Pasar furnitur global saat ini bernilai sekitar USD 201 miliar per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa industri furnitur dan kerajinan merupakan salah satu sektor manufaktur kreatif terbesar dalam perdagangan dunia.
Namun struktur pasar global tersebut masih sangat terkonsentrasi. China mendominasi dengan nilai ekspor sekitar USD 130 miliar, diikuti Vietnam sekitar USD 21 miliar dan Jerman sekitar USD 18 miliar. Sementara itu Indonesia mencatat ekspor furnitur dan kerajinan sekitar USD 2,44 miliar pada 2023, dan hingga November 2024 mencapai USD 2,37 miliar.
Posisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi pemain relatif kecil dalam pasar global yang sangat besar. Namun pada saat yang sama, kondisi tersebut justru membuka peluang bagi Indonesia untuk tumbuh lebih cepat apabila strategi industri dan perdagangan dijalankan secara tepat.
Kinerja industri manufaktur Indonesia kembali menunjukkan tajinya. Pada Februari 2026, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur naik ke level 53,8 dari 52,6 pada Januari. Capaian ini menjadi yang tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir dan menegaskan tren ekspansi yang kian solid.
Lonjakan permintaan baru menjadi motor utama, seiring pertumbuhan produksi yang meningkat signifikan. Ketahanan ekonomi domestik dinilai menjadi fondasi kuat di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya reda.
“Resiliensi ekonomi domestik menjadi modal penting di tengah situasi global yang dinamis. Berbagai upaya untuk menjaga stabilitas dan ketahanan perekonomian domestik akan terus didorong, terutama melalui stimulus fiskal, iklim investasi, dan penciptaan lapangan kerja,” ujar Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).
Eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, khususnya pada sektor energi, logistik internasional, serta rantai pasok bahan baku industri. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mencermati perkembangan tersebut karena berpotensi memberikan dampak tidak langsung terhadap kinerja sektor industri manufaktur nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, konflik di kawasan Timur Tengah tersebut dapat memicu volatilitas harga energi global, gangguan pada jalur perdagangan internasional, serta peningkatan biaya logistik dan bahan baku industri. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi daya saing industri manufaktur di berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Kami terus memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat energi dunia dan jalur logistik global yang sangat penting. Setiap eskalasi konflik tentu berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/3).
Indonesia dan Amerika Serikat (AS) resmi menandatangani Joint Development Agreement (JDA) Pengembangan Ekosistem Semikonduktor tahap pertama senilai US$ 4,89 miliar atau Rp 81,98 triliun (kurs Rp 16.765 per dolar AS).
Kerja sama ini memiliki potensi tambahan investasi selanjutnya hingga US$ 26,7 miliar atau Rp 447,62 triliun.
Proses penandatanganan ini disaksikan langsung Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam kunjungan kerja mereka di Washington D.C, pada Rabu (18/2).
Dalam hal ini sama kedua negara ini melibatkan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digarap oleh PT Galang Bumi Industri (GBI) sebagai pelaku usaha Indonesia, serta perusahaan Amerika Serikat Essence Global Group, LLC. dan Tynergy Technology Corp sebagai mitra strategis pengembang teknologi.
"Joint Development Agreement ini bukan sekadar investasi finansial. Ini adalah bagian dari reposisi strategis Indonesia dalam arsitektur industri global.
Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia melanjutkan penguatan ke level 53,8 pada Februari 2026 dari bulan sebelumnya yang berada di angka 52,6.
S&P Global melaporkan bahwa indeks yang menggambarkan aktivitas manufaktur nasional itu menunjukkan adanya ekspansi solid pada kondisi pengoperasian manufaktur yang merupakan ekspansi terbesar sejak Maret 2024.
"Perbaikan kondisi sektor manufaktur Indonesia kembali menguat pada pertengahan triwulan pertama, memberikan prospek positif pada bulan-bulan mendatang," ujar Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti melalui rilisnya, Senin (2/3/2026).
Peningkatan PMI manufaktur utamanya didorong oleh percepatan pertumbuhan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia. Permintaan baru naik selama 7 bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan di posisi paling kuat sejak November 2025.
Permintaan lahan kawasan industri di wilayah Jabodetabek mengalami kenaikan setelah Pandemi Covid-19. Aktivitas ekspansi industri kembali meningkat, terutama dari sektor manufaktur dan industri kendaraan listrik.
Data terbaru dari Knight Frank Indonesia mencatat total pasokan kawasan industri di wilayah metropolitan tersebut kini mendekati 16.000 hektare yang tersebar di berbagai koridor industri utama.
"Untuk industrial estate Greater Jakarta (Jaboderabek dan sekitarnya) kami tidak hanya melihat Jakarta, tetapi mulai dari koridor barat seperti Cilegon, Serang, Tangerang hingga koridor timur Bekasi, Cikarang, Karawang dan sebagian Purwakarta," kata Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat Kamis (26/2/2026).
Pasar kawasan industri di wilayah tersebut tetap menunjukkan permintaan yang kuat bahkan sejak masa pandemi.
Page 1 of 153





