Alkisah, ada seorang raja yang ingin mencari kebahagiaan. Maka, dipanggillah orang pintar di kerajaannya untuk mencarikan rasa bahagia untuk raja. Setelah berpikir, beberapa hari kemudian, orang tersebut mendatangi raja sembari membawakan sebuah berlian sangat elok yang keindahannya mengundang decak kagum banyak orang.

Baginda menerima berlian itu dengan senang hati. Beberapa hari, berlian itu dipakainya sebagai penghias mahkota. Sangat elok. Namun, suatu ketika, saat raja mengaguminya, ia melihat sedikit cacat di berlian tersebut. Hatinya kecewa. Bahagia yang dirasakan, tiba-tiba lenyap begitu saja.

Maka, segeralah dipanggil orang pintar lain untuk mencarikan bahagia. Orang pintar tersebut segera menunaikan perintah raja. Beberapa saat berlalu, hingga orang itu datang meminta sang raja untuk membuat pesta. Dalam pesta itu, banyak relasi dari berbagai penjuru negeri datang. Gelak tawa dan rasa suka karena banyak teman baru membuat sang raja bahagia. Ia senang, punya banyak keluarga baru yang membuatnya terus tertawa dan senang. Karena itu, raja meminta agar pesta bukan hanya sesaat, melainkan hingga beberapa waktu lamanya.

Setiap makhluk yang hadir di dunia, pasti diciptakan dengan kelebihan dan manfaat masing-masing. Sebab, Sang Pencipta telah menurunkan kebaikan dan keberkahan di setiap ciptaanNya. Bahkan, bagi mereka yang kurang menyadari dan sibuk mengutuki diri sendiri karena merasa tak punya apa-apa dan tak bisa apa-apa, sebenarnya ia pasti punya bakat dan kelebihan. Syaratnya semua sama. Bakat dan kelebihan itu hanya akan muncul jika digali, dikembangkan, dipupuk, disirami, dan dimaksimalkan dengan perjuangan habis-habisan.

Dalam kisah-kisah berlatar belakang silat, baik di negara Tiongkok maupun Jawa, serta legenda lainnya, ada banyak pendekar sakti yang memiliki kelebihan berupa kekuatan, baik berupa kemampuan beladiri yang ampuh, tenaga dalam yang luar biasa, hingga kemampuan mempesona orang dengan berbagai kemampuannya.  Orang-orang zaman dahulu, bahkan dikenal punya kekuatan lebih yang bisa digunakan untuk membasmi musuh.

Namun, di balik semua itu, entah berupa legenda atau kisah nyata, semua kelebihan pasti didapat dengan perjuangan. Mulai dari bertapa, berpuasa, hingga melakukan berbagai ritual yang pasti juga perlu proses yang tak kalah beratnya.

1 hari tidak belajar, itu salah.
3 hari tidak belajar, itu kemunduran!
Biasakan setiap hari belajar sesuatu yang baru demi kesuksesan hidup yang lebih bernilai!

Pemikir dan negarawan besar asal Tiongkok, Konfusius yang hidup lebih dari 2500 tahun yang lalu, pada masa hidupnya selalu menekankan akan pentingnya sikap belajar bagi setiap manusia. Ia menganalogikan pentingnya belajar melalui kata mutiaranya yang populer dan masih relevan sampai hari ini. Bunyinya seperti ini:

Belajar adalah seperti sebuah perahu kecil yang melawan arus, kalau tidak maju, berarti mundur.

Memang benar. Kalau kita mendayung sebuah perahu kecil yang sedang melawan arus, berarti kita harus dengan sekuat tenaga untuk mengayuh dan mengayuh dayung agar perahu kita bergerak maju. Kalau tidak, tentu perahu kecil kita akan mundur terseret oleh arus air.

Tak ada sukses besar tanpa dimulai dari yang kecil-kecil. Jangan remehkan prestasi kecil, karena di sanalah kita dipupuk untuk mencapai hasil-hasil lebih besar.

Semua terbentuk melalui proses. Dan, sayangnya, justru banyak orang yang lebih melihat sisi besarnya dibandingkan proses yang terjadi sebelumnya. Akibatnya, tak sedikit orang yang melihat kesuksesan orang lain dari kacamata besaran yang diraih—materi, jabatan, uang, kehormatan, dan hal besar lain—tanpa melihat lebih jauh bagaimana semua itu diperoleh.

Istilah the rising star atau bintang yang melesat kegemilangannya dengan cepat menjadi satu hal yang didamba banyak orang. Sukses pun sebisa mungkin dicapai dengan cara cara yang instan. Akibatnya, sukses yang bisa diraih pun rapuh. Jika tak waspada, mudah sekali untuk jatuh!

Pepatah Tiongkok Kuno mengatakan, perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah. Ini sebenarnya adalah “fondasi dasar” yang harus bisa kita miliki untuk meraih impian. Ada berbagai hal/proses kecil yang harus kita jaga konsistensinya untuk menjadi “kekuatan awal” terjadinya sukses besar yang kita dambakan.

Seorang Bapak dan anaknya yang masih kecil akan pergi jauh dengan membawa keledainya. Mereka membawa ransel-ransel yang berisi bekal perjalanan dan diletakkan di atas punggung keledai.

Anaknya berjalan di depan dan bapaknya di belakang keledai sambil membawa cemeti.

Dalam perjalanan, mereka berjumpa dengan seseorang yang duduk di pinggir jalan.

Ia bertanya, “Mengapa kamu berjalan? Naikilah keledaimu, sehingga kamu tidak lelah. Keledai memang binatang yang dipergunakan untuk mengangkut barang dan manusia.” Maka mereka berdua melompat ke atas punggung binatang itu.

Salah seorang polisi menyetop mereka dan berkata, “Salah seorang turun, sebelum saya menahan kamu karena kamu menyiksa binatang!” Lalu Bapak melompat turun dan anaknya tetap tinggal di atas punggung keledai.

Alkisah, di sebuah desa kecil, hidup dua orang pemuda yang sama-sama ingin mengubah nasibnya. Suatu hari, mereka memutuskan pindah ke kota. Namun karena kurang keterampilan dan pendidikan, mereka kesulitan mencari pekerjaan.

Ketika hampir putus asa, kedua pemuda ini menemukan tumpukan kayu bekas yang dibuang begitu saja oleh penduduk setempat. Mendapati tumpukan kayu itu, mereka langsung mengolah kayu itu menjadi aneka macam barang—perkakas dapur, almari kecil, hiasan rumah, dan lain sebagainya. Sebab, memang itu satu-satunya keahlian yang mereka miliki. Lalu, mereka pun pergi ke pasar untuk menjual karya mereka.

Rupanya, banyak orang yang menyukai hasil karya mereka. Maka, hanya dalam waktu relatif singkat, dengan modal yang tak seberapa, mereka bisa mendapatkan hasil yang lumayan untuk menyambung hidup mereka.

Hari demi hari mereka lalui dengan cara yang sama. Hingga, suatu kali, salah satu dari mereka mengeluh bosan menjalani hidup yang begitu-begitu saja.