Kementerian Perindustrian menyatakan produksi alas kaki dan tekstil dan produk tekstil (TPT) bisa mendorong pertumbuhan industri manufaktur hingga mencapai 7 persen.

Padahal, menurut Badan Pusat Statistik dalam Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Agustus 2019, pertumbuhan produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang (IBS) pada kuartal II/2019 adalah 3,62 persen year-on-year.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian Muhdori menyatakan pada kebijakan nasional 2020-2024, ada sejumlah target yang harus dilakukan untuk mencapai pertumbuhan pada kisaran 4,8 persen sampai 7,0 persen.

Industri otomotif merupakan salah satu sektor andalan dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui capaian ekspornya.

Sasaran ini berdasarkan pada peta jalan Making Indonesia 4.0, bahwa industri otomotif bagian dari lima sektor manufaktur yang mendapat prioritas pengembangan, agar mampu menghasilkan produk yang berdaya saing global dalam kesiapan memasuki era industri 4.0.

“Kami optimistis, sektor industri otomotif bisa menjadi primadona untuk mendongkrak ekspor nasional. Targetnya pada tahun 2030, industri otomotif di Indonesia ada yang menjadi champion, baik itu untuk produksi kendaraan internal combustion engine (ICE) atau electrified vehicle (EV),” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Harjanto di dalam keterangan pers, Kamis (15/8).

Kementerian Perindustrian memproyeksikan bisnis industri baterai kendaraan listrik di dalam negeri akan semakin tumbuh dan berkembang. Hal ini seiring implementasi Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

"Apalagi di dalam regulasi tersebut, mendorong pengoptimalan konten lokal, yang sekaligus nantinya untuk meningkatkan daya saing dan memperdalam struktur industri kita," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya, Kamis (29/8).

Menurut Menperin, salah satu hal penting dalam percepatan industri kendaraan listrik adalah penyiapan industri pendukungnya sehingga mampu meningkatkan nilai tambah industri di dalam negeri. Misalnya, penyiapan industri Power Control Unit (PCU), motor listrik dan baterai.

Inovasi sektor hulu dan antara di industri makanan dan minuman (mamin) perlu dipacu agar produk dalam negeri lebih berdaya saing.

Adhi S. Lukman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), mengatakan inovasi merupakan kunci di industri mamin, terutama di sektor hulu dan intermediate atau antara. Pasalnya, saat ini sektor tersebut dinilai sangat ketinggalan dibandingkan dengan negara lain.

Hal ini terlihat dari besarnya impor bahan baku dan bahan penolong untuk industri mamin hilir. Gandum, misalnya, 100% masih diimpor begitu pula dengan komoditas lain seperti garam, susu, bawang putih, dan bahan perasa yang porsi impornya antara 60% hingga 90%. Adapun, untuk produk hilir di Indonesia sudah baik dengan porsi impor yang hanya 7%-8%.

Industri sepatu tanah air terus menggenjot peluang ekspor. Meski persaingan di tingkat global semakin ketat, namun kualitas produksi sepatu lokal tetap terjaga.

Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Sepatu Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri menuturkan, saat ini posisi ekspor Indonesia berada di urutan ketiga setelah China dan Vietnam. Namun kompetisi mulai menguat di mana negara seperti Kamboja mulai menguat ekspornya.

"Ekspor sepatu Indonesia (2018 kemarin) sekitar US$ 5,1 miliar, sementara Kamboja sudah mendekati US$ 4 miliar," sebutnya kepada Kontan.co.id, Senin (26/8).

Oleh karena itu, Firman berharap industri ini dapat didorong dengan regulasi yang meningkatkan competitiveness-nya.

Pemerintah terus berupaya mendorong industri khususnya manufaktur agar dapat mendongkrak perekonomian nasional. Apalagi Indonesia sudah masuk dalam kelompok G-20 dengan kekuatan ekonomi terbesar di posisi ke-16 dunia.

“Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB masih sangat tinggi, karena kuenya juga masih besar. Jadi, perlu didorong untuk terus tumbuh,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi, pekan lalu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sektor industri masih memberikan kontribusi paling besar terhadap struktur produk domestik bruto nasional pada triwulan II/2019 dengan capaian 19,52% (yoy). Sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, industri pengolahan nonmigas tumbuh 3,98% (yoy) pada paruh kedua tahun ini.