Alkisah, ada seorang murid baru yang diperintah oleh gurunya untuk mengambil air di dekat sebuah sumur yang terletak di belakang perguruan.

Si murid pun bergegas menuju ke belakang untuk melaksanakan tugas yang diperintahkan. Tanpa berpikir panjang atau mempelajari situasi di sekitar sana, pikiran dan langkah kakinya langsung tertuju pada sumur dan ember untuk menimba air.

“Aha… itu dia ember kosong dan talinya,” serunya. Dengan gembira, dia pun mulai memegang tali dan mengayunkan ember ke dalam sumur. Tetapi sampai tali yang dipegang di tangan hampir tiba di ujung, dirasakan ember nya tetap kosong, tidak juga menyentuh air di dalam sumur. Maka dia melakukan usaha lebih keras.

Di sebuah pegunungan yang cukup tinggi di daerah Tibet, terdapat sebuah kuil kuno. Tak jauh dari kuil kuno tersebut terdapat dua biara yang berukuran cukup besar. Sekalipun kedua biara itu berdekatan dan terlihat mirip, situasi di dalamnya ternyata sangat bertolak belakang.

Biara 1 merupakan tempat belajar sangat sunyi, tenteram, dan teduh. Semua penghuninya hidup dengan harmonis dan damai. Tidak pernah terjadi perselisihan diantara mereka dan semua penghuni hidup bahagia.

Biara 2, sebaliknya, bagaikan menyimpan api dalam sekam, yang tertiup angin sedikit saja akan berkobar. Hampir setiap hari ada saja penghuninya yang berselisih pendapat dan rebut. Kehidupan di sana sungguh tidak harmonis.

Periksalah kembali persahabatan yang pernah anda rajut. Apakah masih terbentang disana? Atau anda telah melupakan-nya jauh sebelum ini. Bekerja keras dan meniti jalan karier bukan berarti memisahkan anda dari persahabatan.

Beberapa orang mengatakan bahwa menjadi pemimpin itu berteman sepi; selalu mengerjakan apapun sendiri. Memang pohon yang menjulang tingi berdiri sendiri. Perdu yang rendah tumbuh bersemak-semak. Demikianlah hidup yang ingin anda jalani, bukan?

Jangan kacaukan karier dengan kehidupan yang semestinya.

Suatu pagi hari yang buta, terlihat seorang pemuda dengan tas di punggungnya tengah berjalan dengan tujuan mendaki ke puncak gunung yang terkenal. Konon kabarnya, di puncak gunung itu terdapat pemandangan yang sangat indah.

Ketika sampai di lereng gunung, terlihat sebuah rumah kecil yang dihuni oleh seorang kakek tua. Setelah menyapa pemilik rumah, si pemuda segera mengutarakan maksudnya. “Kek, saya ingin mendaki gunung ini. Tolong tunjukkan jalur yang paling mudah untuk mencapai ke puncak gunung.”

Si kakek dengan enggan mengangkat tangan dan menunjukkan tiga jari ke hadapan si pemuda, “Ada tiga jalan untuk menuju puncak gunung ini. Kamu bisa memilih sebelah kiri, tengah, atau sebelah kanan.”

Seorang profesor di undag untuk bericara di sebuah basis militer. Di sana ia bertemu seorang prajurit yang tak akan pernah di lupakannya, bernama Harry.

Harry yang di kirim untuk menjemput professor di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan koper.

Ketika berjalan keluar, Harry sering menghilang. Banyak hal yang di lakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopernya jatuh.

Ada seorang anak muda, dia kuliah di kampus top, jurusan paling top, dan lulus sebagai lulusan paling top pula.

10 tahun berlalu, saat teman-temannya menyangka anak muda ini akan kerja di Amerika, atau Eropa sana, menjadi eksekutif perusahaan raksasa, dengan gaji super tinggi, ternyata tidak. Anak muda ini memilih mengabdikan hidupnya di pedalaman sana, menjadi guru.

Aduh rugi sekali. Buat apa dong nilai Matematika-nya yang selalu seratus? Buat apa dong dia menguasai 4 bahasa asing? Buat apa semua pendidikan tersebut jika hanya kerja di pedalaman sana, di tengah hutan, bersama anak-anak kampung? Rugi!