Alam diciptakan untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya dengan kebijakan untuk mendatangkan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Mineral yang terkandung dalam bumi yang mampu mendatangkan kekayaan, tumbuhan dan hewan yang dimakan menjadi sumber energi, hingga angin dan air yang bisa mendatangkan tenaga untuk energi listrik yang menerangi dunia. Semua itu jika dikelola dengan benar, akan mendatangkan segala manfaat yang diperlukan untuk semua pihak.

Tetapi sebaliknya, jika tak dikelola dengan bijak—bahkan dijalankan dengan sikap tamak dan rakus—alam pun bisa jadi “murka”. Pohon yang ditebangi sembarangan tanpa ditanami lagi, bisa mengikis tanah sehingga banjir pun tak terhindarkan. Sumber mineral di bumi yang dikelola tanpa memedulikan lingkungan, mendatangkan banyak petaka yang akhirnya sering merugikan.

Karena itu, sudah selayaknya, kita menjadikan alam bukan sebagai hal yang harus dieksploitasi dengan kerakusan. Tapi, kita harus menjadikan alam sebagai “sahabat” yang harus juga dipelihara, dilindungi, dilestarikan, dan dijaga keberadaannya.

Hal yang sama juga bisa kita analogikan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni, dalam kehidupan bersosialisasi, kita harus mampu menjadi insan yang dapat menjaga hubungan dengan orang lain. Sebab, ada kalanya, seseorang—apalagi yang memiliki kekuasaan—bisa mendatangkan kebaikan. Begitu pun sebaliknya, dengan kekuasaan itu pula, ia bisa menghadirkan—atau justru mendapat—“petaka” dalam berbagai bentuk yang bisa menjatuhkan dirinya. Karena itu, kita harus pula pandai-pandai mengatur hubungan agar bisa saling mendatangkan kebaikan dan keberkahan.

Ilustrasi tersebut sejalan dengan sebuah pepatah bijak dalam judul tulisan ini. Pepatah tersebut bisa dianalogikan dengan pisau bermata ganda. Di tangan orang yang benar—dan dengan perlakuan yang benar—ia akan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sebaliknya, jika digunakan dengan cara yang salah, pisau bisa berbahaya.

Pengertian tersebut mengajarkan kepada kita untuk hidup berimbang. Yakni, selalu mengutamakan kebaikan, jika tidak ingin mendapat celaka. Namun, di sisi lain, juga harus selalu waspada agar tidak “tergelincir” dalam berbagai persoalan yang mendera.

Dalam sebuah kisah disebutkan, ada dua orang saudagar kaya. Mereka mempunyai banyak anak buah yang membantu semua pekerjaannya. Namun, meski sama-sama sukses, perangai mereka sungguh berbeda. Saudagar yang satu sangat baik dengan anak buah dan lingkungan sekitarnya. Ia rajin berderma dan banyak berbuat kebaikan. Sedangkan saudagar yang kedua, karena merasa sangat kaya dan tak ada yang bakal menjatuhkannya, ia pun menjadi jumawa dan sombong. Perlakuannya pada orang lain sungguh tak mengenakkan hati. Ia sering menyepelekan orang lain dan tak jarang berlaku semena-mena pada anak buahnya.

Suatu ketika, musim kemarau panjang tiba. Udara sangat panas dan kering. Daun pun menguning dan berguguran. Tanah pun bahkan merekah karena kekurangan air dan tak pernah tersiram hujan. Suatu kali, saking keringnya, sebuah deretan semak terbakar tanpa sengaja. Namun, karena ditiup angin dan kondisi yang serba kering, api yang tadinya kecil dan hanya membakar semak, dengan cepat segera menjadi api besar yang menjalar ke mana-mana. Akhirnya, terjadilah kebakaran hebat yang melanda seluruh kota. Hingga, semua penduduk pun akhirnya harus mengungsi karena semuanya habis tak terkira saking buasnya api yang menghabiskan harta benda hampir tak bersisa. Begitu juga dengan kedua saudagar kaya tadi. Mereka yang tadinya berlimpah ruah, tiba-tiba semua harta lenyap ditelan amukan api.

Perlu sebulan lebih untuk memadamkan semua api tersebut. Dan, saat padam, semua lenyap tak berbekas. Beruntung, karena kebaikan hati yang sering ditunjukkan oleh saudagar yang satu, ia pun banyak dibantu oleh orang-orang di sekelilingnya. Mereka saling membantu satu sama lain untuk kembali membangun daerahnya. Sebaliknya, karena kesombongan dan keangkuhannya, sang saudagar yang kedua tak bisa apa-apa. Karena semua harta benda tak bersisa, ia pun tak bisa membeli apa pun. Untuk membayar gaji yang biasa ia bayarkan untuk pekerja yang membantunya, ia tak lagi mempunyainya. Karena itu, ia kini sendirian, tak ada yang mau membantunya.

The Cup of Wisdom

Inti dari kisah ini adalah kekayaan—juga seperti alam—bisa bermanfaat banyak jika digunakan dengan cara yang benar dan bijak. Mari berbagi kebaikan dan selalu berusaha bersikap dan berperilaku positif, sehingga “air” di sekeliling kita, akan selalu “mengapungkan” kita dan sesama, agar mampu memperoleh kebahagiaan bersama.

Salam Sukses Luar Biasa!

SUmber: http://www.andriewongso.com