Banyak perusahaan yang menjadi besar, melegenda, dan bahkan bertahan ratusan tahun. Tak jarang, mereka memulai hanya dari ruangan sempit atau sekadar memakai tempat seadanya. Ada yang dari garasi rumah, kamar kos, hingga emperan jalan. Bisa jadi, mereka bahkan tak pernah menyangka usahanya akan berjalan sedemikian hebat. Atau, bisa jadi, mereka memang tak pernah memedulikan akan seberapa hebat usahanya. Yang penting, usaha dan terus bekerja. Yang ada di pikiran mereka hanyalah bagaimana memaksimalkan dan mengisi waktu untuk hidup dan mampu terus berkarya.

Kita bisa bayangkan, bila cacian dan ungkapan bernada remeh ditanggapi negatif oleh pencipta minuman teh botolan. Minuman teh yang dikemas dalam botol, bisa jadi, pasarnya tak akan sebesar sekarang. Namun, dengan terus berkarya, bekerja, dan berupaya, akhirnya mereka bisa menjadi perusahaan minuman yang besar.

Banyak orang punya keinginan ini dan itu. Banyak yang bercita-cita tinggi. Tak jarang yang pasang target menantang ke depan dengan visi yang luar biasa. Tapi, seberapa banyak orang yang berhasil mewujudkannya? Berapa gelintir orang yang berhasil meraihnya?

Sejatinya, impian dan cita-cita bisa menjadi kenyataan. Namun acap kali, orang sudah menyerah sebelum mencapai puncaknya. Bahkan, menyerah sebelum bertanding hanya karena anggapan tak bisa dan ketakutan tak bisa meraih. Parahnya, ada yang karena omongan orang lain, komentar miring, suara celaan, lantas memilih mundur atau mengganti target yang lebih rendah.

Untuk “melawan” itu, seharusnya kita mampu membiasakan diri memiliki kemauan yang sangat kuat. Ini penting untuk kita punyai sebagai dasar untuk meraih apa pun yang kita impikan. Layaknya anak kecil yang merengek tanpa henti saat meminta sesuatu. Kekuatan keinginan seperti sang bocah inilah yang patut kembali kita miliki dalam diri.

Dikisahkan, ada seorang mahasiswi yang memulai kuliah di luar negeri. Sebagai pengguna transportasi umum, berbeda dengan di negaranya, di sana transportasi menggunakan sistem otomatis. Penumpang membeli tiket sesuai dengan tujuan melalui mesin yang ada di stasiun. Saat turun pun hampir tidak pernah ada petugas yang memeriksa tiket karena semua sudah berjalan selama ini dengan tertib.

Selang beberapa hari, dengan kepandaiannya, si wanita muda itu mampu menemukan kelemahan sistem transportasi sehingga dia bisa naik transportasi umum tanpa harus membeli tiket.

“Hahaha....aku memang pintar! Berada di luar negeri ‘kan harus hemat,” ujarnya dalam hati dengan senang sekaligus bangga.

Empat tahun berlalu. Wanita muda ini lulus dari universitas ternama dengan nilai yang sangat bagus. Dengan penuh percaya diri, dia pun melamar kerja di beberapa perusahaan ternama di sana. Melihat nilainya, semua perusahaan menyambut lamarannya dengan antusias. Tetapi anehnya, mereka semua menolak dengan berbagai alasan.

Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa pensiun dari perusahaan tersebut.

Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut, yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.

Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut,

Alkisah, suatu hari, seorang ayah muda membawa anaknya yang baru berusia sekitar 4 tahun untuk bermain di taman hiburan. Mereka sedang menantikan parade menyambut ulang tahun taman hiburan tersebut yang akan digelar mulai petang hari. Setengah jam sebelum atraksi dimulai, si ayah mengajak anaknya menuju tempat menunggu yang dianggap paling strategis untuk menonton parade.

Tak lama kemudian, orang yang berkumpul pun semakin banyak saat parade hendak dimulai. Si anak bergerak ke sana-sini dengan tidak sabar.

"Ayah, kapan mulai paradenya?" Beberapa kali suara kecilnya nyaring bertanya.

"Sebentar, Nak. Tuh lihat... sebentar lagi mulai. Sabar ya," kata si ayah menenangkan anaknya.

Banyak orang punya keinginan ini dan itu. Banyak yang bercita-cita tinggi. Tak jarang yang pasang target menantang ke depan dengan visi yang luar biasa. Tapi, seberapa banyak orang yang berhasil mewujudkannya? Berapa gelintir orang yang berhasil meraihnya?

Sejatinya, impian dan cita-cita bisa menjadi kenyataan. Namun acap kali, orang sudah menyerah sebelum mencapai puncaknya. Bahkan, menyerah sebelum bertanding hanya karena anggapan tak bisa dan ketakutan tak bisa meraih. Parahnya, ada yang karena omongan orang lain, komentar miring, suara celaan, lantas memilih mundur atau mengganti target yang lebih rendah.

Untuk “melawan” itu, seharusnya kita mampu membiasakan diri memiliki kemauan yang sangat kuat. Ini penting untuk kita punyai sebagai dasar untuk meraih apa pun yang kita impikan. Layaknya anak kecil yang merengek tanpa henti saat meminta sesuatu. Kekuatan keinginan seperti sang bocah inilah yang patut kembali kita miliki dalam diri.