Orang benar, tidak akan berpikiran bahwa ia adalah yang paling benar. Sebaliknya orang yang merasa benar, di dalam pikirannya hanya dirinya yang paling benar.

Orang benar, bisa menyadari kesalahannya. Sedangkan orang yang merasa benar, merasa tidak perlu untuk mengaku salah.

Orang benar, setiap saat akan introspeksi diri dan bersikap rendah hati. Tetapi orang yang merasa benar, merasa tidak perlu berintrospeksi. Karena merasa sudah benar, mereka cenderung tinggi hati.

Orang benar memiliki kelembutan hati. Ia dapat menerima masukan/kritikan dari siapa saja. Bahkan dari anak kecil sekalipun. Orang yang merasa benar, hatinya keras. Ia sulit untuk menerima nasihat,masukan apalagi kritikan.

Direndahkan, disepelekan, dianggap tidak memiliki kemampuan kerap membuat kita merasa bahwa kita memang rendah. Bahwa kita memang tidak ada artinya. Kita tidak melihat peluang lain ketika kita direndahkan. Kita merasa bahwa situasi seperti itu tidak bisa dirubah lagi. Padahal yang terjadi sesungguhnya, situasi seperti itu hadir karena konsep diri kita sendiri yang memang rendah, tidak yakin akan diri sendiri yang akhirnya muncul ke permukaan dan terlihat oleh orang lain.

Konsep diri kita sendiri adalah pandangan dan persepsi kita tentang diri kita sendiri. Konsep diri kita yang rendah akan membuat kita terlihat rendah di mata orang lain. Celah untuk mengambil hal positif bisa kita lakukan ketika itu terjadi. Mengambil hal positif akan membuat konsep diri kita menjadi positif dan akhirnya orang lain menganggap apa yang mereka lakukan salah. Beberapa hal ini bisa menjadi alternatif yang bisa kita pahami kita direndahkan orang lain.

Banyak orang bertanya kepada para motivator. Pertanyaan yang paling sering adalah, ”Apakah seorang motivator tidak pernah sedih? Tidak pernah takut? Tidak pernah ‘down’? Tidak pernah gagal?” Kira-kira apa jawabannya? “Pernah” dan “Pasti Pernah”.
Apakah jawaban itu mengecewakan? Bukankah jawaban itu menunjukkan bahwa kita semua adalah manusia normal? Bukankah pertanyaan itu sama seperti pertanyaan berikut: Apakah seorang dokter pernah sakit? Masa dokter bisa sakit? Untunglah dokter juga manusia biasa yang normal sehingga sebagai manusia dia juga bisa sakit.
Bagi saya, yang penting bukan ‘apakah seseorang pernah jatuh’, tapi ‘apakah dia bangun lagi ketika jatuh’. Tak seorangpun pernah menghitung berapa kali kita dulu jatuh ketika masih belajar berjalan. Tak ada orangtua yang mencatat berapa kali anaknya jatuh ketika belajar berjalan. Tapi semua orangtua sangat senang ketika anaknya sudah bisa berjalan.

Mantan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, punya kata-kata mutiara yang abadi: A pessimist sees the difficulty in every opportunity, an optimist sees the opportunity in every difficulty. Seorang pesimis melihat kesulitan di setiap kesempatan, seorang optimis melihat kesempatan di setiap kesulitan. Tak ada yang berbeda dari objek yang dihadapi si pesimis dan optimis. Yang ada hanyalah cara pandang yang berlainan. Si optimis memandangnya dengan pikiran positif sedangkan si pesimis dengan pikiran negatif.

Memiliki positive thinking memang harus dibiasakan dan dilatih terus-menerus agar suatu saat kelak akan tumbuh menjadi karakter. Tetapi bagaimana menumbuhkan kebiasaan ini? Kiat berikut bisa berguna.

Alkisah, suatu hari, seorang pemuda datang menghadap, minta dicarikan pekerjaan. Dan terjadilah percakapan sebagai berikut..

"Oke saya coba bantu, apa pekerjaan yang Anda inginkan?"
"Apa saja deh Pak, yang penting kerja.."

"Kalau begitu, mungkin saya bisa minta kolega saya untuk interview kamu, buat jadi sales di tempat kerjanya."
"Waduh, kalau bisa jangan yang suruh jualan, saya enggak terlalu suka jualan."

"Oh begitu yah. Hmm oke sebentar, saya coba telepon teman saya di Jakarta." Setelah menghubungi teman saya, saya pun memberitahu yang bersangkutan.

Di dalam proses kehidupan kita sebagai manusia, lebih-lebih bagi kita yang hidup di masyarakat luas dan yang sedang berjuang keras dalam menciptakan kualitas kehidupan yang lebih baik, sering kali dalam berhubungan dengan orang lain, kita menemui perlakuan baik/buruk. Sikap-sikap demikian adalah hal yang sangat wajar dan alamiah sekali yang dapat terjadi pada hubungan antar munusia bagi siapa saja, kapan dan dimanapun kita berada.

Namun bila kita sadar sebagai manusia yang mempunyai pikiran sehat, seharusnya dapat membedakan sikap yang positif dan negatif, atau sikap mana yang perlu dipertahankan, dipelihara dan dikembangkan terus menerus.

Sebagai manusia yang dapat mengerti, menyadari dan dapat berpikir jernih, jelas kita harus bisa memilih dan berani menentukan sikap, untuk tetap mengembangkan diri semaksimal mungkin, untuk menjadi lebih baik dan positif lagi.