Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebut target pemerintah untuk meningkatkan utilisasi kapasitas industri manufaktur nasional menjadi 80%-85% hingga akhir 2026 cukup ambisius. Pasalnya, utilisasi industri manufaktur saat ini baru mendekati 70%. 

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin mengatakan, kenaikan utilisasi sekitar 10-15 poin persentase dalam waktu singkat bukan perkara mudah. Meski demikian, target tersebut masih terbuka untuk dicapai oleh subsektor tertentu yang memiliki permintaan kuat dan mendapat dukungan pasokan bahan baku serta energi. 

"Target tersebut ambisius dan sulit dicapai secara merata dalam waktu singkat, meskipun masih mungkin bagi subsektor tertentu yang memiliki pesanan kuat," kata Saleh dalam keterangannya kepada Kontan, Rabu (28/10/2026).

Menurut dia, indikator aktivitas manufaktur memang menunjukkan perbaikan. PMI Bank Indonesia (PMI-BI) tercatat naik dari 51,43 pada kuartal II 2026 menjadi 52,28 pada kuartal III 2026. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) September 2026 berada di level 51,93.

Industri manufaktur Indonesia mencatat pertumbuhan 5,32% pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%. Kinerja ini memperlihatkan peran industri manufaktur dalam menopang perekonomian, didukung peningkatan investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja setelah pandemi Covid-19.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri manufaktur menjadi salah satu sektor dengan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Sepanjang 2025, sektor ini tumbuh 5,15%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11%. Industri manufaktur juga menyumbang 80,27% ekspor nasional pada tahun yang sama dan menyerap 20,26 juta pekerja.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai Indonesia berhasil menjaga kinerja industri manufaktur selama masa pandemi, meskipun pemulihannya belum sepenuhnya merata. “Meski belum sepenuhnya pulih, tergambar dari PMI (purchasing manager index) yang mayoritas bertahan di zona ekspansif pascapandemi,” ujar dia dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji membantah anggapan Indonesia mengalami deindustrialisasi di sektor manufaktur. Menurutnya, kini industri nasional justru mulai menuju masa kebangkitan.

Misalnya saja pasar otomotif Indonesia, industri kendaraan itu masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Hal itu terlihat dari rasio kepemilikan mobil di Indonesia yang masih baru 99 mobil per 1.000 orang.

Angka ini masih jauh di bawah sejumlah negara ASEAN. Sarmuji meyakini ruang pasar otomotif Indonesia untuk tumbuh masih sangat besar.

"Misalkan Malaysia sampai 490, Thailand 275. Jadi kalau itu rasio kepemilikan mobilnya bisa meningkat, itu pasti produksi akan lebih besar lagi," ujar Sarmuji saat ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Dalam pertemuan dengan pabrikan mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Sarmuji juga mencatat adanya pertumbuhan pasar kendaraan sebesar 15%.

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan pentingnya memperkuat industri perkapalan nasional melalui peningkatan kapasitas produksi kapal baru, optimalisasi fasilitas reparasi, serta penguasaan teknologi galangan kapal. Upaya ini menjadi langkah strategis untuk memanfaatkan besarnya potensi industri maritim Indonesia sekaligus memperkuat daya saing industri perkapalan dalam negeri.

“Potensi galangan kapal kita sebenarnya luar biasa, baik untuk memproduksi maupun mereparasi kapal. Indonesia adalah negara yang dihubungkan oleh laut. Kebutuhan terhadap transportasi kapal sangat besar, baik kapal penumpang maupun kapal pengangkut barang. Karena itu, kalau Indonesia tidak kuat di bidang ini, sebenarnya kita rugi sekali,” kata Menperin pada acara Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Dewan Pengurus Pusat (DWP) Institusi Industri Perkapalan dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO) Masa Bakti 2026–2030 di Jakarta, Selasa (20/10).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri manufaktur tumbuh 5,32% pada triwulan II-2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%. Sektor tersebut menjadi penyumbang terbesar bagi perekonomian nasional dengan kontribusi hampir seperlima dari total ekonomi Indonesia. 

“Indonesia adalah salah satu negara pertama yang membuat instrumen kebijakan untuk menjaga keberlangsungan industri manufaktur dari dampak pandemi,” ujar mantan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan pers, Senin (26/10/2026).

Menurut keterangan tersebut, pemulihan industri manufaktur didukung sejumlah kebijakan pada masa pandemi COVID-19, antara lain Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI), insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP), serta penguatan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Menteri Perindustrian (Menperin), Muhammad Sarmuji menargetkan pertumbuhan industri nasional terus meningkat hingga melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Target tersebut menjadi salah satu arah penguatan sektor manufaktur pada dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Sarmuji mengatakan, industri perlu terus diperkuat agar dapat menjadi penopang utama pembangunan ekonomi nasional. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga berupaya meningkatkan kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Perindustrian akan terus bekerja untuk menjadi backbone bagi pembangunan, khususnya pembangunan ekonomi di bawah kepemimpinan Pak Prabowo-Gibran,” kata Sarmuji saat ditemui, Selasa (20/10/2026).

Ia berharap kontribusi industri terhadap PDB dapat meningkat seiring dengan penguatan kinerja sektor manufaktur. Selain itu, pertumbuhan industri diharapkan mampu berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.