Presiden Prabowo Subianto mengatakan raksasa aluminium Rusia, UC Rusal bakal membuka pabrik pengolahan di Indonesia. Menurutnya, kehadiran Rusal akan membantu Indonesia melakukan hilirisasi pertambangan.
Aluminium merupakan salah satu turunan dari bijih bauksit yang banyak ditambang di Indonesia. Rusal akan membantu Indonesia melakukan pengolahan pada komoditas tersebut.
"Kami juga melangkah jauh di sektor pengolahan, misalnya di bidang pertambangan, kami bekerja sama dengan Rusal, yang menurut saya merupakan perusahaan aluminium terbesar di dunia. Rusal akan masuk secara besar-besaran ke Indonesia. Rusal akan mengembangkan pabrik pengolahan bersama dengan kelompok usaha Indonesia," beber Prabowo saat ikut berdialog di acara Eastern Economic Forum, Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).
Selain proyek pengolahan aluminium, Prabowo bilang ada satu proyek lagi yang diteken dengan perusahaan Rusia. Dia bilang dalam kunjungannya ke Vladivostok, nota kesepahaman baru saja ditandatangani oleh perusahaan pupuk Indonesia dengan perusahaan besar Rusia.
Kinerja industri manufaktur nasional pada Agustus 2026 masih berada dalam kondisi yang relatif stabil di tengah dinamika permintaan dan persaingan pasar yang dihadapi pelaku industri. Hal tersebut tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari S&P Global yang tercatat sebesar 49,8 pada Agustus 2026, sedikit melambat dari 50,2 pada Juli 2026.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief menyampaikan bahwa pergerakan marginal PMI pada bulan Agustus ini utamanya dipengaruhi oleh penyesuaian produksi serta efisiensi tenaga kerja akibat dinamika persaingan pasar lokal yang ketat. Meski demikian, terdapat sejumlah indikator positif kuat yang menunjukkan ketahanan dan potensi pemulihan cepat sektor industri manufaktur nasional.
“PMI manufaktur pada Agustus memang kembali berada sedikit di bawah level 50. Namun, kita juga melihat adanya peningkatan tipis pada permintaan baru dan kepercayaan bisnis yang terus membaik. Ini menunjukkan bahwa pelaku industri masih melihat prospek pasar yang cukup baik ke depan,” ujar Jubir Kemenperin dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (1/9).
Kinerja sektor manufaktur Indonesia menorehkan catatan positif di tingkat global. Berdasarkan data terbaru World Bank, nilai Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia pada 2025 melonjak jadi US$ 275,61 miliar dari posisi US$ 265,07 miliar pada 2024.
Capaian ini melesatkan peringkat manufaktur Indonesia ke urutan 12 dunia, naik satu level dibanding tahun sebelumnya.
Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia mengukuhkan dominasinya di posisi puncak. Nilai tambah manufaktur Tanah Air bahkan mencapai dua kali lipat ketimbang Thailand yang berada di peringkat kedua dengan nilai US$ 137,01 miliar. Sementara untuk tingkat Asia, Indonesia mantap menempati urutan kelima di bawah China, Jepang, India, dan Korea Selatan.
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa lonjakan daya saing ini sejalan dengan moncernya kinerja Industri Pengolahan Nonmigas (IPNM).
Kinerja manufaktur Indonesia kembali mengalami tekanan pada Agustus 2026. Kondisi tersebut tecermin dari S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) yang turun ke level 49,8, dari 50,2 pada Juli 2026.
Penurunan PMI Manufaktur ke bawah ambang batas 50,0 menunjukkan bahwa kondisi operasional sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi setelah sempat mencatatkan ekspansi tipis pada bulan sebelumnya.
S&P Global mencatat, pelemahan PMI manufaktur pada Agustus terutama dipengaruhi oleh kembali turunnya output dan penyerapan tenaga kerja. Produksi dan ketenagakerjaan manufaktur Indonesia tercatat menurun dalam lima dari enam periode survei terakhir.
“Data PMI terbaru menunjukkan sedikit penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia, karena penurunan kembali pada output dan penyerapan tenaga kerja membalikkan perbaikan yang tercatat pada bulan sebelumnya," ujar Maryam Baluch, Ekonom S&P Global Market Intelligence dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).
Industri kosmetik dan beauty and personal care di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan. Nilai pasar sektor tersebut diproyeksikan mencapai sekitar US$10 miliar (Rp177 triliun) pada tahun 2026, seiring dengan semakin besarnya permintaan dan jumlah pelaku usaha di industri kosmetik.
Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) Sancoyo Antarikso mengatakan, berdasarkan data Statista, nilai pasar kosmetik dan beauty and personal care Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$9,74 miliar.
"Tahun ini 2026 barangkali sudah menyentuh US$10 miliar (Rp177 triliun). Lagi-lagi sesuai dengan Statista," ujar Sancoyo di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Menurut Sancoyo, besarnya pasar kosmetik nasional tidak terlepas dari cakupan produk yang sangat luas. Produk kosmetik dan perawatan diri digunakan oleh hampir seluruh kelompok usia dan gender sehingga memiliki basis konsumen yang besar.
Industri garmen Indonesia masih menghadapi tantangan untuk memperkuat daya saing di pasar global.
Nilai ekspor garmen nasional relatif stagnan di kisaran US$ 8 miliar–US$ 9 miliar selama hampir satu dekade, sementara sejumlah negara pesaing di Asia seperti Vietnam, Bangladesh, dan Kamboja terus meningkatkan pangsa ekspornya.
Di tengah kondisi tersebut, Vector Consulting Group melihat Indonesia masih memiliki peluang untuk meningkatkan nilai ekspor garmen hingga sekitar US$ 2 miliar.
Potensi tersebut dinilai dapat diraih tanpa harus mengandalkan penambahan kapasitas produksi dalam skala besar.
Page 1 of 170





