Indonesia mulai membangun pabrik melamin pertama dan terbesar di dalam negeri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur. Proyek ini menjadi bagian dari upaya mempercepat hilirisasi industri kimia nasional.

Investasi yang masuk mencapai US$ 600 juta atau sekitar Rp 10,2 triliun. Pabrik ini dirancang memiliki kapasitas produksi melamin hingga 120.000 ton per tahun dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal II 2027.

Proyek yang dikembangkan oleh PT GEABH Joint Technology ini akan mengolah gas alam menjadi amonia, kemudian diproses menjadi urea hingga produk turunan bernilai tambah seperti melamin dan amonium nitrat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, proyek ini menjadi bagian penting dalam pengembangan industri nasional berbasis nilai tambah.

Di tengah tekanan global, ekonomi Indonesia bisa bertahan dengan baik. Bahkan, untuk sektor manufaktur, tetap ekspansif.

Data S&P Global menunjukkan, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Maret 2026 masih di angka 50,1. Capaian ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur tetap berada di zona ekspansi, meski mengalami sedikit penurunan dibandingkan Februari yang mencapai 53,8. 

"Sektor manufaktur Indonesia tetap ekspansif pada Maret 2026, ditopang permintaan domestik dan kinerja mitra dagang utama yang terjaga,” ujar Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu, dalam keterangan resmi, Sabtu (4/4/2026).

Seperti sektor lain, manufaktur juga sedang menghadapi tekanan dari geopolitik global, kenaikan harga energi, dan gangguan rantai pasok internasional. Namun, aktivitas industri manufaktur masih berjalan dengan baik.

Industri pulp dan kertas nasional terus menunjukkan peran strategisnya sebagai salah satu sektor manufaktur bernilai tambah tinggi yang berkontribusi positif terhadap perekonomian Indonesia. Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, sektor ini juga berperan penting dalam meningkatkan ekspor, terutama di tengah prospek pasar produk kertas yang sangat menjanjikan, khususnya untuk kebutuhan kemasan berbagai sektor industri seperti makanan dan minuman, fesyen, serta elektronika.

Berdasarkan data tahun 2025, industri kertas, barang kertas, dan percetakan memberikan kontribusi sebesar 3,73 persen terhadap PDB pengolahan nonmigas. Pada periode yang sama, ekspor pulp telah mencapai USD 3,60 miliar dan ekspor kertas sebesar USD 4,57 miliar. Industri ini juga menyerap lebih dari 280 ribu tenaga kerja langsung dan 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung, dengan total 113 perusahaan. Secara global, Indonesia menempati peringkat ke-7 untuk industri pulp dan ke-6 untuk industri kertas, serta menduduki posisi ke-2 dan ke-4 di kawasan Asia.

Sektor manufaktur nasional kembali menunjukkan ketahanannya di tengah ketidakpastian kondisi global seperti konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, serta kenaikan harga bahan baku. Hal ini tercermin dari capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2026 yang berada di level 50,1 atau masih berada di zona ekspansi.

“Kami kaget sekaligus bersyukur bahwa di tengah kondisi yang super berat, baik dari sisi global maupun domestik, rata-rata PMI manufaktur Indonesia masih di atas angka 50. Ini menunjukkan resiliensi yang kuat dari sektor manufaktur tanah air,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Sepanjang Triwulan – I Tahun 2026, kinerja PMI manufaktur Indonesia tercatat konsisten berada pada fase ekspansi, yakni 52,6 pada Januari dan meningkat menjadi 53,8 pada Februari, sebelum mengalami moderasi ke 50,1 pada Maret. Meski terjadi perlambatan, posisi indeks yang tetap di atas 50 mengindikasikan aktivitas industri masih tumbuh.

Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menegaskan pentingnya konsolidasi strategis lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat daya saing industri pulp dan kertas nasional di tengah tekanan global dan dinamika kebijakan perdagangan internasional.

Ketua Umum APKI, Suhendra Wiriadinata, menyampaikan bahwa industri pulp dan kertas saat ini berada pada fase krusial yang menuntut respons kolektif dan terkoordinasi. Ketidakpastian geopolitik, tekanan rantai pasok global, serta perubahan kebijakan perdagangan internasional menuntut industri untuk semakin adaptif sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor.

“Industri tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan konsolidasi yang kuat antar pelaku usaha, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan agar kita mampu merespons dinamika global secara adaptif sekaligus menjaga daya saing nasional,” kata Suhendra dalam keterangannya, Selasa (7/4).

Kinerja industri manufaktur nasional pada Maret 2026 tetap menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global. Hal ini tercermin dari capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebesar 51,86 yang masih berada pada fase ekspansi, meskipun melambat dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 54,02.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arief, menyampaikan bahwa perlambatan IKI pada Maret dipengaruhi faktor musiman setelah Hari Besar Keagamaan Nasional, seperti Lebaran dan Imlek.

“Industri telah melalui puncak produksi pada Februari untuk merespons lonjakan permintaan selama periode tersebut. Pada Maret, pelaku industri mulai melakukan penyesuaian,” kata Febri di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Ia menjelaskan, penyesuaian produksi dilakukan seiring adanya penumpukan stok di gudang serta hambatan distribusi akibat pembatasan aktivitas logistik selama sekitar 16 hari sebelum dan sesudah Lebaran.