Membaca setumpuk buku tentu akan membuat jendela ilmu seseorang bertambah luas. Tapi ternyata kesuksesan seseorang tidak selalu tergantung pada banyaknya buku yang mereka baca.
Kesuksesan seseorang lebih pada kemampuan mereka mengaplikasikan ilmu membaca mereka pada kehidupan yang sesungguhnya sedang mereka jalani. Serta, bagaimana menjadikan ilmu baru dari bacaan mereka untuk membentuk karakter yang lebih kuat. Dan, “membaca” diri sendiri—dalam artian memahami diri sendiri—adalah salah satu kunci sukses agar lebih mampu menjadi pribadi yang tangguh.
Banyak sosok besar lahir dan mampu bertahan dengan kebesaran mereka karena mereka mampu melakukan satu hal. Mereka mengasah kemampuan untuk membaca diri mereka lebih dahulu sebelum terjun langsung untuk memahami lingkungan mereka. Lantas, bagaimana “membaca” diri sendiri bisa menjadi sarana pendidikan penting untuk membangun karakter dan masa depan seseorang? Berikut beberapa hal yang bisa kita mulai untuk menjadi “pembaca” yang baik…
“Sepanjang waktu ini kupikir aku sedang belajar untuk hidup, padahal sesungguhnya aku belajar untuk mati,” ungkap Leonardo Da Vinci (1452-1519).
Ucapan dari “jeniusnya para jenius” tersebut—serta judul di atas—tak hendak bertujuan menyebarkan rasa takut, pesimis atau tiadanya harapan. Akan tetapi sebaliknya, kesadaran bahwa kematian semakin mendekat, justru dapat mendorong kita untuk semakin menjalani hidup secara Iebih mendalam, sehingga kita dapat benar-benar merasakan hidup yang Iebih hidup.
Dua tahun setelah mengalami serangan jantung yang hampir merenggut nyawanya—Abraham Maslow (1908-1970), salah seorang psikolog terbesar pada Abad ke 20—menganggap kehidupannya pasca serangan jantung tersebut sebagai “kehidupan pasca-kematian”, yang membuatnya menjalani hidup di tahun-tahun berikutnya sebagai bonus, atau berkat ekstra yang sangat ia syukuri.
Sebagai manusia normal, kita semua pasti pernah mengalami saat-saat yang menyenangkan, penuh harapan dan keyakinan, percaya diri. Namun ada juga saat-saat kita mengalami masa yang tidak menyenangkan, sepertinya tidak ada harapan lagi, kita kehilangan pegangan dan percaya diri. Semua itu normal karena manusia memiliki emosi atau perasaan. Perasaan inilah yang naik turun. Emosi kita berubah-ubah.
Seorang teman pernah berkata, ”Saya kok merasa kosong, tidak ada harapan. Dari dulu begini-begini saja.” Saya jawab, ”Itu kan hanya perasaan. Perasaan itu naik turun. Besok kalau ada kejadian yang menggembirakan, perasaan kamu akan berubah."
Teman saya sangat senang membaca buku motivasi. Pernah secara bercanda ia berujar, “Bermimpilah selama mimpi itu masih gratis.” Teman saya seorang konsultan pajak memiliki versi lain. Ia bilang, “Bermimpilah mumpung mimpi belum dikenakan pajak.” Banyak sekali kata-kata motivasi yang berhubungan dengan mimpi. Ini untuk mendorong orang agar memiliki tujuan dalam hidupnya. Ajakan bermimpi ini ada yang bisa menafsirkannya dengan benar. Namun ada juga yang salah menafsirkan. Mereka yang memahami kata motivasi “bermimpi” pasti segera action untuk mewujudkan mimpinya. Yang salah menafsirkan akan segera menuju tempat tidur. Alasannya, bukankah untuk bisa bermimpi seseorang harus tidur?
Saya tidak pernah bisa mengetik sepuluh jari. Satu-satunya kesempatan di mana saya belajar mengetik adalah saat duduk di kelas 3 SMU, di mana syarat kelulusan mutlak adalah mengantongi sedikitnya SATU dari dua ijazah ujian nasional: Akuntansi dan Mengetik.
Sebagai pembenci angka sejati, saya mengandalkan kelulusan pada ijazah mengetik, yang sialnya, sama sekali tidak saya kuasai. Alhasil, selama 3 jam setiap minggu, di ruangan sumpek di sudut gedung sekolah, saya berkutat dengan mesin tik butut yang huruf-hurufnya ditempeli stiker hitam, merelakan mata saya ditutup dengan kain buluk dan belajar menghafal letak huruf di bawah ancaman hukuman. Jangan tanya kenapa. Itulah metode mengajar guru saya yang terbukti efektif membuat kami lulus hanya dengan persiapan selama 6 bulan, walau tentu saja, sebagai efek sampingnya kami membenci beliau setengah mati.
Setiap awal tahun, banyak orang berusaha meramalkan akan seperti apa tahun yang sedang mulai dijalani ini.
Apakah kita akan lebih sukses? Apakah akan ada perubahan yang lebih baik? Karir meningkat? Penghasilan semakin besar? Bisnis makin sukses? Penjualan meningkat tajam? Apakah malah akan gagal? Ataukah biasa-biasa saja? Tidak ada perubahan? Karir tetap? Penghasilan menurun? Bisnis gagal? Penjualan menurun tajam?
Mana yang kita pilih? Tergantung dari sisi mana kita memandang. Orang yang positif selalu memandang adanya kesempatan sehingga akan berusaha keras untuk mencapainya. Namun orang yang negatif sebaliknya hanya memandang hambatan yang mungkin terjadi sehingga merasa pesimis dan takut untuk maju.
Page 31 of 33




