Industri pengolahan non-migas masih konsisten menjadi sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional.

Buktinya, sepanjang semester I tahun 2020, total nilai pengapalan produk sektor manufaktur menembus hingga US$ 60,76 miliar, setara 79,52% dari keseluruhan angka ekspor nasional yang mencapai US$ 76,41 miliar.

“Terus terang saya cukup surprise dengan hasil kinerja ekspor industri pengolahan nonmigas saat ini. Di luar dugaan, kinerja ekspor sektor industri manufaktur ternyata masih mencatatkan kontribusi yang positif," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resmi yang diterima Kontan.co.id, Selasa (21/7).

Menperin menegaskan, akan terus menjaga keberlangsungan aktivitas industri manufaktur di tanah air, meskipun sedang tertekan karena melambatnya ekonomi dunia dan dampak pandemi Covid-19. Sebab, selama ini sektor industri manufaktur berperan sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) menyatakan peningkatan performa ekspor baja selama semester I/2020 bukan berasal dari industri baja hasil investasi lama.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata nilai ekspor besi dan baja selama paruh pertama 2020 naik 35,04 persen menjadi US$4,5 miliar. Namun demikian, performa tersebut didominasi oleh ekspor produk baja karbon.

"Kenaikan ekspor di industri logam itu sebenarnya didorong oleh produksi nikel yang ada di Morowali. Jadi, gambarannya dari sana, bukan yang existing," kata Wakil Ketua Umum IISIA Ismail Mandry kepada Bisnis, Rabu (15/7/2020).

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan pertumbuhan ekspor tertinggi berasal dari komoditas besi baja.

Hal tersebut disebabkan oleh perusahaan di Kawasan Industri Morowali dengan tujuan pasar utamanya ke China dan beberapa negara lainnya.

Industri otomotif nasional pada masa pandemi COVID-19 dinilai masih tetap prospektif, yang terlihat dari menggeliatnya kembali volume penjualan, pembangunan infrastruktur, yang terus dilakukan, dan masih tingginya kapasitas produksi dengan didukung populasi kelas menengah.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika saat dihubungi di Jakarta, Minggu, mengatakan pertumbuhan industri otomotif nasional ke depan masih akan menunjukkan geliat yang cukup atraktif, hal ini didorong pertumbuhan jumlah kelas menengah rata-rata sebesar 12 persen per tahun sesuai laporan Bank Dunia.

"Di samping itu, dalam laporan Bank Dunia tersebut, jumlah kelas menengah di Indonesia pada 2018 telah menembus 30 persen dan angka tersebut meningkat pada 2019 mendekati separuh dari populasi penduduk Indonesia atau sekitar 115 juta penduduk saat ini masuk dalam kategori kelas menengah," kata Putu.

Bank Indonesia (BI) menyatakan komponen volume produksi dalam perhitungan Prompt Manufacturing Index (PMI) pada kuartal II/2020 anjlok ke level 25,36. Kamar Dagang Indonesia (Kadin) sepakat bahwa kondisi produksi sektor manufaktur akan jauh membaik pada kuartal III/2020.

Adapun, BI meramalkan volume produksi dalam perhitungan Prompt Manufacturing Index (PMI) pada kuartal III/2020 akan membaik ke level 47,98. Kadin menilai ramalan tersebut realistis lantaran protokol pembatasan sosial berskala besar (PSBB) telah dilonggarkan sejak akhir kuartal II/2020.

"Semakin banyak industri berjalan, PMI industri akan meningkat. Tapi, sekaran problemnya bukan di industrinya saja, tapi demand-nya kurang. Kalau BI mempreduksi [volume produksi naik ke sekitar level] 47, bisa saja. Saya yakin di kuartal III/2020 akan lebih baik dari kuartal II/2020," ujar Wakil Ketua Kadin Bidang Industri Johnny Darmawan kepada Bisnis.com, Senin (13/7/2020).

Johnny menyatakan saat ini utilitas sektor manufaktur anjlok ke kisaran 30-50 persen. Namun demikian, Johnny optimistis angka tersebut dapat membaik pada kuartal III/2020 ke level 70 persen.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai sektor logam telah siap untuk bertransformasi ke arah industri 4.0, guna meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional.

Kepala Badan Penelitian dan pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Rahadi bertekad mengakselerasi transformasi sektor manufaktur, sekaligus sebagai implementasi program prioritas pada peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Transformasi industri 4.0 memberikan benefit bagi perusahaan, antara lain menurunkan biaya dan down-time, meningkatkan kinerja mesin dan peralatan, meningkatkan kecepatan operasi produksi dan kualitas produk, serta compatible dengan protokol kesehatan,” kata Doddy dalam siaran pers, Jumat (17/7/2020).

Dia menambahkan tim Kemenperin akan membantu dalam identifikasi kendala dan pain point perusahaan dalam upaya bertransformasi ke industri 4.0. Ini merupakan salah satu rekomendasi bagi perusahaan untuk melakukan penyesuaian terhadap strategi bisinis dalam bertransformasi.

Kementerian Perindustrian berupaya mengimplementasikan sistem industri 4.0 pada Industri Kecil Menengah (IKM) sektor logam milik PT Sinar Mulia Teknalum.

“Salah satu bukti nyata kami mendorong sektor IKM melakukan implementasi industri 4.0 adalah dengan pendampingan proyek percontohan kepada PT. Sinar Mulia Teknalum selaku IKM logam,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Gati Wibawaningsih lewat keterangannya di Jakarta, Rabu.

Gati menjelaskan, pemanfaatan industri 4.0 di PT. Sinar Mulia Teknalum diterapkan melalui penggunaan sistem Enterprise Resource Planning (ERP).

“Implementasi sistem ini akan memudahkan dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya perusahaan serta mengintegrasikan semua divisi di dalam perusahaan,” tuturnya.