Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkap potensi dan strategi penguatan ekosistem industri perkapalan nasional. Penguatan ekosistem perkapalan merupakan bagian dari strategi industrialisasi untuk mentransformasi sistem logistik Indonesia, ketahanan pangan serta meningkatkan daya saing industri manufaktur.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa penguatan industri galangan kapal nasional bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, melainkan keharusan strategis. Sub sektor ini memiliki keterkaitan ke belakang dan ke depan (backward and forward linkages) yang tinggi terhadap berbagai sub sektor ekonomi.

“Industri galangan kapal memiliki dampak berganda yang luas karena melibatkan berbagai komponen dalam rantai pasok industri seperti bahan baku, komponen, teknologi, pendanaan, sumber daya manusia, teknologi, infrastruktur hingga jasa logistik. Karena itu, pengembangannya menjadi kebutuhan strategis bagi penguatan struktur industri nasional,” kata Agus melalui keterangan tertulis yang disiarkan pada Selasa (10/2/2026) malam.

Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, industri pengolahan kembali mendominasi dalam kinerja ekonomi nasional sepanjang 2025. BPS mencatat, industri pengolahan menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap PDB nasional sebesar 19,07%.

Pertumbuhan sektor manufaktur selama tiga tahun terakhir positif dan stabil, dari 4,64% di 2023, turun tipis ke 4,43% di 2024, dan naik signifikan menjadi 5,30% di 2025.

Selain itu, dia menilai, sumbangan manufaktur secara konsisten jadi yang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi dibanding sektor lainnya, dari 0,95% di 2023, turun tipis ke 0,90% di 2024, dan lanjut naik menjadi 1,07% di 2025.

“Industri pengolahan tidak hanya menjadi kontributor terbesar, tapi juga mendominasi pertumbuhan ekonomi nasional dibanding sektor lainnya,” katanya melalui keterangan tertulis, Jakarta, Kamis (5/2).

Kinerja industri manufaktur nasional menunjukkan sinyal penguatan di tengah dinamika ekonomi global. 

Sepanjang 2025, sektor ini mampu mencatat pertumbuhan tertinggi sejak pandemi. Capaian tersebut mencerminkan perubahan struktur industri yang semakin mengarah pada sektor bernilai tambah.

Industri manufaktur Indonesia mencatat pertumbuhan positif, mencapai 5,15% pada 2025, atau tertinggi sejak pandemi Covid-19. Pertumbuhan ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah tantangan sektor padat karya. Proyek hilirisasi menjadi faktor utama yang menopang kinerja tersebut.

Industri Manufaktur 2025 Tumbuh 5,15%, Celios: Ditopang Hilirisasi, Padat Karya Kontraksi menjadi gambaran kondisi struktural industri nasional. Pertumbuhan yang terjadi tidak merata di seluruh subsektor. Sejumlah industri justru mengalami tekanan dan penurunan kinerja.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan nonmigas atau manufaktur tumbuh 5,15% (year-on-year/yoy) pada 2025. 

Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi sejak pandemi Covid-19 dan di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11% yoy. Selain itu, industri pengolahan juga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada 2025. 

“Jika dilihat dari sumber pertumbuhan ekonomi secara kumulatif tahun 2025, dari sisi lapangan usaha terlihat industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,07%. Angka ini merupakan yang tertinggi selama 4 tahun terakhir,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam rilis berita resmi statistik pada hari ini, Kamis (5/2/2026).

BPS mencatat bahwa pertumbuhan industri pengolahan didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri.

Industri pengolahan kembali menegaskan dominasinya dalam kinerja ekonomi nasional sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 19,07 persen. Kontribusi Industri Pengolahan di tahun 2023 sebesar 18,67 persen, di 2024 naik menjadi 18,98 persen dan terus naik di tahun 2025 menjadi 19,07 persen.

Pertumbuhan Industri Pengolahan selama 3 tahun terakhir positif dan stabil. Pada tahun 2023 pertrumbuhan industri pengolahan sebesar 4,64 persen, di tahun 2024 menjadi 4,43 dan akhirnya naik signifikan menjadi 5,30 persen di tahun 2025.

Industri Pengolahan secara konsisten menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi dibanding sektor lainnya. Di tahun 2023 misalnya, sektor ini memberikan sumbangan sebesar 0,95 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, tahun berikutnya menjadi 0,90 persen dan melanjutkan kenaikan di 2025 menjadi 1,07 persen.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan, investasi di sektor industri manufaktur nasional tetap tumbuh dan berkelanjutan. Pertumbuhan itu tercermin dari realisasi kapasitas produksi baru serta indikator investasi riil lainnya. 

Menanggapi pernyataan sejumlah pihak yang meragukan keberlanjutan investasi manufaktur, Kemenperin menilai, pandangan tersebut kurang tepat dan tidak sepenuhnya mencerminkan data faktual. 

Berdasarkan data Kemenperin per 15 Januari 2026, terdapat 1.236 perusahaan industri yang telah menyelesaikan tahap pembangunan pada 2025 dan siap mulai berproduksi untuk pertama kalinya pada 2026. 

Kehadiran kapasitas produksi baru itu menjadi bukti konkret bahwa investasi manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi juga direalisasikan secara nyata di sektor riil.