Kinerja industri logam dan baja di Indonesia mengalami pertumbuhan. Hal ini sejalan dengan menurunnya kasus COVID-19 dan membaiknya kondisi perekonomian.

Pada kuartal I 2022, industri logam dasar tumbuh sebesar 7,90 % (yoy). Sementara pada kuartal pertama tahun 2021 tumbuh sebesar 7,71 % (yoy).

Direktur Industri Logam, Kementerian Perindustrian Liliek Widodo mengatakan, pertumbuhan ini sejalan dengan perbaikan-perbaikan kebijakan yang mengacu pada mekanisme smart supply-demand dengan pertimbangan teknis yang terukur sesuai ketentuan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 4 tahun 2021.

"Dampak positif dari kebijakan tersebut adalah pertumbuhan tahunan Industri logam dasar yang tinggi selama dua tahun terakhir, yaitu 11,46% pada 2020 dan 11,31% pada 2021. Sebaliknya, impor besi, baja, baja paduan, dan/atau produk turunannya yang berada dalam lingkup pengendalian atau larangan dan pembatasan (lartas) cenderung mengalami penurunan selama dua tahun terakhir," katanya dalam keterangannya, Kamis (12/5/2022).

Perusahaan asal Jepang diperkirakan berhasil meraup keuntungan dari bisnis yang dijalankan di Tanah Air sepanjang 2021.

Laporan berjudul "2021 JETRO Survey on Business Conditions of Japanese Companies Operating Overseas" menunjukkan sebanyak 63,4 persen perusahaan Jepang di Indonesia diperkirakan berhasil mencatatkan untung tahun lalu.

Pencapaian perusahaan Jepang di Indonesia hanya kalah dari Singapura dan Filipina. Perusahaan manufaktur asal Jepang di kedua negara itu diperkirakan meraup untung dengan persentase masing-masing 66,4 persen dan 65,5 persen.

Perusahaan Jepang di Tanah Air lebih moncer dibandingkan dengan Thailand. Persentase perkiraan keuntungan perusahaan manufaktur Jepang di negara itu pada 2021 adalah 62,6 persen.

Kementerian Perindustrian menyebut industri pengolahan masih memberikan kontribusi yang dominan terhadap nilai ekspor nasional, dengan capaian sebesar 74,46 persen sepanjang Januari-April 2022.

Selama empat bulan pertama tahun ini, kinerja pengapalan produk sektor manufaktur menembus hingga lebih dari US$69,59 miliar atau naik 29,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemerintah bertekad untuk konsisten melaksanakan program hilirisasi industri yang bertujuan meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri, di tengah harga komoditas yang kian menanjak. Sebab, selain memiliki andil dalam tumbuhnya kinerja ekspor nasional, percepatan hilirisasi sektor industri juga berdampak positif pada kesejahteraan rakyat.

“Hal ini menunjukkan bahwa upaya dan kebijakan dalam pemulihan ekonomi nasional yang dilakukan oleh pemerintah berjalan dengan baik di tengah menghadapi berbagai tantangan dari kondisi ekonomi global yang tidak menentu,” kata Menteri Perindustrian dalam keterangan tertulis, Rabu (18/5/2022).

Kinerja industri pengolahan nonmigas tercatat bertumbuh 5,47 persen pada kuartal I/2022. Pencapaian ini meningkat signifikan dibandingkan dengan periode tahun lalu yang sempat mengalami kontraksi 0,71 persen, didukung sejumlah subsektor.

Adapun subsektor yang menjadi penopang pertumbuhan kinerja industri pengolahan nonmigas selama kuartal I/2022 di antaranya industri alat angkutan yang tumbuh sebesar 14,20 persen, industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 12,45 persen, serta industri mesin dan perlengkapan sebesar 9,92 persen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, di tengah situasi ekonomi dan politik global yang penuh ketidakpastian, kinerja sektor industri manufaktur Indonesia kian membaik.

“Keseimbangan antara kebijakan kesehatan dan ekonomi kepercayaan diri para pelaku industri dan daya tahan untuk beradaptasi dalam masa pandemi ini, merupakan bentuk dari resiliensi yang kita lihat di sektor industri manufaktur di Indonesia,” ujar Menperin dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (11/5/2022).

Kementerian Perindustrian mendorong industri terus berkontribusi dalam menurunkan emisi karbon guna mendorong keseimbangan antara pertumbuhan sektor manufaktur dan kelestarian lingkungan.

Di tengah pertumbuhan positif sektor industri nonmigas sebesar 3,67 persen, dengan sisi penyerapan tenaga kerja meningkat sebanyak 1,2 juta orang, Kemenperin juga terus berupaya agar industri nasional bertransformasi menuju industri hijau.

"Melalui upaya transformasi tersebut, kami mengharapkan sektor manufaktur berkontribusi pada penurunan emisi karbon dan transisi energi hijau menuju karbon netral dan ekonomi hijau di bumi Indonesia," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangannya di Jakarta, Selasa.

Industri pengolahan nonmigas mampu mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,47 persen atau lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,01 persen pada triwulan I 2022.

Kinerja sektor manufaktur tersebut juga naik signifikan dibanding pada periode yang sama tahun lalu yang mengalami kontraksi 0,71 persen.

“Di tengah situasi ekonomi dan politik global yang sedang mengalami gejolak dan penuh ketidakpastian, juga adanya dampak pandemi COVID-19, kinerja sektor industri manufaktur Indonesia mampu tumbuh gemilang,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangannya di Jakarta, Senin.