Bicara mengenai keberanian, mengingatkan saya pada Chinese proverb 一不怕苦, 二不怕死 Yī bù pà kǔ, èr bù pà sǐ (jangankan namanya penderitaan, kematian pun berani dihadapi). Pepatah ini digunakan untuk menggambarkan orang yang berani bertindak.

Mengapa keberanian untuk bertindak begitu penting? Karena tanpa keberanian bertindak maka tidak ada action. Tanpa action, tidak ada langkah awal. Tanpa langkah awal, maka tidak ada pula langkah menuju titik akhir.

Sebenarnya, setiap orang mempunyai kesempatan dan peluang untuk sukses. Tetapi karena takut maka mereka tidak bergerak sama sekali. Alasan klasik selalu menjadi hambatan, seperti: takut gagal, takut kecewa, takut tantangan, takut rugi, takut kerja keras, takut menghadapi persaingan dan segudang takut yang tidak berkesudahan.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadikan hidup lebih baik. Selagi masih di awal tahun, kita perlu selalu diingatkan, jika rencana tak segera diikuti dengan tindakan, bisa jadi selamanya hanya akan berujung pada khayalan. Bagaimana jika keadaan masih belum sesuai dengan harapan? Yakinlah dengan usaha yang konsisten, pelan tapi pasti, impian akan jadi kenyataan.

Berikut enam hal yang menurut Stephen Covey, penulis buku megabestseller, 7 Habits of Highly Effective People, akan membuat bulan-bulan ke depan akan semakin cemerlang dan menjadikan hidup lebih terarah.

Setiap detik, disadari ataupun tidak, kita memilih. Memilih untuk terus berjalan atau berhenti, memilih untuk menuntaskan atau menunda, dsb. Setiap pilihan ada konsekwensi dan prestasinya. Perasaan lelah, jenuh, dan bahkan sakit harus terbayar bagi mereka yang memiliki keinginan dan target tinggi. Sebaliknya bagi mereka yang merasa cukup dengan keadaannya saat itu, mereka membiarkan semua berjalan apa adanya, tanpa perlu lagi upaya untuk mendapatkan yang lebih. Itulah nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap pilihan.

Seringkali apa yang kita inginkan tidak seperti apa yang kita dapatkan. Boleh jadi upaya yang dilakukan masih belum optimal atau arah tujuannya belum fokus. Namun yang perlu kita yakini, apa-apa yang telah kita dapatkan itulah yang terbaik untuk kita saat ini. Menurut pepatah, “Semua akan terasa manis dan indah pada waktunya”. Mungkin sekarang belum saatnya. Tugas kita terus berupaya lebih keras untuk mendapatkan yang terbaik.

Membaca setumpuk buku tentu akan membuat jendela ilmu seseorang bertambah luas. Tapi ternyata kesuksesan seseorang tidak selalu tergantung pada banyaknya buku yang mereka baca.

Kesuksesan seseorang lebih pada kemampuan mereka mengaplikasikan ilmu membaca mereka pada kehidupan yang sesungguhnya sedang mereka jalani. Serta, bagaimana menjadikan ilmu baru dari bacaan mereka untuk membentuk karakter yang lebih kuat. Dan, “membaca” diri sendiri—dalam artian memahami diri sendiri—adalah salah satu kunci sukses agar lebih mampu menjadi pribadi yang tangguh.

Banyak sosok besar lahir dan mampu bertahan dengan kebesaran mereka karena mereka mampu melakukan satu hal. Mereka mengasah kemampuan untuk membaca diri mereka lebih dahulu sebelum terjun langsung untuk memahami lingkungan mereka. Lantas, bagaimana “membaca” diri sendiri bisa menjadi sarana pendidikan penting untuk membangun karakter dan masa depan seseorang? Berikut beberapa hal yang bisa kita mulai untuk menjadi “pembaca” yang baik…

“Setiap pria dan wanita yang sukses, adalah para pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (Brian Tracy)

Apakah Anda selalu memimpikan sebuah kehidupan lain yang lebih dari sekadar keadaan Anda saat ini? Apakah Anda sering merasa bosan dengan hal-hal lama yang nyaris sama dalam kehidupan Anda sehari-hari? Apakah Anda ingin menjalani hidup seperti yang Anda inginkan, atau kehidupan orang lain yang dipetakan untuk Anda?

Jika Anda ingin mengubah situasi saat ini, Anda perlu mengetahui bagaimana cara berpikir besar. Ini bukan hanya soal ide-ide aneh yang gila atau solusi yang ekstrim, melainkan, berpikir tentang kehidupan Anda sebagai sesuatu yang lebih besar daripada apa yang ada sekarang.

Sebagai manusia normal, kita semua pasti pernah mengalami saat-saat yang menyenangkan, penuh harapan dan keyakinan, percaya diri. Namun ada juga saat-saat kita mengalami masa yang tidak menyenangkan, sepertinya tidak ada harapan lagi, kita kehilangan pegangan dan percaya diri. Semua itu normal karena manusia memiliki emosi atau perasaan. Perasaan inilah yang naik turun. Emosi kita berubah-ubah.

Seorang teman pernah berkata, ”Saya kok merasa kosong, tidak ada harapan. Dari dulu begini-begini saja.” Saya jawab, ”Itu kan hanya perasaan. Perasaan itu naik turun. Besok kalau ada kejadian yang menggembirakan, perasaan kamu akan berubah."