Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kinerja sektor manufaktur Indonesia yang mengalami kontraksi pada April 2026 tidak lepas dari ketidakpastian global, khususnya dampak konflik geopolitik terhadap rantai pasok dunia.

Menurut Airlangga, ketegangan global membuat pelaku industri semakin berhati-hati, terutama terkait potensi gangguan lanjutan pada supply chain.

"Manufaktur turun karena memang masa depan dari perang ini kan masih, masih tidak pasti. Jadi dari supply chain juga khawatir bahwa gangguan berikut adalah supply chain," ujar Airlangga kepada awak media di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (4/5/2026). 

Ia menjelaskan, tekanan tersebut tidak hanya berasal dari sisi distribusi, tetapi juga menjalar dari sektor energi ke industri turunan seperti petrokimia, plastik, hingga kemasan dan logistik. Padahal, sektor manufaktur sangat bergantung pada kelancaran logistik dan stabilitas permintaan.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat realisasi investasi pembangunan fasilitas produksi manufaktur pada kuartal I-2026 mencapai Rp 418,62 triliun dengan rencana penyerapan tenaga kerja sebanyak 219.684 orang.

Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai data tersebut belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan nyata di sektor manufaktur. Menurutnya, jika dilihat dari indikator lain, semisal PMI, justru nilainya merosot.  

“Saya belum melihat ada indikasi perbaikan dari industri manufaktur sebenarnya, karena hanya klaim dari pihak pemerintah. Tapi jika kita lihat indikator lainnya, semisal PMI Manufaktur kita yang merosot jadi pertanyaan, di saat menyatakan ekspansi rendah, tapi buka pusat produksi baru?,” ujar Nailul kepada Kontan, Senin (27/4/2026).

Kinerja industri pengolahan nasional pada April 2026 masih menunjukkan ketahanan di tengah dinamika global yang semakin kompleks, tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang berada pada level 51,75 atau tetap dalam fase ekspansi.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Arief mengatakan, meskipun IKI mengalami perlambatan tipis sebesar 0,11 poin dibandingkan bulan sebelumnya, kondisi tersebut masih mencerminkan resiliensi industri nasional.

“Dampak krisis energi akibat gejolak geopolitik memengaruhi sejumlah subsektor tertentu, seperti industri kimia dan sektor hilir lainnya termasuk tekstil,” ujarnya di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Secara umum, seluruh variabel pembentuk IKI masih berada dalam fase ekspansi, yakni variabel pesanan sebesar 51,43, produksi 51,34, dan persediaan 53,13. Namun, variabel pesanan dan produksi mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, yang mengindikasikan perlambatan permintaan dan aktivitas produksi.

Kinerja industri manufaktur nasional menunjukkan tren positif pada kuartal pertama 2026.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat sebanyak 633 perusahaan industri melaporkan pembangunan fasilitas produksi baru dengan total nilai investasi mencapai Rp 418,62 triliun dan rencana penyerapan tenaga kerja sebanyak 219.684 orang.​

Capaian ini dinilai menjadi sinyal positif bagi sektor industri nasional di tengah tekanan perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian pasar internasional.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin, Erwin Aksa, menilai angka tersebut menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap sektor manufaktur Indonesia masih terjaga. 

Namun, ia menilai hal yang paling penting adalah memastikan investasi tersebut benar-benar masuk ke tahap produksi komersial dan memberikan dampak langsung terhadap perekonomian nasional.

Dalam menghadapi persaingan pasar global yang semakin ketat, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) industri menjadi agenda prioritas Kementerian Perindustrian. Apalagi, sektor industri manufaktur nasional membutuhkan talenta unggul yang memiliki keahlian teknis tinggi serta daya inovasi yang kuat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, penciptaan SDM kompeten yang mampu mendukung pertumbuhan sektor industri manufaktur nasional dapat dilakukan melalui penyelenggaraan pendidikan vokasi yang saat ini menjadi prioritas nasional.

“Pendidikan vokasi menjadi fondasi utama untuk mendukung pertumbuhan sektor manufaktur yang berkelanjutan agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, baik di dalam negeri maupun pasar global,” kata Menperin dalam keteranannya di Jakarta, Selasa (28/4).

Untuk mencapai tujuan tersebut, Kemenperin menyelenggarakan pendidikan vokasi di bawah naungan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), yang mencakup 11 politeknik, 2 akademi komunitas, serta 9 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan meningkatkan daya saing industri nasional, khususnya sektor makanan dan minuman. Salah satu langkah strategis yang didukung Kemenperin adalah pemanfaatan kemasan aseptik berbasis kertas (paperboard) sebagai alternatif dari kemasan konvensional. Solusi ini dinilai mampu menjawab kebutuhan industri akan efisiensi distribusi, menjaga kualitas produk tanpa bahan pengawet, serta mengurangi ketergantungan terhadap rantai pendingin.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan Kemenperin mulai mendorong penggunaan kemasan non-plastik, terutama berbasis kertas atau paperboard. Kemasan jenis ini dinilai sudah cukup kompetitif dan porsinya juga cukup besar, yakni sekitar 28% dari total kemasan industri makanan dan minuman.

“Kemasan kertas saat ini sudah banyak digunakan untuk produk seperti susu dan minuman. Kami berkomitmen untuk terus memacu pengembangan alternatif bahan baku kemasan melalui skema business matching antara produsen dan pengguna,” ungkap Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (24/4).