Peluang kerja sama industri Indonesia di kawasan Eurasia semakin terbuka. Untuk memanfaatkannya, Indonesia membawa 16 pelaku industri dari sektor logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika (ILMATE) ke INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, pada 6– 9 Juli 2026, yang akan menampilkan berbagai inovasi, mulai dari teknologi kecerdasan buatan (AI), Virtual Reality dan RFID, industri kapal laut beserta dengan komponen maritim, drone, energi surya, logam besi baja hingga permesinan industri.
“Melalui partisipasi tersebut, Indonesia tidak hanya mempromosikan produk unggulan, tetapi juga membidik kerja sama industri yang lebih konkret melalui perluasan akses pasar, kolaborasi produksi, dan penguatan rantai pasok dengan Rusia serta negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU) dan juga BRICS,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta pada Rabu (2/7).
Menperin Agus menuturkan, keikutsertaan sektor ILMATE di INNOPROM 2026 menunjukkan bahwa kapasitas manufaktur Indonesia terus berkembang dan semakin mampu bersaing di tingkat global.
Aktivitas manufaktur nasional melemah pada bulan Juni 2026 lalu, berdasarkan data S&P Global Indonesia Manufacturing PMI, indeks manufaktur Indonesia berada di level 46,9, turun dari 50,0 pada Mei. Posisi di bawah level 50 menunjukkan sektor manufaktur sedang berada dalam fase kontraksi.
Kalangan pelaku usaha menilai kondisi tersebut justru menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat realisasi investasi melalui pembentukan kawasan ekonomi baru. Percepatan proses perizinan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadi salah satu cara untuk mendorong aktivitas industri dan membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru.
"Saat aktivitas manufaktur sedang melambat, justru kita perlu mempercepat lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Salah satu instrumen yang paling efektif adalah mempercepat proses perizinan KEK sehingga investasi dapat segera terealisasi dan menciptakan aktivitas ekonomi baru," ujar Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Akhmad Maruf Maulana kepada CNBC Indonesia Senin, (6/7/2026).
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan Indonesia tidak lagi memposisikan diri hanya sebagai pasar tujuan ekspor atau pemasok bahan mentah, melainkan sebagai mitra strategis dalam pembangunan industri global.
Penegasan tersebut disampaikan Menperin saat menawarkan berbagai peluang kerja sama industri dan investasi kepada pelaku usaha Rusia dalam Forum Bisnis Dialog Industri Rusia-Indonesia INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, Selasa.
"Indonesia bukanlah negara yang hanya mengandalkan komoditas dan mencari pembeli. Indonesia adalah negara industri yang mencari mitra," katanya.
Menperin Agus mengatakan, industri manufaktur telah menjadi tulang punggung perekonomian nasional dan terus menunjukkan kinerja yang solid di tengah berbagai tantangan global.
Pada triwulan I 2026, sektor manufaktur tumbuh 5,04 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,55 persen.
Kementerian Perindustrian terus memperkuat berbagai kebijakan strategis guna menjaga daya saing dan keberlanjutan pertumbuhan industri manufaktur nasional di tengah meningkatnya tantangan global. Di tengah tantangan global, pemerintah tetap optimistis industri nasional memiliki fondasi yang kuat untuk kembali memasuki fase ekspansi.
Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juni 2026 tercatat sebesar 46,9, turun dari level 50,0 pada Mei 2026. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh melemahnya permintaan baru, baik dari pasar domestik maupun ekspor, yang berdampak pada penurunan aktivitas produksi, pembelian bahan baku, dan penyerapan tenaga kerja.
Di sisi lain, industri juga menghadapi lonjakan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar, sehingga inflasi harga input tercatat sebagai yang tertinggi kedua sejak survei PMI dimulai pada 2011.
Purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026 atau masuk ke zona kontraksi. Namun, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan minat investasi di kawasan ekonomi khusus (KEK) tetap kuat dan sejumlah investor masih mengantre untuk masuk.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, PMI manufaktur tidak dapat dinilai hanya dari pergerakan bulanan karena investasi memiliki horizon jangka panjang.
"Jadi kalau membaca PMI itu kan ada ekspektasi sampai 6 bulan, 12 bulan ke depan. Itu kan juga komponen pilarnya, optimismenya malah positif sebenarnya. Jadi enggak bisa kita spot melihat angka itu," kata Susiwijono di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Menurut Susiwijono, investasi di sektor manufaktur membutuhkan waktu sebelum menghasilkan aktivitas produksi. Setelah investor memutuskan berinvestasi, pembangunan pabrik hingga operasional umumnya memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga tahun.
Kinerja sektor manufaktur nasional masih menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah meningkatnya tantangan global dan domestik. Aktivitas industri tetap berada pada fase ekspansi yang tercermin dari capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2026 sebesar 52,90.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief mengatakan industri manufaktur nasional menghadapi tantangan yang lebih berat dibandingkan bulan sebelumnya. Tantangan tersebut tidak hanya berasal dari sisi produksi, tetapi juga mulai muncul dari sisi permintaan.
"Tantangan tidak hanya berasal dari sisi produksi, tetapi juga mulai muncul dari sisi permintaan. Meski demikian, sektor industri tetap menunjukkan resiliensi yang kuat sehingga aktivitas manufaktur nasional masih tetap berada pada fase ekspansi pada bulan Juni 2026 ini," ujar Febri dalam keterangan yang dikutip, Rabu, 1 Juli 2026.
Page 1 of 164





