Setiap orang pasti punya kebiasaan sendiri di akhir pekan, termasuk orang-orang sukses. Mereka tahu pasti bahwa akhir pekan adalah “senjata rahasia” untuk mempersiapkan diri meraih sukses. Berikut ini 7 kebiasaan yang dilakukan orang super sukses di akhir pekan:

Alkisah, di sebuah klinik dokter spesialis anak-anak, seorang anak laki-laki bernama Jeremy sedang melakukan pemeriksaan rutin tahunan.

Sang dokter mengetuk dada Jeremy berulang kali dengan jarinya, “Apakah kamu dengar suaranya yang seperti rongga kosong?” Jeremy mengangguk.

“Nah itulah paru-paru kamu. Kamu tahu enggak, apa kira-kira isi paru-paru kamu?” tanya sang dokter.

“Isinya.. udara,” jawab Jeremy.

“Ya, betul, itu isinya udara. Pintar sekali deh, kamu Jeremy. Nah kalau yang ini suara ketukannya adalah seperti mengenai suara benda padat bukan?, Nah di rongga sebelah dalam ada jantung (heart) kamu. Apa isi jantung hatimu?”

Dalam kehidupan, sebenarnya kita selalu ada nilai keberimbangan. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang sukses, ada yang gagal. Ada yang bahagia, ada yang nestapa. Ada yang gembira, ada yang sedih penuh air mata. Semua konteks itu setidaknya pasti pernah kita rasakan. Hanya saja, mungkin kadarnya berbeda-beda. Namun, kadang-kadang, ada pula saatnya seseorang berada di “lapisan tengah”. Ada yang mengatakan konteks tersebut dengan sebutan wilayah abu-abu, yang di antara hitam dan putih. Artinya, sebenarnya semua tak pernah mutlak. Tergantung pada sudut pandang kita, hendak memaknai apa kondisi yang kita alami saat ini.

Dalam diri kita masing-masing, sebenarnya ada DNA sukses yang sudah ditanamkan sebagai bagian dari kesempurnaan adikarya Sang Mahakuasa. Semua tercipta dengan potensi—apa pun itu bentuknya—yang jika digali, dikembangkan, dimaksimalkan, mampu jadi kekuatan luar biasa, sesuai dengan bidang yang digeluti atau ditekuni.

Minimal, seseorang akan bisa memenuhi “tugas” hidupnya, yakni menjadi “puzzle” alias keping pelengkap peran yang tak bisa dilakukan orang lain. Seperti seorang yang tak bisa memotong rambutnya sendiri, ia butuh tukang cukur untuk membantunya. Seperti juga layaknya orangtua, yang perlu bantuan guru—baik formal dan nonformal—yang membantu mendidikan anak-anaknya.

Itulah mengapa sejatinya, hanya dengan bergerak, kita sebenarnya sudah memberi arti bagi hidup dan kehidupan di sekeliling kita. Ya, kuncinya terletak pada “gerak” alias “tindakan”! Tentu, bukan sekadar tindakan apa adanya yang tanpa makna. Namun, tindakan yang diharapkan mampu memberi kontribusi bagi diri dan sekeliling kita.

Penelitian yang dilakukan oleh Michael Gerber (seorang konsultan bisnis UKM) di Amerika dan Australia menemukan bahwa 96% bisnis kecil yang dimulai hari ini, gagal dalam waktu sepuluh tahun. Hal ini bukan rahasia. Bahkan Anda bisa menilai diri sendiri, dengan pengalaman pribadi Anda. Apakah Anda pernah memulai bisnis? Berapa lama bisnis Anda bertahan secara konsisten? Antara 2-5 tahun, atau 10 tahun…?

Apakah kenyataan ini akan diterima begitu saja, atau kita bisa mengalahkan mitos ini dengan berpikir lebih cermat? Apa yang dilakukan oleh pebisnis yang sukses mempertahankan bisnisnya sejak awal? Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan:

Dalam pepatah Tiongkok kuno, ada sebuah pepatah yang dilandasi dari sebuah kisah, “Memanah 100 Kali, Tepat Sasaran 100 Kali”. Pepatah tersebut adalah: “Kebiasaan yang diulang terus menerus, akan melahirkan keahlian!” Secara harfiah, hal ini jika dimaknai, bertutur tentang betapa luar biasanya kekuatan kebiasaan.

Berikut adalah kisah tentang Sang Panglima ahli memanah:

Suatu ketika, di daratan Tiongkok, hidup seorang panglima perang yang sangat terkenal. Sang Panglima dianggap memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang-orang biasa. Yakni, ia memiliki keahlian memanah yang tiada tandingannya.

Suatu hari, sang panglima ingin memperlihatkan keahliannya memanah kepada rakyat di negerinya. Lalu, Sang Panglima memerintahkan prajurit bawahannya agar menyiapkan papan sasaran yang diletakkan cukup jauh, serta 100 buah anak panah untuknya.