Aku berjanji pada diri sendiri…..
Untuk menjadi kuat sehinggga tidak ada yang bisa mengganggu kedamaian pikiranku.
Untuk membicarakan kesehatan, kebahagiaan, dan kemakmuran kepada setiap orang yang kutemui.
Untuk membuat semua temanku merasa ada yang berharga dalam diri mereka.
Untuk melihat sisi terang dari segala sesuatu dan mewujudkan optimismeku.
Untuk hanya memikirkan yang terbaik, hanya melakukan yang terbaik, dan hanya mengharapkan yang terbaik.
Seseorang menemukan sebuah kepompong dan membawanya pulang untuk diamati perkembangannya. Pada suatu hari tampaklah garis pecahan pada kepompong itu. Rupa-rupanya bakal kupu-kupu itu berusaha membebaskan diri.
Orang itu merasa kasihan, lalu mengambil gunting dan membuka kulit kepompong. Bakal kupu-kupu itu pun lalu dengan mudah bergerak keluar. Tubuhnya sedikit panjang dan gembur. Sayapnya pendek dan layu.
Orang itu mengharapkan, dalam beberapa jam kemudian sayap si kupu-kupu akan membentang dengan indahnya. Kenyataannya tidak demikian. Kupu-kupu kecil itu hanya bisa bergerak berputar-putar dengan sayapnya yang kerdil.
Selamanya kupu-kupu itu tidak bisa terbang.
Pemenang adalah yang belajar dari kesalahannya, sedangkan pecundang adalah yang malu dan tak mau mengakui kesalahannya.
Pemenang adalah yang tak pernah berhenti belajar, sedangkan pecundang tak suka belajar.
Pemenang fokus mencari ide sedangkan pecundang pikirannya dipenuhi ketakutan.
Seorang pemenang mencari solusi, sedangkan pecundang mencari orang andalan.
Pemenang adalah ia yang fokus untuk masa depan, sedangkan pecundang terlalu fokus pada masa lalu.
Aku adalah Sebuah Batu
Cobalah untuk membakarku
Aku akan bergeming
Karena aku sebuah batu.
Coba pukul aku lebih keras
Aku tetap utuh
Karena aku sebuah batu
Yang paling keras.
Ada seorang kakek yang sangat terkenal. Tidak hanya di daerahnya, tetapi di seluruh pelosok negeri.
Ia tidak hanya dikenal sebagai seorang yang baik dan cerdas, namun lebih dari itu ia dipandang sebagai seorang yang amat bijaksana.
Setiap kali berhadapan dengan persoalan yang paling rumit sekalipun, ia pasti akan mampu keluar dengan ide-ide yang cemerlang.
Sambil menggenggam seekor burung kecil dalam kepakan tangannya, seorang anak datang menghadap seorang kakek tersebut.
Anak kecil itu berdiri di hadapan kakek tua dan secara saksama memperhatikannya.
Dalam hatinya ia berpikir bahwa saat ini akan berakhirlah reputasi bapak tua itu sebagai seorang bijak, karena ia amat yakin bahwa si kakek itu tak akan mampu memberikan jawaban yang memuaskan.
Ada seorang laki-laki bernama Agfian. Ia berumur 25 tahun. Dan ini perjalanan kisah cintanya.
Pertama, dia mengenal Risma. Kenalan, pendekatan selama 6 bulan, ketika dia nembak ditolak.
Kedua, dia tertarik sekali dengan Ratna. Dia kenalan, melakukan pendekatan, pacaran selama 2 tahun. Ketika Agfian serius ingin menikahinya ternyata orang tua Ratna tidak merestuinya. Gagal.
Ketiga, Agfian akhirnya dekat dengan teman SMAnya dulu. Delima. Mereka cocok, saling suka, dan akhirnya jadian selama 1 tahun. Ketika cocok-cocoknya ternyata Delima ketahuan selingkuh. Agfian marah besar dan memutuskannya.
Keempat, datang seorang wanita baru dalam kehidupan Agfian. Namanya Anggraeni. Setelah jalan 1,5 tahun, antar jemput ke kampus, makan bareng, nonton bareng, main ke rumah orang tuanya. Sama-sama cocok, Anggraeni mengalami kecelakaan motor yang menyebabkannya meninggal di tempat. Pupus seluruh kenangan dan harapan Agfian.
Page 6 of 33


