Kementerian Perindustrian menyatakan kebutuhan pembangunan pabrik gula berbasis tebu masih besar pada 2020 untuk memenuhi permintaan gula kristal rafinasi (GKR) dari industri makanan dan minuman (mamin) yang diperkirakan tumbuh hingga 9%.

Abdul Rochim, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, mengatakan GKR menjadi kebutuhan pokok industri mamin. Permintaannya terus meningkat seiring pertumbuhan sektor mamin.

Pada kuartal III/2019, katanya, sektor tersebut bertumbuh 8,33% dengan kontribusi hingga 37% bagi produk domestik bruto atau PDB industri pengolahan nonmigas. Sektor mamin mempunyai peran yang cukup signifikan dalam pertumbuhan perekonomian di Indonesia.

Dengan pertumbuhan sektor mamin yang diperkirakan bisa mencapai kisaran 9%, Rochim berharap industri gula rafinasi di dalam negeri bisa terus mengembangkan kapasitasnya, terutama melalui pembangunan pabrik gula berbasis tebu.

Nilai pasar industri kemasan diperkirakan menembus US$7,1 miliar atau sekitar Rp101 triliun pada 2019.

Hengky Wibawa, Ketua Federasi Pengemasan Indonesia, mengatakan hingga saat ini nilai pasar kemasan di dalam negeri sudah mencapai Rp100 triliun. Menurutnya, realisasi tersebut merupakan sebuah pencapaian baru di industri kemasan.

Pada 2018, katanya, nilai pasar industri kemasan sudah mencapai Rp94 - Rp95 triliun.

"Estimasi saya pada 2019 ini kami telah masuk ke Rp101 triliun atau USD 7.1 miliar," ujarnya kepada Bisnis, Senin (9/12/2019).

Pada 2017 nilai industri kemasan mencapai Rp87 triliun. Pada awal tahun ini, Hengky menargetkan nilai pasar sektor ini bisa mencapai kisaran Rp90 triliun.

Hengky mengatakan pada tahun ini subsektor kemasan fleksibel masih mendominasi pasar dengan kontribusi mencapai 45%.

Industri gula rafinasi optimistis memandang potensi bisnis di tahun depan. Cerahnya prospek industri makanan dan minuman (mamin) di tahun 2020 menjadi dasar kepercayaan diri para pelaku industri ini.

Rachmad Hariotomo, Ketua Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) menyebut selama ini industri mamin memang menjadi tulang punggung bisnis bagi para pelaku bisnis gula rafinasi di dalam negeri. Nah di tahun depan, sektor industri tersebut dinilainya bakal makin bergairah.

Pasalnya menurut dia, tren industri mamin selalu mengalami kenaikan dai tahun ke tahun. Termasuk di tahun 2019 ini, meskipun diakuinya menemui beberapa tantangan.

Hal tersebut di antaranya dari situasi tahun politik yang terjadi di tahun ini sehingga menyebabkan pertumbuhan industri mamin sempat tersendat.

Kondisi tersebut membuat pelaku industri cenderung menahan diri dalam berekspansi. Hal ini pun membuat permintaan gula rafinasi sempat mengendor.

Namun sejak memasuki kuartal III, pertumbuhan industri mamin disebutnya sudah mulai ngegas.

Presiden Joko Widodo optimistis bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara pengekspor produk petrokimia dalam waktu empat tahun melihat gencarnya investasi di sektor ini.

“Feeling saya mengatakan, empat atau lima tahun lagi kita sudah tidak mengimpor petrokimia lagi dan justru kita ekspor,” kata Jokowi saat meresmikan pabrik baru PT Chandra Asri Petrochemical di Cilegon, Banten, Jumat.

Optimisme tersebut disampaikan mengingat rencana PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) yang akan mengembangkan kompleks petrokimia tahap II di Cilegon, Banten, dengan nilai investasi mencapai Rp60 triliun-Rp80 triliun.

Pembangunan kompleks petrokimia tersebut akan dilaksanakan pada periode 2019 hingga 2024, yang akan menambah kapasitas produksi petrokimia Chandra Asri menjadi delapan juta ton per tahun.

Terkait hal tersebut, Jokowi meminta agar pengoperasian kompleks selesai dibangun bukan hanya empat tahun, melainkan dua tahun.

“Kalau bisa jangan empat atau lima tahun, tapi dua atau tiga tahun selesai dibangun,” ungkap Jokowi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah telah menyiapkan langkah strategis untuk merealisasikan target pertumbuhan industri pengolahan nonmigas yang dipatok sebesar 5,3% pada 2020.

Menperin mengatakan pihaknya bakal mendorong utilisasi kapasitas industri di sejumlah sektor dasar guna memberikan efek berganda bagi manufaktur nasional. Dia mencontohkan pihaknya mendorong utilisasi di sektor petrokimia hulu melalui optimalisasi PT Tuban Petrochemical Industries (TPI), PT Chandra Asri Petrochemichal Tbk. dan realisasi investasi PT Lotte Chemichal Titan Tbk.

Peningkatan utilisasi kapasitas produksi dan investasi baru juga akan didorong untuk industri otomotif dan juga pertambangan.

"Menaikkan utilisasi kapasitas industri dasar yang menimbulkan multiplier effect besar, seperti industri petrokimia TPPI, Chandra Asri, Krakatau Steel, smelter nikel, dan investasi baru Lotte Petrochem," ujarnya kepada Bisnis baru-baru ini.

Pertumbuhan produksi industri makanan ringan diperkirakan masih positif bahkan lebih tinggi dari pertumbuhan sektor makanan dan minuman (mamin). Hal itu didorong oleh inovasi produk dan penyesuaian harga di pasaran.

PT Mondelez Indonesia menyatakan pertumbuhan produksi biskuit perseroan di pasar saat ini mengalami tekanan karena perlambatan permintaan di dalam dan luar negeri serta pelemahan daya beli. Namun, tingginya konsumsi makanan ringan di dalam negeri membuat perseroan meramalkan pertumbuhan pada tahun depan dapat lebih baik.

“Kami percaya pasar ini [makanan ringan di Indonesia] masih muda dan besar. Kami percaya dengan regulasi yang dikeluarkan pemerintah dan meyakini tingkat konsumsi akan kembali normal. Fokus kami adalah mempersiapkan [kapasitas produksi] saat tingkat konsumsi kembali normal,” kata Presiden Direktur Mondelez Indonesia Sachin Prasad seusai Pemaparan Hasil Survei “State of Snacking”, Selasa (3/12/2019).