Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya memperkuat kerja sama industri otomotif Indonesia dan Jepang melalui Forum Bisnis Suku Cadang Kendaraan di Nagoya, Jepang.

"Merupakan suatu kebanggaan untuk melihat begitu banyak perusahaan dari Indonesia dan Jepang yang mengikuti acara ini, menandakan ketertarikan yang besar untuk mengambil peluang yang ada," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita pada acara yang berlangsung di Nagoya, Jepang, sebagaimana keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Menperin menyampaikan dari sekitar 30.000 jenis komponen atau suku cadang mobil, sebesar 15 persen atau 4.500 jenis berpeluang dipasok dari IKM Indonesia. Namun saat ini baru sekitar 900-an jenis komponen yang sudah dipasok. Karena itu perlu upaya untuk meningkatkan persentasenya.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, kinerja ekspor industri pengolahan sepanjang Januari-Mei 2022 mencapai USD 83,73 miliar. Angka tersebut tumbuh 25 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar USD 66,99 miliar.

Nilai pengapalan sektor industri memberikan sumbangsih tertinggi, dengan menembus 72,83 persen dari total nilai ekspor nasional selama lima bulan ini yang menyentuh USD 114,97 miliar.

“Capaian ekspor dari sektor industri manufaktur berkontribusi terhadap neraca perdagangan Indonesia yang terus melanjutkan tren surplusnya pada Mei 2022, dengan nilai mencapai USD2,89 miliar. Tren surplus ini dialami sejak Mei 2020 atau selama 25 bulan berturut-turut,” kata Agus dalam keteragan tertulis, Selasa (21/6/2022).

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 15 Tahun 2022 terkait kebijakan pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) atas impor produk Hot Rolled Coil of Other Alloy (HRC Alloy) asal China. Aturan tersebut berlaku pada 15 Maret 2022.

Meski baru berlaku, kebijakan ini telah berdampak pada penurunan volume impor produk Hot Rolled Coil (HRC) yang masuk ke pasar domestik khususnya pada kuartal I tahun 2022.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor baja (HS Code 72) untuk produk HRC pada periode kuartal I 2022 mengalami penurunan sebesar 4% menjadi 312 ribu ton dibandingkan periode yang sama pada tahun 2021 yaitu sebesar 326 ribu ton.

Tren surplus neraca perdagangan komoditas industri pengolahan Tanah Air tercatat telah berlangsung lebih dari 2 tahun atau selama 25 bulan berturut-turut sampai dengan kinerja Mei 2022.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mengatakan tren surplus tersebut berlangsung sejak Mei 2020 sebelum kemudian kembali mengalami kinerja positif pada Mei lalu.

Perlu diketahui, kinerja ekspor industri pengolahan sepanjang Januari-Mei 2022 mencapai US$83,73 miliar atau tumbuh 25 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya senilai US$66,99 miliar.

Nilai pengapalan sektor industri memberikan kontribusi tertinggi, dengan menembus 72,83 persen dari total nilai ekspor nasional selama 5 bulan terakhir yang menyentuh US$114,97 miliar.

Restrukturisasi kredit perbankan dinilai memberikan napas kepada sektor manufaktur yang masih memerlukan waktu untuk pulih pascapandemi Covid-19.

Menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bima Yudhistira, beberapa industri di sektor tersebut, seperti tekstil dan garmen masih menghadapi tekanan dari sejumlah hal.

Antara lain, kenaikan impor bahan baku, kapasitas produksi yang belum kembali ke kondisi prapandemi Covid-19, serta kekhawatiran permintaan ekspor yang terganggu sinyal resesi.

"Setidaknya, restrukturisasi yang diperpanjang akan memberikan napas kepada sektor manufaktur yang masih butuh waktu untuk recover," kata Bhima kepada Bisnis, Kamis (23/6/2022).

Perusahaan alat berat didorong untuk melakukan perluasan pabrik untuk mengantisipasi lonjakan permintaan alat berat akibat lonjakan kebutuhan batu bara dunia.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bima Yudhistira mengatakan langkah itu perlu diambil karena permintaan batu bara dari Eropa dan harga komoditas tersebut akan terus tinggi dalam 2-3 tahun ke depan.

Dengan kata lain, kata Bhima, persediaan alat berat di Indonesia diperlukan untuk keperluan jangka panjang. Selain produsen dari luar negeri, sambungnya, perusahaan dalam negeri didorong untuk melakukan perluasan pabrik.

"Perlu ada tim dari BKPM untuk memanfaatkan situasi ini. Sebab, lebih baik ada relokasi pabrik alat berat ke Indonesia daripada harus impor," ujar Bhima kepada Bisnis, Senin (20/6/2022).