Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut lima langkah transformasi sektor industri yang perlu diperhatikan pelaku industri, mengingat perubahan tatanan terjadi pada hampir seluruh sendi kehidupan karena adanya pandemi Covid-19, termasuk pengaruh pada aktivitas sektor industri manufaktur

Kelima langkah yang disebut sebagai 5R bagi industri tersebut adalah pertama, yaitu resolve atau menangani pandemi di lingkungan perusahaan, termasuk dengan melibatkan partisipasi karyawan dalam penerapan protokol kesehatan.

“Kedua, resilience atau upaya memperkuat perusahaan sehingga dapat bertahan. Ketiga, return atau kembali menjalankan aktivitas dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang penting bagi masing-masing perusahaan,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangannya di Jakarta, Jumat.

Agus mengatakan, ketiga langkah tesebut perlu diperkuat dengan dua langkah selanjutnya, yang menekankan pentingnya perubahan oleh perusahaan, yaitu re-imagination dan reform.

Industri otomotif nasional pada masa pandemi COVID-19 dinilai masih tetap prospektif, yang terlihat dari menggeliatnya kembali volume penjualan, pembangunan infrastruktur, yang terus dilakukan, dan masih tingginya kapasitas produksi dengan didukung populasi kelas menengah.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika saat dihubungi di Jakarta, Minggu, mengatakan pertumbuhan industri otomotif nasional ke depan masih akan menunjukkan geliat yang cukup atraktif, hal ini didorong pertumbuhan jumlah kelas menengah rata-rata sebesar 12 persen per tahun sesuai laporan Bank Dunia.

"Di samping itu, dalam laporan Bank Dunia tersebut, jumlah kelas menengah di Indonesia pada 2018 telah menembus 30 persen dan angka tersebut meningkat pada 2019 mendekati separuh dari populasi penduduk Indonesia atau sekitar 115 juta penduduk saat ini masuk dalam kategori kelas menengah," kata Putu.

Industri makanan dan minuman serta industri logam dasar masih memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor pada sektor manufaktur, dengan masing-masing menyumbang sebesar 13,73 miliar dolar AS dan 10,87 miliar dolar AS sepanjang semester I tahun 2020.

Kedua sektor unggulan tersebut mampu menunjukkan geliatnya menembus pasar internasional di tengah pandemi COVID-19.

“Industri makanan dan minuman merupakan salah satu sektor yang memiliki demand tinggi ketika pandemi COVID-19. Sebab, masyarakat perlu mengonsumsi asupan yang bergizi untuk meningkatkan imunitas tubuhnya dalam upaya menjaga kesehatan,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menperin mengungkapkan industri makanan dan minuman juga sebagai sektor usaha yang mendominasi di Tanah Air, terutama Industri Kecil Menengah (IKM). Hal ini yang menjadi tumpuan bagi berputarnya roda ekonomi nasional.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai sektor logam telah siap untuk bertransformasi ke arah industri 4.0, guna meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional.

Kepala Badan Penelitian dan pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Rahadi bertekad mengakselerasi transformasi sektor manufaktur, sekaligus sebagai implementasi program prioritas pada peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Transformasi industri 4.0 memberikan benefit bagi perusahaan, antara lain menurunkan biaya dan down-time, meningkatkan kinerja mesin dan peralatan, meningkatkan kecepatan operasi produksi dan kualitas produk, serta compatible dengan protokol kesehatan,” kata Doddy dalam siaran pers, Jumat (17/7/2020).

Dia menambahkan tim Kemenperin akan membantu dalam identifikasi kendala dan pain point perusahaan dalam upaya bertransformasi ke industri 4.0. Ini merupakan salah satu rekomendasi bagi perusahaan untuk melakukan penyesuaian terhadap strategi bisinis dalam bertransformasi.

Industri pengolahan non-migas masih konsisten menjadi sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional.

Buktinya, sepanjang semester I tahun 2020, total nilai pengapalan produk sektor manufaktur menembus hingga US$ 60,76 miliar, setara 79,52% dari keseluruhan angka ekspor nasional yang mencapai US$ 76,41 miliar.

“Terus terang saya cukup surprise dengan hasil kinerja ekspor industri pengolahan nonmigas saat ini. Di luar dugaan, kinerja ekspor sektor industri manufaktur ternyata masih mencatatkan kontribusi yang positif," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resmi yang diterima Kontan.co.id, Selasa (21/7).

Menperin menegaskan, akan terus menjaga keberlangsungan aktivitas industri manufaktur di tanah air, meskipun sedang tertekan karena melambatnya ekonomi dunia dan dampak pandemi Covid-19. Sebab, selama ini sektor industri manufaktur berperan sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) menyatakan peningkatan performa ekspor baja selama semester I/2020 bukan berasal dari industri baja hasil investasi lama.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata nilai ekspor besi dan baja selama paruh pertama 2020 naik 35,04 persen menjadi US$4,5 miliar. Namun demikian, performa tersebut didominasi oleh ekspor produk baja karbon.

"Kenaikan ekspor di industri logam itu sebenarnya didorong oleh produksi nikel yang ada di Morowali. Jadi, gambarannya dari sana, bukan yang existing," kata Wakil Ketua Umum IISIA Ismail Mandry kepada Bisnis, Rabu (15/7/2020).

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan pertumbuhan ekspor tertinggi berasal dari komoditas besi baja.

Hal tersebut disebabkan oleh perusahaan di Kawasan Industri Morowali dengan tujuan pasar utamanya ke China dan beberapa negara lainnya.