Lakukan apa yang kita cintai, dan cintailah apa yang kita lakukan. Dengan semangat itu, kita akan menjadi pejuang sejati yang mampu menghadapi segala rintangan.

Ketika kita kecil, remaja, hingga, dewasa, barangkali ada sebagian di antara kita yang sudah merasa mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi, ada juga kalanya, kita justru merasa belum mendapat apa yang diidam-idamkan. Tentu, apa pun yang telah kita dapat saat ini, harus tetap disyukuri. Sebab, dengan cara itulah, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan, yakni kebahagiaan sejati.

Namun, jika masih merasa belum menemukan hal apa yang sesuai dengan keinginan dalam diri, teruslah mencari. Seperti kata mendiang Steve Jobs, sang pendiri Apple Inc, yang menganjurkan untuk selalu mencari dan mencari, apa yang sesuai dengan kata hati.

Siapa yang hidup di dunia ini yang tidak bergantung pada waktu? Tidak ada kan? Setiap makhluk hidup harus berjalan di koridor WAKTU. Ada waktu di mana kita sukses dan ada waktu kita gagal, ada waktu senang ada juga waktu yang membuat kita sedih. Semuanya akan terus bergulir & akan kita tinggalkan.

Di Indonesia, waktu merupakan ukuran atau gambaran "saat/moment" yang sama, untuk menggambarkan saat baik maupun saat buruk. Begitu juga bahasa Inggris "TIME" atau pun bahasa Mandarin 时间 (shíjiān) atau bahasa-bahasa lainnya. Waktu ya waktu, tidak ada perbedaannya. Namun, di bahasa Yunani kata ”waktu” itu ada 2 makna yaitu:

Sepertinya mudah. Tapi, janji adalah hal yang harus benar-benar ditepati. Sekali diucapkan, dan kemudian dilaksanakan, janji akan meningkatkan kepercayaan. Ujungnya, akan berhasil meningkatkan penjualan.

Tak jarang kita menemui kekecewaan saat membeli sebuah produk yang tak sesuai dengan yang dipromosikan atau diiklankan. Akibatnya, sebagai konsumen kita akan merasa kecewa. Mungkin kalau sekadar kecewa, bisa diatasi segera. Yang jadi masalah, jika kemudian kekecewaannya menjalar kepada yang lain, bahkan bagi yang belum pernah membeli atau berhubungan dengan produk tersebut.

Alam diciptakan untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya dengan kebijakan untuk mendatangkan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Mineral yang terkandung dalam bumi yang mampu mendatangkan kekayaan, tumbuhan dan hewan yang dimakan menjadi sumber energi, hingga angin dan air yang bisa mendatangkan tenaga untuk energi listrik yang menerangi dunia. Semua itu jika dikelola dengan benar, akan mendatangkan segala manfaat yang diperlukan untuk semua pihak.

Tetapi sebaliknya, jika tak dikelola dengan bijak—bahkan dijalankan dengan sikap tamak dan rakus—alam pun bisa jadi “murka”. Pohon yang ditebangi sembarangan tanpa ditanami lagi, bisa mengikis tanah sehingga banjir pun tak terhindarkan. Sumber mineral di bumi yang dikelola tanpa memedulikan lingkungan, mendatangkan banyak petaka yang akhirnya sering merugikan.

Semua makhluk hidup mengalami siklus dari lahir, tumbuh, dewasa, hingga mati.  Yang membedakan satu dengan yang lainnya adalah bagaimana mereka tumbuh. Ada yang sekadar tumbuh mengikuti hukum alam, ada yang tumbuh dengan ambisi, ada pula yang tumbuh dengan membawa kebaikan bagi makhluk lainnya.

Yang pasti, semua mengandung makna, apa pun kontribusi yang diberikan. Bahkan, sekadar rumput yang bergoyang pun menjadi “nadi” kehidupan bagi makhluk pemakan tumbuhan seperti kuda atau sapi. Dan, sebagai manusia, di sinilah esensi yang harus kita gali. Bagaimana kita tumbuh, dewasa, berkembang, hingga menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan peran kita dalam kehidupan.

Dalam kesempitan, tersembunyi kesempatan. Sebuah ungkapan senada diungkap oleh ilmuwan ternama, Albert Einstein, “In the middle of difficulties, lying opportunities.” Hal ini sebenarnya cukup banyak kita jumpai di mana-mana. Orang yang tadinya terimpit masalah, belakangan malah mendapat banyak berkah. Orang yang tadinya biasa-biasa bahkan cenderung minus, malah menemukan banyak hal yang mampu membuatnya melaju terus.

Sayangnya, selalu saja banyak orang masih bertanya. Bahkan, lebih banyak yang ragu. Benarkah setelah banyak kesulitan benar-benar akan muncul kemudahan? Atau, ekstremnya, malah banyak yang mengatakan, seberapa tahan kita dalam menghadapi cobaan dan tantangan, sebelum benar-benar bisa menuai keberhasilan? Dan, berdasar pengalaman yang telah saya alami, di sinilah sebenarnya letak pembeda antara orang-orang yang sukses dengan orang yang gagal. Mereka yang sukses, mereka yang berani terus melaju, mereka yang tetap berjuang, mereka yang pantang menyerah, pada akhirnya benar-benar menuai hasil seperti yang didambakan.