Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Indonesia menyebut peluang industri farmasi untuk bertumbuh pada tahun ini masih terbuka.

Paling tidak, asosiasi yang membawahi lebih dari 180 perusahaan farmasi tersebut menyampaikan sektor farmasi hanya bisa mempertahankan level pertumbuhan yang sama dengan tahun lalu.

F. Tirto Koesnadi, Ketua Umum GP Farmasi Indonesia menyebutkan pada tahun lalu pertumbuhan sektor farmasi mencapai 4% dibandingkan tahun sebelumnya.

Tahun ini, pertumbuhan sektor farmasi diperkirakan akan berada di level yang sama. Pasalnya, pandemi Covid-19 tidak serta merta membuat sektor farmasi langsung terkerek naik signifikan.

Saat ini industri farmasi berfokus untuk mencari obat atau vitamin yang memiliki korelasi dengan pengobatan Covid-19.

Kementerian Perindustrian menilai kontribusi industri pengolahan masih menjadi yang terbesar terhadap struktur produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 19,98 persen pada kuartal I/2020.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam mengatakan pemerintah telah melakukan pemetaan kepada sektor-sektor industri yang terpukul karena pandemi Covid-19.

Pemerintah pun bertekad memacu kinerja sektor industri agar terus mendorong roda perekonomian, tetapi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

"Dari banyaknya sektor yang terimbas, ada beberapa sektor yang tetap memiliki permintaan tinggi yang bisa memperkuat neraca perdagangan," katanya melalui siaran pers, Selasa (5/5/2020).

Khayam mengemukakan pemetaan tersebut mulai dari sektor industri kecil, menengah sampai skala besar. Secara ringkas, 60 persen dari industri terpuruk, 40 persennya adalah insustri yang moderat dan demand tinggi.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong hilirisasi dan komersialisasi produk-produk riset dan inovasi di sektor industri, termasuk yang saat ini sedang dibutuhkan untuk penanggulangan wabah COVID-19.

“Contohnya pengembangan ventilator di dalam negeri. Kami melakukannya melalui fasilitasi percepatan produksi, kemudahan bahan baku dan komponen, alat uji dan kalibrasi ventilator, serta berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk perizinan. Tentunya tetap mengedepankan faktor keselamatan, kemanfaatan dan moralitas,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Rahadi lewat keterangannya di Jakarta, Senin.

Doddy memaparkan, sejak April 2020, telah dilaksanakan rapat koordinasi dengan inisiator ventilator nasional serta perwakilan Kementerian Kesehatan, yaitu Balai Pengaman Fasilitas Kesehatan (BPFK).

“Secara umum, keempat tim pengembang ventilator adalah Tim Jogja, Tim ITS, Tim UI, dan Tim ITB yang sedang dalam proses uji fungsi dan uji klinis, serta penjajakan kerja sama industri untuk melakukan produksi skala besar,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan industri pengolahan masih tumbuh positif sebesar 2,06 persen pada kuartal I/2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kinerja industri pengolahan tercatat positif. "Ada beberapa kategori industri alami kontraksi," katanya, Selasa (5/5/2020).

Adapun penyebab utama melambatnya pertumbuhan industri pengolahan nonmigas terlihat dari perlambatan komposisi impor bahan baku yang terlihat negatif. Suhariyanto mengatakan dari sisi ekspor komoditas industri pengolahan nonmigas juga mengalami perlambatan.

Fenomena utama yang memengaruhi kinerja industri pengolahan kuartal I/2020 adalah industri makanan dan minuman yang tumbuh melambat sebesar 3,94 persen. Menurunnya kinerja industri mamin disebabkan menurunnya demand luar negeri, terermin dari kontraksinya ekspor komoditas mamin.

"Industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh 5,59 persen yang didukung oleh peningkatan produksi barang kimia dan obat-obatan untuk memenuhi permintaan luar negeri dan melonjaknya permintaan domestik akibat mewabahnya virus corona," tambahnya.

Kementerian Perindustrian berupaya mendorong peningkatan rasio penyerapan produk industri Indonesia di pasar global untuk jangka menengah dan jangka panjang, sehingga Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia terdongkrak.

“Sedangkan langkah yang perlu dan segera dilakukan adalah menyeimbangkan strategi pertumbuhan ekonomi dan pembatasan penyebaran COVID-19,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangannya diterima di Jakarta, Kamis.

Untuk itu, Kemenperin memetakan sejumlah sektor industri yang terdampak pandemi COVID-19. Dari hasil pemetaaan, didapati tiga kelompok besar, yaitu industri yang suffer, moderat, dan high demand.

Kemenperin berkomitmen untuk mencari jalan keluar terbaik agar industri yang terdampak berat tetap dapat bertahan. “Untuk industri yang masuk dalam kelompok high demand, akan kami optimalkan kinerjanya,” imbuhnya.

Pelaku bisnis petrokimia optimistis potensi ekspor polimer atau bahan baku plastik menjadi bantalan untuk bertahan dalam menghadapi dampak virus corona atau Covid-19.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan di tengah pandemi Covid-19 kabar baik dari perekonomian China yang mulai puliha. Pasalnya, landainya permintaan dalam negeri akan diimbangi dengan ekspor ke sejumlah negara yang mulai pulih.

"Tidak lama lagi India juga akan [industrinya] dibuka kabarnya, artinya ini jadi peluang kami untuk cepet-cepetan mengambil pasar lain setelah memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dari hitungan kami, industri hulu dengan utilisasi yang masih normal dikisaran 90 persen saat ini akan mampu mengekspor polimer 30.000 ton mininal per bulan," katanya kepada Bisnis, Senin (4/5/2020).