Ada dua buah benda yang bersahabat karib yaitu besi dan air.

Besi seringkali berbangga akan dirinya sendiri.

Ia sering menyombong kepada sahabatnya : “Lihat ini aku, aku kuat dan keras. aku tidak seperti kamu yang lemah dan lunak.” Air hanya diam saja mendengar tingkah sahabatnya.

Suatu hari besi menantang air berlomba untuk menenembus suatu gua dan mengatasi segala rintangan yang ada di sana.

Aturannya : “Barang siapa dapat melewati gua itu dengan selamat tanpa terluka maka ia dinyatakan menang.”

Rintangan pertama mereka ialah mereka harus melalui penjaga gua itu yaitu batu-batu yang keras dan tajam.

Alkisah, setelah selesai makan siang bersama, seorang pemuda bersama seorang teman kantornya berjalan santai menyusuri jalanan. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, seorang perempuan tua berpakaian sederhana menghampiri mereka sambil menenteng beberapa kantong plastik berisi sayuran.

“Maaf Tuan, mau beli sayuran ini? Saya sendiri yang menanam dan memetiknya,” kata si nenek penuh harap, sambil tangan keriputnya mengulurkan beberapa kantong plastik berisi sayur mayur. Setelah menatap si nenek sebentar, tanpa basa-basi, teman pemuda itu langsung mengeluarkan dompet dan membayarnya. Tiga kantong plastik sayuran pun berpindah tangan.

“Terima kasih Tuan, semoga Tuan diberi kelancaran dalam rezeki,” dengan suara bergetar terharu si nenek menggenggam erat uang jualannya.

Setelah nenek itu berlalu, si pemuda bertanya keheranan kepada kawannya, “Kamu benar-benar mau makan sayur ini…? Kamu lihat sendiri kan, sayur itu sudah layu dan mulai kuning. Ada ulatnya, lagi…”

Dikisahkan, pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island. Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya. Mereka mengganggap proyek itu adalah ide yang paling gila dan tidak mungkin diwujudkan pada zaman itu. Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Maka, ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu, diiringi pandangan sinis orang-orang di sekitar.

Ketika proyek itu baru berjalan beberapa bulan, terjadi kecelakaan yang fatal. Sayangnya, karena pertolongan yang terlambat, John Roebling tidak bisa diselamatkan. Sedangkan Washington, walaupun nyawanya selamat, tetapi mengalami cedera parah pada kepalanya yang mempengaruhi motoriknya. Washington menjadi lumpuh dan tidak mampu berbicara. Namun demikian, impaian ayahnya tentang jembatan tidak pernah padam dalam pikirannya.

Alkisah di sebuah lepas pantai, beberapa ekor kerang kecil sedang bermain-main diterjang ombak pantai yang terlihat tenang. Namun, dalam sebuah sapuan ombak yang tiba-tiba datang, satu buah kerang tiba-tiba menjerit kesakitan. Rupanya, ombak yang menerjangnya membawa pasir laut yang tajam masuk ke dalam tubuh di cangkangnya.

Kerang kecil itu pun mengadu pada ibunya. Sambil terus menangis, ia berkata pada ibunya, “Tolong aku, Ibu. Pasir tajam ini benar-benar menyiksaku. Tolong keluarkan benda kecil ini dari dalam tubuhku. Aku ingin kembali bebas bermain-main dengan kawan-kawanku.”

Sang ibu merasa kasihan. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya nasihat yang mampu diucapkannya. “Anakku, kita ini terlahir tanpa tangan. Jadi, terima saja pasir yang masuk ke dalam tubuhmu. Coba tahan rasa sakit itu. Ibu tahu, itu tentu sangat menyakitkan. Tetaplah semangat dalam melawan rasa pedih yang pasti bakal menyiksamu. Untuk mengurangi rasa sakit itu, balutlah pasir itu dengan getah lembut yang keluar dari dalam tubuhmu. Hanya itu satu-satunya jalan yang bisa kamu lakukan saat ini,” hibur ibu kerang sembari terus mencoba menenangkan anaknya.

Pernah mengatakan hal semacam ini? “Wah.. pas banget ya.” Atau, “Kebetulan sekali… kok pas banget ya waktunya.” Jika pernah mengatakan hal tersebut, apa yang kita rasakan? Pastinya lega, senang, dan bahagia. Sebab, hal yang menyenangkan datang tepat pada waktunya. Pertanyaannya, tepat waktunya itu sebenarnya kapan terjadinya? Dan, apakah hal yang terasa pas itu bisa kita “ulang” kejadiannya?

Banyak orang mengatakan, faktor keberuntungan dan kebetulan adalah hal yang tak diduga-duga. Sebagian menyebut itu adalah “bakat”. Namun sebenarnya, keberuntungan adalah hal yang lumrah dan bisa dialami oleh siapa saja. Sebab, hampir semua orang pasti pernah merasakan seperti ungkapan kalimat di atas. Setidaknya, sekali—dan mungkin malah berkali-kali hingga lupa—merasakan sesuatu pas dengan yang diinginkan. Lalu, “menyimpulkan” hal tersebut sebagai kebetulan atau keberuntungan.

Kembali ke pertanyaan semula, lalu kapan sebenarnya hal tersebut terjadi? Dan, bagaimana kita bisa “mengulanginya”?

Alkisah, ada seorang pemuda tampak mendatangi seorang tua bijak yang tinggal di sebuah desa yang begitu damai. Setelah menyapa dengan santun, si pemuda menyampaikan maksud dan tujuannya. “Paman, saya menempuh perjalanan jauh ini sesungguhnya untuk menemukan jawaban, bagaimana caranya membuat diri sendiri selalu gembira dan bahagia serta sekaligus bisa membuat orang lain selalu gembira?”

Sesaat, si paman menatap sambil menilai kesungguhan raut wajah rupawan di hadapannya. ”Anak muda, terus terang paman terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Seusiamu punya keinginan begitu, sungguh tidak biasa. Baiklah, untuk memenuhi keinginanmu agar kamu bisa selalu gembira dan membuat orang lain juga gembira, maka paman akan memberimu empat kalimat,” kata si paman.

”Pertama, anggap dirimu sendiri seperti orang lain! Kamu mengerti kalimat pertama ini?”