Kendati pelaku usaha meyakini investasi industri kimia dan farmasi masih akan melandai tahun ini, tetapi ekonom menilai masih ada peluang untuk bertumbuh.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan pada tahun lalu faktor biaya bahan baku yang meningkat sempat menjadi indikasi utama. Hal itu lantaran terjadi karena fluktuasi nilai mata uang rupiah.

"Akibatnya ada biaya produksi yang naik tahun lalu. Belum lagi di sektor farmasi ada defisit BPJS Kesehatan yang cukup berpengaruh khususnya produsen obat generik," katanya, Kamis (30/1/2020).

Bhima mengemukakan pada tahun ini karena ada proyeksi penguatan dari sisi penguatan kurs rupiah, maka industri kimia dan farmasi berpeluang akan ada perbaikan dibandingkan dengan 2019.

Tentunya, lanjut Bhima, penguatan nilai mata uang garuda harus berjalan konsisten agar tidak kemudian melemah lagi.

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) memperkirakan sepanjang 2020 industri petrokimia mampu tumbuh menjadi 5,2% dibanding tahun lalu yang hanya tumbuh 5%.

Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menjelaskan kenyataannya industri petrokimia hanya tumbuh 5% di sepanjang 2019 dari yang sebelumnya diproyeksikan bisa tumbuh 5,1%.

"Ada beberapa hal yang membuat industrinya agak terhambat padahal dari sisi demand dan potensinya bagus," jelasnya kepada Kontan.co.id, Rabu (22/1).

Fajar menjelaskan pertumbuhannya tapi tidak terlalu signifikan karena ada aturan di daerah yang tidak mendukung industri plastik.

Sejumlah daerah salah satunya Jakarta mulai menerapkan anti plastik sekali pakai di sejumlah tempat seperti toko swalayan dan pasar rakyat harus menggunakan kantong ramah lingkungan per Juli 2020.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendesak pemerintah melakukan intervensi melalui kebijakan guna mendukung peningkatan investasi sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 2019, menunjukkan adanya penurunan realisasi investasi secara Penanaman Modal Dalam Negeri atau PMDN sepanjang 2019 sektor TPT turun 8,2 persen atau Rp290,89 miliar dengan 333 proyek dibandingkan dengan 2018 Rp316,9 miliar dengan 217 proyek.

Ditinjau dari Penanaman Modal Asing atau PMA tercatat lebih baik atau naik 21persen US$73,08 juta dengan 452 proyek dibanding dari 2018 US$60,30 juta dengan 419 proyek.

Sekretaris Jenderal API Jawa Barat Rizal Rakhman mengatakan pada 2020 ini pelaku usaha TPT akan tetap optimistis meski lebih realistis. Untuk itu, ada tiga poin yang ditekankan dalam mendukung peningkatan kinerja.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berencana untuk memberikan insentif bagi pabrikan yang mendapatkan sertifikasi industri hijau.

Kepala Pusat Industri Hijau Kemenperin Teddy Caster Sianturi mengatakan sertifikasi industri hijau memiliki derajat yang sama dengan standar nasional Indonesia (SNI).

Menurutnya, terdapat 13 standar yang harus dipenuhi pabrikan untuk mendapatkan sertifikasi tersebut. Namun demikian, jumlah pabrikan yang baru mendapatkan sertifikasi industri hijau baru mencapai 33 pabrikan dari sekitar 28.000 industri kecil dan menengah yang terdaftar di Pusat Industri Hijau Kemenperin.

"13 standar itu disusun berdasarkan [masukan] kalangan industri itu sendiri, asosiasi, dan pengamat. Jadi, kalau industri sendiri yang menyatakan [standar] itu terlalu tinggi, berarti dia tidak ikut menyusun," katanya kepada Bisnis, Rabu (22/1/2020).

Lambatnya ekonomi global membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2019 diperkirakan hanya 5%. Hal itu karena melambatnya perdagangan dan investasi, di tambah industri manufaktur yang merupakan sektor paling berkontribusi dalam perekonomian domestik juga mengalami penurunan.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia menilai, tren perlambatan global untuk perdagangan dan pertumbuhan ekonomi akan berlanjut pada tahun 2020. Setyono Djuandi Darmono, Founder Jababeka Group mengatakan, artinya target pertumbuhan ekonomi yang diincar pemerintahan sebesar 6%-7% akan menghadapi jalan terjal.

"Namun tidak usah cepat cemas. Dengan pasar yang besar, Indonesia masih akan menjadi daya tarik bagi investor asing untuk berinvestasi. Capaian 6%-7% sebenarnya masih sangat mungkin. Hanya saja perlu adanya gebrakan," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Kamis (23/1).

Lebih lanjut ia bilang, pemerintah harus mempercepat reformasi yang signifikan guna meningkatkan iklim investasi.

Industri pengolahan masih konsisten memberikan kontribusi terbesar ekspor nasional dengan menyumbang ekspor senilai 126,57 miliar dolar AS atau 75,5 persen dari total ekspor Indonesia yang menyentuh angka 167,53 miliar dollar AS pada Januari-Desember 2019.

“Pemerintah memang sedang fokus menggenjot nilai ekspor untuk memperbaiki neraca perdagangan kita. Oleh karena itu, sektor manufaktur memiliki peranan yang sangat penting guna mencapai sasaran tersebut,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lima sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap capaian nilai ekspor industri pengolahan sepanjang tahun 2019, yaitu industri makanan menyumbang (21,46 persen), industri logam dasar 17,37 miliar dolar AS (13,72 persen), industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia tercatat 12,65 miliar dolar AS (10 persen), industri pakaian jadi menembus 8,3 miliar dolar AS (6,56 persen), serta industri kertas dan barang dari kertas yang menyetor 7,27 miliar dolar AS (5,74 persen).