Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa tengah terpaan Covid-19, sektor industri tahun lalu menjadi penyumbang PDB terbesar yaitu 19,86 persen, yang mana industri pengolahan nonmigas menyumbang 17,9 persen.

Untuk tahun ini, pertumbuhan industri manufaktur diperkirakan kembali positif. Seluruh subsektor manufaktur akan kembali bergairah. Dengan asumsi pandemi sudah bisa dikendalikan dan aktivitas ekonomi sudah bisa kembali pulih.

"Kami memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur pada 2021 akan tumbuh hampir 4 persen atau 3,95 persen. Optimisme tersebut sejalan dengan investasi di industri pengolahan nonmigas yang masih tumbuh positif pada 2020," katanya, Selasa (12/1/2020).

Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) menyatakan kondisi industri karet awal 2021 mendapatkan berkah pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19.

Dampak dari penyakit gugur daun karet (GDK) dan pemulihan sektor manufaktur di China dinilai menjadi pendorongnya.  

Ketua Umum Dekarindo Azis Pane menyatakan permintaan pada Januari 2021 telah naik sekitar 5-6 persen dari kondisi normal. Azis menduga hal tersebut disebabkan oleh naiknya permintaan ban dari Negeri Panda sekitar 5-10 persen pada awal tahun.

"Artinya, industri otomotif di China sudah mulai bagus. Di dalam negeri baru [industri] sepeda motor yang bagus, tapi [permintaan dari kendaraan] roda empat belum seperti yang diharapkan," katanya kepada Bisnis, Rabu (6/1/2021).

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menyatakan industri tekstil nasional optimistis dapat kembali ke posisi prapandemi pada 2021.

Sekretaris Jenderal APSyFI Redma Wirawasta mengatakan hal tersebut disebabkan oleh arah kebijakan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang jelas, yakni mengurangi impor. Selain itu, optimisme tersebut juga didorong oleh penerbitan safeguard garmen yang diharapkan segera terbit pada kuartal I/2021.

"Begitu safeguard garmen [diterbitkan], demand kain lebih besar. Lalu, pemerintah kurangi impor kain. Bahan baku lokal mulai diprioritaskan. Harusnya pertumbuhan industri tekstil bisa naik di atas 5 persen [pada 2021]," katanya kepada Bisnis, Minggu (10/1/2021).

Ekonom menilai investasi sektor hulu untuk mendukung gairah manufaktur Tanah Air sangat diperlukan guna memenuhi sisi ketersediaan dan keterjangkauan pelaku industri dalam meminimalkan risiko jika distrupsi kembali seperti pada awal 2020.

Kepala Center of Industry, Trade, and Investment Indef Andry Satrio Nugroho mengatakan hal tersebut saat ini juga disadari oleh banyak negara, di mana pandemi telah membuka mata agar melepas ketergantungan pasokan bahan baku dari China.

"Industri kita celakanya sekitar 70 persen bahan baku masih diimpor mayoritas dari China, sehingga seperti awal pandemi kemarin yang juga dirasakan negara lain, bahkan ketika kasus Covid-19 belum masuk kuartal I/2020 industri sudah terganggu," katanya kepada Bisnis, Selasa (5/1/2021).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pelaku industri dalam menerapkan Industri Hijau untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan tetap meningkatkan kemampuan dan daya saingnya.

Menteri Perindustrian Agus G. Kartasasmita meminta industri harus mengimplementasikan standar sustainability yang dapat dicapai dengan penerapan industri hijau. Industri hijau menjadi ikon industri yang harus dipahami dan dilaksanakan, yaitu industri yang dalam proses produksinya menerapkan upaya efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya secara berkelanjutan.

Sementara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Rahadi menilai satuan kerja di bawah lingkungan BPPI harus cepat berinovasi dan berkontribusi dalam mengantisipasi perkembangan kebutuhan industri, khususnya dalam meningkatkan daya saing serta mendukung kebijakan pengembangan industri berkelanjutan.

Aktivitas industri manufaktur di Tanah Air terus berupaya bangkit menembus fase ekspansif, sehingga Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik pada Desember 2020 mencapai 51,3 dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di posisi 50,6.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut peningkatan indeks itu didukung adanya pertumbuhan pesanan baru, yang mengacu ekspansi solid, sehingga menjadikan kenaikan PMI manufaktur tercepat kedua dalam sejarah survei selama hampir sepuluh tahun.

“Ini capaian yang luar biasa, saya berterima kasih kepada para pelaku industri yang tetap berusaha semaksimal mungkin mengoptimalkan sumber daya yang ada di tengah keterbatasan yang ada. Hal ini juga menunjukkan bahwa langkah-langkah kebijakan Kementerian Perindustrian mampu mendorong hal ini,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin.