-5%.
Page 1 of 148




