Lambatnya ekonomi global membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2019 diperkirakan hanya 5%. Hal itu karena melambatnya perdagangan dan investasi, di tambah industri manufaktur yang merupakan sektor paling berkontribusi dalam perekonomian domestik juga mengalami penurunan.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia menilai, tren perlambatan global untuk perdagangan dan pertumbuhan ekonomi akan berlanjut pada tahun 2020. Setyono Djuandi Darmono, Founder Jababeka Group mengatakan, artinya target pertumbuhan ekonomi yang diincar pemerintahan sebesar 6%-7% akan menghadapi jalan terjal.

"Namun tidak usah cepat cemas. Dengan pasar yang besar, Indonesia masih akan menjadi daya tarik bagi investor asing untuk berinvestasi. Capaian 6%-7% sebenarnya masih sangat mungkin. Hanya saja perlu adanya gebrakan," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Kamis (23/1).

Lebih lanjut ia bilang, pemerintah harus mempercepat reformasi yang signifikan guna meningkatkan iklim investasi.

Industri pengolahan masih konsisten memberikan kontribusi terbesar ekspor nasional dengan menyumbang ekspor senilai 126,57 miliar dolar AS atau 75,5 persen dari total ekspor Indonesia yang menyentuh angka 167,53 miliar dollar AS pada Januari-Desember 2019.

“Pemerintah memang sedang fokus menggenjot nilai ekspor untuk memperbaiki neraca perdagangan kita. Oleh karena itu, sektor manufaktur memiliki peranan yang sangat penting guna mencapai sasaran tersebut,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lima sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap capaian nilai ekspor industri pengolahan sepanjang tahun 2019, yaitu industri makanan menyumbang (21,46 persen), industri logam dasar 17,37 miliar dolar AS (13,72 persen), industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia tercatat 12,65 miliar dolar AS (10 persen), industri pakaian jadi menembus 8,3 miliar dolar AS (6,56 persen), serta industri kertas dan barang dari kertas yang menyetor 7,27 miliar dolar AS (5,74 persen).

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) memperkirakan sepanjang 2020 industri petrokimia mampu tumbuh menjadi 5,2% dibanding tahun lalu yang hanya tumbuh 5%.

Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menjelaskan kenyataannya industri petrokimia hanya tumbuh 5% di sepanjang 2019 dari yang sebelumnya diproyeksikan bisa tumbuh 5,1%.

"Ada beberapa hal yang membuat industrinya agak terhambat padahal dari sisi demand dan potensinya bagus," jelasnya kepada Kontan.co.id, Rabu (22/1).

Fajar menjelaskan pertumbuhannya tapi tidak terlalu signifikan karena ada aturan di daerah yang tidak mendukung industri plastik.

Sejumlah daerah salah satunya Jakarta mulai menerapkan anti plastik sekali pakai di sejumlah tempat seperti toko swalayan dan pasar rakyat harus menggunakan kantong ramah lingkungan per Juli 2020.

Industri jamu dan obat tradisional bertumbuh di atas 6% pada 2019.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam mengatakan realisasi itu masih terbilang positif sebab berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

"Industri jamu di Indonesia masih memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional. Pada 2019, sektor industri obat tradisional mampu tumbuh di atas 6% atau pertumbuhannya di atas pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (16/1/2020).

Khayam menjelaskan industri jamu di dalam negeri memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh sebab didukung ketersediaan bahan baku yang sangat melimpah. Menurutnya, ada lebih dari 30.000 varietas yang tergolong tanaman obat dan berkhasiat yang dapat dimanfaatkan ke dalam berbagai formulasi dan varian produk jamu.

Menurutnya, saat ini sudah ada lebih dari 1.200 pelaku industri jamu. Dari jumlah itu, sekitar 129 pelaku usaha masuk dalam kategori industri obat tradisional (IOT).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berencana untuk memberikan insentif bagi pabrikan yang mendapatkan sertifikasi industri hijau.

Kepala Pusat Industri Hijau Kemenperin Teddy Caster Sianturi mengatakan sertifikasi industri hijau memiliki derajat yang sama dengan standar nasional Indonesia (SNI).

Menurutnya, terdapat 13 standar yang harus dipenuhi pabrikan untuk mendapatkan sertifikasi tersebut. Namun demikian, jumlah pabrikan yang baru mendapatkan sertifikasi industri hijau baru mencapai 33 pabrikan dari sekitar 28.000 industri kecil dan menengah yang terdaftar di Pusat Industri Hijau Kemenperin.

"13 standar itu disusun berdasarkan [masukan] kalangan industri itu sendiri, asosiasi, dan pengamat. Jadi, kalau industri sendiri yang menyatakan [standar] itu terlalu tinggi, berarti dia tidak ikut menyusun," katanya kepada Bisnis, Rabu (22/1/2020).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis kinerja industri pengolahan nonmigas masih fase ekspansi pada triwulan I/2020, sehingga diperlukan langkah-langkah strategis guna memacu sektor manufaktur agar lebih berdaya saing global.

“Contoh upayanya adalah menjaga ketersediaan bahan baku untuk keberlangsungan produktivitas, seperti gas industri. Apabila gas industri ini tersedia dan didukung dengan harga yang kompetitif, kami meyakini industri akan bisa terbang tinggi,” kata Menperin lewat keterangannya di Jakarta, Selasa.

Agus juga menyebutkan komoditas lainnya seperti garam dan gula masih banyak dibutuhkan oleh pelaku industri di dalam negeri.

"Jadi, kebutuhan industri terhadap komoditas itu sebagai bahan baku memang nyata. Kalau terjamin pasokannya, tentu dapat meningkatkan utilitas,” ujarnya.