“Setiap pria dan wanita yang sukses, adalah para pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (Brian Tracy)

Apakah Anda selalu memimpikan sebuah kehidupan lain yang lebih dari sekadar keadaan Anda saat ini? Apakah Anda sering merasa bosan dengan hal-hal lama yang nyaris sama dalam kehidupan Anda sehari-hari? Apakah Anda ingin menjalani hidup seperti yang Anda inginkan, atau kehidupan orang lain yang dipetakan untuk Anda?

Jika Anda ingin mengubah situasi saat ini, Anda perlu mengetahui bagaimana cara berpikir besar. Ini bukan hanya soal ide-ide aneh yang gila atau solusi yang ekstrim, melainkan, berpikir tentang kehidupan Anda sebagai sesuatu yang lebih besar daripada apa yang ada sekarang.

Sebagai manusia normal, kita semua pasti pernah mengalami saat-saat yang menyenangkan, penuh harapan dan keyakinan, percaya diri. Namun ada juga saat-saat kita mengalami masa yang tidak menyenangkan, sepertinya tidak ada harapan lagi, kita kehilangan pegangan dan percaya diri. Semua itu normal karena manusia memiliki emosi atau perasaan. Perasaan inilah yang naik turun. Emosi kita berubah-ubah.

Seorang teman pernah berkata, ”Saya kok merasa kosong, tidak ada harapan. Dari dulu begini-begini saja.” Saya jawab, ”Itu kan hanya perasaan. Perasaan itu naik turun. Besok kalau ada kejadian yang menggembirakan, perasaan kamu akan berubah."

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadikan hidup lebih baik. Selagi masih di awal tahun, kita perlu selalu diingatkan, jika rencana tak segera diikuti dengan tindakan, bisa jadi selamanya hanya akan berujung pada khayalan. Bagaimana jika keadaan masih belum sesuai dengan harapan? Yakinlah dengan usaha yang konsisten, pelan tapi pasti, impian akan jadi kenyataan.

Berikut enam hal yang menurut Stephen Covey, penulis buku megabestseller, 7 Habits of Highly Effective People, akan membuat bulan-bulan ke depan akan semakin cemerlang dan menjadikan hidup lebih terarah.

Saya tidak pernah bisa mengetik sepuluh jari. Satu-satunya kesempatan di mana saya belajar mengetik adalah saat duduk di kelas 3 SMU, di mana syarat kelulusan mutlak adalah mengantongi sedikitnya SATU dari dua ijazah ujian nasional: Akuntansi dan Mengetik.

Sebagai pembenci angka sejati, saya mengandalkan kelulusan pada ijazah mengetik, yang sialnya, sama sekali tidak saya kuasai. Alhasil, selama 3 jam setiap minggu, di ruangan sumpek di sudut gedung sekolah, saya berkutat dengan mesin tik butut yang huruf-hurufnya ditempeli stiker hitam, merelakan mata saya ditutup dengan kain buluk dan belajar menghafal letak huruf di bawah ancaman hukuman. Jangan tanya kenapa. Itulah metode mengajar guru saya yang terbukti efektif membuat kami lulus hanya dengan persiapan selama 6 bulan, walau tentu saja, sebagai efek sampingnya kami membenci beliau setengah mati.

Membaca setumpuk buku tentu akan membuat jendela ilmu seseorang bertambah luas. Tapi ternyata kesuksesan seseorang tidak selalu tergantung pada banyaknya buku yang mereka baca.

Kesuksesan seseorang lebih pada kemampuan mereka mengaplikasikan ilmu membaca mereka pada kehidupan yang sesungguhnya sedang mereka jalani. Serta, bagaimana menjadikan ilmu baru dari bacaan mereka untuk membentuk karakter yang lebih kuat. Dan, “membaca” diri sendiri—dalam artian memahami diri sendiri—adalah salah satu kunci sukses agar lebih mampu menjadi pribadi yang tangguh.

Banyak sosok besar lahir dan mampu bertahan dengan kebesaran mereka karena mereka mampu melakukan satu hal. Mereka mengasah kemampuan untuk membaca diri mereka lebih dahulu sebelum terjun langsung untuk memahami lingkungan mereka. Lantas, bagaimana “membaca” diri sendiri bisa menjadi sarana pendidikan penting untuk membangun karakter dan masa depan seseorang? Berikut beberapa hal yang bisa kita mulai untuk menjadi “pembaca” yang baik…

“Sepanjang waktu ini kupikir aku sedang belajar untuk hidup, padahal sesungguhnya aku belajar untuk mati,” ungkap Leonardo Da Vinci (1452-1519).

Ucapan dari “jeniusnya para jenius” tersebut—serta judul di atas—tak hendak bertujuan menyebarkan rasa takut, pesimis atau tiadanya harapan. Akan tetapi sebaliknya, kesadaran bahwa kematian semakin mendekat, justru dapat mendorong kita untuk semakin menjalani hidup secara Iebih mendalam, sehingga kita dapat benar-benar merasakan hidup yang Iebih hidup.

Dua tahun setelah mengalami serangan jantung yang hampir merenggut nyawanya—Abraham Maslow (1908-1970), salah seorang psikolog terbesar pada Abad ke 20—menganggap kehidupannya pasca serangan jantung tersebut sebagai “kehidupan pasca-kematian”, yang membuatnya menjalani hidup di tahun-tahun berikutnya sebagai bonus, atau berkat ekstra yang sangat ia syukuri.