Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, industri pengolahan kembali mendominasi dalam kinerja ekonomi nasional sepanjang 2025. BPS mencatat, industri pengolahan menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap PDB nasional sebesar 19,07%.

Pertumbuhan sektor manufaktur selama tiga tahun terakhir positif dan stabil, dari 4,64% di 2023, turun tipis ke 4,43% di 2024, dan naik signifikan menjadi 5,30% di 2025.

Selain itu, dia menilai, sumbangan manufaktur secara konsisten jadi yang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi dibanding sektor lainnya, dari 0,95% di 2023, turun tipis ke 0,90% di 2024, dan lanjut naik menjadi 1,07% di 2025.

“Industri pengolahan tidak hanya menjadi kontributor terbesar, tapi juga mendominasi pertumbuhan ekonomi nasional dibanding sektor lainnya,” katanya melalui keterangan tertulis, Jakarta, Kamis (5/2).

Ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan ini tidak hanya sekadar mengikuti tren global dalam hal penggunaan kendaraan yang lebih ramah lingkungan, namun juga jadi salah satu sektor pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

"Khusus untuk otomotif kalau kita perhatikan bagaimana picture-nya dan peranannya kepada perekonomian kita, dia cukup besar terhadap pembentukan PDB kita, di 1,28% di triwulan III 2025," kata Deputi Bidang Koordinasi Keniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ali Murtopo, di acara EVolution Indonesia Forum, Jakarta Selatan, Selasa (3/2/2026).

Lebih lanjut ia mengatakan sepanjang 2025 kemarin penjualan mobil listrik di Indonesia sudah melebihi 100 ribu unit. Di mana jumlah ini berkontribusi sekitar 12,9% dari total pasar mobil domestik saat ini.

"Saat ini populasi kendaraan listrik juga sudah hampir mencapai lebih dari 330 ribu, kalau kami tidak salah data, dan itu sudah membuktikan bahwa ekosistem di kita sudah siap," terangnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan nonmigas atau manufaktur tumbuh 5,15% (year-on-year/yoy) pada 2025. 

Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi sejak pandemi Covid-19 dan di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11% yoy. Selain itu, industri pengolahan juga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada 2025. 

“Jika dilihat dari sumber pertumbuhan ekonomi secara kumulatif tahun 2025, dari sisi lapangan usaha terlihat industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,07%. Angka ini merupakan yang tertinggi selama 4 tahun terakhir,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam rilis berita resmi statistik pada hari ini, Kamis (5/2/2026).

BPS mencatat bahwa pertumbuhan industri pengolahan didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, Senin (2/2/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,6 pada Januari 2026. PMI mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari 51,2 di Desember 2025.

Dengan fase ini maka PMI Indonesia sudah dalam fase ekspansif selama enam bulan beruntun.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

Sektor manufaktur Indonesia mengalami penguatan yang berkelanjutan pada awal 2026. Baik output maupun pesanan baru meningkat dengan laju yang lebih cepat.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan, investasi di sektor industri manufaktur nasional tetap tumbuh dan berkelanjutan. Pertumbuhan itu tercermin dari realisasi kapasitas produksi baru serta indikator investasi riil lainnya. 

Menanggapi pernyataan sejumlah pihak yang meragukan keberlanjutan investasi manufaktur, Kemenperin menilai, pandangan tersebut kurang tepat dan tidak sepenuhnya mencerminkan data faktual. 

Berdasarkan data Kemenperin per 15 Januari 2026, terdapat 1.236 perusahaan industri yang telah menyelesaikan tahap pembangunan pada 2025 dan siap mulai berproduksi untuk pertama kalinya pada 2026. 

Kehadiran kapasitas produksi baru itu menjadi bukti konkret bahwa investasi manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi juga direalisasikan secara nyata di sektor riil.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2026 berada di angka 52,12. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang berada di 51,90.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan nilai IKI Januari tahun ini juga tercatat lebih tinggi jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 53,10. Menunjukkan kinerja yang positif dari berbagai subsektor industri di awal tahun ini.

"Dibandingkan dengan bulan Desember 2025, IKI naik sebesar 2,22 poin.
Dibandingkan dengan IKI Januari tahun lalu 2025, IKI naik 1,02 poin," kata Febri dalam konferensi pers yang disiarkan secara online di YouTube Kemenperin, Kamis (29/1/2026).

Menurutnya kenaikan nilai IKI awal tahun ini disebabkan oleh sentimen positif sekaligus peningkatan kinerja untuk memenuhi kebutuhan Hari Raya Idul Fitri 2026.