Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mencatat kenaikan produksi dari produk kain atau weaving sebesar 150 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) Suharno Rusdi mengatakan kenaikan produksi tersebut didorong kebijakan pemerintah yang mulai mengerem kain impor dari luar negeri.

Alhasil, pasar IKM yang biasanya menyerap kain impor sekarang bisa menyerap hasil produksi industri kain lokal.

Adapun industri TPT mencatat 60 persen serapan kain adalah IKM. Artinya, jika produksi sudah naik dan IKM sudah kembali menyerap produk ada indikasi TPT mulai memasuki fase pemulihan.

"Perkembangan industri weaving sangat menggembirakan, ada kenaikan produksi sekitar 150 persen jika kita bandingkan denga tahun lalu," katanya kepada Bisnis, Kamis (4/3/2021).

Para pelaku industri makanan dan minuman menilai penurunan Purchasing Manager's Index (PMI) Indonesia per Februari 2021 tidak mencerminkan kinerja produsen saat ini. IHS Markit melaporkan perolehan PMI manufaktur Indonesia periode Februari tercatat 50,9 lebih rendah dari periode Januari 52,2.

Meski masih di level ekspansif tetapi angka tersebut tidak menunjukkan laju pertumbuhan setelah PMI yang terus terungkit selama 4 berturut-turut.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan kondisi produksi di pabrik mamin awal tahun ini sudah mulai berkapasitas penuh untuk mengejar stok Ramadan dan Lebaran. "Memang PMI ada sektor lain mungkin sektor lain agak kurang tetapi Mamin cukup bagus," katanya kepada Bisnis, Senin (1/3/2021).

Meski demikian, Adhi mengemukakan industri mamin juga saat ini menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku yang sampai dua kali lipat dari kondisi normal.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai industri besi dan baja akan mengeliat seiring dengan optimisme sektor konstruksi.

Plt. Kasubdit Logam Besi Direktorat Jenderal ILMATE Kemenperin Rizky Aditya Wijaya mengatakan program vaksinasi nasional yang ditargetkan tahun ini mencapai herd imunity 70 persen pada kisaran 181 juta penduduk. Pemerintah berkomitmen mendukung peningkatan produksi dan penyerapan baja konstruksi dalam proyek nasional melalui empat instrumen.

Pertama, insentif harga gas bumi tertentu US$6 per MMBtu, di mana industri baja menjadi salah satu sektor pengguna.

Kedua, mekanisme regulasi impor yang ketat melalui pertimbangan teknis yang sesuai dengann supply demand nasional, sehingga diharapkan produk dalam negeri lebih banyak beredar di dalam negeri.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah saat ini fokus menghadirkan kemudahan bagi pelaku usaha dalam industri kesehatan.

"Fokus sekarang adalah bagaimana untuk menghadirkan kemudahan bagi pelaku usaha baru dalam bidang industri kesehatan," kata Bahlil pada Puncak Dies Natalis Ke-38 Fakultas kedokteran Gigi (FKG) Unhas, secara virtual, Minggu (28/2/2021).

Bahlil menyampaikan pandemi Covid-19 yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi membuka mata khususnya dalam hal bahan baku farmasi dan alat kesehatan. Jika tidak terjadi pandemi, maka tidak muncul kesadaran bahwa 90% bahan baku farmasi nasional masih diimpor. Begitupun dengan dengan alat kesehatan yang juga sebagian besar merupakan produk impor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan bahwa beberapa subsektor industri manufaktur di tanah air mencatat performa positif di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Subsektor ini menjadi penopang angka pertumbuhan industri pengolahan.

Sementara itu secara total industri manufaktur mengalami kontraksi sebesar 2,22 persen pada tahun lalu. Namun, bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, Agus melihat sudah ada tren positif dan pertumbuhan industri sudah mengalami rebound.

Adapun salah satu subsektor manufaktur yang juga memberikan kontribusi positif pada kuartal IV/2020 adalah industri pendukung bangunan yakni semen. Pada kuartal IV/2020, produksi semen sebesar 18,53 juta ton atau naik 2,91 persen secara kuartalan. Pengadaan semen dalam negeri pada periode tersebut meningkat sebesar 18,06 juta ton atau 3,11 persen secara kuartalan.

Agus mengatakan, sebagai upaya terus mendorong daya saing sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi nasional, Kemenperin terus mendorong penerapan Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melansir industri kosmetik yang merupakan bagian dari industri bahan kimia dan barang dari kimia, tumbuh 4,67 persen pada 2020 yang dipicu oleh meningkatnya produksi sabun, karena kebutuhan masyarakat untuk mencuci tangan naik di masa pandemi COVID-19.

“Mencuci tangan sebagai bagian dari protokol kesehatan yang harus dijalankan masyarakat di masa pandemi, memicu pertumbuhan industri kosmetik sebesar 4,67 persen, yang masuk dalam subsektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yang peningkatannya sendiri mencapai 10,2 persen,” kata Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kemenperin Muhammad Taufiq kepada Antara di Jakarta, Senin.

Taufiq menyampaikan pertumbuhan industri kosmetik di masa pandemi juga dipengaruhi oleh kesigapan industri kosmetik dalam memanfaatkan peluang dengan menambah lini produk penyanitasi tangan sebagai salah satu penunjang pengurangan penyebaran COVID-19.