Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia (APPI) optimistis industri peralatan listrik nasional masih mampu mencatatkan pertumbuhan signifikan pada tahun ini, meski dihadapkan pada kebijakan tarif impor sebesar 19% ke Amerika Serikat. 

Optimisme tersebut didorong oleh kondisi persaingan global yang dinilai masih relatif seimbang, serta prospek permintaan domestik yang terus meningkat seiring dengan berbagai proyek strategis di sektor ketenagalistrikan dan industri nasional. 

Ketua Umum APPI Yohanes Purnawan Widjaja menilai, kebijakan tarif impor ke AS tidak menjadi hambatan utama bagi produk peralatan listrik asal Indonesia untuk tetap kompetitif di pasar internasional.

“Tarif 19% tersebut tidak hanya berlaku untuk Indonesia, tetapi di kenakan juga ke negara lain sehingga produk Indonesia tetap dapat bersaing dengan negara produsen lainnya seperti Vietnam, Thailand dan negara Asia lainnya," kata Yohanes kepada Bisnis, dikutip Minggu (25/1/2025).

Ditengah dinamika perekonomian global yang masih diwarnai ketidakpastian, sektor industri manufaktur nasional terus menghadapi berbagai tantangan struktural dan eksternal. Meski demikian, sektor manufaktur tetap memiliki fondasi yang kuat untuk tumbuh dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, “industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5 persen dan berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Kami optimistis kinerja ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sepanjang tahun 2026.”

Agus menyampaikan, arah kebijakan industri manufaktur pada 2026 tidak hanya difokuskan untuk menjaga momentum pertumbuhan, tetapi juga memperkuat struktur industri nasional secara berkelanjutan. Penguatan nilai tambah di dalam negeri, pendalaman struktur industri, serta optimalisasi keterkaitan antarsektor menjadi fokus utama kebijakan.

MENTERI Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai kinerja sektor manufaktur nasional sepanjang 2025 berada pada level cukup baik, bahkan mencatat capaian historis dengan pertumbuhan yang melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Agus mengatakan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas (IPNM) tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sejak triwulan II hingga triwulan III-2025. Kondisi tersebut menjadi yang pertama kali terjadi dalam 14 tahun terakhir.

“Ini pertama kalinya dalam 14 tahun sejarah Republik, pertumbuhan manufaktur bisa berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Dan memang seharusnya seperti itu,” kata Agus dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5 persen dan berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional. 

Kinerja tersebut dinilai tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global yang masih dibayangi ketidakpastian, sekaligus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. 

“Kami optimistis kinerja ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sepanjang tahun 2026,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (18/1/2026). 

Agus menambahkan, sektor industri manufaktur nasional memang masih menghadapi berbagai tantangan, baik yang bersifat struktural maupun eksternal.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan industri alas kaki nasional merupakan salah satu penopang utama sektor padat karya di Indonesia.

Sektor tersebut dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga pertumbuhan ekonomi hingga stabilitas sosial. Baik melalui kontribusinya terhadap pengolahan maupun kemampuannya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Tercatat kontribusi sektor tersebut terhadap Produk Domestik Bruto industri pengolahan sebesar 1,2% pada kuartal ketiga tahun 2025. Dari sisi ketenagakerjaan, sektor ini menyerap sekitar 921 ribu tenaga kerja per Februari 2025.

"Di tengah dinamika dan ketidakpastian global, industri alas kaki nasional menunjukkan tingkat resiliensi yang kuat. Pada tahun 2024, nilai ekspor industri alas kaki tumbuh signifikan sebesar 13,13% dan mencapai USD7,28 miliar.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menilai kebangkitan industri mulai terlihat dari capaian kinerja sepanjang 2025. Hal ini mendorong rencana investasi senilai Rp5 triliun yang dipastikan masuk tahun ini. 

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengatakan, pihaknya optimistis industri keramik nasional akan mengalami rebound signifikan pada 2026 dan menargetkan utilitas produksi mencapai 80% atau tertinggi dalam 1 dekade terakhir. 

“Target ini realistis dengan catatan dukungan kebijakan pemerintah tetap konsisten dan persoalan struktural industri segera diselesaikan,” ujar Edy Suyanto melalui keterangan resminya, Rabu (14/1/2026). 

Optimisme tersebut dipicu berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai telah pro-industri, peningkatan kapasitas produksi, serta prospek pertumbuhan konsumsi domestik yang masih sangat besar.