Pernah mengatakan hal semacam ini? “Wah.. pas banget ya.” Atau, “Kebetulan sekali… kok pas banget ya waktunya.” Jika pernah mengatakan hal tersebut, apa yang kita rasakan? Pastinya lega, senang, dan bahagia. Sebab, hal yang menyenangkan datang tepat pada waktunya. Pertanyaannya, tepat waktunya itu sebenarnya kapan terjadinya? Dan, apakah hal yang terasa pas itu bisa kita “ulang” kejadiannya?

Banyak orang mengatakan, faktor keberuntungan dan kebetulan adalah hal yang tak diduga-duga. Sebagian menyebut itu adalah “bakat”. Namun sebenarnya, keberuntungan adalah hal yang lumrah dan bisa dialami oleh siapa saja. Sebab, hampir semua orang pasti pernah merasakan seperti ungkapan kalimat di atas. Setidaknya, sekali—dan mungkin malah berkali-kali hingga lupa—merasakan sesuatu pas dengan yang diinginkan. Lalu, “menyimpulkan” hal tersebut sebagai kebetulan atau keberuntungan.

Kembali ke pertanyaan semula, lalu kapan sebenarnya hal tersebut terjadi? Dan, bagaimana kita bisa “mengulanginya”?

Alkisah, ada seorang pemuda tampak mendatangi seorang tua bijak yang tinggal di sebuah desa yang begitu damai. Setelah menyapa dengan santun, si pemuda menyampaikan maksud dan tujuannya. “Paman, saya menempuh perjalanan jauh ini sesungguhnya untuk menemukan jawaban, bagaimana caranya membuat diri sendiri selalu gembira dan bahagia serta sekaligus bisa membuat orang lain selalu gembira?”

Sesaat, si paman menatap sambil menilai kesungguhan raut wajah rupawan di hadapannya. ”Anak muda, terus terang paman terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Seusiamu punya keinginan begitu, sungguh tidak biasa. Baiklah, untuk memenuhi keinginanmu agar kamu bisa selalu gembira dan membuat orang lain juga gembira, maka paman akan memberimu empat kalimat,” kata si paman.

”Pertama, anggap dirimu sendiri seperti orang lain! Kamu mengerti kalimat pertama ini?”

Alkisah, setelah selesai makan siang bersama, seorang pemuda bersama seorang teman kantornya berjalan santai menyusuri jalanan. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, seorang perempuan tua berpakaian sederhana menghampiri mereka sambil menenteng beberapa kantong plastik berisi sayuran.

“Maaf Tuan, mau beli sayuran ini? Saya sendiri yang menanam dan memetiknya,” kata si nenek penuh harap, sambil tangan keriputnya mengulurkan beberapa kantong plastik berisi sayur mayur. Setelah menatap si nenek sebentar, tanpa basa-basi, teman pemuda itu langsung mengeluarkan dompet dan membayarnya. Tiga kantong plastik sayuran pun berpindah tangan.

“Terima kasih Tuan, semoga Tuan diberi kelancaran dalam rezeki,” dengan suara bergetar terharu si nenek menggenggam erat uang jualannya.

Setelah nenek itu berlalu, si pemuda bertanya keheranan kepada kawannya, “Kamu benar-benar mau makan sayur ini…? Kamu lihat sendiri kan, sayur itu sudah layu dan mulai kuning. Ada ulatnya, lagi…”

Pada suatu masa di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Karena itulah, ia dijuluki “Sang Jenderal Penakluk” oleh rakyat sekitar. Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang jumlahnya lebih banyak.

Mereka melarikan diri hingga akhirnya terdesak ke pinggir jurang. Pada saat itu, para prajurit menjadi sangat putus asa dan ingin menyerah kepada musuh. Sang Jenderal segera mengambil inisiatif. Katanya, “Menang-kalah sudah ditakdirkan oleh dewa-dewa. Kita akan menanyakan kepada para dewa, apakah hari ini kita akan kalah atau menang. Saya akan melakukan tos dengan keeping keberuntungan! Jika sisi gambar yang muncul, maka kita akan menang. Jika sisi angka yang muncul, kita kalah! Biarlah dewa-dewa yang menentukan!” Sang Jenderal itu pun melemparkan kepingnya.

Ternyata, sisi gambarlah yang muncul! Hail itu disambut sorak-sorai oleh para pasukan. “Wah… dewa-dewa di pihak kita! Kita sudah pasti menang!!!” Dengan semangat membara, dan dengan strategi yang disusun matang, mereka menggempur kembali pasukan lawan. Akhirnya, mereka benar-benar berhasil membuat lawannya lari tunggang-langgang.

Alkisah di sebuah lepas pantai, beberapa ekor kerang kecil sedang bermain-main diterjang ombak pantai yang terlihat tenang. Namun, dalam sebuah sapuan ombak yang tiba-tiba datang, satu buah kerang tiba-tiba menjerit kesakitan. Rupanya, ombak yang menerjangnya membawa pasir laut yang tajam masuk ke dalam tubuh di cangkangnya.

Kerang kecil itu pun mengadu pada ibunya. Sambil terus menangis, ia berkata pada ibunya, “Tolong aku, Ibu. Pasir tajam ini benar-benar menyiksaku. Tolong keluarkan benda kecil ini dari dalam tubuhku. Aku ingin kembali bebas bermain-main dengan kawan-kawanku.”

Sang ibu merasa kasihan. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya nasihat yang mampu diucapkannya. “Anakku, kita ini terlahir tanpa tangan. Jadi, terima saja pasir yang masuk ke dalam tubuhmu. Coba tahan rasa sakit itu. Ibu tahu, itu tentu sangat menyakitkan. Tetaplah semangat dalam melawan rasa pedih yang pasti bakal menyiksamu. Untuk mengurangi rasa sakit itu, balutlah pasir itu dengan getah lembut yang keluar dari dalam tubuhmu. Hanya itu satu-satunya jalan yang bisa kamu lakukan saat ini,” hibur ibu kerang sembari terus mencoba menenangkan anaknya.

Suatu hari, di sebuah negeri, seorang pemimpin hendak memberikan penghargaan kepada keluarga yang bisa dijadikan teladan di wilayahnya.

Karena itu, ia mengutus pejabatnya untuk mencari siapa-siapa saja keluarga yang layak mendapat penghargaan tersebut.

Sang pejabat pun segera menunaikan tugasnya, mendatangi satu per satu keluarga yang dianggap layak mendapatkan kehormatan tersebut. Salah satunya, kelurga terpandang tinggal di sebuah rumah besar. Sayangnya, mereka terkenal berperangai keras, lugas, dan tidak kenal kompromi.

Dari rumah besar nan megah tersebut sering terdengar percekcokan di antara anggota keluarga. Kadang hal-hal sepele pun bisa menyulut kemarahan, mendatangkan pertengkaran, bahkan tidak jarang berakhir dengan baku hantam.

Saat si pejabat masuk ke rumah dan belum lama duduk, dari dalam rumah tiba-tiba terdengar suara. Prang! Bunyi gelas pecah tersebut kemudian disusul teriakan suara dengan nada berang,  “Hei! Matamu di mana? Duh, bodoh sekali, gelas diam begitu main disenggol saja!”