Pasar industri kacamata dalam negeri dinilai sangat besar. Setidaknya 50% penduduk Indonesia telah menggunakan kacamata. Setahun sekali akan ada masyarakat yang mengganti kacamatanya, ini membuat pasar kacamata semakin potensial.

Direktur PT Attala Indonesia Wenjoko Sidharta mengklaim masyarakat Indonesia memiliki 2 hingga 3 kacamata. "Tren penggunaan kacamata ini marak terjadi setelah teknologi sudah menjadi kebutuhan manusia,” ujarnya dalam rilis yang diterima Kontan.co.id, Sabtu ( 18/5).

Asal tahu saja, Atalla Indonesia adalah satu-satunya produsen kacamata yang terintegrasi di Indonesia. Kapasitas produksi perusahaan itu sebesar 4.500 lusin kacamata per hari dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 600 orang karyawan.

Pertumbuhan industri keramik sepanjang kuartal I-2019 cenderung stagnan. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menilai fase di kuartal tersebut memang trennya tiap tahun seperti itu. Namun di kuartal II-2019 industri ini akan mulai bangkit.

Edy Suyanto, Ketua Umum Asaki bilang bahwa secara umum penjualan di awal tahun biasanya stagnan. "Namun di kuartal-II 2019 ini kami estimasi dapat tumbuh sekitar 2%-3%," ungkapnya kepada Kontan.co.id, Minggu (12/5).

Membaiknya penjualan keramik di kuartal II disebabkan kenaikan permintaan keramik jelang lebaran. Lebih lanjut kata Edy, permintaan keramik akan kembali melonjak setelah semester kedua.

Kementerian Perindustrian (Kemperin) terus mendorong peningkatan investasi di sektor industri petrokimia. Selain menumbuhkan sektor hulu, tujuannya juga guna mendongkrak kapasitas produksi sehingga dapat memenuhi kebutuhan di pasar domestik dan ekspor sekaligus sebagai substitusi impor.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan industri petrokimia merupakan sektor hulu yang berperan penting dalam menunjang kebutuhan produksi di sejumlah manufaktur hilir.

“Produk yang dihasilkan oleh industri petrokimia, antara lain digunakan sebagai bahan baku di industri plastik, tekstil, cat, kosmetik dan farmasi,” kata Airlangga Mei (15/5).

Industri tekstil dan pakaian jadi menorehkan kinerja yang gemilang pada triwulan I-2019. Sepanjang tiga bulan tersebut, pertumbuhan industri tekstil dan pakaian tercatat paling tinggi  mencapai 18,98%. Jumlahnya naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu di angka 7,46% dan juga meningkat dari perolehan selama 2018 sebesar 8,73%.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, produksi industri manufaktur besar dan sedang (IBS) pada kuartal I-2019 naik 4,45% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan produksi IBS tersebut, ditopang oleh produksi sektor industri pakaian jadi yang meroket hingga 29,19 persen karena melimpahnya order, terutama dari pasar ekspor.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian (Kemperin) Muhdori mengatakan, Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor andalan karena memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional.

Kementerian Perindustrian (Kemperin) mencanangkan Indonesia sebagai pusat manufaktur di Asia Tenggara. Sektor industri yang digadang menjadi penopang seperti industri tekstil dan produk tekstil, otomotif, logam dasar, makanan dan minuman, serta kimia.

Menanggapi hal ini, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman menjelaskan untuk menjadi pusat industri, terlebih dahulu perlu dibereskan industri hulunya.

"Daya saing industrialisasi perlu didukung dengan industri hulu yang efisien dan murah, karena bagaiamana pun juga ketergantungan akan bahan baku akan lebih besar lagi," kata Ade ketika dihubungi Kontan.co.id, Minggu (12/5).

Ade mencontohkan, Indonesia memerlukan bahan parasilin yang besar. Bahan baku dasar ini berasal dari minyak, gas ataupun dari sawit. Industri hulu inilah yang harus ada di Indonesia, sehingga bisa menumbuh-kembangkan ribuan macam industri yang berkomponen bahan baku tersebut.

Kinerja industri manufaktur dinilai semakin produktif dan kompetitif. Capaian positif ini terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan produksi industri manufaktur besar dan sedang (IBS) pada kuartal I tahun 2019 naik 4,45% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jumlah tersebut juga lebih tinggi dari sepanjang 2018 yang hanya 4,07%.

Di sisi lain, geliat industri manufaktur Indonesia juga terlihat dari capaian purchasing manager index (PMI) yang dirilis oleh Nikkei.

“Kalau kita lihat kondisi industri saat ini berdasarkan PMI, tingkat kepercayaan dari pelaku industri cukup tinggi. PMI indeks kita selalu di atas 50, kecuali bulan Januari. Karena saat Januari kontrak baru dikasih,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya, Jumat (3/5) lalu.