Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) optimistis proyeksi pertumbuhan manufaktur nasional pada 2020 yang dipatok Kementarian Perindustrian bisa direalisasikan.

Ade Sudrajat, Ketua API, mengatakan bahwa sejumlah pihak memang cenderung pesimistis dengan proyeksi tersebut. Namun, dia menegaskan ada sejumlah faktor yang mendasari asumsi pertumbuhan yang cukup tinggi tersebut.

Salah satunya, adalah upaya pemerintah merealisasikan Undang-undang Omnibus Law. Di samping itu, dia mengatakan segera rampungnya free trade agreement dengan Uni Eropa bakal menjadi sentimen positif bagi peningkatan ekspor manufaktur nasional.

"Ada lompatan-lompatan pada 2020 yang bisa mendukung proyeksi itu. Saya termasuk yang optimistis dengan proyeksi itu," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (7/1/2020).

Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI) optimistis industri mainan mampu bertumbuh di kisaran 10% - 15% pada 2020 dengan dukungan pemerintah melalui penetapan omnibus law.

"Dengan adanya omnibus law mungkin pada pertangahan tahun, kami optimistis bisa berdampak pada industri dan mungkin bisa tumbuh sampai 10% - 15%," kata Ketua APMI Sudarman Wijaya kepada Bisnis, Jumat (3/1/2020).

Menurutnya, sepanjang 2019 sejumlah sektor mainan bertumbuh di kisaran 5% - 10%. Sejumlah indikator, yaitu realisasi ekspor, produksi untuk pasar dalam negeri dan realisasi investasi baru, di sektor manufaktur ini pun meningkat.

Namun, Sudarman mengakui pertumbuhan itu belum optimal lantaran hadirnya sejumlah kendala. "Memang ekspor ada peningkatan, khususnya kuartal-kuartal terakhir, produksi untuk konsumsi dalam negeri juga sedikit lebih baik dari tahun sebelumnya dan ada realisasi investasi baru meski belum optimal."

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan pertumbuhan sektor manufaktur baru akan terasa pada kuartal IV/2020 seiring dengan berlakunya omnibus law.

Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan iklim ekonomi dan investasi dunia masih akan sulit pada tahun ini. Namun, Shinta meramalkan iklim manufaktur di dalam negeri akan membaik dengan berbagai kebijakan insentif pajak terkait investasi.

“Kuncinya, Indonesia harus sukses mengubah iklim usaha dan investasi nasional agar setidaknya menjadi semudah, seefisien, dan sekondusif iklim usaha dan investasi negara pesaing,” katanya kepada Bisnis, Selasa (7/1/2020).

Shinta menilai perubahan iklim usaha dan investasi tersebut dapat terwujud dengan adanya deregulasi, debirokratisasi, dan peningkatan konsistensi pelaksanaan kebijakan pendukung kinerja pabrikan. Dengan demikian, ujarnya, investasi ke sektor manufaktur dapat lebih tinggi dan berkualitas pada tahun depan.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mematok target investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp 886 triliun di tahun 2020 ini. Berbagai sektor industri diperkirakan masih menggeliat aliran investasinya, salah satunya manufaktur.

Dari sisi tekstil misalnya, dengan populasi penduduk yang besar dan sudah memiliki banyak pemain di bidang ini, Indonesia masih dipercaya sebagai ladang para pengusaha tekstil berinvestasi.

"Khususnya untuk garmen saya lihat masih ada kemungkinan menambah lagi," sebut Rizal Rakhman, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) kepada Kontan.co.id, Selasa (31/12).

Dari sektor hilir tekstil yakni garmen, tampaknya masih punya potensi untuk tumbuh, namun dari sisi hulu dan tengah tekstil kata Rizal masih belum ada tanda-tanda menambah investasi.

Kondisi ini disebabkan oleh penyerapan bahan baku tekstil asal dalam negeri yang masih belum maksimal, sehingga pelaku usaha masih wait and see.

Memasuki 2020, Kementerian Perindustrian optimistis terhadap industri manufaktur masih tumbuh positif, meskipun di tengah kondisi global yang belum pasti.

“Untuk pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas pada tahun 2019, kami perkirakan sebesar 4,48% sampai 4,60%,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, seperti dikutip dari rilis yang diterima Kontan.co.id, Senin (6/1).

Lebih lanjut, ia memproyeksi pertumbuhan manufaktur bisa menyentuh di angka 4,80% - 5,30%. Target peningkatan tersebut seiring dengan melonjaknya produktivitas sejumlah sektoral melalui penambahan investasi.

Kontribusi PDB industri pengolahan nonmigas terhadap total PDB pada tahun 2020, diramal menanjak menjadi 17,80% sampai 17,95% seiring dengan pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas yang semakin membaik.

Pemerintah membuka pintu kepada para investor yang ingin masuk ke Indonesia untuk menumbuhkan industri manufaktur. Hal ini guna memperkuat struktur industri di dalam negeri, mulai dari sektor hulu sampai hilir, sehingga akan mendongkrak daya saing.

"Oleh karena itu, Bapak Presiden Joko Widodo menekankan kepada kami untuk mendorong hilirisasi industri di Tanah Air, karena akan berdampak luas terhadap perekonomian nasional seperti peningkatan lapangan kerja," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/12).

Pada Jumat (20/12) kemarin, Menperin sempat melakukan pertemuan dengan sejumlah investor dari Taiwan, antara lain Litemax Electronics Inc., perusahaan yang memproduksi alat komunikasi digital. Selain itu, perusahaan Taiwan Sugar Corporation serta CPC Corporation selaku perusahaan minyak dan gas alam.