Industri manufaktur nasional ditargetkan dapat tumbuh 6,89% pada 2026. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi 2024 sebesar 4,75% dan proyeksi 2025 yang mencapai 5,93%.
Target kinerja tersebut tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025-2029 melalui Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 41 Tahun 2025.
Dalam Renstra tersebut, target laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas tahun ini cukup agresif jika dibandingkan dengan realisasi kinerja yang stagnan dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan, secara historis, laju pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas tak pernah melampaui capaian pada 2011 yang tembus 7,46%. Dalam 1 dekade, rata-rata pertumbuhannya hanya tumbuh di kisaran 4%-5%.
Pemerintah Indonesia mengklaim hasil kesepakatan tarif resiprokal dagang dengan Amerika Serikat akan menguntungkan industri manufaktur tanah air, termasuk para pekerjanya.
Kesepakatan tarif itu kini telah memasuki babak akhir, setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Ambassador United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer menyelesaikan negosiasi lanjutan, Selasa (23/12/2025), waktu setempat.
Setelah negosiasi dilakukan, Airlangga mengatakan, salah satu kesepakatan krusial ialah pemerintah AS setuju untuk mengecualikan sejumlah komoditas ekspor andalan Indonesia dari pengenaan tarif resiprokal yang per 22 Juli 2025 telah disepakati di level 19%, dari sebelumnya 32%.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menunjukkan arah yang lebih stabil dan optimistis, menjadi fondasi penting bagi pelaku industri manufaktur, termasuk sektor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Pemerintah dan asosiasi pelaku usaha menilai konsumsi domestik masih akan menjadi penggerak utama perekonomian nasional di tengah dinamika ekonomi global.
Pemerintah melalui kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen.
Secara historis, industri AMDK di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang relatif konsisten dalam satu dekade terakhir, didorong oleh pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya akses air minum yang aman.
Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menegaskan komitmennya untuk mendukung penguatan diplomasi ekonomi Indonesia melalui kawasan industri. Melalui penguatan diplomasi ekonomi, kawasan industri dinilai mampu mempercepat realisasi investasi, mendorong hilirisasi, dan menciptakan lapangan kerja secara masif.
Hal ini ditandai dengan adanya penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian Luar Negeri RI dan Himpunan Kawasan Industri Indonesia.
Ketua Umum HKI Akhmad Ma'ruf Maulana menyampaikan bahwa kerja sama ini menjadi momentum strategis untuk menyinergikan diplomasi luar negeri dengan penguatan industri nasional melalui kawasan industri.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksikan investasi yang mengucur ke sektor manufaktur bisa menembus Rp 852,90 triliun pada tahun 2026. Kemenperin menargetkan kucuran investasi tersebut bisa mengungkit pertumbuhan kinerja dan penyerapan tenaga kerja.
Sub sektor Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) akan menjadi kontributor utama dengan proyeksi investasi senilai Rp 396,3 triliun. Disusul oleh sub sektor industri agro dengan estimasi bisa menarik investasi Rp 251,6 triliun sepanjang tahun ini.
Selanjutnya, Kemenperin memproyeksikan investasi senilai Rp 198 triliun akan mengalir ke sub sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT). Kemudian sub sektor Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) diproyeksikan menampung investasi senilai Rp 6,9 triliun pada tahun 2026.
Sebagai perbandingan, investasi sektor manufaktur alias Industri Pengolahan Non-Migas (IPNM) pada tahun 2025 diproyeksikan sebesar Rp 756,06 triliun. Proyeksi ini mengestimasikan pada kuartal IV-2025 realisasi investasi IPNM bisa mencapai sekitar Rp 204 triliun.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa kawasan industri memegang peranan strategis sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di tengah dinamika tantangan geoekonomi dan geopolitik global. Hal tersebut disampaikannya dalam agenda Fullday Penguatan Pendataan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri (KI) Menyongsong Sensus Ekonomi 2026 di Jakarta, Rabu (18/12).
Menurut Agus, kinerja sektor industri manufaktur nasional atau Industri Pengolahan Non Migas (IPNM) terus menunjukkan tren positif dan menjadi penopang utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan IPNM pada Triwulan III Tahun 2025 mencapai 5,58 persen (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,04 persen.
“Industri manufaktur masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, dengan sumbangan sebesar 1,04 persen. Ini menegaskan peran strategis sektor industri dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Agus.
Page 1 of 147





