Saya tidak pernah bisa mengetik sepuluh jari. Satu-satunya kesempatan di mana saya belajar mengetik adalah saat duduk di kelas 3 SMU, di mana syarat kelulusan mutlak adalah mengantongi sedikitnya SATU dari dua ijazah ujian nasional: Akuntansi dan Mengetik.

Sebagai pembenci angka sejati, saya mengandalkan kelulusan pada ijazah mengetik, yang sialnya, sama sekali tidak saya kuasai. Alhasil, selama 3 jam setiap minggu, di ruangan sumpek di sudut gedung sekolah, saya berkutat dengan mesin tik butut yang huruf-hurufnya ditempeli stiker hitam, merelakan mata saya ditutup dengan kain buluk dan belajar menghafal letak huruf di bawah ancaman hukuman. Jangan tanya kenapa. Itulah metode mengajar guru saya yang terbukti efektif membuat kami lulus hanya dengan persiapan selama 6 bulan, walau tentu saja, sebagai efek sampingnya kami membenci beliau setengah mati.

Setiap awal tahun, banyak orang berusaha meramalkan akan seperti apa tahun yang sedang mulai dijalani ini.

Apakah kita akan lebih sukses? Apakah akan ada perubahan yang lebih baik? Karir meningkat? Penghasilan semakin besar? Bisnis makin sukses? Penjualan meningkat tajam? Apakah malah akan gagal? Ataukah biasa-biasa saja? Tidak ada perubahan? Karir tetap? Penghasilan menurun? Bisnis gagal? Penjualan menurun tajam?

Mana yang kita pilih?  Tergantung dari sisi mana kita memandang. Orang yang positif selalu memandang adanya kesempatan sehingga akan berusaha keras untuk mencapainya. Namun orang yang negatif sebaliknya hanya memandang hambatan yang mungkin terjadi sehingga merasa pesimis dan takut untuk maju.

“Sepanjang waktu ini kupikir aku sedang belajar untuk hidup, padahal sesungguhnya aku belajar untuk mati,” ungkap Leonardo Da Vinci (1452-1519).

Ucapan dari “jeniusnya para jenius” tersebut—serta judul di atas—tak hendak bertujuan menyebarkan rasa takut, pesimis atau tiadanya harapan. Akan tetapi sebaliknya, kesadaran bahwa kematian semakin mendekat, justru dapat mendorong kita untuk semakin menjalani hidup secara Iebih mendalam, sehingga kita dapat benar-benar merasakan hidup yang Iebih hidup.

Dua tahun setelah mengalami serangan jantung yang hampir merenggut nyawanya—Abraham Maslow (1908-1970), salah seorang psikolog terbesar pada Abad ke 20—menganggap kehidupannya pasca serangan jantung tersebut sebagai “kehidupan pasca-kematian”, yang membuatnya menjalani hidup di tahun-tahun berikutnya sebagai bonus, atau berkat ekstra yang sangat ia syukuri.

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

Teman saya sangat senang membaca buku motivasi. Pernah secara bercanda ia berujar, “Bermimpilah selama mimpi itu masih gratis.” Teman saya seorang konsultan pajak memiliki versi lain. Ia bilang, “Bermimpilah mumpung mimpi belum dikenakan pajak.” Banyak sekali kata-kata motivasi yang berhubungan dengan mimpi. Ini untuk mendorong orang agar memiliki tujuan dalam hidupnya. Ajakan bermimpi ini ada yang bisa menafsirkannya dengan benar. Namun ada juga yang salah menafsirkan. Mereka yang memahami kata motivasi “bermimpi” pasti segera action untuk mewujudkan mimpinya. Yang salah menafsirkan akan segera menuju tempat tidur. Alasannya, bukankah untuk bisa bermimpi seseorang harus tidur?

Alkisah, di suatu senja yang kelabu, tampak sang raja beserta rombongannya dalam perjalanan pulang ke kerajaan dari berburu di hutan. Hari itu adalah hari tersial yang sangat menjengkelkan hati karena tidak ada satu buruan pun yang berhasil dibawa pulang. Seolah-olah anak panah dan busur tidak bisa dikendalikan dengan baik seperti biasanya.

Setibanya di pinggir hutan, raja memutuskan beristirahat sejenak di rumah sederhana milik seorang pemburu yang terkenal karena kehebatannya memanah. Dengan tergopoh-gopoh, si pemburu menyambut kedatangan raja beserta rombongannya.

Setelah berbasa-basi, tiba-tiba si pemburu berkata, "Maaf baginda, sepertinya baginda sedang jengkel dan tidak bahagia. Apakah hasil buruan hari ini tidak memuaskan baginda?"