Seiring berkembangnya industri logam dan agenda hilirisasi Indonesia, kebutuhan terhadap teknologi dan kemitraan untuk memperkuat rantai nilai industri semakin penting. Momentum tersebut dihadirkan melalui GIFA dan METEC Indonesia 2026, yang kembali mempertemukan pelaku industri pengecoran logam, metalurgi, pengolahan aluminium, dan industri hilir.
Diselenggarakan oleh Messe Duesseldorf Asia bersama PT Pamerindo Indonesia, bagian dari Informa Markets, GIFA dan METEC Indonesia memasuki edisi ketiganya pada 9-12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo). Kedua pameran akan menghadirkan sekitar 260 perusahaan peserta dan 6.000 pengunjung profesional, dengan teknologi di bidang pengecoran logam, metalurgi, besi dan baja, logam non-ferrous, fabrikasi, otomasi, hingga manufaktur berkelanjutan.
Kedua pameran ini masing-masing menghadirkan fokus berbeda. GIFA Indonesia membawa teknologi pengecoran, mulai dari peleburan, pembuatan cetakan dan coremaking, serta simulasi, otomasi, dan pengujian. Sementara itu, METEC berfokus pada teknologi metalurgi dan produksi logam, termasuk besi dan baja, logam non-ferrous, tungku, refractory, pengerolan, pembentukan, pengendalian proses, dan rekayasa pabrik.
Pemerintah akan meluncurkan Program Motor Listrik Nasional pada 13 Agustus 2026. Program ini dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri manufaktur dan menciptakan lapangan kerja baru.
Pengamat tata kota dan perkotaan Universitas Trisakti, Yayat Supriatna mengatakan, pemerintah perlu memastikan program tersebut tidak berhenti pada produksi motor listrik. Menurutnya, pemerintah juga perlu membangun pasar agar produk yang dihasilkan memiliki daya serap.
“Kalau pasarnya tidak dibina dan dipelihara, untuk apa produksi motor kalau pasarnya tidak dikembangkan. Maka harus ada kebijakan yang melindungi pasar ini supaya bergairah,” kata Yayat kepada KONTAN, Rabu (12/8/2026).
Yayat menilai pengembangan motor listrik nasional juga harus dibarengi penguatan industri pendukung. Hal ini mencakup industri baterai, komponen, teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita membantah anggapan Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi maupun deindustrialisasi dini. Sejumlah indikator mulai dari kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB), pertumbuhan manufaktur, hingga investasi dinilai menunjukkan kondisi sebaliknya.
Kemenperin menilai narasi mengenai deindustrialisasi Indonesia dapat dipatahkan dengan melihat perkembangan industri dalam beberapa tahun terakhir.
“Ada pandangan bahwa kita masuk ke dalam atau sudah masuk ke dalam fase deindustrialisasi, itu terlalu mudah untuk kita patahkan,” ujar Agus dalam keterangannya, Senin (17/8).
Menurut dia, narasi Indonesia mengalami deindustrialisasi hanya disampaikan oleh sebagian kecil pihak dan cenderung berasal dari pihak yang sama.
“Saya justru mempertanyakan dari berbagai pihak, bukan berbagai pihak ya, sebenarnya kalau saya bisa sampaikan hanya sedikit pihak saja dan orangnya itu-itu saja, yang selalu mengeluarkan sebuah narasi yang mengatakan Indonesia sedang atau sudah masuk ke dalam tahap deindustrialisasi maupun deindustrialisasi dini,” katanya.
Kementerian Perindustrian terus memperkuat pengembangan industri berbasis sumber daya lokal agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan semakin kompetitif di pasar global. Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui penyelenggaraan Specialty Indonesia 2026, yang menjadi etalase bagi produk-produk unggulan nasional sekaligus membuka peluang kolaborasi bisnis dan perluasan akses pasar.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan keragaman komoditas yang menjadi modal besar bagi pengembangan industri specialty dan artisan. Berbagai komoditas seperti kopi, teh, kakao, hortikultura, olahan susu, cerutu, hingga produk fermentasi berbasis bahan baku lokal memiliki karakteristik dan keunggulan yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi.
“Kita memiliki kekayaan bahan baku dan keragaman produk yang menjadi kekuatan industri Indonesia. Tantangannya adalah dari potensi tersebut kita olah menjadi produk bernilai tambah, berkualitas, memiliki identitas yang kuat, serta mampu bersaing di pasar global,” kata Faisol saat membuka Specialty Indonesia 2026 di Jakarta, Senin (10/8).
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia mencatat pertumbuhan 6,36% pada kuartal II-2026. Namun, pertumbuhan tersebut belum dirasakan merata oleh seluruh pelaku industri.
Pengurus Pusat Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat Jemmie Cahyadi mengatakan, investasi di industri TPT masih menunjukkan kepercayaan investor. Investasi TPT pada semester I-2026 mencapai Rp11,4 triliun atau tumbuh 11,85%.
Namun, di saat sebagian pelaku usaha mulai melakukan ekspansi, sebagian lainnya masih menahan investasi. Bahkan, terdapat perusahaan yang harus menutup usahanya akibat tekanan pasar.
“Bukan berarti kami pesimistis, cuma transformasinya belum merata. Ada yang sudah lari kencang, ada yang masih struggling menghadapi tekanan pasar global dan impor,” kata Jemmie kepada KONTAN, Kamis (13/8/2026).
Hilirisasi mineral Indonesia dinilai belum cukup hanya dengan meningkatkan kapasitas produksi.
Indonesia perlu menguasai rantai teknologi secara utuh agar komoditas mineral tidak berhenti sebagai bahan baku, tetapi bisa menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand), Is Prima Nanda, mengatakan tantangan utama hilirisasi saat ini bukan lagi sekadar ketersediaan cadangan mineral.
Persoalan yang lebih besar adalah kemampuan Indonesia membangun kapabilitas teknologi nasional, mulai dari pemurnian hingga manufaktur.
"Indonesia perlu menguasai teknologi pemurnian, rekayasa material, desain produk, hingga proses manufakturnya," ujar Prima saat dihubungi dari Jakarta seperti dikutip dari Tribunnews.com.
Page 1 of 169




