Perubahan rutinitas sebagian tenaga kerja membuat sebagian permintaan produk elektronika meningkat, salah satunya adalah lampu.

Asosiasi Perlampuan Indonesia (Aperlindo) menyatakan ada peningkatan permintaan sekitar 15-20 persen selama pandemi dari bulan biasa. Adapun, seluruh peningkatan permintaan tersebut dinikmati oleh pabrikan lampu light emmiting diode (LED).

"Karena lifetime-nya lebih panjang dari LHE (Lampu Hemat Energi). Saat ini pangsa pasar lampu LED [meningkat menjadi] 65 persen di rumah tangga nasional," kata Ketua Umum Aperlindo John Manoppo kepada Bisnis, Kamis (24/9/2020).

John menyatakan kenaikan permintaan tersebut yang membuat utilisasi pabrikan stabil di kisaran 60-70 persen selama pandemi. Selain itu, belum ada pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri perlampuan nasional.

Kementerian Perindustrian optimistis industri makanan dan minuman yang masuk kategori sektor permintaan tinggi selama pandemi Covid-19 ini akan mencetak pertumbuhan 3-4 persen tahun ini.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim mengatakan pihaknya telah bertemu dengan pelaku usaha dan asosiasi yang menunjukkan peningkatan kinerja industri makanan dan minuman pada Juli.

"Pertumbuhan industri makanan dan minuman sepanjang tahun ini diproyeksi mencapai 3-4 persen," katanya melalui siaran pers, Minggu (20/9/2020).

Adapun Kemenperin mencatat pada kuartal I/2020, sektor industri makanan dan minuman memberikan kontribusi sebesar 36,4 persen terhadap PDB manufaktur. Pada periode yang sama, pertumbuhan sektor industri ini mencapai 3,9 persen.

Ketua Program Magister Administrasi Publik Universitas Nasiona Rusman Ghazali menyampaikan bahwa industri makanan dan minuman bisa menjadi penolong saat ekonomi Indonesia menghadapi resesi.

"Kalau terjadi resesi, maka kondisi manufaktur pasti mengalami degradasi yang sangat besar dan yang bisa menolong adalah industri makanan dan minuman," kata Rusman pada seminar web bertajuk "Strategi Menyelamatkan Industri Manufaktur di tengah Kondisi Pandemi COVID-19", Rabu.

Data Kementerian Perindustrian menyebutkan industri makanan dan minuman berkontribusi paling besar terhadap pertumbuhan industri manufaktur nasional, yakni mencapai 21,46 persen.

Rusman menyampaikan saat ini pemerintah telah memiliki skema kebijakan dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Kementerian Perindustrian mendorong pengembangan industri hulu baja dalam negeri karena memiliki dampak berantai (multiplier effect) yang besar bagi pembangunan ekonomi Indonesia.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier dalam webinar, Rabu, mengatakan saat ini banyak pihak meributkan smelter nikel yang bernilai tambah, padahal smelter ferro ore yang menghasilkan baja masih sangat minim.

"Kita ribut dengan smelter nikel. Memang punya nilai tambah, tapi smelter untuk besi ore sendiri cuma satu, kecil sekali, paling tidak menurut hitungan kami ada 5-6 smelter baru di ferro ore yang bisa dibuat untuk billet, slab," katanya.

Pasar sepeda nasional diramalkan akan tumbuh dua digit pada akhir 2020. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, produsen sepeda lokal akan memanfaatkan peluang tersebut.

Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia (AIPI) menyatakan pasar sepeda di dalam negeri dapat menyentuh angka 8 juta unit sepeda pada tahun ini. Angka tersebut naik sekitar 14 persen dibandingkan realisasi 2019.

"[Pasar dalam negeri akhir 2020 sekitar] 7-8 juta. Kalau tercapai 8 juta unit, kami tidak heran. Kami [industri lokal akan berkontribusi] sekitar 4-4,5 juta unit," kata Ketua Umum AIPI Rudiyono kepada Bisnis, Senin (21/9/2020).

Walau pasar sepeda nasional terus tumbuh, Rudiyono berujar pihaknya masih sulit mendatangkan investor sepeda baik dalam bisnis perakitan maupun bahan baku. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh salah satu perhitungan industri sepeda, yakni pertumbuhan pasar secara regional dan global, melainkan nasional.

Gabungan Industri Peleburan Kuningan Indonesia (Gipelki) optimistis volume produksi pada akhir 2020 dapat tumbuh dua digit.

Ketua Umum Gipelki Eric Wijaya mengatakan pertumbuhan tersebut disebabkan oleh industri kuningan yang tidak terlalu terpengaruhi pandemi Covid-19. Selain itu, potensi ekspor produk kuningan hilir ke China yang tinggi lantaran adanya larangan pembelian bahan baku kuningan oleh pemerintah China.

"[Alhasil] cost [produksi] mereka akan lebih tinggi pakai bahan baku murni dibanding Indonesia. Ada peluang ekspor yang sudah mulai ada sejak Agustus 2020," katanya kepada Bisnis, Rabu (16/9/2020).

Seperti diketahui, bahan baku kuningan dapat dibagi menjadi dua macam yaitu kuningan scrap dan kuningan dari limbah industri. Secara komposisi, lanjutnya, kuningan scrap masih mendominasi sebanyak 90 persen dari bahan baku dalam negeri.