Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Doddy Rahadi menyampaikan bahwa utilisasi industri periode April-Oktober 2020 mulai membaik menjadi 56,50 persen.

“Utilisasi industri periode April-Oktober mulai membaik menjadi 56,50 persen,” kata Doddy saat membacakan sambutan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Rabu.

Doddy memaparkan utilisasi di masa pandemi cukup berat bagi sektor industri karena sebelum pandemi atau pada Januari-Maret 2020 utilisasi industri sebesar 76,29 persen.

Kemudian saat dihantam pandemi COVID-19 utilisasi mengalami penurunan hingga 40 persen dan secara perlahan kembali meningkat melalui berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Pada triwulan III 2020 industri pengolahan nonmigas masih mengalami kontraksi yaitu tumbuh sebesar  minus 4,02 persen.

Industri manufaktur Indonesia dinilai masih bisa menunjukkan kekuatannya sebagai penopang perekonomian nasional, kendati mendapatkan hantaman dari pandemi Covid-19.

Direktur Jenderal Ketahanan Perwilayahan dan Akses Industri Internasional Kemeterian Perindustrian Dody Widodo mengatakan, hal itu tercermin dari adanya beberapa sektor industri justru mengalami peningkatan di atas 10 persen.

“Meskipun sebagian besar berada dinilai minus, namun beberapa di antaranya, bahkan industri kimia, farmasi dan obat tradisional tercatat tumbuh 14,96 persen selama kuartal III,” katanya seperti dikutip dari siaran persnya, Jumat (20/11/2020).

Dia melanjutkan, industri lain yang mengalami peningkatan, meskipun berada di angka yang lebih kecil adalah industri logam sebesar 5,19 persen dan industri pengolahan seperti jasa reparasi, pemasangan mesin dan peralatan sebesar 1,15 persen.

Berbagai jenis industri manufaktur di Indonesia dinilai masih dalam posisi kesiapan awal menuju penerapan Industri 4.0 sehingga perlu lebih ditingkatkan sinergi antara berbagai pilar pemangku kepentingan sektor industri nasional.

"Secara umum industri manufaktur di Indonesia dalam posisi kesiapan awal untuk bertransformasi menuju Industri 4.0," kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Sony Sulaksono dalam webinar tentang Inovasi Industri Dalam Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional di Jakarta, Selasa.

Menurut Sony Sulaksono, hal tersebut dapat terlihat dari kajian sejumlah aspek seperti dari manajemen organisasi, produk dan layanan, hingga teknologi serta operasi pabrik yang dilakukan di berbagai bidang industri di Tanah Air.

Produksi industri kertas pada 2002 dinilai masih akan tumbuh positif secara tahunan. Namun demikian, pabrikan dipaksa untuk melakukan diversifikasi dan pergeseran produksi karena pandemi Covid-19.

Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mendata volume produksi pulp akan naik sekitar 7 persen menjadi 10,8 juta ton pada akhir 2002, sedangkan volume produksi kertas diharapkan akan tumbuh 0 persen atau sama dan realisasi 2019 di level 13,6 juta ton. Perlambatan produksi tersebut disebabkan oleh menurunnya permintaan kertas tulis selama pandemi Covid-19.

"Umumnya, industri dapat mencari alternatif dengan diversifikasi peralihan untuk produksi kertas sebagai penopang industri kesehatan seperti kertas tisu ataupun produksi masker.

Penurunan tarif gas dinilai menjadi faktor utama percepatan perbaikan pada kuartal IV/2020. Pasalnya perbaikan pada sektor ini justru diprediksi pada tahun mendatang.

Seperti diketahui, penurunan tarif gas ke level US$6 per mmBTU efektif dirasakan oleh industri keramik pada Agustus 2020. Tarif gas pada Pulau Jawa Barat turun dari level US$9,1 per mmBTU, sedangkan tarif gas pada Jawa Timur turun dari US$7,98 per mmBTU.

"[Akibat tarif gas turun] daya saing kami membaik. Jadi, kami bisa lebih agresif di [pasar] ekspor. Ini pertama kali tren ekspor yang [selama ini] stagnan, cenderung menurun, pada kuartal III/2020 sudah menunjukkan pertumbuhan," kata Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto kepada Bisnis, Minggu (22/11/2020).

Kementerian Perindustrian mencatat investasi sektor manufaktur kian moncer di tengah tekanan berat akibat pandemi Covid-19, dengan mampu merealisasikan nilai investasi sebesar Rp72,3 triliun sepanjang triwulan III 2020 atau naik 69,3 persen dibandingkan periode sama 2019.

"Dari nilai investasi tersebut, sektor industri pengolahan berkontribusi sebesar 34,6 persen terhadap total investasi Indonesia pada triwulan III 2020 yang mencapai Rp209 triliun," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian R Janu Suryanto lewat keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

Janu merinci selama triwulan III 2020, penanaman modal dalam negeri (PMDN) untuk sektor industri pengolahan senilai Rp19,5 triliun atau naik 34,3 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.