Industri pengolahan kakao nasional kembali menunjukkan kinerja yang semakin kuat pada triwulan dua tahun 2026, di tengah dinamika pasar kakao global yang masih diwarnai volatilitas harga, perubahan pola permintaan, serta tantangan penerapan prinsip keberlanjutan. Berdasarkan Grind Statistics Q2 2026, volume pengolahan (grinding) kakao Indonesia mencapai 110.410 ton atau meningkat 30,1 persen dibandingkan pada triwulan pertama yang hanya mencapai 84.844 ton. 

Kinerja positif tersebut tercermin dari pada produksi olahan kakao yang mengalami peningkatan sebesar 8,2 persen dibanding triwulan sebelumnya. Capaian ini menunjukkan daya saing industri pengolahan kakao nasional yang terus menguat sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengolahan kakao dunia dan mitra strategis dalam rantai pasok kakao global.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat daya saing industri pengolahan kakao nasional sebagai bagian dari hilirisasi untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat grinding kakao berskala global.

Rencana Presiden Prabowo Subianto meluncurkan motor listrik nasional dinilai dapat menjadi momentum kebangkitan industri manufaktur Indonesia. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai program tersebut berpotensi mempercepat reindustrialisasi, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional jika didukung kandungan lokal yang tinggi.

Analis Kebijakan Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani, mengatakan sektor manufaktur selama ini masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi. Namun, kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) dinilai belum cukup besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

"Hal ini tentunya menjadi angin segar agar sektor manufaktur bisa kembali terdorong dan menjadi lokomotif penggerak perekonomian nasional, serta menjadi sektor penyerap tenaga kerja yang berkualitas," ujar Ajib dalam keterangan di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) berharap pemerintah Amerika Serikat (AS) membatalkan atau setidaknya menurunkan tambahan tarif impor terhadap produk tekstil Indonesia, menyusul berakhirnya masa investigasi berdasarkan pasal 301 Undang-Undang Perdagangan AS pada 24 Juli 2026. 

Ketua Umum AGTI Anne Patricia Sutanto mengatakan, sejauh ini, pemerintah Indonesia telah menempuh berbagai langkah, mulai dari penyampaian bukti administratif hingga diplomasi intensif dengan pemerintah AS, untuk menjawab seluruh isu yang menjadi dasar investigasi. Menurutnya, keputusan akhir kini sepenuhnya berada di tangan pemerintah AS. 

"Kita tinggal tunggu hasilnya. Harapan kita, yang diklaim oleh US dalam investigasi Pasal 301 terhadap Indonesia bisa didrop sehingga otomatis kita bisa lebih turun dari 10% atau nol,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (23/7/2026). 

Presiden AS Donald Trump sampai saat ini melancarkan berbagai investigasi atas tudingan pelanggaran perdagangan terhadap berbagai negara, termasuk ke Indonesia meski sudah menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong percepatan transformasi digital di sektor manufaktur guna meningkatkan daya saing industri nasional di tengah persaingan global. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memfasilitasi pelaksanaan Proof of Concept (PoC) solusi Industri 4.0 berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada industri farmasi, yang menjadi salah satu sektor prioritas dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pemanfaatan teknologi digital kini menjadi kebutuhan utama bagi industri untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

"Akselerasi transformasi digital dan adopsi teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk mendongkrak efisiensi dan daya saing global sektor kimia dan farmasi kita," ujar Agus dalam keterangannya, Senin (20/7/2026).

Untuk merealisasikan hal tersebut, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) melalui Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 (PIDI 4.0) terus memperluas implementasi teknologi digital di sektor manufaktur melalui berbagai program kolaboratif yang melibatkan pelaku industri dan penyedia teknologi.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyampaikan bahwa Indonesia menjadi basis manufaktur, sekaligus pusat ekspor (Export hub) perusahaan alat berat asal China, LiuGong.

“Saya, atas nama Kamar Dagang dan Industri Indonesia, mengucapkan selamat kepada keluarga besar LiuGong atas dimulainya pembangunan fasilitas manufaktur alat berat terpadu di Karawang ini. Kami juga mengucapkan selamat karena telah memilih Indonesia sebagai hub untuk melakukan ekspor ke seluruh dunia,” ujar Anin, sapaan akrab sebagaimana pernyataan resmi di Jakarta, Rabu.

Lebih lanjut Anin mengapresiasi komitmen investasi perusahaan yang mencapai sekitar Rp5,2 triliun di atas lahan seluas 27 hektare dengan kapasitas produksi hingga 3.000 unit alat berat per tahun.

Menurut dia, investasi tersebut menjadi langkah strategis dalam mendukung kebutuhan alat berat di tengah percepatan hilirisasi dan industrialisasi nasional, khususnya di sektor mineral.

Kinerja sektor industri pengolahan Indonesia tetap gencar ekspansi pada kuartal II-2026. Hal itu tercermin dari Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) yang berada di level 51,43, atau masih berada pada fase ekspansi karena berada di atas level 50.

Capaian PMI-BI kuartal II-2026 tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur nasional tetap tumbuh, didukung oleh peningkatan volume produksi, persediaan barang jadi, dan total pesanan. 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny, mengatakan hasil  tersebut menunjukkan aktivitas industri pengolahan nasional masih terjaga dan diperkirakan akan semakin menguat pada triwulan berikutnya.