Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat sektor industri nasional melalui pengembangan kerja sama dengan negara-negara mitra strategis, termasuk Rusia.
Hubungan diplomatik yang terjalin erat antara Indonesia dan Rusia dinilai mampu mendorong peningkatan kolaborasi di sektor industri, perdagangan dan investasi guna memperkuat struktur industri nasional sekaligus memperluas akses pasar global.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui partisipasi Indonesia sebagai Partner Country dalam ajang INNOPROM 2026 yang diharapkan membuka peluang kerja sama yang lebih konkret dan saling menguntungkan.
Momentum INNOPROM 2026 disebut dapat menjadi penggerak utama untuk mempercepat realisasi kerja sama di sejumlah sektor strategis.
Beberapa sektor yang menjadi fokus pembahasan meliputi industri manufaktur, galangan kapal, petrokimia, farmasi dan alat kesehatan, hingga pengembangan teknologi industri.
Penguatan kerja sama itu turut dibahas dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dan Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia Alexey Vladimirovich Gruzdev dalam rangkaian Indonesia-Russia Business and Investment Forum 2026 di Saint Petersburg.
"Indonesia memandang Rusia sebagai mitra strategis jangka panjang dalam pembangunan industri nasional. Kami ingin memastikan seluruh potensi kerja sama yang telah dibahas tidak berhenti pada tataran komitmen, tetapi segera ditransformasikan menjadi langkah nyata yang memberikan manfaat bagi kedua negara," tutur Faisol dalam keterangan, Senin (11/5/2026).
Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin pada 13 April 2026 di Moskow yang menegaskan komitmen kedua negara untuk memperdalam kerja sama di berbagai sektor prioritas.
Kedua pihak menilai hubungan bilateral Indonesia dan Rusia menunjukkan tren positif. Hingga Oktober 2025, nilai perdagangan nonmigas kedua negara tercatat mencapai 4,04 miliar dolar AS dengan pertumbuhan yang konsisten sejak 2020.
Sementara itu, realisasi investasi Rusia di Indonesia juga terus berkembang meski masih terbuka ruang besar untuk ditingkatkan.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah Indonesia menekankan pentingnya percepatan implementasi berbagai potensi kerja sama menjadi program yang terukur dan berkelanjutan.
Selain itu, kedua negara juga menyepakati percepatan implementasi Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) yang ditargetkan mulai berlaku tahun depan. Perjanjian tersebut diharapkan dapat memperluas akses pasar dan meningkatkan volume perdagangan kedua negara.
Pertemuan bilateral itu juga membahas percepatan implementasi sejumlah kesepakatan strategis serta finalisasi Memorandum of Understanding (MoU) on Industrial Cooperation sebagai payung hukum untuk memperkuat kolaborasi industri secara lebih sistematis dan berkelanjutan. Penandatanganan nota kesepahaman tersebut ditargetkan berlangsung bertepatan dengan INNOPROM 2026.
Kedua negara turut memandang forum multilateral seperti BRICS, termasuk melalui BRICS Centre for Industrial Competences (BCIC), sebagai sarana strategis untuk mendukung transformasi industri dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
"Momentum partisipasi Indonesia sebagai Partner Country pada INNOPROM 2026 harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperluas investasi, memperkuat kemitraan industri, serta mendorong transfer teknologi yang berdampak langsung pada peningkatan daya saing industri nasional," ucap Faisol.
https://www.tribunnews.com/



