Para pelaku industri kemasan didorong memaksimalkan segmen usaha kecil dan menengah lantaran potensinya besar dan terus berkembang.

Optimalisasi pada segmen pasar ini bakal memacu pertumbuhan industri kemasan pada 2020 yang diperkirakan mencapai kisaran 6% - 7%.

Hengky Wibawa, Ketua Federasi Pengemasan Indonesia, mengatakan saat ini industri kemasan dominan di Pulau Jawa, khususnya di Jabodetabek dan Surabaya. Industri kemasan di luar wilayah itu, katanya, juga bertumbuh, tetapi masih menyisakan peluang di sektor UKM.

Menurutnya, potensi itu kian signifikan dan perlu dioptimalkan pada 2020. "Karena yang belum digarap itu satu pasar UKM, seperti di Sulawesi, wilayah Nusa Tenggara, dan juga bahkan Bali," ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Guna memanfaatkan ceruk pasar itu, Hengky mengakui bahwa pelaku industri kemasan dihadapkan pada sebuah kendala, yakni volume permintaan yang kecil dari setiap UKM, kendati secara keseluruhan nilainya besar.

Asosiasi Aneka Keramik (Asaki) menetapkan target pertumbuhan produksi pada 2020 sekitar 4%—5%.

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengatakan rendahnya target pertumbuhan tersebut lantaran derasnya arus impor keramik dari China, India, dan Vietnam. Menurutnya, dukungan pemerintah sangat diperlukan agar utilitas pabrikan keramik dapat kembali sehat.

“Kecuali safeguard terhadap India dan Vietnam serta penetapan kuota impor dijalankan, Asaki optimis pertumbuhan double digit bisa terwujud dan tingkat utilisasi bisa beranjak naik ke angka 85%—90% dalam waktu 1 tahun — 2 tahun ke depan,” ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Edy menyatakan tahun ini utilitas produksi pabrikan keramik berada di level 67,74% dengan total produksi sekitar 340 juta—350 juta meter persegi (square meter/sqm). Utilitas tersebut meningkat dari tahun lalu yakni 60,39% dengan total produksi 308 juta sqm.

Asosiasi Semen Indonesia (ASI) akan mengarahkan pabrikan semen domestik untuk memacu ekspor guna mempercepat optimalisasi utilitas pabrikan semen nasional.

Ketua Umum ASI Widodo Santoso mengatakan pihaknya telah mengarahkan pabrikan lokal untuk memperbesar pasar ekspor hingga ke Benua Amerika. Menurutnya, sebagian pabrik telah mulai mengekspor semen ke Peru untuk membuka jalan ke pasar Amerika Selatan.

“Ekspor adalah yang satu-satunya kami harapkan bisa meningkat seperti tahun ini [atau] naik sekitar 15%—20%. Sehingga, apabila [konsumsi] dalam negeri ada penurunan bisa diantisipasi dengan kenaikan jumlah ekspor terebut,” katanya kepada Bisnis, Kamis (19/12/2019).

Dalam catatan ASI, volume ekspor pada November naik lebih dari 20% secara  tahunan menjadi 680.000 ton. Secara komposisi, ekspor semen pada november mencapai 129.621 ton, sementara itu ekspor clinker mencapai 554117 ton.

Penjualan produk ban di tahun depan diperkirakan punya prospek cerah. Hal ini didukung oleh populasi kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat di Indonesia.

Tak seperti tahun 2019 yang melamban, seiring lajunya pembangunan di berbagai pelosok daerah diharapkan dapat mendorong kinerja industri olahan karet ini.

"Tahun 2020 diharapkan ada perbaikan seiring perbaikan infrastruktur di daerah-daerah," sebut Aziz Pane, Ketua Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) kepada Kontan.co.id, Selasa (17/12).

Meski demikian asosiasi enggan memproyeksikan pertumbuhannya, sebab tahun ini industri tersebut melempem. Aziz menilai daya beli masyarakat yang melemah menyebabkan konsumen menunda penggantian ban kendaraannya.

Melemahnya daya beli tersebut turut mempengaruhi penyusutan impor ban di Indonesia, dimana hal tersebut menguntungkan bagi produsen dalam negeri. Hingga saat ini APBI mencatat ada sekitar 14 pabrik ban lokal dengan total kapasitas terpasang mencapai 85 juta unit per tahun.

Kementerian Perindustrian mendorong industri elektronik dalam negeri agar bisa mengambil peluang ekspor ke pasar Amerika Serikat, di tengah perang dagang yang masih berlanjut dengan China.

Langkah strategis ini diharapkan mampu memperbaiki defisit neraca perdagangan sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

“Apalagi, berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri elektronik merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang mendapat prioritas pengembangan agar lebih berdaya saing global, terutama dalam kesiapan memasuki era industri 4.0,” kata Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin Janu Suryanto lewat keterangannya di Jakarta, Rabu.

Janu mengungkapkan, sejumlah pelaku industri elektronik nasional telah mengekspor produknya ke Amerika Serikat. Nilainya hingga kuartal III tahun 2019, diproyeksi menembus 1 miliar dolar AS. Capaian tersebut, meningkat sekitar 10 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Yang baru adalah ekspor CCTV, pabriknya ada di Tangerang. Selain itu, produk air purifier juga sudah diekspor, dan tahun depan akan ada ekspor vacuum cleaner," ujarnya.

Kementerian Perindustrian terus mendorong pelaku manufaktur untuk menerapkan industri hijau.

Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan bahwa pemerintah proaktif mengajak pelaku industri di dalam negeri untuk menerapkan prinsip industri hijau seiring dengan makin tingginya kepedulian pasar terhadap kelestarian lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan.

“Kami terus mendorong industri nasional untuk menerapkan industri hijau melalui perbaikan, efisiensi, dan efektivitas produksi, dengan pendekatan no cost, low cost, ataupun high cost,” ujarnya melalui siaran pers, Senin (16/12/2019).

Untuk mengapresiasi pelaku industri manufaktur yang sudah berorientasi industri hijau, Sigit mengatakan bahwa Kemenperin menggelar kegiatan tahunan, yaitu Penganugerahan Penghargaan Industri Hijau.

Kegiatan itu, jelasnya, ditujukan untuk memberi manfaat yang cukup signifikan terhadap proses produksi perusahaan industri.

Pada 2019, sebanyak 151 perusahaan meraih Penghargaan Industri Hijau atau meningkat dari tahun sebelumnya 143 perusahaan.