Pemerintah terus mempercepat hilirisasi sebagai fondasi industrialisasi nasional, dengan menempatkan energi bersih sebagai salah satu pilar utamanya. Strategi ini dirancang untuk memastikan transformasi ekonomi tidak hanya bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga pada penguatan nilai tambah dan pembangunan industri berkelanjutan.
Langkah konkret terlihat dari pelaksanaan groundbreaking enam proyek hilirisasi oleh Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia di 13 lokasi dengan total investasi mencapai 7 miliar dolar AS. Proyek-proyek tersebut menjadi bagian dari agenda besar transformasi ekonomi nasional yang menitikberatkan pada penguatan sektor riil, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing industri dalam negeri.
Secara keseluruhan, proyek fase pertama ini diperkirakan menyerap lebih dari 6.000 tenaga kerja langsung. Implementasinya dilakukan secara terintegrasi lintas sektor, termasuk energi, pangan, mineral, dan logam, guna memperkuat struktur industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor secara bertahap.
Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menyepakati komitmen kerja sama perdagangan dan investasi di berbagai sektor senilai USD38,4 miliar atau setara dengan Rp649,42 triliun.
Kesepakatan tersebut diresmikan dalam acara US-Indonesia Business Summit 2026 yang diselenggarakan oleh the U.S. Chamber of Commerce (USCC), the US-ASEAN Business Council (USABC), dan the U.S.-Indonesia Society (USINDO) di Washington D.C., Rabu (18/2) waktu setempat.
"Saya memahami cara kerja pasar. Pasar menghargai transparansi, disiplin dan kredibilitas. Tanggung jawab saya sebagai Presiden, memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, dan memastikan bahwa kami memenuhi standar internasional. Ini tentang bagaimana menjaga integritas ekonomi kita, dan kepercayaan investor jangka panjang," kata Presiden RI Prabowo Subianto dalam sambutannya, dikutip dari Antara, Jumat, 20 Februari 2026.
Sejumlah industri yang menjadi bagian dari ekosistem otomotif nasional mengkritisi aksi PT Agrinas Pangan Nusantara mengimpor 105.000 unit kendaraan niaga atau mobil pikap dari India. Aksi ini dinilai bertentangan dengan semangat pemerintah dan upaya dari para pelaku usaha untuk menggerakkan sektor manufaktur di dalam negeri.
Agrinas mengimpor mobil pikap secara utuh atau Completely Built Up (CBU) dari India untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Koperasi Merah Putih). Impor ini terdiri dari 35.000 unit mobil pikap 4x4 produksi Mahindra Ltd., serta 70.000 unit dari Tata Motors yang mencakup 35.000 unit pikap 4x4 dan 35.000 unit truk roda enam.
Total nilai impornya mencapai Rp 24,66 triliun. Dari informasi yang beredar, salah satu alasan Agrinas mengimpor mobil buatan India adalah karena industri di Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan untuk mobil pikap dengan penggerak 4x4.
Produktivitas manufaktur menjadi sorotan World Bank alias Bank Dunia lantaran dinilai masih memberikan nilai tambah yang rendah, khususnya terhadap tenaga kerja.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty mengatakan, jika dilihat secara keseluruhan pertumbuhan manufaktur nasional meningkat.
"Dilihat dari share itu meningkat di 19%, growth di atas 5%, dari data BPS ini sebenarnya produktivitas naik. Namun, World Bank menyoroti produktivitas SDM, artinya produksi per kapita," kata Telisa kepada Bisnis, Rabu (18/2/2026).
Jika dilihat dari produksi per kapita, Telisa menyebut, industri nasional memang tertinggal dibandingkan negara lain, seperti Thailand, Malaysia, maupun India.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan apresiasi atas pencapaian produksi 1 juta unit kendaraan oleh PT TVS Motor Company Indonesia. Tonggak ini merupakan kontribusi penting dalam memperkuat struktur industri kendaraan bermotor roda dua dan roda tiga nasional, sekaligus memperluas kapasitas ekspor dan penggunaan komponen dalam negeri.
“Sektor industri manufaktur Indonesia terus menunjukkan kinerja yang positif sebagai penggerak utama perekonomian nasional,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan kembali menegaskan perannya sebagai tulang punggung perekonomian nasional sepanjang tahun 2025. Sektor industri pengolahan tercatat sebagai kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan porsi mencapai 19,07 persen.
Pengusaha yang bergerak di industri makanan dan minuman (mamin) bersiap menadah berkah dari momentum Imlek serta Ramadan - Idulfitri. Perayaan tahun baru Imlek akan berlangsung pada Selasa (17/2/2026), yang kemudian berlanjut memasuki bulan suci Ramadan hingga sebulan ke depan.
Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman membeberkan kesiapan pelaku industri mamin menyambut momentum ini. Para produsen sudah bergerak mengamankan bahan baku dan mendongkrak pemanfaatan kapasitas produksi atau utilisasi sejak tiga hingga empat bulan yang lalu.
Utilisasi industri mamin naik menjadi di atas 70% - 80%, dari rata-rata 60% - 70% pada hari biasa. Peningkatan utilisasi sudah terjadi sejak November 2025, dan akan ternormalisasi setelah Idulfitri. "(Utilisasi) beberapa kategori bahkan sudah optimal, karena mengejar kebutuhan sesuai permintaan," kata Adhi kepada Kontan.co.id Minggu (15/2/2026).
Page 1 of 152



