Menteri Pertanian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan optimismenya terhadap kinerja Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa. Agus menilai kebijakan Purbaya lebih bersahabat bagi pertumbuhan manufaktur Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Agus mengapresiasi kebijakan Purbaya mengalihkan dana Rp 200 triliun dari Bank Indonesia ke perbankan swasta. Hal itu dinilai menjadi angin segar bagi industri manufaktur.

"Dan saya lihat kebijakan dari Pak Menkeu itu sangat bersahabat, sangat friendly terhadap pertumbuhan manufaktur yang ada di Indonesia," ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Selasa (2/10/2025).

Agus menilai dirinya memiliki pandangan yang sama terkait pengelolaan ekonomi Indonesia melalui manufaktur. Meski bukan menjadi kontributor utama, sumbangan manufaktur terhadap ekonomi nasional menjadi salah satu yang tertinggi.

Industri logam dasar memiliki peran vital dalam menopang berbagai subsektor lainnya sebagai mother of industry, ditambah dengan kinerjanya yang terus menunjukkan tren positif.

Pada triwulan II tahun 2025, industri logam dasar mencatatkan kontribusi sebesar 6,7 persen terhadap PDB nasional dan tumbuh double digit sebesar 14,7 persen secara tahunan.

Ini disapampaikan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Setia Diarta mewakili Menteri Perindustrian pada acara Pelepasan Ekspor Produk Cold Rolled Coil (CRC) PT Krakatau Baja Industri (KBI) ke Spanyol yang berlangsung di Cilegon, Banten, Kamis (25/9/2025).

“Capaian ini merupakan hasil ekspansi produksi yang semakin luas, didorong oleh permintaan global yang terus meningkat, khususnya dari sektor besi dan baja, serta keberhasilan program hilirisasi nasional yang konsisten menambah nilai produk dalam negeri,” kata Dirjen ILMATE, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Jumat (26/9).

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika domestik, industri manufaktur Indonesia kembali menunjukkan ketangguhannya. Hal ini tercermin dari capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) September 2025 yang berada di level 53,02, masih berada di zona ekspansi meskipun sedikit melambat dibanding Agustus 2025 (53,55).

Menariknya, capaian ini justru lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu (September 2024) yang hanya mencatat 52,48. Artinya, tren kepercayaan industri nasional masih berada di jalur positif.

“Aktivitas produksi membaik karena adanya peningkatan permintaan, ketersediaan bahan baku, serta dukungan teknologi. Ini jadi sinyal awal pemulihan industri,” jelas Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, Selasa (30/9).

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mencatat sektor manufaktur Indonesia terus menunjukkan kinerja solid meski dunia dibayangi ketidakpastian geoekonomi dan geopolitik. 

Pada kuartal I-2025, industri pengolahan non migas mengalami pertumbuhan 5,60 persen (year on year), melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,12 persen. 

“Sektor manufaktur yang ada di Indonesia, berdasarkan data statistik sektor manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja yang cukup baik alhamdulillah, positif di tengah-tengah berbagai macam tantangan geoekonomi, geopolitik,” ujar Agus saat ditemui di ICE BSD City, Kamis (25/9/2025). 

“Pada triwulan I-2025 sektor industri pengolahan non-migas ini mencatat pertumbuhan sebesar 5,60 persen year on year lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang 5,12 persen,” paparnya.

Industri manufaktur Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif di tengah tantangan global. Data World Bank dan United Nations Statistic menunjukkan manufacturing value added Indonesia pada 2024 mencapai USD 265 miliar, naik 4 persen dibanding tahun sebelumnya.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara manufaktur terbesar ke-13 di dunia dan peringkat ke-5 Asia.

“Posisi kita berada setelah Jepang, India, Korea Selatan, dan China. Ini bukti daya saing industri nasional semakin kuat,” kata Faisol di Tangerang, baru-baru ini.

Pertumbuhan sektor industri juga tercermin dari kinerja ekonomi nasional pada triwulan II 2025. Faisol menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,12 persen, sementara industri pengolahan non-migas justru tumbuh lebih tinggi di angka 5,6 persen.

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mendorong generasi Z untuk mempersiapkan diri membangun masa depan industri nasional.

Faisol menilai generasi muda lahir pada rentang 1997–2012 tersebut memiliki peran sentral dalam keberlanjutan pembangunan industri manufaktur domestik.

“Sebagai kelompok usia produktif yang adaptif terhadap teknologi dan inovasi, mereka memiliki potensi besar dalam mendorong transformasi industri menuju arah yang lebih kreatif, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Faisol di Jakarta seperti dilansir dari Antara, Rabu (24/9/2025).

Sebagai langkah menarik minat generasi Z agar berkontribusi pada pengembangan industri domestik, Kementerian Perindustrian menyelenggarakan Industrial Festival 2025.