Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berkomitmen menjaga produktivitas hingga distribusi sektor industri makanan dan minuman di dalam negeri guna mengamankan pasokan pangan bagi masyarakat.

Menurutnya, industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu sektor manufaktur andalan yang selama ini memberikan kontribusi signfikan bagi perekonomian nasional, baik itu melalui capaian nilai investasi maupun ekspor.

Apalagi, saat ini di tengah kondisi pandemi covid-19, kebutuhan pangan masyarakat semakin meningkat, seiring pula dengan adanya kebijakan untuk work from home atau berkerja dari rumah.

"Misalnya, demand susu yang cukup naik, karena termasuk untuk meningkatkan imun. Kami aktif melakukan koordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan untuk menjaga ketersediaan bahan baku bagi industri mamin,” katanya melalui siaran pers, Rabu (1/4/2020).

Agus optimistis, industri mamin masih memberikan kontribusi yang signfikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun ini.

Pemerintah ikut bertanggung jawab mendorong pelaku usaha menggenjot penyediaan alat pelindung diri atau APD dari penularan Covid-19.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Elis Masitoh mengatakan saat ini telah ada 28 perusahaan produsen APD, dengan penambahan produsen berasal dari perusahaan eksisting yang mendiversifikasi produknya.

Menurutnya untuk APD, pemerintah berharap produsen akan mampu memenuhi 17,5 juta paket per bulan dan untuk baju medis atau surgical gown sebesar 508.800 paket per bulan.

"Produsen APD ini akan terus bertambah seiring permintaan di dalam negeri yang meningkat," katanya kepada Bisnis, Senin (30/3/2020).

Sebelumnya, Direktur Jendral Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam mengatakan pihaknya telah meminta secara khusus kepada Indonesian Nonwoven Association (INWA) agar anggotanya bisa menyediakan kebutuhan bahan baku untuk produksi APD dan masker.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) fokus mendorong pengoptimalan produktivitas industri Alat Pelindung Diri (APD) sebagai upaya penanganan pandemi Virus Corona baru atau COVID-19 di dalam negeri.

Kebutuhan APD di domestik kian meningkat, terutama untuk memenuhi permintaan tenaga medis, mengingat semakin bertambahnya penderita penyakit yang disebabkan oleh Virus Corona tersebut.

“Produsen APD tengah menghitung kemampuan produksinya hingga 6-8 bulan mendatang. Perhitungan ini akan disesuaikan dengan jadwal distribusi ke setiap pengguna, seperti rumah sakit yang memang sangat memerlukan,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam lewat keterangannya di Jakarta, Selasa.

Khayam menyebutkan dalam kondisi normal atau ketika belum adanya wabah COVID-19, industri APD di dalam negeri memproduksi sebanyak 1 juta unit per bulan.

Pelaku industri tekstil dari hulu hingga ke hilir diperkuat di tengah mewabahnya COVID-19, karena di Indonesia telah terbangun integrasi dari hulu petrokimia, serat, benang, kain, garmen, hingga pakaian jadi.

“Segala kontraksi yang terjadi di hilir akan memberikan dampak langsung kepada kami yang beroperasi di hulu. Maka dari itu perbaikan yang tepat pada operasi industri hilir akan berdampak baik bagi kami di hulu,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta lewat konferensi video di Jakarta, Senin.

Redma memaparkan, sektor hulu beroperasi dengan proses berkelanjutan selama 24 jam di mana penghentian produksi tidak hanya akan menimbulkan kerugian produksi tapi juga akan menimbulkan penambahan biaya yang signifikan untuk restart operasi.

“Maka dari itu kami memohon agar perusahaan tetap diizinkan beroperasi dengan syarat,” ungkap Redma.

Direktur Jendral Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Khayam menyampaikan pihaknya telah meminta secara khusus kepada Indonesian Nonwoven Association (INWA) agar anggota asosiasi bisa menyediakan kebutuhan bahan baku untuk produksi Alat Pelindung Diri (APD) dan masker.

“Asosiasi Nonwoven Indonesia juga telah diminta untuk men-supply kekurangan bahan baku APD dan masker, sehingga untuk memproduksi APD dan masker tidak ada lagi hambatan kebutuhan bahan baku,” kata Khayam lewat keterangan resmi diterima di Jakarta, Jumat.

Selain itu, sejumlah perusahaan anggota Asosiasi Perusahaan Kawasan Berikat juga sedang menyiapkan infrastruktur untuk memproduksi masker dan APD dalam rangka penanganan COVID-19.

Khayam pun mengungkapkan bahan baku dari China mulai dikirim ke Indonesia sejak pekan lalu. Oleh karenanya, Kemenperin terus mendorong industri dalam negeri untuk semakin meningkatkan kapasitas produksinya.

Sepanjang dua bulan perrtama tahun ini, industri pengolahan mencatatkan kinerja ekspor sebesar US$21,76 miliar atau naik 10,93 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian kinerja pengapalan produk manufaktur sejak Januari – Februari 2020 itu memberikan kontribusi hingga 78,92 persen dari total nilai ekspor yang menembus US$27,57 miliar.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian, Janu Suryanto mengatakan nilai ekspor industri pengolahan pada Februari 2020 tercatat sebesar US$11,03 miliar, naik 2,73 persen dibanding Januari 2020 yang mencapai US$10,73 miliar.

Adapun secara tahunan, kinerja ekspor industri pengolahan pada Februari 2020 naik 17,11 persen dibandingkan dengan Februari 2019.

"Neraca perdagangan industri pengolahan pada periode Januari-Februari 2020 adalah surplus sebesar US$1,22 miliar sedangkan, neraca perdagangan industri pengolahan pada Februari 2020 mencatatkan surplus US$2,07 miliar," katanya melalui siaran pers, Selasa (24/3/2020).