Industri kimia merupakan jantung dari rantai pasok manufaktur nasional dengan hasil produknya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri lainnya.

Sehingga Kementerian Perindustrian terus memperkuat daya saing industri kimia nasional, termasuk sektor polivinil klorida (PVC), chlor-alkali plant (CAP), dan produk turunannya.

Ini disampaikan Menperin usai melakukan pertemuan dengan jajaran direksi AGC Chemicals Company, Jepang dan PT Asahimas Chemical, yang dihadiri oleh President of AGC Chemicals Company, Tatsuo Momii, Executive Officer of Essential Chemicals General Div. Yoshihisa Horibe, Presiden Direktur PT Asahimas Chemical Eddy Sutanto, dan Wakil Presiden Direktur PT Asahimas Chemical Kazunori Uchigashima di Jakarta, pada Rabu (22/10).

"Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya menjaga iklim usaha yang kondusif, menjamin pasokan bahan baku seperti garam industri, serta memastikan ketersediaan energi gas bumi bagi sektor tersebut," ucapnya, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Kamis (23/10).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri manufaktur tumbuh 4,94 persen sepanjang triwulan IV 2024 hingga triwulan II 2025. Sedangkan kontribusi sektor industri manufaktur terhadap produk domestik bruto atau PDB dalam periode tersebut mencapai angka 17,24 persen.

“Sektor manufaktur tetap ekspansif dan mempertahankan perannya sebagai tulang punggung ekonomi nasional,” kata Agus saat konferensi pers di Jakarta pada Senin, 20 Oktober 2025.

Agus menyebut kinerja sektor industri manufaktur dalam setahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kinerja positif di tengah tantangan geoekonomi dan geopolitik global.

Adapun investasi dari sektor manufaktur dalam setahun terakhir mencapai Rp 568,4 triliun atau setara 40,72 persen dari total investasi nasional. Menurut Agus, angka ini menciptakan 19,44 juta penyerapan tenaga kerja atau 13,41 persen dari total penyerapan tenaga kerja nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan sektor industri manufaktur Indonesia tetap tangguh di tengah tekanan global seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, lonjakan harga energi, serta gangguan rantai pasok dunia.

Dalam kondisi tersebut, sektor industri pengolahan nonmigas (IPNM) tetap mencatatkan kinerja ekspansif dan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Kinerja positif tersebut didukung oleh kebijakan pemerintah yang berfokus pada peningkatan produktivitas, penguatan struktur industri, serta percepatan transformasi teknologi. Khususnya, Kementerian Perindustrian mengusung reformasi kebijakan berbasis nilai tambah dan adaptasi teknologi, yang diyakini menjadi kunci untuk menjaga daya saing industri di tengah perubahan ekonomi global yang cepat.

Ini disampaikan Menperin pada konferensi pers “1 Tahun Kinerja Industri Kabinet Merah Putih” di Jakarta, Senin (20/10/2025).

Volume penjualan semen di dalam negeri masih melambat hingga kuartal III-2025. Pada periode yang sama, volume penjualan ke pasar ekspor justru melesat.

Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Lilik Unggul Raharjo mengungkapkan volume penjualan semen di pasar dalam negeri masih di bawah ekspektasi, yakni berada di level 45,67 juta ton. "Penjualan tidak sesuai ekspektasi karena di bawah tahun lalu untuk periode sampai kuartal ketiga, minus 2,4%," ujar Lilik saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (14/10/2025).

Sebaliknya, volume ekspor semen tercatat sebesar 920.000 ton, atau mencerminkan kenaikan sekitar 17%. Ekspor produk setengah jadi atau klinker juga naik dengan level dobel digit, yakni 20%.

Timor Leste dan Australia menjadi pasar utama ekspor semen. Sementara pasar terbesar ekspor klinker menyasar Bangladesh, Taiwan dan Australia. "Di negara tujuan, kebutuhan juga naik. Di samping ada negara yang kondisinya membuat produk Indonesia lebih kompetitif," imbuh Lilik.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memaparkan kinerja industri pengolahan non-migas alias sektor manufaktur. Pemaparan ini sebagai bagian dari evaluasi satu tahun kinerja pemerintahan yang dipimpin oleh Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. 

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan dalam setahun terakhir ini pelaku industri berhadapan dengan dinamika perdagangan global yang mengalami perubahan signifikan. Tantangan utama datang dari kebijakan tarif dan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China, serta ketegangan geo-politik, khususnya di Timur Tengah.

Kondisi tersebut berdampak terhadap rantai pasok global. Selain itu, dalam periode tertentu memicu kenaikan harga energi dan logistik, yang mengerek biaya produksi dan berdampak terhadap daya saing industri dalam negeri.

Produsen alat berat asal China, LiuGong Indonesia akan berinvestasi US$317 juta atau setara Rp5,2 triliun untuk membangun pabrik yang memproduksi alat berat di Kawasan Industri Artha Industrial Hill, Karawang Barat. 

Hal ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman LiuGong Indonesia melalui PT LiuGong Machinery Manufacturing Indonesia terkait rencana investasi di kawasan industri tersebut. 

Presiden Direktur LiuGong Indonesia Levi Lin mengatakan pihaknya menargetkan fasilitas manufaktur tersebut akan mulai beroperasi pada 2026. 

“Pabrik ini bakal menjadi salah satu pabrik alat berat terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi hingga 5.000 unit per tahun pada 2030,” kata Levi Lin dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (11/10/2025).