Kementerian Perindustrian mengatakan pelaku industri merespons positif upaya pemerintah memberikan kemudahan dalam mendapatkan surat izin operasional dan mobilitas kegiatan industri di saat pandemi COVID-19, seperti dari industri makanan dan minuman (mamin) di mana produknya sangat dibutuhkan pada masa tanggap darurat wabah virus corona.

“Dalam masa kedaruratan kesehatan akibat COVID-19, industri dan perusahaan kawasan industri tetap dapat menjalankan kegiatan usahanya dengan memiliki izin operasional dan mobilitas kegiatan industri,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangannya di Jakarta, Senin.

Direktur Relasi Ekternal PT Mayora Indah, Johan Muliawan menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap tim Kemenperin, terutama kepada Menteri Perindustrian.

“Kemenperin sangat cepat merespons semua aturan dan semua yang berkaitan terhadap kesehatan di masa kedaruratan COVID-19,” kata Johan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memantau perkembangan aktivitas industri berbagai sektor di dalam negeri, terutama terkait dengan dampak pandemi yang disebabkan oleh virus korona baru.

Sejumlah kebijakan strategis telah dikeluarkan pemerintah untuk percepatan penanganan wabah Covid-19 dan menjaga jalannya dunia usaha di tanah air.

“Pemerintah sangat serius dalam menangani Covid-19 ini, termasuk agar industri kita tidak terpuruk. Jadi, penciptaan iklim usaha yang kondusif juga diprioritaskan. Namun, hal itu perlu dukungan semua stakeholder,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangannya di Jakarta, Kamis.

Pekan ini, Menperin aktif menggelar rapat jarak jauh dengan sejumlah pelaku industri untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi saat ini.

Menperin melakukan konferensi video dengan pelaku industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT) pada Rabu (1/4). Hari sebelumnya dengan para pelaku industri makanan dan minuman.

Asosiasi Rantai Pendingin (ARPI) menyatakan pertumbuhan instalasi rantai pendingin tahun ini akan tetap lebih tinggi dari tahun lalu. Pasalnya, industri rantai pendingin sama sekali tidak memiliki restriksi pada masa pembatasan sosial berskala besar (PBSS).

Direktur Eksekutif ARPI Hasanuddin Yasni mengatakan pihaknya merubah target pertumbuhan pemasangan rantai pendingin pada tahun ini dari maksimal 7 persen menjadi sekitar 5 persen. Namun demikian, target tersebut tetap lebih tinggi dari realisasi tahun lalu yakni sebesar 4,61 persen.

"Kuartal I/2020 ini [produksi] istilahnya masih erlangsung normal. Sekarang masih dalam pengerjaan dan instalasi, cuma dalam kuartal II/2020 mereka [beberapa buyer] menunda, setidaknya sampai setelah Lebaran," katanya kepada Bisnis, Senin (6/4/2020).

Hasanuddin mendata produksi dan instalasi rantai pendingin pada kuartal I/2020 mencapai 2 persen secara tahunan, sedangkan kuartal II/2020 pertumbuhannya akan melambat menjadi 1 persen. Namun demikian, Hasanuddin menyampaikan pabrikan tetap optimistis produksi dan pemasangan rantai pendingin hingga akhir tahun dapat tumbuh sekitar 6 persen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berkomitmen menjaga produktivitas hingga distribusi sektor industri makanan dan minuman di dalam negeri guna mengamankan pasokan pangan bagi masyarakat.

Menurutnya, industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu sektor manufaktur andalan yang selama ini memberikan kontribusi signfikan bagi perekonomian nasional, baik itu melalui capaian nilai investasi maupun ekspor.

Apalagi, saat ini di tengah kondisi pandemi covid-19, kebutuhan pangan masyarakat semakin meningkat, seiring pula dengan adanya kebijakan untuk work from home atau berkerja dari rumah.

"Misalnya, demand susu yang cukup naik, karena termasuk untuk meningkatkan imun. Kami aktif melakukan koordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan untuk menjaga ketersediaan bahan baku bagi industri mamin,” katanya melalui siaran pers, Rabu (1/4/2020).

Agus optimistis, industri mamin masih memberikan kontribusi yang signfikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun ini.

Kementerian Perindustrian meminta pemerintah daerah (pemda) mendukung kegiatan industri tetap produktif selama masa percepatan penanganan pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dengan tentunya harus mengacu pada protokol yang telah ditetapkan pemerintah.

“Dalam masa tanggap darurat pandemi COVID-19, kami meminta semua pihak terutama kepala daerah agar ikut membantu dan mendukung pelaksanaan kegiatan industri yang terkait langsung dengan aspek ekonomi dan sosial,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangannya di Jakarta, Jumat.

Menperin mengungkapkan seiring penetapan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan COVID-19, diharapkan dunia industri turut berkontribusi, terutama berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat.

“Kami berharap pada semua pihak untuk tidak ada pembatasan aktivitas industri, termasuk namun tidak terbatas pada pembatasan gerak karyawan atau jalur distribusi sebelum adanya penetapan status PSBB yang telah disetujui oleh Kementerian Kesehatan,” papar Agus.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) fokus mendorong pengoptimalan produktivitas industri Alat Pelindung Diri (APD) sebagai upaya penanganan pandemi Virus Corona baru atau COVID-19 di dalam negeri.

Kebutuhan APD di domestik kian meningkat, terutama untuk memenuhi permintaan tenaga medis, mengingat semakin bertambahnya penderita penyakit yang disebabkan oleh Virus Corona tersebut.

“Produsen APD tengah menghitung kemampuan produksinya hingga 6-8 bulan mendatang. Perhitungan ini akan disesuaikan dengan jadwal distribusi ke setiap pengguna, seperti rumah sakit yang memang sangat memerlukan,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam lewat keterangannya di Jakarta, Selasa.

Khayam menyebutkan dalam kondisi normal atau ketika belum adanya wabah COVID-19, industri APD di dalam negeri memproduksi sebanyak 1 juta unit per bulan.