Pertumbuhan industri manufaktur terus naik menyusul perusahaan yang sudah mulai ekspansif pasca pandemi. Angka ini tercermin dari hasil survei S&P Global yang melaporkan bahwa Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Januari 2023 sebesar 51,3 atau dalam tahap ekspansif karena berada di atas level 50,0.

"PMI manufaktur Indonesia pada Januari 2023 ini naik dibanding bulan Desember 2022 yang berada di angka 50,9. Kinerja gemilang ini sejalan dengan hasil Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Januari 2023 yang telah kami rilis sebelumnya, dengan menunjukkan posisi 51,54 atau meningkat dibandingkan IKI Desember 2022 yang berada di level 50,9," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di dalam keterangannya, Kamis (3/2).

Agus menjelaskan, lonjakan PMI manufaktur Indonesia tersebut lantaran kenaikan tingkat output dan permintaan baru. "Artinya, para pelaku industri masih optimistis dan merespons secara positif terhadap sejumlah kebijakan dan kondisi ekonomi nasional, sehingga mereka memperluas aktivitas untuk produksi dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor," paparnya.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif mengatakan sektor industri otomotif di Tanah Air pada 2022 menunjukkan kinerja cukup gemilang, yang terlihat dari peningkatan surplus perdagangan roda empat hingga 64 persen.

Angka tersebut diapresiasi karena ekspor otomotif melaju meskipun terdapat tekanan inflasi di berbagai negara dan dampak perang Rusia-Ukraina.

“Manufaktur kendaraan roda empat nasional berhasil menjadi pahlawan devisa dengan kemampuan ekspor kendaraan utuh atau Completely Built Unit (CBU) sebesar 473 ribu unit mobil, meningkat 60,7 persen dibanding 2021 yang berjumlah 294 ribu,” kata Febri lewat keterangannya di Jakarta, Senin.

Dari sisi nilai, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022, ekspor CBU mencapai 5,7 triliun dolar AS atau meningkat 63,5 persen dibanding 2021 yang mencapai 3,5 miliar dolar AS.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan mesin sektor industri pengolahan nonmigas kian menderu pada awal tahun yang tercermin dari Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Januari 2023 tercatat sebesar 51,3 atau dalam tahap ekspansif.

Ia menjelaskan lonjakan PMI manufaktur Indonesia tersebut lantaran kenaikan tingkat <em>output</em> dan permintaan baru.

"Artinya, para pelaku industri masih optimistis dan merespons secara positif terhadap sejumlah kebijakan dan kondisi ekonomi nasional, sehingga mereka memperluas aktivitas untuk produksi dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor," kata Menperin lewat keterangannya di Jakarta, Rabu.

Ia memaparkan PMI manufaktur Indonesia pada Januari 2023 tersebut naik dibanding Desember 2022 yang berada di angka 50,9. Angka itu terbilang ekspansif karena berada di atas angka 50.

Pasar ekspor yang semakin terbuka lebar, diperkirakan akan mendongkrak pertumbuhan industri makanan dan minuman (Mamin) pada 2023.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi Lukman, mengungkapkan pertumbuhan industri mamin bisa menyentuh angka 5 persen di 2023.

“Saya kira saat ini saya optimis ya, perkiraan saya sih harusnya bisa di atas 5 persen pertumbuhannya [industri mamin],” kata Adhi kepada Bisnis pada Jumat (27/1/2023).

Adhi menilai, industri ini memang cukup prospektif jika dibandingkan dengan industri lain, di tengah permasalahan pemulihan ekonomi pasca pandemi serta permasalahan pasar ekspor akibat ketidakstabilan kondisi geopolitik.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Januari sebesar 51,54. IKI diklaim mengalami pertumbuhan sebesar 0,64 dari bulan sebelumnya, 50,90.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif menyebutkan, dengan angka 51,54 berarti gambaran kondisi industri manufaktur pada bulan Januari ini dalam keadaan ekspansif.

“Hasilnya untuk bulan Januari, nilai IKI hasil perhitungannya adalah sebesar 51,54, berarti IKI berada pada level ekspansif,” kata Febri dalam jumpa pers IKI di kantor Kemenperin Jakarta pada Selasa (31/1/2023).

Menurut Febri, kenaikan IKI di bulan Januari ini terjadi lantaran ketiga variabel pembentuk IKI mengalami ekspansi dan peningkatan dari bulan sebelumnya. Tiga variabel tersebut adalah pesanan baru, produksi, dan persediaan.

Pemerintah mencatat sektor manufaktur dalam negeri meraup total investasi senilai Rp497,7 triliun sepanjang 2022. Jumlah itu naik 52 persen dari total investasi senilai Rp238,9 triliun pada 2021.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan sektor industri masih menjadi penyumbang penanaman modal terbesar dibandingkan sektor lain lewat pencapaian tersebut.

"Ini merupakan sinyal penting bahwa level kepercayaan terhadap Indonesia masih tinggi. Investor masih melihat bahwa Indonesia baik untuk bisnis dan investasi,” ujarnya via siaran pers, Kamis (26/1/2023).

Merujuk data Kementerian Investasi/Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM), total investasi di Tanah Air mencapai Rp1.207,2 triliun sepanjang tahun lalu.