Kementerian Perindustrian mendukung peningkatkan nilai ekspor nasional, terutama dari sektor industri.

Sepanjang 2019, industri memberikan kontribusi terbesar hingga US$126,57 miliar atau 75,5 persen dari capaian nilai ekspor nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan oleh karena itu, pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pengembangan sektor-sektor industri yang berorientasi ekspor.

Adapun lima sektor industri pengolahan nonmigas yang mencatatkan nilai ekspornya paling besar pada 2019, yakni industri makanan dan minuman yang sebesar US$27,28 miliar. Kemudian, industri logam dasar sebesar US$17,37 miliar, serta industri tekstil dan pakaian jadi mencapai US$12,90 miliar.

Selanjutnya, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia menyumbang US$12,65 miliar serta industri barang dari logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik yang menyetor senilai US$11,91 miliar.

Pemerintah fokus memacu sektor industri agar lebih gencar meningkatkan nilai investasi dan ekspornya. Upaya ini diyakini mampu mendorong penguatan daya saing sektor manufaktur dan struktur ekonomi nasional. Terlebih, potensi industri dalam negeri diharapkan bisa dimanfaatkan secara maksimal, baik di pasar domestik maupun ekspor.

“Sampai saat ini, pertumbuhan ekonomi nasional didorong oleh industri pengolahan nonmigas dengan kontribusi 17,58%. Dengan adanya tekanan ekonomi global, industri pengolahan juga masih menjadi penyumbang ekspor terbesar dengan kontribusi 75,6% dari total ekspor nasional,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada acara Perluasan Investasi dan Pelepasan Ekspor ke Amerika Serikat oleh PT. Future Pipe Industries di Balaraja, Tangerang, Banten, Rabu (26/2).

Tantangan tersebut, ujar Menperin, perlu dijawab dengan kebijakan responsif yang relevan untuk menjawab ketidakpastian.

Kementerian Perindustrian optimistis kinerja Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) dapat tumbuh 4,7 persen dengan kontribusi ekspor ditargetkan menembus US$38,7 miliar.

Target ambisius tersebut dipatok di tengah ketidakpastian kondisi global, sentimen negatif wabah virus corona hingga daya saing industri.

Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin Harjanto mengatakan di tengah tantangan tersebut, perlu terus digaungkan upaya pengembangan daya saing industri nasional. Dia berharap, kontribusi industri logam, mesin, alat transportasi dan elektronika meningkat dan mendukung pembangunan industri nasional.

Kemenperin mencatat, total penanaman modal asing (PMA) sektor ini senilai US$4,8 miliar dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp12,3 triliun pada 2019. Sektor ILMATE memberikan kontribusi terhadap kinerja industri pengolahan nonmigas sebesar 22,11 persen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan lima strategi untuk mempercepat pertumbuhan sektor industri. Diharapkan, melalui kinerja industri yang gemilang, turut mendongkrak perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat.

“Langkah pertama, koordinasi pembangunan industri dengan kementerian dan lembaga terkait lain,” tuturnya ketika Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Kamis (20/2).

Upaya tersebut, meliputi dua aktivitas utama, yaitu penjaminan pemenuhan kebutuhan bahan baku dan bahan penolong bagi industri manufaktur. Strategi ini antara lain melibatkan Kementerian Perdagangan, Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Keuangan, serta Kementerian BUMN. “Selain itu, kami melakukan koordinasi untuk mendapatkan dukungan fiskal dan pembiayaan sektor industri,” ujarrnya.

Langkah kedua, implementasi program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), antara lain melalui optimalisasi belanja modal pemerintah pusat dan BUMN, pengaturan impor produk yang sudah bisa diproduksi dalam negeri, serta pengenaan sanksi bagi yang melanggar ketentuan terhadap kewajiban penggunaan produk dalam negeri.

Industri manufaktur Indonesia kembali menunjukkan geliat positif pada Februari 2020. Hal ini tercermin dari capaian Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis oleh IHS Markit, dengan memperlihatkan kenaikan dari 49,3 pada bulan Januari ke posisi 51,9 pada Februari 2020.

Peningkatan PMI manufaktur Indonesia tersebut, pertama kalinya pada kondisi bisnis sejak bulan Juni lalu. Poin PMI di atas angka 50 menandakan bahwa sejumlah sektor manufaktur masih melakukan upaya perluasan usaha atau ekspansif.

“Melalui laporan tersebut, kami optimistis terhadap kepercayaan diri dari para investor di sektor industri yang masih tumbuh. Selain itu, mereka juga melihat bahwa iklim usaha di Indonesia tetap kondusif,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resminya, Selasa (3/3).

Menurut data IHS Markit, kenaikan PMI manufaktur Indonesia bulan Februari didorong oleh bisnis baru dan kecepatan ekspansi output. Akibatnya, sejumlah perusahaan menambahkan lebih banyak karyawan dan aktivitas pembelian.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pengembangan industri unggulan di Tanah Air, salah satunya industri konversi ampelas, karena selain memiliki ketersediaan bahan baku berupa sumber daya alam yang tersebar di wilayah Indonesia, industri bahan galian nonlogam tersebut juga diproyeksikan mampu menyerap banyak tenaga kerja.

“Industri konversi ampelas merupakan industri padat karya yang menciptakan peluang lapangan pekerjaan yang besar, dengan kebutuhan bahan baku yang dapat menyesuaikan standar kualitas dari pengguna akhir,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam lewat keterangannya di Jakarta, Rabu.

Khayam menyampaikan hal itu saat menghadiri pertemuan dengan Asosiasi Industri Konverting dan Abrasives Indonesia (AIKASINDO).

Khayam mengungkapkan seiring dengan pertumbuhan pasar dalam negeri yang terus meningkat, industri konversi ampelas nasional dinilai cukup prospektif, mengingat kebutuhan ampelas nasional mencapai angka Rp655 miliar.