Alkisah, dalam sebuah kesempatan, seorang perajin karya tradisional mengikuti sebuah ajang pameran. Untuk mengikuti pameran itu, karena harus datang ke kota dari desanya yang cukup jauh, ia harus benar-benar menguras tabungannya. Tapi, semua itu dilakukan dengan keyakinan, bahwa pameran yang biasanya didatangi oleh banyak orang akan membuat produk kerajinannya diborong pembeli.

Selama ini, ia memang hidup dari menjual kerajinan di desanya. Untuk itu, ia hidup pas-pasan karena hanya mengandalkan pembeli yang datang tak pasti. Karena itu, begitu mendengar ada kesempatan ikut pameran di kota, ia nekat. Semua hasil kerajinannya dibawa ke kota dengan harapan akan mengubah nasib setelah ikut pameran.

Sehari dua hari mengikuti pameran, pengunjung hanya datang melihat karyanya. Namun ia terus saja menanamkan keyakinan, bahwa pasti akan ada pengunjung yang membeli produknya. Tetapi, hari berganti, hingga menjelang akhir pameran, produknya tidak laris terjual. Ia pun nyaris putus asa. Sebab, jika dalam pameran itu ia gagal, ia sudah berjuang habis-habisan.

Dalam kehidupan ini, tak ada satu pun proses yang kita lewati tanpa adanya perjuangan. Tak ada juga proses yang tanpa melalui hambatan dan rintangan.

Saat bayi, ketika hendak belajar berjalan, kita pasti tak sekali dua kali jatuh. Namun, selalu saja ada dorongan agar kita bangkit lagi dan akhirnya bisa berdiri, berjalan, dan bahkan berlari. Kemudian, saat menjadi anak-anak hingga remaja, sudah pasti pula kita menghadapi berbagai macam tantangan, mulai dari urusan sekolah hingga pergaulan. Begitu pula saat menginjak dewasa dan mulai bekerja atau berbisnis. Sangat banyak halangan dan rintangan yang kita alami. Semua itu, menegaskan bahwa kita memang hidup dalam dunia yang penuh pembelajaran. Hanya mereka yang mampu melewati ujian dan cobaan dengan sikap pantang menyerahlah yang akan jadi sang pemenang.

Hal ini sejalan dengan pepatah bijak dalam judul artikel ini. Maknanya, untuk mencapai keberhasilan dalam segala bidang, sikap pantang menyerah harus diutamakan. Sikap pantang menyerah ini menjadi “pintu terakhir” sebelum membuka pintu kesuksesan sebenarnya. Karena itu, hal ini juga bisa dimaknai bahwa untuk meraih sukses, kita tak boleh melepas semangat juang.

Saat ini, banyak orang yang mendambakan sukses. Tetapi, sayangnya, banyak juga yang ingin sukses secara instan dan melakukan segala cara untuk mencapai impian yang didamba. Akibatnya, sukses yang didapat pun tak cukup kokoh saat menghadapi terjangan badai kehidupan.

Sejatinya, semua pasti berproses dan perlu waktu. Layaknya manusia yang lahir tidak bisa langsung jalan. Dan, saat bisa jalan, tidak bisa pula langsung berlari. Ini sejalan dengan pengertian yang terdapat dalam judul artikel ini.

Jika ada suatu prestasi yang sepertinya didapat secepat kilat, saya yakin pasti di balik itu ada proses dan perjuangan berat, yang barangkali tidak kita ketahui. Seperti kisah miliarder muda dari usaha dunia maya—yang belakangan sering jadi inspirasi untuk mencapai kesuksesan banyak orang—mereka pun tak sehari dua hari membangun bisnisnya.

Ada orang yang mengatakan sebuah pernyataan sarkastis, namun kerap disetujui oleh banyak pihak. Kalimat tersebut adalah kalau yang tidak jujur saja susah dapatnya, apalagi dengan cara yang jujur? Sekilas, di tengah maraknya kasus korupsi yang kerap menghiasi berbagai media belakangan ini, kalimat tersebut terasa menyentak akal sehat.

Tapi, apakah kemudian kejujuran telah demikian mahalnya untuk menjalankan sebuah bisnis? Saya sendiri berpendapat, bahwa bekerja, berkarya, dan berusaha harus berdasarkan prinsip baik, benar, dan jujur. Puluhan tahun menjadi pengusaha di beberapa bidang, saya merasakan, dengan prinsip itulah, saya lebih merasa nyaman dan tenang.

Ada satu ungkapan kuno yang saya letakkan dalam judul artikel ini, 诚心诚意 - cheng xin cheng yi. Meski makin “langka”, jujur adalah salah satu bentuk “cerdas hidup” yang pada akhirnya akan memuaskan semua pihak. Dan, sebagaimana usaha-usaha yang terus berkembang dan bertahan sekian lama, kunci utama “memuaskan pelanggan”—salah satunya dengan kejujuran—masih menjadi kekuatan yang dapat memajukan perusahaan.

Sukses kemarin tak berarti sukses hari ini. Butuh perjuangan dan kesadaran, bahwa zaman terus berubah. Sehingga, kewaspadaan ekstra di hari inilah yang akan membuat usaha maju selamanya.

Sayangnya, ada beberapa orang/pihak yang kadang tidak menyadari hal ini. Perubahan dianggap sebagai sebuah hal yang biasa. Sehingga, kewaspadaan pun jadi hal bukan menjadi perhatian utama.

Karena itu, tak jarang kita menemukan berbagai produk yang di masa lalu sangat berjaya, kini seolah hanya tinggal nama. Sebut saja merek Odol, yang kini hanya jadi sebutan untuk pasta gigi. Padahal, pada zaman dulu, merek itu sangat ternama. Ingat juga merek sepeda Federal? Model sepeda gunung yang sempat berjaya di era 80-90-an. Namun, kini, model dengan nama itu seolah menghilang entah ke mana.

Kalau boleh memilih, pasti pengusaha menginginkan perusahaan yang dikelolanya selalu untung, selalu meraih hasil sesuai harapan, selalu mendapatkan keberhasilan. Akan tetapi, kenyataannya, hampir semua usaha—bahkan termasuk yang kelihatannya mulus-mulus saja—pasti pernah mengalami berbagai ujian dan cobaan. Bangkrut, ditipu, gangguan kondisi ekonomi negara, hingga aneka macam pengalaman buruk pasti pernah dialami.

Saya kira, dari sekian banyak kejadian kurang menyenangkan, pasti banyak pembelajaran yang bisa dipetik. Sehingga, akhirnya banyak hal yang justru jadi “pegangan” sehingga ke depan mampu meraih berbagai keunggulan. Tak jarang, malah ada perusahaan yang—konon—membiarkan pegawainya berbuat salah, agar belajar bertanggung jawab. Ujungnya, selain lebih berani mengambil risiko, banyak peluang yang bisa dikerjakan tanpa rasa takut, sehingga perusahaan berkembang luar biasa.

Saya ingin membahas satu pemahaman yang luar biasa dari Negeri Tiongkok, yang ada dalam judul artikel ini. Yaitu 良 藥 苦 口 Liáng yào kǔ kǒu. Kalau ditelaah lebih jauh, memang kesalahan sangat pahit dan menyakitkan, apalagi sampai mengarah pada kebangkrutan. Namun bagi yang sadar “hukum perubahan”, mereka justru akan bersyukur seraya belajar, hingga dari pelajaran tersebut mereka akan meraih kesuksesan.