Eropa merupakan salah satu pasar besar bagi industri alas kaki. Dari sisi ekspor, data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) menunjukkan nilai ekspor alas kaki Indonesia ke 27 negara Uni Eropa mencapai US$1,31 miliar pada 2020. Nilai tersebut kemudian meningkat menjadi US$1,54 miliar pada 2021 dan US$2,02 miliar pada 2022.
Nilai ekspor sempat turun menjadi US$1,65 miliar pada 2023, sebelum kembali meningkat menjadi US$1,77 miliar pada 2024 dan US$1,82 miliar pada 2025. Hingga Juni 2026, nilai ekspor alas kaki Indonesia ke 27 negara Uni Eropa tercatat sebesar US$919 juta.
Sekretaris Jenderal APRISINDO Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan rencana penandatanganan Indonesia—European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang ditargetkan berlangsung pada Oktober 2026 diharapkan dapat mengurangi hambatan perdagangan, khususnya tarif. Dengan demikian, produk alas kaki Indonesia dapat menjadi lebih kompetitif dibandingkan produk dari negara pesaing.
Menurutnya, implementasi IEU-CEPA berpotensi membuka peluang peningkatan ekspor, diversifikasi buyer, serta mendorong masuknya investasi baru ke Indonesia yang berorientasi ekspor ke pasar Eropa.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita membantah anggapan Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi maupun deindustrialisasi dini. Sejumlah indikator mulai dari kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB), pertumbuhan manufaktur, hingga investasi dinilai menunjukkan kondisi sebaliknya.
Kemenperin menilai narasi mengenai deindustrialisasi Indonesia dapat dipatahkan dengan melihat perkembangan industri dalam beberapa tahun terakhir.
“Ada pandangan bahwa kita masuk ke dalam atau sudah masuk ke dalam fase deindustrialisasi, itu terlalu mudah untuk kita patahkan,” ujar Agus dalam keterangannya, Senin (17/8).
Menurut dia, narasi Indonesia mengalami deindustrialisasi hanya disampaikan oleh sebagian kecil pihak dan cenderung berasal dari pihak yang sama.
“Saya justru mempertanyakan dari berbagai pihak, bukan berbagai pihak ya, sebenarnya kalau saya bisa sampaikan hanya sedikit pihak saja dan orangnya itu-itu saja, yang selalu mengeluarkan sebuah narasi yang mengatakan Indonesia sedang atau sudah masuk ke dalam tahap deindustrialisasi maupun deindustrialisasi dini,” katanya.
Pelaku industri manufaktur mulai mendorong pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi di tengah kondisi industri yang masih belum stabil.
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmad Basuki mengatakan, kebutuhan investasi untuk mengadopsi AI di sektor manufaktur sangat bergantung pada skala industrinya.
"Untuk manufaktur kecil-menengah bisa jadi ratusan juta, sedangkan manufaktur skala besar sampai miliaran rupiah," kata Rachmad kepada Kontan, Minggu (23/8/2026).
Menurut dia, penerapan AI tidak hanya berpotensi meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses produksi. Teknologi tersebut juga dapat membantu meningkatkan kualitas serta akurasi hasil produksi.
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia mencatat pertumbuhan 6,36% pada kuartal II-2026. Namun, pertumbuhan tersebut belum dirasakan merata oleh seluruh pelaku industri.
Pengurus Pusat Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat Jemmie Cahyadi mengatakan, investasi di industri TPT masih menunjukkan kepercayaan investor. Investasi TPT pada semester I-2026 mencapai Rp11,4 triliun atau tumbuh 11,85%.
Namun, di saat sebagian pelaku usaha mulai melakukan ekspansi, sebagian lainnya masih menahan investasi. Bahkan, terdapat perusahaan yang harus menutup usahanya akibat tekanan pasar.
“Bukan berarti kami pesimistis, cuma transformasinya belum merata. Ada yang sudah lari kencang, ada yang masih struggling menghadapi tekanan pasar global dan impor,” kata Jemmie kepada KONTAN, Kamis (13/8/2026).
Seiring berkembangnya industri logam dan agenda hilirisasi Indonesia, kebutuhan terhadap teknologi dan kemitraan untuk memperkuat rantai nilai industri semakin penting. Momentum tersebut dihadirkan melalui GIFA dan METEC Indonesia 2026, yang kembali mempertemukan pelaku industri pengecoran logam, metalurgi, pengolahan aluminium, dan industri hilir.
Diselenggarakan oleh Messe Duesseldorf Asia bersama PT Pamerindo Indonesia, bagian dari Informa Markets, GIFA dan METEC Indonesia memasuki edisi ketiganya pada 9-12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo). Kedua pameran akan menghadirkan sekitar 260 perusahaan peserta dan 6.000 pengunjung profesional, dengan teknologi di bidang pengecoran logam, metalurgi, besi dan baja, logam non-ferrous, fabrikasi, otomasi, hingga manufaktur berkelanjutan.
Kedua pameran ini masing-masing menghadirkan fokus berbeda. GIFA Indonesia membawa teknologi pengecoran, mulai dari peleburan, pembuatan cetakan dan coremaking, serta simulasi, otomasi, dan pengujian. Sementara itu, METEC berfokus pada teknologi metalurgi dan produksi logam, termasuk besi dan baja, logam non-ferrous, tungku, refractory, pengerolan, pembentukan, pengendalian proses, dan rekayasa pabrik.
Pemerintah akan meluncurkan Program Motor Listrik Nasional pada 13 Agustus 2026. Program ini dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri manufaktur dan menciptakan lapangan kerja baru.
Pengamat tata kota dan perkotaan Universitas Trisakti, Yayat Supriatna mengatakan, pemerintah perlu memastikan program tersebut tidak berhenti pada produksi motor listrik. Menurutnya, pemerintah juga perlu membangun pasar agar produk yang dihasilkan memiliki daya serap.
“Kalau pasarnya tidak dibina dan dipelihara, untuk apa produksi motor kalau pasarnya tidak dikembangkan. Maka harus ada kebijakan yang melindungi pasar ini supaya bergairah,” kata Yayat kepada KONTAN, Rabu (12/8/2026).
Yayat menilai pengembangan motor listrik nasional juga harus dibarengi penguatan industri pendukung. Hal ini mencakup industri baterai, komponen, teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Page 1 of 169




