Pemerintah terus memperkuat upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Berbagai dinamika, mulai dari eskalasi konflik geopolitik hingga disrupsi rantai pasok global, memberikan tekanan terhadap kinerja industri dan stabilitas ekonomi. Dalam konteks tersebut, Pemerintah mengambil langkah strategis yang terintegrasi guna memastikan perekonomian nasional tetap tumbuh dan resilien.

Sektor industri pengolahan, khususnya manufaktur, menjadi salah satu pilar utama yang diandalkan dalam menopang pertumbuhan ekonomi. Dengan kontribusi yang besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penciptaan lapangan kerja, investasi, serta ekspor nasional, sektor ini memiliki peran strategis dalam menciptakan nilai tambah dan memperluas lapangan kerja. Pada tahun 2025, pertumbuhan industri pengolahan tercatat sebesar 5,30%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11%, dimana menjadi indikasi positif bagi penguatan struktur ekonomi ke depan.

Indonesia bersama Rusia memperkuat pengembangan kerja sama sebagai langkah mendorong peningkatan kolaborasi di sektor industri, perdagangan, dan investasi untuk memperkuat struktur industri sekaligus memperluas akses pasar global.

Sejumlah sektor strategis menjadi fokus pembahasan kedua negara, di antaranya kerja sama pada industri manufaktur, galangan kapal, petrokimia, farmasi dan alat kesehatan, serta pengembangan teknologi industri.

Penguatan kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dan Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia Alexey Vladimirovich Gruzdev pada rangkaian Indonesia–Russia Business and Investment Forum 2026 di Saint Petersburg.

"Indonesia memandang Rusia sebagai mitra strategis jangka panjang dalam pembangunan industri nasional. Kami ingin memastikan seluruh potensi kerja sama yang telah dibahas tidak berhenti pada tataran komitmen," ujar Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dalam siaran resminya, Senin (11/5/2026).

Pemerintah diminta mempercepat reindustrialisasi atau penguatan kembali sektor manufaktur guna memperluas penciptaan lapangan kerja formal sekaligus meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional.

Seperti dikutip dari Antara, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai sektor manufaktur secara historis menjadi sektor paling efektif dalam menciptakan pekerjaan formal dalam skala besar, meski kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menurun dalam dua dekade terakhir.

“Penguatan kembali sektor manufaktur perlu menjadi agenda utama.

Indonesia membutuhkan kebijakan industri yang lebih agresif untuk mendorong manufaktur padat karya modern, terutama yang terintegrasi dengan teknologi dan rantai pasok global,” katanya di Jakarta.

Menurut Yusuf, tantangan Indonesia saat ini bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut mampu menghasilkan pekerjaan yang lebih berkualitas, formal, dan produktif.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat sektor industri nasional melalui pengembangan kerja sama dengan negara-negara mitra strategis, termasuk Rusia.

Hubungan diplomatik yang terjalin erat antara Indonesia dan Rusia dinilai mampu mendorong peningkatan kolaborasi di sektor industri, perdagangan dan investasi guna memperkuat struktur industri nasional sekaligus memperluas akses pasar global.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui partisipasi Indonesia sebagai Partner Country dalam ajang INNOPROM 2026 yang diharapkan membuka peluang kerja sama yang lebih konkret dan saling menguntungkan.

Momentum INNOPROM 2026 disebut dapat menjadi penggerak utama untuk mempercepat realisasi kerja sama di sejumlah sektor strategis.

Beberapa sektor yang menjadi fokus pembahasan meliputi industri manufaktur, galangan kapal, petrokimia, farmasi dan alat kesehatan, hingga pengembangan teknologi industri.

Industri manufaktur Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks memasuki 2026. Di tengah target pertumbuhan sektor manufaktur sebesar 5,51 persen, perusahaan dituntut menjaga efisiensi produksi sekaligus memenuhi permintaan pasar yang bergerak semakin cepat.

Sektor manufaktur masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan kontribusi sekitar 19 persen. Namun dibalik besarnya peran tersebut, banyak perusahaan masih menghadapi persoalan klasik seperti target produksi yang meleset, perubahan jadwal produksi secara mendadak, hingga keterlambatan pengiriman barang ke pelanggan.

Senior ERP Consultant Total ERP, Jason Armando, mengatakan bahwa akar masalah tersebut seringkali bukan terletak pada kapasitas mesin atau tenaga kerja, melainkan pada sistem perencanaan produksi yang belum optimal.

Perusahaan manufaktur global berbasis produk berbahan kulit yang berorientasi ekspor asal Korea Selatan, PT Simone Batang Indonesia bakal membangun pusat produksi di Indonesia. Pihaknya sepakat mengucurkan duit senilai Rp429 miliar untuk membangun pusat produksi di KEK Industropolis Batang.

Tak hanya itu, investor kakap tersebut juga akan menyerap 6.000 Tenaga Kerja. Simone akan membangun fasilitas produksi di atas lahan seluas 8,28 hektare. Masuknya investasi ini menjadi relevan di tengah upaya Indonesia memperkuat daya saing industri manufaktur global, khususnya dalam menarik relokasi dan ekspansi perusahaan internasional.

Direktur Pemasaran & Pengembangan KEK Industropolis Batang, Indri Septa Respati, menyampaikan bahwa ini bisa menjadi awal tren perusahaan internasional menjadikan kawasan Indonesia sebagai basis produksi untuk pasar ekspor.