Gabungan Pengusaha Farmasi memproyeksi pertumbuhan industri farmasi tahun ini akan berkisar di antara 6-7 persen. Adapun, impor bahan baku tahun ini juga akan mulai turun meski akan lebih signifikan pada tahun depan.

Direktur Eksekutfi Gabungan Pengusaha Farmasi (GP Farmasi) Dorojatun Sanusi mengatakan jika berbicara angka terkadang tergantung sumber yang beragam. Pasalnya, tahun lalu perusahaan farmasi juga ada yang mencatatkan pertumbuhan dua digit.

"Jadi kami proyeksikan 6-7 persen walau sebenarnya diharapkan lebih lagi, tetapi kembali ke persoalan cashflow perusahaan farmasi yang selalu tersendat akibat pembayaran BPJS setelah enam bulan," katanya, Kamis (6/2/2020).

Dorojatun mengemukakan investasi di industri farmasi saat ini juga masih terus berjalan.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita berharap Indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) nasional meningkat pada Februari dan kembali di atas level 50,0 pada medio kuartal I/2020.

Padahal, PMI Indonesia tercatat hanya dua kali berada di atas level 50,0 saat awal tahun yakni pada 2014 di level 51,0 dan pada 2017 di level 50,4.

Agus mengatakan tertekannya PMI Indonesia disebabkan menurunnya order baru, ekspor baru, dan output industri yang landai. Di sisi lain, penurunan kinerja menjadi signifikan mengingat rendahnya PMI Indonesia sejak enam bulan belakangan atau belum terjadi lagi sejak 2015.

"Kondisi penurunan di bulan Januari terjadi karena industri pada umumnya menurunkan pembelian [bahan baku] dan produksi pada akhir tahun pada Desember dan baru memulai lagi meningkatkan produksi di akhir Januari 2020," katanya kepada Bisnis.com, Senin (3/2/2020).

Kementerian Perindustrian mengatakan industri tekstil dan pakaian jadi menunjukkan kinerja yang gemilang sepanjang tahun 2019 dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 15,35%. Capaian tersebut menunjukkan perkembangan yang terus membaik di tengah tekanan kondisi ekonomi global. Pertumbuhan signifikan di sektor industri tekstil dan pakaian jadi ditopang oleh meningkatnya produksi pakaian jadi di sentra-sentra industri.

Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri tekstil dan pakaian sebagai satu dari lima sektor manufaktur yang menjadi prioritas dalam pengembangannya. "Terutama dalam kesiapan memasuki era industri 4.0, karena dengan pemanfaatan teknologi industri 4.0, akan mendorong peningkatan produktivitas sektor industri secara lebih efisien," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam siaran pers, Kamis (7/2).

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung mengalami penguatan belakangan ini. Meski begitu, sebagian produsen tekstil dan garmen optimis kinerja penjualan ekspornya tidak akan terpengaruh oleh fluktuasi pergerakan nilai tukar rupiah secara signifikan.

PT Pan Brothers Tbk misalnya, emiten garmen yang memiliki kode saham PBRX ini mengaku telah mengantisipasi kemungkinan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sekretaris Perusahaan PT Pan Brothers Tbk, Iswar Deni mengatakan bahwa proyeksi pertumbuhan kinerja perseroan dibuat berdasarkan asumsi nilai tukar rupiah pada rentang Rp 13.000 per dolar AS-Rp 14.000 per dolar AS. “Jadi dampaknya tidak terlalu signifikan,” kata Iswar ketika dihubungi oleh Kontan.co.id (31/1).

Dengan adanya tindakan antisipasi ini, perseroan optimis bisa membukukan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 10%-15% dibanding tahun lalu pada tahun ini sebagaimana yang sudah ditargetkan sebelumnya.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis dengan target pertumbuhan ekonomi serta kinerja industri manufaktur Tanah Air yang akan terus membaik, bahkan mampu mencapai target pertumbuhan hingga 5,3 persen.

Terlebih bila didukung dengan penetapan harga gas untuk industri yang diharapkan maksimal sebesar 6 dolar AS per Million Metric British Thermal Unit (MMBTU).

“Sebelumnya, kami menyampaikan tujuh isu di sektor industri yang harus ditindaklanjuti, apabila isu harga gas untuk industri bisa diselesaikan, pemerintah optimistis dengan target pertumbuhan sektor industri,” kata Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menperin mengungkapkan,selain itu kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) sektor industri pengolahan nonmigas terhadap terhadap total PDB 2019 mencapai 17,58 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor industri masih terus konsisten memberikan kontribusi terbesar pada perekonomian nasional.

Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing industri alas kaki di dalam negeri karena memiliki orientasi ekspor. Salah satu langkah strategis yang aktif dijalankan adalah mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) agar mampu menciptakan produk yang bermutu.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto mengatakan sebagai kelompok sektor padat karya dan berorientasi ekspor, industri alas kaki selama ini telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional.

Hal itu tercermin dari capaian nilai pengapalan produk kulit, barang dari kulit dan alas kaki dari Indonesia yang mampu menembus hingga US$5,12 miliar sepanjang 2019.

“Kami tetap optimistis, nilai ekspor alas kaki akan meningkat pada tahun ini. Apalagi dengan adanya peluang investasi industri alas kaki di Indonesia yang semakin terbuka lebar setelah terjadinya perang dagang antara China dan Amerika Serikat,” katanya melalui siaran pers, Sabtu (1/2/2020).