Permintaan mesin cuci (washing machine) dalam negeri terus mengalir deras. Oleh karena itu para produsen mesin cuci terus meningkatkan kemampuan produksinya. Seperti misalnya Sharp yang kabarnya akan ekspansi.

Sebelumnya, Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Janu Suryanto menyampaikan Sharp akan merelokasi pabrik mesin cuci dari Thailand ke pabrik yang ada di Karawang International Industrial City (KIIC). Rencananya, peresmian ekspansi pabrik Sharp akan dilakukan bulan depan. "Total investasinya ratusan miliar," kata Janu beberapa saat lalu.

Andry Adi Utomo, Senior General Manager National Sales PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) mengkonfirmasi bahwa kabar tersebut benar. Hanya saja dirinya belum mau memberikan keterangan kapasitas produksi maupun nilai investasinya. "Nanti akan launching awal bulan Juli dan produksi untuk mesin cuci satu tabung auto," kata Andry kepada KONTAN, Senin (24/6).

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Abdul Rochim membidik industri makanan dan minuman mampu tumbuh di atas delapan persen hingga akhir 2019.

"Ya kalau bisa sembilan persen atau 10 persen," kata Abdul Rochim saat ditemui usai dilantik di kantor Kemenperin di Jakarta, Kamis.

Rochim menyampaikan target pertumbuhan tahun ini dipatok sesuai dengan harga sawit yang turun drastis, di mana produk ini masih menjadi andalan pertumbuhan industri mamin.

"Makanya, itu menjadi prioritas bagaimana sawit bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin di dalam negeri, sehingga harganya bisa meningkat," ungkap Rochim.

Di tengah kinerja ekspor yang melambat selama Januari-Mei 2019, Badan Pusat Statistika (BPS) mencatat sektor besi dan baja menjadi satu dari tiga yang mencatat pertumbuhan kinerja. Pertumbuhan nilai ekspor diproyeksi akan berlanjut pada semester II/2019

Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Assoiation (IISIA) Silmy Karim mengatakan bahwa kenaikan ekspor tersebut didorong oleh produk baja antikarat (stainless steel). Menurunnya, industri baja antikarat domestik memang berorientasi ekspor mengingat permintaan dalam negeri masih rendah.

"Pertumbuhan nilai ekspor tersebut akan berlanjut pada semester II/2019 mengingat permintaan lokal yang masih akan turun pada semester II/2019," ujarnya, Senin (24/6/2019).

Seiring berjalannya proyek baik swasta maupun pemerintah setelah libur panjang, maka permintaan akan material bangunan dipercaya bakal bertumbuh. Untuk itu para pelaku usaha telah bersiap memenuhi kebutuhan tersebut.

Edy Suyanto, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengatakan tarikan pasar di semester II nanti diprediksi bakal membaik. "Karena secara trend di beberapa tahun terakhir memang pasar naik di semester nanti karena mulai bergulirnya proyek-proyek pemerintah khususnya infrastruktur bangunan fisik," ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (16/6).

Diharapkan pasca pemilihan umum di tahun ini pasar dapat bergairah kembali. Edy yang juga menjabat sebagai Direktur PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) ini mengatakan jenis keramik yang berpeluang meningkat permintaannya salah satunya segmen menengah ke bawah untuk perumahan rumah bersubsidi dan rusunawa.

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) memproyeksikan volume produksi sepatu nasional akan tumbuh di bawah 5 persen. Di sisi lain, Badan usat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor alas kaki pada kuartal I/2019 naik 8,66 persen.

Direktur Eksekutif Asprisindo Firman Bakrie mengatakan hal tersebut sejalan dengan survei yang dilakukan asosiasi kepada para anggota mengenai produksi pada kuartal I/2019. Para anggota, ujarnya, menyatakan produksi pada kuartal I/2019 meningkat.

“Untuk domestik memang ada kenaikan. [Pendorongnya adalah] tren positif dari [situasi] politik yang sudah berlangsung secara aman. Kemudian kenaikan gaji pegawai terkait dengan tingkat konsumsi. Itu beberapa indikasi positif untuk konsumsi di dalam negeri,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (20/6/2019).

Meski perang dagang antara Amerika Serikat dan China masih terus berlangsung dan menimbulkan gejolak perekonomian global, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) berharap Indonesia bisa memanfaatkan peluang dengan mendorong ekspor ke Amerika Serikat.

Wakil Bendahara Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Hipmi Ajib Hamdani mengatakan pada satu sisi perang dagang menimbulkan gejolak bagi perekonomian global, tetapi di sisi lainnya perang dagang juga memiliki peluang bagi perekonomian Indonesia.

“Walapun perang dagang berdampak pada menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, kita jangan terlalu khawatir atas permasalahan perang dagang, kita harus bisa melihat peluang dari perang dagang ini agar perekonomian nasional bisa tetap stabil,” ujarnya melalui keterangan resmi, Jumat (14/6/2019).