Dalam kehidupan ini, tak ada satu pun proses yang kita lewati tanpa adanya perjuangan. Tak ada juga proses yang tanpa melalui hambatan dan rintangan.

Saat bayi, ketika hendak belajar berjalan, kita pasti tak sekali dua kali jatuh. Namun, selalu saja ada dorongan agar kita bangkit lagi dan akhirnya bisa berdiri, berjalan, dan bahkan berlari. Kemudian, saat menjadi anak-anak hingga remaja, sudah pasti pula kita menghadapi berbagai macam tantangan, mulai dari urusan sekolah hingga pergaulan. Begitu pula saat menginjak dewasa dan mulai bekerja atau berbisnis. Sangat banyak halangan dan rintangan yang kita alami. Semua itu, menegaskan bahwa kita memang hidup dalam dunia yang penuh pembelajaran. Hanya mereka yang mampu melewati ujian dan cobaan dengan sikap pantang menyerahlah yang akan jadi sang pemenang.

Hal ini sejalan dengan pepatah bijak dalam judul artikel ini. Maknanya, untuk mencapai keberhasilan dalam segala bidang, sikap pantang menyerah harus diutamakan. Sikap pantang menyerah ini menjadi “pintu terakhir” sebelum membuka pintu kesuksesan sebenarnya. Karena itu, hal ini juga bisa dimaknai bahwa untuk meraih sukses, kita tak boleh melepas semangat juang.

Alkisah pada suatu pagi yang cerah, dua orang teman lama bertemu setelah sekian lamanya berpisah. Sebutlah, Andi dan Beni. Yang satu tampak sangat bahagia, yang satunya lagi tampak murung dan bahkan mukanya tampak hampir menangis.

Andi langsung bertanya, “Apa yang terjadi denganmu, Beni?”

Teman yang bersedih itu sambil menarik napas panjang berkata, “Baiklah aku ceritakan padamu apa yang terjadi. Tiga minggu yang lalu, pamanku meninggal dan mewariskan 400 juta rupiah pada saya.”

Ada orang yang mengatakan sebuah pernyataan sarkastis, namun kerap disetujui oleh banyak pihak. Kalimat tersebut adalah kalau yang tidak jujur saja susah dapatnya, apalagi dengan cara yang jujur? Sekilas, di tengah maraknya kasus korupsi yang kerap menghiasi berbagai media belakangan ini, kalimat tersebut terasa menyentak akal sehat.

Tapi, apakah kemudian kejujuran telah demikian mahalnya untuk menjalankan sebuah bisnis? Saya sendiri berpendapat, bahwa bekerja, berkarya, dan berusaha harus berdasarkan prinsip baik, benar, dan jujur. Puluhan tahun menjadi pengusaha di beberapa bidang, saya merasakan, dengan prinsip itulah, saya lebih merasa nyaman dan tenang.

Ada satu ungkapan kuno yang saya letakkan dalam judul artikel ini, 诚心诚意 - cheng xin cheng yi. Meski makin “langka”, jujur adalah salah satu bentuk “cerdas hidup” yang pada akhirnya akan memuaskan semua pihak. Dan, sebagaimana usaha-usaha yang terus berkembang dan bertahan sekian lama, kunci utama “memuaskan pelanggan”—salah satunya dengan kejujuran—masih menjadi kekuatan yang dapat memajukan perusahaan.

Pada dasarnya kesuksesan dan kegagalan dimulai dari dalam pikiran. Jadi bagaimana pola pikir orang yang sukses dan kaya?

1. Sukses tidak ditentukan oleh nasib
Menjadi orang sukses dan kaya atau menjadi orang gagal dan miskin bukanlah karena nasib, melainkan karena pola pikir dan tindakannya yang berakibat pada keadaan sekarang. Untuk menjadi sukses dan kaya, orang harus berkemauan keras dan berusaha secara konsisten dari waktu ke waktu. Untuk mencapai sukses yang besar, Anda harus meniru cara berpikir dan cara kerja orang sukses, yaitu mulai dengan sukses-sukses kecil setiap waktu. Mengembangkan kemampuan juga akan mempermudah jalan menuju sukses dan kaya.

Kalau boleh memilih, pasti pengusaha menginginkan perusahaan yang dikelolanya selalu untung, selalu meraih hasil sesuai harapan, selalu mendapatkan keberhasilan. Akan tetapi, kenyataannya, hampir semua usaha—bahkan termasuk yang kelihatannya mulus-mulus saja—pasti pernah mengalami berbagai ujian dan cobaan. Bangkrut, ditipu, gangguan kondisi ekonomi negara, hingga aneka macam pengalaman buruk pasti pernah dialami.

Saya kira, dari sekian banyak kejadian kurang menyenangkan, pasti banyak pembelajaran yang bisa dipetik. Sehingga, akhirnya banyak hal yang justru jadi “pegangan” sehingga ke depan mampu meraih berbagai keunggulan. Tak jarang, malah ada perusahaan yang—konon—membiarkan pegawainya berbuat salah, agar belajar bertanggung jawab. Ujungnya, selain lebih berani mengambil risiko, banyak peluang yang bisa dikerjakan tanpa rasa takut, sehingga perusahaan berkembang luar biasa.

Saya ingin membahas satu pemahaman yang luar biasa dari Negeri Tiongkok, yang ada dalam judul artikel ini. Yaitu 良 藥 苦 口 Liáng yào kǔ kǒu. Kalau ditelaah lebih jauh, memang kesalahan sangat pahit dan menyakitkan, apalagi sampai mengarah pada kebangkrutan. Namun bagi yang sadar “hukum perubahan”, mereka justru akan bersyukur seraya belajar, hingga dari pelajaran tersebut mereka akan meraih kesuksesan.

Mengubah pola pikir sering kali menjadi jalan terbaik untuk meraih hal yang lebih baik dalam kehidupan. Apa saja yang harus kita lakukan untuk memperbaiki pola pikir yang negatif menjadi positif?

Pola pikir atau mindset kita adalah apa yang kita pikirkan, kemudian yang menggerakkan kita untuk melakukan sebuah tindakan tertentu, dan biasanya terbentuk karena kebiasaan kita dari lingkungan.

Kita adalah apa yang kita pikirkan. Kita tidak akan berhasil ketika pikiran kita di kepala dipenuhi dengan keyakinan bahwa kita tidak akan berhasil. Seperti ungkapan Henry Ford, “Jika kamu berpikir kamu bisa melakukan sesuatu atau kamu tidak bisa melakukan sesuatu, kamu sepenuhnya benar.” Ford—pengusaha otomotif legendaris—ini menyebutkan bahwa kepercayaan kita terhadap diri sendiri adalah sebuah “kebenaran” yang akan jadi kenyataan. Maka, kita sendirilah yang bertanggung jawab terhadap apa yang kita pikirkan.