Sektor lapangan usaha transportasi dan pergudangan menunjukkan tanda-tanda pemulihan di kuartal III 2020. Tidak tanggung-tanggung, sektor ini bahkan mengalami pertumbuhan hingga double digit secara kuartalan atau quarter-to-quarter (qoq).

Mengutip laporan Berita  Resmi Statistik  Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2020, lapangan usaha transportasi dan pergudangan tumbuh sebesar 24,28% secara kuartalan di kuartal III 2020. Dengan capaian tersebut, lapangan usaha transportasi dan pergudangan menjadi sektor dengan pertumbuhan kuartalan paling tinggi pada kuartal III tahun ini.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita mengatakan, pertumbuhan lapangan usaha pergudangan di kuartal III 2020 menunjukkan dua hal, yakni pergerakan barang yang mulai aktif di satu sisi, serta buying power yang masih lemah sehingga menyebabkan penumpukan barang di gudang pada sisi lainnya.

Investasi pada industri makanan dan minuman (mamin) dinilai akan semakin meninggi pada 2021. Pasalnya, realisasi pertumbuhan investasi pada industri mamin tetap tinggi selama pandemi Covid-19.

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) mendata investasi pada industri mamin tumbuh sekitar 14 persen pada Januari-September 2020 secara tahunan. Adapun, total nilai investasi yang masuk ke sektor manufaktur hingga akhir kuartal III/2020 mencapai Rp139,6 triliun.

"[Industri mamin] menduduki rangking 7 dari semua investasi [berdasarkan sektor]. Menurut saya, prospek 2021 pasti akan lebih baik karena [investasi pada] 2020 dalam kondisi sulit saja investor [masih ada]," kata Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman kepada Bisnis, Selasa (3/11/2020).

Adhi menilai pertumbuhan nilai investasi pada 2021 akan lebih besar dari 14 persen. Pasalnya, ujar Adhi, peluang investasi di industri mamin masih sangat luas, khususnya pada industri hulu.

Kendati pandemi Covid-19 masih berlangsung, sejumlah pabrik kendaraan baik motor dan mobil telah memutuskan beroperasi kembali pada paruh kedua tahun ini.

Industri ban pun mendapat berkah akhir tahun usai utilisasi yang sempat anjlok sekitar 40 persen.

Badan Pusat Statistik mencatat produksi mobil pada kuartal III/2020 telah mengalami perbaikan mencapai 113.563 unit atau naik 172,78 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya meski secara tahunan masih terkontraksi atau turun 68,47 persen.

Demikian pula untuk penjualan mobil, BPS mencatat ada ankenaik 362,17 persen secara kuartalan dan turun 59,3 persen secara tahunan.

Ekonom menilai indeks manufaktur Indonesia yang masih bertengger di bawah level 50 atau 47,8 di tengah pandemi Covid-19 yang belum selesai dan pelaku industri belum ekspansif merupakan hal yang wajar.

Ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia Fajar B. Hirawan mengatakan PMI Manufaktur yang berada di kisaran 45-50 sudah paling optimal di tengah pandemi yang belum berakhir ini.

"Kenaikan tipis dari angka PMI sebelumnya pada September semoga menjadi sinyal yang baik bagi dunia usaha di tengah upaya pemerintah menggolkan omnibus law, khususnya yang terkait dengan ketenagakerjaan melalui UU Cipta Kerja," katanya kepada Bisnis, Senin (2/11/2020).

Fajar menilai wajar jika pelaku usaha atau industri masih wait and see karena belum kondusifnya hubungan antara perusahaan dan pekerja pasca penetapan UU Cipta Kerja.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menginginkan agar kenaikan Purchasing Managers’ Index(PMI) manufaktur Indonesia pada Oktober 220 menjadi pendorong dalam pemulihan ekonomi RI dari dampak pandemi COVID-19.

“Walaupun terjadi kenaikan tipis, masih menunjukkan kepercayaan yang tinggi dari para pelaku industri. Semoga menjadi semangat bersama untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional,” kata Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

Diketahui, industri manufaktur Tanah Air perlahan mulai bangkit kembali di tengah tekanan berat akibat dampak pandemi COVID-19 yang tercermin dari PMI manufaktur Indonesia bulan Oktober yang menembus level 47,8 atau naik dibanding capaian pada September yang menempati posisi 47,2 sebagaimana dilansir oleh IHS Markit.

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyatakan kuartal IV/2020 dapat menjadi momentum peningkatan utilisasi pabrikan meski ancaman Covid-19 masih membayangi.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman meyakini kuartal IV/2020 dapat menjadi peluang bagi pabrikan makanan dan minuman, karena beberapa liburan panjang dalam 3 bulan terakhir tahun ini dapat meningkatkan aktivitas masyarakat di luar rumah.

"Kegiatan-kegiatan [di luar rumah] itu pasti memerlukan makanan dan minuman. Industri mamin pasti salah satu yang ikut terangkat," ujarnya kepada Bisnis pada Selasa (27/10/2020).

Adhi mendata saat ini rata-rata utilisasi industri mamin berada di posisi 70 persen. Menurutnya, momentum pada kuartal IV/2020 dapat membuat utilisasi industri mamin ditutup di atas level 70 persen pada tahun ini.