Eskalasi konflik di Timur Tengah imbas perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel telah menghantam kinerja industri petrokimia. Dampaknya terasa ke berbagai industri turunan yang memerlukan bahan baku berbasis petrokimia, salah satunya adalah plastik dan kemasan.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika mengungkapkan bahwa dampak konflik di Timur Tengah terhadap industri agro, khususnya makanan dan minuman (mamin) masih relatif terbatas. Putu hanya menyoroti dua kendala yang membayangi industri mamin, yakni persoalan logistik dan kemasan.

"Sebenarnya yang banyak dampaknya di industri mamin itu kemasannya. Jadi kemasan itu biasanya dari petroleum-based plastics. Kalau di sana ada masalah, di kami akan jadi masalah. Kalau di sana ada kenaikan sedikit, di kami bisa berlipat. Kalau di sana berdampak seumpama 10%, di sini bisa 60%," kata Putu saat ditemui di Kantor Kemenperin, Kamis (12/3/2026).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan kesiapan industri manufaktur menghadapi lonjakan permintaan masyarakat menjelang Idulfitri 2026. Di antaranya tekstil dan produk tekstik (TPT) serta alas kaki, dengan kapasitas produksi memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan kapasitas produksi nasional industri manufaktur saat ini berada dalam kondisi optimal. Menurut dia, koordinasi intensif dengan para pelaku usaha dan asosiasi industri telah dilakukan secara menyeluruh.

“Momentum Ramadan dan Idulfitri selalu diikuti peningkatan konsumsi produk tekstil dan alas kaki,” ujarnya, Selasa 10 Maret 2026. Berdasarkan koordinasi kami dengan pelaku usaha dan asosiasi industri, kapasitas produksi nasional saat ini berada dalam kondisi optimal dan siap memenuhi kebutuhan tersebut,” ujar Agus di Jakarta, Selasa 10 Maret 2026.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan optimismenya bahwa industri halal Indonesia akan berkembang pesat dan mampu menjadi salah satu pemain utama di tingkat global.

Momentum bulan suci Ramadan dan perayaan Idulfitri turut mendorong peningkatan konsumsi masyarakat terhadap berbagai produk halal nasional, mulai dari makanan dan minuman, fesyen muslim, kosmetik, hingga produk farmasi.

Berbagai produk tersebut kerap mengalami lonjakan permintaan signifikan seiring meningkatnya aktivitas konsumsi selama periode tersebut.

Peningkatan konsumsi pada momen Ramadan dan Idulfitri menjadi peluang strategis untuk memperkuat pengembangan industri halal nasional. Menurutnya, industri halal tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan religius masyarakat, tetapi juga telah berkembang menjadi sektor ekonomi bernilai tinggi yang mampu memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan industri manufaktur dan perekonomian nasional.

Pasar furnitur global saat ini bernilai sekitar USD 201 miliar per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa industri furnitur dan kerajinan merupakan salah satu sektor manufaktur kreatif terbesar dalam perdagangan dunia.

Namun struktur pasar global tersebut masih sangat terkonsentrasi. China mendominasi dengan nilai ekspor sekitar USD 130 miliar, diikuti Vietnam sekitar USD 21 miliar dan Jerman sekitar USD 18 miliar. Sementara itu Indonesia mencatat ekspor furnitur dan kerajinan sekitar USD 2,44 miliar pada 2023, dan hingga November 2024 mencapai USD 2,37 miliar.

Posisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi pemain relatif kecil dalam pasar global yang sangat besar. Namun pada saat yang sama, kondisi tersebut justru membuka peluang bagi Indonesia untuk tumbuh lebih cepat apabila strategi industri dan perdagangan dijalankan secara tepat.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) serta alas kaki nasional siap memenuhi lonjakan permintaan masyarakat jelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan di Jakarta, Selasa, mengatakan kinerja industri TPT dan alas kaki nasional saat ini berada dalam kondisi stabil dengan kapasitas produksi yang memadai untuk melayani kebutuhan pasar domestik yang biasanya meningkat pada momentum Ramadhan dan Lebaran.

“Setiap tahun, momentum Ramadhan dan Idul Fitri selalu diikuti dengan peningkatan konsumsi masyarakat terhadap produk tekstil dan alas kaki. Berdasarkan koordinasi kami dengan pelaku usaha dan asosiasi industri, kapasitas produksi nasional saat ini berada dalam kondisi optimal dan siap memenuhi kebutuhan tersebut,” ujar dia.

Agus mengatakan industri TPT dan alas kaki merupakan salah satu sektor manufaktur prioritas yang bersifat padat karya dan memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, khususnya pada sektor energi, logistik internasional, serta rantai pasok bahan baku industri. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mencermati perkembangan tersebut karena berpotensi memberikan dampak tidak langsung terhadap kinerja sektor industri manufaktur nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, konflik di kawasan Timur Tengah tersebut dapat memicu volatilitas harga energi global, gangguan pada jalur perdagangan internasional, serta peningkatan biaya logistik dan bahan baku industri. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi daya saing industri manufaktur di berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Kami terus memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat energi dunia dan jalur logistik global yang sangat penting. Setiap eskalasi konflik tentu berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/3).