Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan industri alas kaki nasional merupakan salah satu penopang utama sektor padat karya di Indonesia.

Sektor tersebut dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga pertumbuhan ekonomi hingga stabilitas sosial. Baik melalui kontribusinya terhadap pengolahan maupun kemampuannya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Tercatat kontribusi sektor tersebut terhadap Produk Domestik Bruto industri pengolahan sebesar 1,2% pada kuartal ketiga tahun 2025. Dari sisi ketenagakerjaan, sektor ini menyerap sekitar 921 ribu tenaga kerja per Februari 2025.

"Di tengah dinamika dan ketidakpastian global, industri alas kaki nasional menunjukkan tingkat resiliensi yang kuat. Pada tahun 2024, nilai ekspor industri alas kaki tumbuh signifikan sebesar 13,13% dan mencapai USD7,28 miliar.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menilai kebangkitan industri mulai terlihat dari capaian kinerja sepanjang 2025. Hal ini mendorong rencana investasi senilai Rp5 triliun yang dipastikan masuk tahun ini. 

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengatakan, pihaknya optimistis industri keramik nasional akan mengalami rebound signifikan pada 2026 dan menargetkan utilitas produksi mencapai 80% atau tertinggi dalam 1 dekade terakhir. 

“Target ini realistis dengan catatan dukungan kebijakan pemerintah tetap konsisten dan persoalan struktural industri segera diselesaikan,” ujar Edy Suyanto melalui keterangan resminya, Rabu (14/1/2026). 

Optimisme tersebut dipicu berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai telah pro-industri, peningkatan kapasitas produksi, serta prospek pertumbuhan konsumsi domestik yang masih sangat besar.

Ditengah dinamika perekonomian global yang masih diwarnai ketidakpastian, sektor industri manufaktur nasional terus menghadapi berbagai tantangan struktural dan eksternal. Meski demikian, sektor manufaktur tetap memiliki fondasi yang kuat untuk tumbuh dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, “industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5 persen dan berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Kami optimistis kinerja ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sepanjang tahun 2026.”

Agus menyampaikan, arah kebijakan industri manufaktur pada 2026 tidak hanya difokuskan untuk menjaga momentum pertumbuhan, tetapi juga memperkuat struktur industri nasional secara berkelanjutan. Penguatan nilai tambah di dalam negeri, pendalaman struktur industri, serta optimalisasi keterkaitan antarsektor menjadi fokus utama kebijakan.

Pengusaha mendukung langkah pemerintah dalam penguatan industri tekstil dan garmen nasional. Langkah itu salah satunya dilakukan melalui revitalisasi supply chain.

Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto menilai perhatian Presiden Prabowo Subianto merupakan sinyal politik dan ekonomi yang sangat kuat bagi keberlanjutan sektor padat karya tersebut.

Anne mengatakan, komitmen Presiden yang menempatkan industri garmen dan tekstil sebagai sektor strategis perlu diterjemahkan secara konkret oleh kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah dalam bentuk kebijakan, regulasi, dan instrumen pelaksanaan yang nyata.

"Industri ini berperan vital dalam penciptaan lapangan kerja dan stabilitas sosial-ekonomi nasional," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5 persen dan berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional. 

Kinerja tersebut dinilai tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global yang masih dibayangi ketidakpastian, sekaligus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. 

“Kami optimistis kinerja ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sepanjang tahun 2026,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (18/1/2026). 

Agus menambahkan, sektor industri manufaktur nasional memang masih menghadapi berbagai tantangan, baik yang bersifat struktural maupun eksternal.

Pemberian insentif bagi industri ma­nufaktur dengan skenario lokalisasi bisa berdampak lebih besar pada ekonomi dibandingkan skema tanpa komponen lokal. Pasalnya, kebijakan tersebut mampu memperkuat rantai pasok domestik dan menciptakan nilai tambah di dalam ne­geri. 

Namun, efektivitas ke­bijakan ini mensyaratkan pengawasan ketat agar komponen lokal benar-be­nar diproduksi di Indone­sia, bukan sekadar impor yang diberi label lokal. Tan­pa kontrol tersebut, insentif berisiko kehilangan tujuan strategisnya dan hanya menjadi subsidi tanpa efek industrialisasi yang nyata.

Pengajar Fakultas Eko­nomi dan Bisnis (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menilai pemberian insentif bagi industri manufaktur dapat mendorong pertum­buhan ekonomi secara le­bih berkelanjutan karena sektor ini berpotensi be­sar menciptakan lapangan kerja, terutama pada indus­tri padat karya. Menurut­nya, insentif sebaiknya ti­dak hanya difokuskan pada industri otomotif, tetapi juga mencakup sektor ma­nufaktur lainnya, dengan penekanan pada penggu­naan komponen lokal.