Industri garmen Indonesia masih menghadapi tantangan untuk memperkuat daya saing di pasar global.
Nilai ekspor garmen nasional relatif stagnan di kisaran US$ 8 miliar–US$ 9 miliar selama hampir satu dekade, sementara sejumlah negara pesaing di Asia seperti Vietnam, Bangladesh, dan Kamboja terus meningkatkan pangsa ekspornya.
Di tengah kondisi tersebut, Vector Consulting Group melihat Indonesia masih memiliki peluang untuk meningkatkan nilai ekspor garmen hingga sekitar US$ 2 miliar.
Potensi tersebut dinilai dapat diraih tanpa harus mengandalkan penambahan kapasitas produksi dalam skala besar.
Pelaku industri manufaktur mulai mendorong pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi di tengah kondisi industri yang masih belum stabil.
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmad Basuki mengatakan, kebutuhan investasi untuk mengadopsi AI di sektor manufaktur sangat bergantung pada skala industrinya.
"Untuk manufaktur kecil-menengah bisa jadi ratusan juta, sedangkan manufaktur skala besar sampai miliaran rupiah," kata Rachmad kepada Kontan, Minggu (23/8/2026).
Menurut dia, penerapan AI tidak hanya berpotensi meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses produksi. Teknologi tersebut juga dapat membantu meningkatkan kualitas serta akurasi hasil produksi.
Kementerian Perindustrian terus memperkuat penerapan standardisasi sebagai instrumen untuk meningkatkan daya saing industri nasional sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui pemberlakuan Standar Nasional lndonesia (SNI) secara wajib bagi produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 62 Tahun 2024.
Sejalan dengan kebijakan tersebut, Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Ambon siap memberikan layanan konsultasi, pengujian, dan pendampingan sertifikasi SNI bagi pelaku industri AMDK di Provinsi Maluku dan wilayah sekitarnya.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, standardisasi merupakan instrumen penting dalam pembangunan industri nasional, karena mampu menjamin keamanan produk sekaligus meningkatkan daya saing industri Indonesia.
“SNI pada dasarnya merupakan sebuah instrumen negara di mana negara harus bisa memastikan semua produk yang masuk ke Indonesia terjamin aspek 3K, yaitu keselamatan, kesehatan, dan keamanan. Itulah esensi dari standardisasi,” katanya.
Seiring berkembangnya industri logam dan agenda hilirisasi Indonesia, kebutuhan terhadap teknologi dan kemitraan untuk memperkuat rantai nilai industri semakin penting. Momentum tersebut dihadirkan melalui GIFA dan METEC Indonesia 2026, yang kembali mempertemukan pelaku industri pengecoran logam, metalurgi, pengolahan aluminium, dan industri hilir.
Diselenggarakan oleh Messe Duesseldorf Asia bersama PT Pamerindo Indonesia, bagian dari Informa Markets, GIFA dan METEC Indonesia memasuki edisi ketiganya pada 9-12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo). Kedua pameran akan menghadirkan sekitar 260 perusahaan peserta dan 6.000 pengunjung profesional, dengan teknologi di bidang pengecoran logam, metalurgi, besi dan baja, logam non-ferrous, fabrikasi, otomasi, hingga manufaktur berkelanjutan.
Kedua pameran ini masing-masing menghadirkan fokus berbeda. GIFA Indonesia membawa teknologi pengecoran, mulai dari peleburan, pembuatan cetakan dan coremaking, serta simulasi, otomasi, dan pengujian. Sementara itu, METEC berfokus pada teknologi metalurgi dan produksi logam, termasuk besi dan baja, logam non-ferrous, tungku, refractory, pengerolan, pembentukan, pengendalian proses, dan rekayasa pabrik.
Eropa merupakan salah satu pasar besar bagi industri alas kaki. Dari sisi ekspor, data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) menunjukkan nilai ekspor alas kaki Indonesia ke 27 negara Uni Eropa mencapai US$1,31 miliar pada 2020. Nilai tersebut kemudian meningkat menjadi US$1,54 miliar pada 2021 dan US$2,02 miliar pada 2022.
Nilai ekspor sempat turun menjadi US$1,65 miliar pada 2023, sebelum kembali meningkat menjadi US$1,77 miliar pada 2024 dan US$1,82 miliar pada 2025. Hingga Juni 2026, nilai ekspor alas kaki Indonesia ke 27 negara Uni Eropa tercatat sebesar US$919 juta.
Sekretaris Jenderal APRISINDO Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan rencana penandatanganan Indonesia—European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang ditargetkan berlangsung pada Oktober 2026 diharapkan dapat mengurangi hambatan perdagangan, khususnya tarif. Dengan demikian, produk alas kaki Indonesia dapat menjadi lebih kompetitif dibandingkan produk dari negara pesaing.
Menurutnya, implementasi IEU-CEPA berpotensi membuka peluang peningkatan ekspor, diversifikasi buyer, serta mendorong masuknya investasi baru ke Indonesia yang berorientasi ekspor ke pasar Eropa.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita membantah anggapan Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi maupun deindustrialisasi dini. Sejumlah indikator mulai dari kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB), pertumbuhan manufaktur, hingga investasi dinilai menunjukkan kondisi sebaliknya.
Kemenperin menilai narasi mengenai deindustrialisasi Indonesia dapat dipatahkan dengan melihat perkembangan industri dalam beberapa tahun terakhir.
“Ada pandangan bahwa kita masuk ke dalam atau sudah masuk ke dalam fase deindustrialisasi, itu terlalu mudah untuk kita patahkan,” ujar Agus dalam keterangannya, Senin (17/8).
Menurut dia, narasi Indonesia mengalami deindustrialisasi hanya disampaikan oleh sebagian kecil pihak dan cenderung berasal dari pihak yang sama.
“Saya justru mempertanyakan dari berbagai pihak, bukan berbagai pihak ya, sebenarnya kalau saya bisa sampaikan hanya sedikit pihak saja dan orangnya itu-itu saja, yang selalu mengeluarkan sebuah narasi yang mengatakan Indonesia sedang atau sudah masuk ke dalam tahap deindustrialisasi maupun deindustrialisasi dini,” katanya.
Page 1 of 170



