Kementerian Keuangan buka suara mengenai ekspansi aktivitas manufaktur Indonesia menguat pada Oktober 2026.

Adapun, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat ke level 54,0 dari 52,4 pada September 2026, tertinggi sejak Maret 2024.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Hidayat Amir mengatakan, penguatan ini ditopang pertumbuhan permintaan baru yang tercepat sejak Oktober 2021 disertai peningkatan permintaan ekspor.

Perkembangan tersebut mendorong akselerasi produksi dan pembelian bahan baku, sekaligus memperkuat prospek industri pada kuartal IV 2026.

Menurutnya, pemerintah terus memberikan dukungan dengan menjaga keberlanjutan permintaan domestik, memperkuat daya saing industri, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Dengan begitu, konsistensi ekspansi produksi diharapkan terus berlanjut dan makin mendorong penyerapan tenaga kerja untuk kesejahteraan masyarakat.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebut target pemerintah untuk meningkatkan utilisasi kapasitas industri manufaktur nasional menjadi 80%-85% hingga akhir 2026 cukup ambisius. Pasalnya, utilisasi industri manufaktur saat ini baru mendekati 70%. 

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin mengatakan, kenaikan utilisasi sekitar 10-15 poin persentase dalam waktu singkat bukan perkara mudah. Meski demikian, target tersebut masih terbuka untuk dicapai oleh subsektor tertentu yang memiliki permintaan kuat dan mendapat dukungan pasokan bahan baku serta energi. 

"Target tersebut ambisius dan sulit dicapai secara merata dalam waktu singkat, meskipun masih mungkin bagi subsektor tertentu yang memiliki pesanan kuat," kata Saleh dalam keterangannya kepada Kontan, Rabu (28/10/2026).

Menurut dia, indikator aktivitas manufaktur memang menunjukkan perbaikan. PMI Bank Indonesia (PMI-BI) tercatat naik dari 51,43 pada kuartal II 2026 menjadi 52,28 pada kuartal III 2026. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) September 2026 berada di level 51,93.

Aktivitas industri manufaktur Indonesia semakin ekspansif pada Oktober 2026. Meski demikian, penguatan aktivitas produksi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan industri yang merata. 

Pelaku usaha masih menghadapi tekanan biaya bahan baku dan energi, sementara realisasi investasi serta penyerapan tenaga kerja belum menunjukkan penguatan signifikan. 

Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September 2026. Angka tersebut merupakan level ekspansi tertinggi sejak Maret 2024.

Penguatan PMI ditopang oleh peningkatan permintaan domestik dan ekspor. Pesanan baru manufaktur bahkan tumbuh dengan laju tercepat dalam lima tahun terakhir.

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji membantah anggapan Indonesia mengalami deindustrialisasi di sektor manufaktur. Menurutnya, kini industri nasional justru mulai menuju masa kebangkitan.

Misalnya saja pasar otomotif Indonesia, industri kendaraan itu masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Hal itu terlihat dari rasio kepemilikan mobil di Indonesia yang masih baru 99 mobil per 1.000 orang.

Angka ini masih jauh di bawah sejumlah negara ASEAN. Sarmuji meyakini ruang pasar otomotif Indonesia untuk tumbuh masih sangat besar.

"Misalkan Malaysia sampai 490, Thailand 275. Jadi kalau itu rasio kepemilikan mobilnya bisa meningkat, itu pasti produksi akan lebih besar lagi," ujar Sarmuji saat ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Dalam pertemuan dengan pabrikan mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Sarmuji juga mencatat adanya pertumbuhan pasar kendaraan sebesar 15%.

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober 2026 meningkat menjadi 53,77, naik 1,84 poin dibandingkan September 2026 yang sebesar 51,93. Meski aktivitas manufaktur menunjukkan penguatan, variabel persediaan masih berada dalam fase kontraksi selama lima bulan berturut-turut.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Eko S.A. Cahyanto mengatakan, peningkatan IKI mencerminkan berlanjutnya ekspansi sektor industri pengolahan nasional. Dari 23 subsektor yang menjadi objek penilaian, sebagian besar menunjukkan kinerja yang baik.

“Apabila kita perhatikan, IKI dari bulan ke bulan menunjukkan sektor industri terus ekspansi dan kuat. Dari 23 subsektor yang menjadi objek penilaian IKI, dapat kami sampaikan bahwa sebagian besar tumbuh sangat baik,” kata Eko dalam Rilis IKI Oktober 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri manufaktur tumbuh 5,32% pada triwulan II-2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%. Sektor tersebut menjadi penyumbang terbesar bagi perekonomian nasional dengan kontribusi hampir seperlima dari total ekonomi Indonesia. 

“Indonesia adalah salah satu negara pertama yang membuat instrumen kebijakan untuk menjaga keberlangsungan industri manufaktur dari dampak pandemi,” ujar mantan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan pers, Senin (26/10/2026).

Menurut keterangan tersebut, pemulihan industri manufaktur didukung sejumlah kebijakan pada masa pandemi COVID-19, antara lain Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI), insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP), serta penguatan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).