Kementerian Perindustrian menilai seiring menghadapi adaptasi kebiasaan baru, industri kemasan diyakini akan lebih meningkat ke depan.

Berdasarkan data Indonesia Packaging Federation (2020), kinerja industri kemasan diproyeksi bertumbuh pada kisaran 6 persen pada 2020 dari nilai realisasi tahun lalu sebesar Rp98,8 triliun. Ditinjau dari materialnya, kemasan yang beredar sebesar 44 persen dalam bentuk kemasan fleksibel, 14 persen kemasan rigid plastic, dan 28 persen kemasan paperboard.

“Proporsi ini kami yakini akan meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kemasan lainnya, dengan didorong oleh pesatnya peningkatan pasar digital yang membuat mobilitas produk semakin tinggi. Karakteristik kedua kemasan tersebut, dari sisi ekonomi dan daya tahan membuatnya menjadi pilihan yang lebih baik,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih melalui siaran pers, Senin (30/11/2020).

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Doddy Rahadi menyampaikan bahwa utilisasi industri periode April-Oktober 2020 mulai membaik menjadi 56,50 persen.

“Utilisasi industri periode April-Oktober mulai membaik menjadi 56,50 persen,” kata Doddy saat membacakan sambutan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Rabu.

Doddy memaparkan utilisasi di masa pandemi cukup berat bagi sektor industri karena sebelum pandemi atau pada Januari-Maret 2020 utilisasi industri sebesar 76,29 persen.

Kemudian saat dihantam pandemi COVID-19 utilisasi mengalami penurunan hingga 40 persen dan secara perlahan kembali meningkat melalui berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Pada triwulan III 2020 industri pengolahan nonmigas masih mengalami kontraksi yaitu tumbuh sebesar  minus 4,02 persen.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong peningkatan utilisasi industri makanan dan minuman (mamin) melalui pemanfaatan teknologi, karena sektor strategis tersebut diharapkan terjaga produktivitasnya dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar selama masa pandemi COVID-19.

“Pandemi ini cukup memberikan dampak signfikan bagi industri nasional. Untuk itu, tantangan ini harus dimanfaatkan supaya rebooting bagi kemajuan sektor manufaktur nasional, termasuk industri makanan dan minuman,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Rahadi lewat keterangan resmi di Jakarta, Kamis.

Doddy mengemukakan industri mamin masih konsisten menjadi salah satu penopang terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah hantaman pandemi COVID-19, pada triwulan III tahun 2020, industri makanan dan minuman mampu memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB industri pengolahan nonmigas dengan nilai 39,19 persen.

Berbagai jenis industri manufaktur di Indonesia dinilai masih dalam posisi kesiapan awal menuju penerapan Industri 4.0 sehingga perlu lebih ditingkatkan sinergi antara berbagai pilar pemangku kepentingan sektor industri nasional.

"Secara umum industri manufaktur di Indonesia dalam posisi kesiapan awal untuk bertransformasi menuju Industri 4.0," kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Sony Sulaksono dalam webinar tentang Inovasi Industri Dalam Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional di Jakarta, Selasa.

Menurut Sony Sulaksono, hal tersebut dapat terlihat dari kajian sejumlah aspek seperti dari manajemen organisasi, produk dan layanan, hingga teknologi serta operasi pabrik yang dilakukan di berbagai bidang industri di Tanah Air.

Ekonom Senior Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri memprediksi bahwa hampir semua industri pengolahan nonmigas mengalami pemulihan pada 2021.

"Hampir semua bisa tumbuh lebih tinggi, tapi yang penting adalah industri farmasi, baik untuk manusia dan hewan. Sehingga kita nanti ongkosnya turun, peternakan kita bagus, unggas kita juga bagus, karena ketergantungannya makin turun," kata Faisal Basri pada seminar web bertajuk "Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021, Jalan Terjal Pemulihan Ekonomi", Kamis (26/11/2020).

Kemudian industri makanan dan minuman di mana sektor tersebut tetap tumbuh positif di tengah pandemi Covid-19 karena produk dari industri tersebut merupakan barang konsumsi yang tetap dibutuhkan masyarakat.

Penurunan tarif gas dinilai menjadi faktor utama percepatan perbaikan pada kuartal IV/2020. Pasalnya perbaikan pada sektor ini justru diprediksi pada tahun mendatang.

Seperti diketahui, penurunan tarif gas ke level US$6 per mmBTU efektif dirasakan oleh industri keramik pada Agustus 2020. Tarif gas pada Pulau Jawa Barat turun dari level US$9,1 per mmBTU, sedangkan tarif gas pada Jawa Timur turun dari US$7,98 per mmBTU.

"[Akibat tarif gas turun] daya saing kami membaik. Jadi, kami bisa lebih agresif di [pasar] ekspor. Ini pertama kali tren ekspor yang [selama ini] stagnan, cenderung menurun, pada kuartal III/2020 sudah menunjukkan pertumbuhan," kata Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto kepada Bisnis, Minggu (22/11/2020).