Kementerian Perindustrian terus mendorong pelaku industri mainan di dalam negeri agar lebih produktif, meningkatkan daya saing, dan memperluas pasar ekspor.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih, mengatakan bahwa industri mainan tergolong sektor padat karya berorientasi ekspor, yang secara keseluruhan telah menyerap tenaga kerja 23.644 orang.

Ekspor komoditas mainan sepanjang 2018 mencapai US$381,2 juta, naik 16,57% dibandingkan tahun sebelumnya yang senilai US$347 juta.

Industri pakaian jadi segmen besar dan sedang mencatatkan pertumbuhan produksi paling tinggi di antara sektor lainnya sepanjang kuartal I/2019.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 3 bulan pertama tahun ini produksi industri pakaian jadi tumbuh sebesar 29,19% secara tahunan. Sementara, secara q-t-q sektor ini tumbuh sebesar 8,79%, kedua tertinggi setelah industri furnitur.
Ernovian G. Ismy, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), mengkonfirmasi pertumbuhan produksi pada kuartal I/2019 tersebut. Menurutnya, saat ini permintaan produk pakaian jadi terus meningkat.

"Pasar atau order pakaian jadi terus naik. Konsumen kan juga konsumtif dan fashionable," ujarnya Minggu (5/5/2019).
Pada waktu yang sama, industri tekstil besar dan menengah mencatatkan pertumbuhan produksi sebesar 8,77% secara tahunan. Namun, apabila dibandingkan dengan kuartal akhir tahun lalu, industri tekstil turun 1,74% q-t-q.

Permintaan lampu di pasar Indonesia diproyeksikan bertumbuh signifikan pada tahun ini, seiring dengan menggeliatnya sektor properti dan peningkatan elektrifikasi rumah penduduk.

Ketua Umum Aperlindo Asosiasi Perlampuan Indonesia (Aperlindo) Jhon Manoppo memproyeksikan, konsumsi lampu nasional akan bertambah 17,8% dibandingkan dengan realisasi pada tahun lalu 512 juta unit menjadi sekitar 600 juta unit.

"Ada sekitar 70 juta rumah yang menjadi pelanggan PT Perusahaan Listrik Negara. Apabila diasumsikan 1 rumah memiliki 8 lampu, konsumsi lampu pada tahun ini dapat bertumbuh setidaknya 9,37% menjadi 560 juta unit," ujarnya kepada Bisnis, Senin (6/5/2019).

Menjelang Ramadan, pelaku industri alas kaki menggenjot produksi untuk memenuhi target pengiriman ke pasar global.

Firman Bakri, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), mengatakan produsen alas kaki meningkatkan jam kerja pada Februari dan Maret untuk mengejar target ekspor.

“Kan ada pengurangan jam kerja, sehingga selama Februari dan Maret tambah jam kerja produksi. Dengan penambahan jam kerja akan ada penambahan produksi,” ujarnya Senin (29/4/2019).

Walaupun selama bulan puasa dan Lebaran terdapat pengurangan jam kerja, Firman mengatakan pabrikan tetap berupaya bekerja sesuai target. Perusahaan bakal bernegoisasi dengan karyawan agar bersedia menambah jam kerja. Pabrikan pun harus siap untuk membayar uang lembur.

PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatat kinerja menggembirakan pada kuartal I 2019.  Perusahaan Holding produsen pupuk nasional ini membukukan produksi sebesar 2,66 juta ton atau meningkat 7,89% di atas target yang ditetapkan sebesar 2,46 juta ton.

Produksi ini untuk seluruh jenis pupuk seperti Urea, NPK, Za, SP-36 dan produk lainnya. Dengan produksi sebesar itu, produksi Pupuk Indonesia telah mencapai 22,9% dari total target produksi pupuk tahun 2019 yang sebesar 11,62 juta ton.

Kepala Komunikasi Korporat PT Pupuk Indonesia Wijaya Laksana mengatakan, jumlah produksi di kuartal pertama tahun ini terbilang cukup positif. Hal itu karena pabrik dimiliki ini cukup handal dan beroperasi optimal dengan rate yang cukup tinggi.

Momentum pemilihan umum dan Ramadan diperkirakan bakal memacu kinerja industri makanan dan minuman (mamin) serta tekstil dan produk tekstil (TPT) pada semester I/2019.

“Kami meyakini, konsumsi produk-produk sektor industri itu semakin meningkat, terutama di pasar domestik. Hal ini seiring pelaksanaan Pemilu dan masuknya bulan Ramadan,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar dalam siaran pers, Senin (29/4/2019).

Kemenperin mencatat, sepanjang tahun 2018, pertumbuhan industri TPT sebesar 8,73% sedangkan industri mamin 7,9%. Capaian ini melampaui pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu sebesar 5,17%.