Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono memaparkan hasil kinerja dan proyeksi ekspansi beberapa sektor industri andalan di Indonesia.

Dalam acara workshop bertajuk Pendalaman Kebijakan Industri 4.0 yang berlangsung di Mercure Hotel Padang, Sumatera Barat, Sigit menyatakan industri makanan dan minuman (mamin) mencatat kinerja positif secara konsisten dalam kurun lima tahun terakhir.

Tak hanya itu, bahkan pertumbuhan sektor industri mamin melampaui pertumbuhan ekonomi domestik dan berperan penting dalam peningkatan nilai tambah bahan baku di dalam negeri.

"Sektor ini tumbuh rata-rata di atas 8-9%. Industri makanan dan minuman ini kita berikan upaya-upaya peningkatan yang lebih besar lagi melalui industri 4.0, tentu pertumbuhannya bisa double-digit," ungkap Sigit di Padang, Sumbar, Selasa (8/10).

Kementerian Perindustrian masih optimistis realisasi produksi dan ekspor produk alas kaki bisa berbalik positif pada akhir tahun kendati hingga Agustus 2019 masih mengalami penurunan.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian Muhdori menjelaskan potensi pertumbuhan produksi dan ekspor produk itu sebenarnya masih terbuka, khususnya pada akhir tahun. Dia mengatakan potensi permintaan itu hadir dari permintaan produk dengan model baru.

Apalagi, sebut dia, Indonesia menjadi salah satu basis produksi dan fesyen alas kaki. Oleh karena itu, dia meyakini target pelaku usaha untuk memacu ekspor hingga 10 persen hingga akhir tahun ini masih bisa direalisasikan.

"Masih bisa tercapai, baik produksi maupun ekspor. Ada potensi saat winter dan hari-hari besar lain," ujarnya, Senin (23/9/2019).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat industri minuman pada semester I/2019 tumbuh sebesar 22,74% secara tahunan. Adapun, sektor industri minuman berkontribusi sebesar 2,01% terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim mengatakan pihaknya bertekad untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif di dalam negeri. Adapun, realisasi investasi pada industri minuman di dalam negeri mencapai sekitar Rp2,4 triliun (kurs Rp14.193).

“Pertumbuhan [industri] minuman sendiri kan besar 22% kan. Mudah-mudahan tidak berubah [sampai akhir tahun],” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (3/10/2019).

Jika diperinci, industri minuman berkontribusi sekitar 7,15% dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan 9,98% dari penanaman modal asing (PMA) pada industri makanan dan minuman (mamin) pada semester I/2019.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan percepatan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK CEPA) akan mempermudah kerja sama di sektor industri bagi kedua negara.

Kemenperin menilai kerja sama tersebut dapat memudahkan pelaku industri komponen dalam negeri berperan dalam rantai pasok global.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi mengatakan target perdagangan antara Indonesia dan Korea Selatan pada 2022 naik 61,29% menjadi US$30 miliar dari target tahun ini US$18,6 miliar.

“Korea adalah salah satu top 10 investor di Indonesia. Mereka punya industri yang potensial, khususnya sektor manufaktur,” ujarnya, Rabu (18/9).

Kemenperin menyatakan pada 2017 neraca perdagangan terhadap Korea Selatan surplus tipis 0,45% menjadi US$17 miliar. Adapun pemerintah telah menandatangani nota kesepahaman dalam ajang Indonesia-Korea Business and Investment Forum 2018 dengan nilai investasi US$6,2 miliar.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia optimistis mampu meningkatkan kinerja produksi sektor keramik hingga kisaran 5% - 6% pada 2019 kendati sejumlah tantangan masih mengadang.

"Kami secara keseluruhan tetap berharap [tumbuh] 5% - 6% pada tahun ini," kata Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto, Rabu (25/9/2019).

Dia mengatakan pada awal tahun ini pihaknya memperkirakan kinerja industri bisa menanjak kembali hingga berada di atas 10%. Namun, dia mengakui pelaku usaha keramik masih menghadapi sejumlah kendala.

Tantangan itu hadir dari arus produk impor yang masuk ke Indonesia. Edy menjelaskan hasil dari tindakan pengamanan atau safeguard yang diberikan pemerintah pada Okteober 2018 untuk menghadapi ancaman impor produk keramik China masih di luar ekspektasi.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan agar Jawa Tengah menjadi salah satu pusat industri. Targetnya selama lima tahun ke depan, konversi nilai investasi yang datang ke Jawa Tengah sebesar Rp 774 triliun atau target pertumbuhan ekonomi 7% melalui relokasi industri asing ke Provinsi tersebut.

Direktur Perwilayahan Industri Kemenperin Ignatius Warsito mengatakan berbagai lokasi yang kini dipertimbangkan. Sektor industri yang digarap juga masih dipertimbangkan. “Tak hanya relokasi tekstil, ada juga furniture dan baja, perikanan juga masuk dari negara asing,” katanya kepada Kontan.co.id pada Rabu (18/9).

Ada beberapa daerah yang kini dipertimbangkan seperti Kendal, Brebes, dan Magelang. Selain itu, ada pula usulan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah agar setiap Kabupaten bisa meningkat termasuk wilayah Tengah dan Selatan dari Provinsi Jawa Tengah.