Sektor makanan dan minuman menjadi prioritas pengembangan industri di bawah Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian.

Sektor ini berperan penting dengan menyumbang lebih dari 35 persen produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan non migas.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim mengatakan secara umum program prioritas di bawah direktorat yang dipimpinnya adalah menjaga pertumbuhan industri mamin tetap tinggi.

Pasalnya, apabila sektor ini mengalami kontraksi akan berdampak terhadap keseluruhan industri manufaktur.

Kementerian Perindustrian (Kemperin) optimistis sektor industri manufaktur dapat tumbuh lebih agresif pada kuartal II-2019 dibanding periode sebelumnya. Hal ini disebabkan adanya momentum Ramadan dan Lebaran.

Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar mengatakan, pertumbuhan kuartal II-2019 lebih tinggi dari pertumbuhan industri di kuartal I yang mencapai 4,8%. “Kami berharap bisa mendekati 5%,"kata Hari dalam keterangan pers, Minggu (26/5).

Menurut Haris, iklim usaha seusai pemilihan presiden dan anggota legislatif semakin membaik setelah sebelumnya para investor memilih wait and see. Bahkan, menjelang Lebaran, sebagian banyak masyarakat membelanjakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman serta pakaian.

Asosiasi Produsen Sepatu Indonesia (Aprisindo) menilai Indonesia masih dianggap menarik bagi investasi asing untuk membangun lini produksinya di dalam negeri. Sebab sudah banyak brand internasional yang telah lama diproduksi di Indonesia.

Keseriusan investasi itu juga mulai ditampakkan pasca lebaran ini, dimana Firman Bakri, Direktur Eksekutif Aprisindo mengatakan bahwa asosiasi tengah memfollow-up rencana salah satu pabrik anggotanya yang bakal menambahkan investasinya di Indonesia. Firman masih enggan membeberkan detil investasi tersebut, yang jelas masih pemain lama tapi jenisnya Penanaman Modal Asing (PMA).

"Cukup besar, tapi belum tau berapa nilainya. Masih perlu kami verifikasi lagi," katanya kepada Kontan.co.id, Rabu (12/6). Soal ketertarikan manufaktur China yang merelokasi pabrik nya ke Indonesia, Aprisindo mengaku siap-siap saja jika merangkul investor tersebut.

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) optimis mampu bertumbuh maksimal tahun ini asal kondisi perekonomian kondusif.

“Makanan dan minuman masih optimis pasti tetap tumbuh untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Namun kalau ekonomi terganggu, pertumbuhan kurang optimal,” kata Ketua Gapmmi Adhi Lukman lewat pesan singkat di Jakarta, Rabu (22/5/2019).

Menanggapi situasi politik saat ini, Adhi menyarankan agar semua pihak mengggunakan jalur konstitusi untuk menyelesaikan persoalan. “Kami apresiasi Presiden Joko Widodo yang mengajak semua bersatu demi Indonesia. Lebih baik memikirkan ke depan agar ekonomi tidak terganggu,” ungkap Adhi.

Kinerja industri semen diproyeksi lebih moncer pada tahun 2019 dibanding dengan tahun lalu. Hal ini karena didorong upaya pemerintah untuk terus menciptakan iklim usaha yang kondusif di Tanah Air.

Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam, Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Adie Rochmanto P menjelaskan setelah pemilu, aktivitas industri manufaktur diharapkan akan kembali berjalan normal.

Adie optimistis, pertumbuhan sektor IKFT yang mencakup industri semen, akan menyentuh di angka 4,3% sepanjang tahun ini. Target tersebut melonjak dari capaian pada kuartal I tahun 2019 sebesar 3,6%.

Kementerian Perindustrian meyakini pertumbuhan sektor pengolahan pada kuartal II membaik dibandingkan kuartal sebelumnya. Optimisme juga disampaikan oleh asosiasi pelaku usaha dan pakar ekonomi.

Haris Munandar, Sekretaris Jenderal Kemenperin, mengatakan pihaknya memprediksi seusai pemilihan umum 17 April 2019 lalu iklim usaha semakin membaik. Selain itu, konsumsi juga meningkat dengan adanya tunjangan hari raya (THR) serta gaji ke-13 bagi pegawai negeri sipil (PNS).

"Bisa lebih baik lah dari kuartal lalu, mendekati 5%," ujarnya di Jakarta, Senin (20/5/2019).

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan sepanjang periode Januari--Maret 2019 tercatat sebesar 4,80% y-o-y. Pertumbuhan ini melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,08%, sementara pada kuartal II/2018 tumbuh sebesar 4,27%.