Ada sebuah kotak, di mana kotak tersebut di dalamnya terdapat seekor belalang. Ternyata belalang tersebut sudah berada di dalam kotak tersebut dengan kurun waktu yang begitu lama.
Suatu hari belalang tersebut telah berhasil keluar. Karena sudah keluar dari kotak yang selama ini mengurungnya. Belalang tersebut merasa penuh kebahagiaan dirinya, akhirnya yang selama ini ia nantikan tercapai juga.
Kebahagiaan yang belalang miliki diespresikan lewat lompatan yang dilakukannya kesana-kemari. Hingga suatu saat ia bertemu dengan kawanan belalang lainnya. Di mana belalang yang ia temui ternyata mampu melakukan lompatan yang jauh lebih tinggi dan lebih panjang.
Belalang yang dahulunya di dalam kotak penasaran apa rahasia yang dari lompatan tinggi dan panjang dari belalang lainnya. Dengan penuh rasa penasaran dan keberanian akhirnya belalang yang tadinya dalam kotak tersebut bertanya kepada kawanan lainnya.
Suatu hari seorang lelaki yang sedang menggali tanah menemukan gentong tembikar besar di ladangnya.
Ia membawanya pulang dan meminta istrinya untuk membersihkannya.
Ketika istrinya mulai membersihkan bagian dalam gentong, ternyata gentong itu dipenuhi dengan sikat.
Berapa pun sikat dikeluarkan dari dalam gentong, sikat-sikat itu tetap memenuhi gentong.
Akhirnya, orang itu menjual sikat-sikat itu, dan keluarga itu akhirnya dapat hidup dengan nyaman.
Suatu hari tak disengaja sebuah koin jatuh ke dalam gentong itu. Saat itu juga sikat-sikat itu hilang dan isi gentong itu berubah dipenuhi dengan uang.
Banyak orang merasa seolah-olah mereka bekerja keras, tetapi tampaknya tidak mendapatkan apapun yang berharga.
Alasan utama mengapa mereka merasa seperti ini adalah karena mereka tidak menghabiskan cukup waktu untuk memikirkan apa yang benar-benar mereka inginkan dari kehidupan dan belum menetapkan tujuan untuk diri mereka sendiri.
Lagi pula, tidak mungkin untuk melakukan perjalanan panjang tanpa tahu tujuan sebenarnya bukan?
Tujuan membantu kita untuk fokus pada apa yang kita inginkan dan ke arah mana kita ingin pergi.
Dengan menetapkan tujuan yang jelas, kita dapat mengukur pencapaian kita dan memantau kemajuan kita.
Pada suatu hari, ada sepuluh petani yang sedang berjalan di ladang. Mereka dikejutkan oleh guntur badai yang sangat keras, dan mereka pun bersembunyi di kuil yang kondisinya sudah setengah hancur.
Guntur itu terus mendekat dan makin besar sehingga menimbulkan kegemparan di sekitar kuil.
Semua orang gemetar ketakutan sementara petir terus-menerus menerangi sekeliling kuil.
Mereka berpikir bahwa pasti ada pendosa di antara mereka yang disambar petir.
Untuk mencari tahu siapakah pendosa itu, mereka semua setuju untuk menggantung topi jerami di pintu dan topi yang terhempas jatuh menjadi pertanda bahwa itu adalah takdir akhir hidup si pemilik topi.
Tahun telah berganti, begitulah waktu senantiasa berlalu tanpa bisa kita halangi.
Setiap orang ingin sukses. Yang belum sukses ingin menjadi orang sukses. Yang sudah sukses ingin lebih sukses lagi.
Yang menarik adalah setiap orang sukses mempunyai ciri-ciri yang sama. Mereka punya kunci sukses serupa. Apa saja?
Satu, berpikir positif.
Berpikir positif sangat menentukan kadar sukses seseorang. Semakin positif pikiran seseorang, biasanya ia semakin bisa meniti tangga sukses dengan rasa percaya diri yang kuat.
Dua, percaya akan kemampuan diri sendiri.
Keyakinan akan diri sendiri akan terpancar keluar sehingga orang lain juga bisa mempercayai kita. Tanpa rasa percaya diri yang besar, sukses sering kali terhambat oleh ‘mental block’.
Suatu hari di dalam hutan, rubah melihat seekor gagak terbang dengan sepotong daging di paruhnya. Sang Gagak lantas bertengger di dahan pohon.
Rubah yang sejak pagi belum makan, ingin sekali mendapatkan daging tersebut. Ia pun berjalan hingga ke bawah pohon yang dihinggapi gagak tadi.
“Selamat siang, Nyonya Gagak yang cantik,” serunya.
“Betapa mempesonanya penampilanmu hari ini. Matamu tampak cerah, paruhmu bersih dan bulumu berkilau.”
Mendengar pujian itu, Gagak menoleh ke bawah. Senang sekali ia mendapati Rubah sedang mengaguminya di sana.
Melihat reaksi Gagak, Rubah melanjutkan rencananya. Ia memuji Gagak lebih jauh lagi.
Page 5 of 33




