Dalam Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa kegiatan usaha pada kuartal II/2019 menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan realisasi pada kuartal sebelumnya.
 
Hal ini tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 19,17 persen, lebih tinggi dari 8,65 persen pada kuartal I/2019. Survei itu menyebut peningkatan kegiatan usaha terutama terjadi di sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta industri pengolahan, yang didorong oleh meningkatnya permintaan domestik.
 
"Sejalan dengan peningkatan kegiatan usaha, rata-rata kapasitas produksi terpakai dan penggunaan tenaga kerja pada kuartal II/2019 juga meningkat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya," tulis survei tersebut, Kamis (11/7/2019).

Pasca kunjungan kerja Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto ke Korea Selatan dan Jepang realisasi investasi sektor otomotif kian benderang. Rencananya pabrikan otomotif seperti Toyota dan Hyundai mau investasi baru di Indonesia.

Pekan lalu Menperin melakukan pertemuan dengan President Toyota Motor Corp. Akio Toyoda dalam sesi One on One Meeting, Toyota akan mengembangkan kendaraan berbasis listrik khususnya hybrid di Indonesia. Rencananya, Toyota siap menggelontorkan dana sebesar Rp28,3 triliun selama empat tahun ke depan.

“Rencana investasi Toyota berikutnya terkait dengan kebijakan pemerintah yang baru, yaitu yang mendorong pengembangan electric vehicle. Nah, itu yang akan tercantum dalam dua PP. Pertama, mengenai percepatan kendaraan berbasis elektrik, dan yang kedua adalah kegiatan terkait dengan PPnBM untuk industri berbasis elektrik, yang di dalamnya termasuk hybrid. PPnBM itu akan menjadi nol kalau berbasis kepada elektrik dan emisinya paling rendah,” ungkap Airlangga pekan lalu dalam keterangan persnya.

Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) menilai industri kaca lembaran mulai menggeliat. Padahal sebelumnya industri kaca sempat lesu karena pemilihan umum dan lebaran.

"Industri kaca lembaran mulai menggeliat, meski belum sesuai yang diharapkan," kata Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan ketika dihubungi Kontan.co.id, Kamis (4/7). Sebabnya, sektor otomotif dan sektor properti belum pulih seperti yang diharapkan.

Sebagai informasi, sektor otomotoif dan sektor properti menjadi penyerap produksi kaca.  Adapun komposisinya: 65% sektor properti, 15% sektor otomotif, 12% furnitur, dan 8% sektor lainnya.

Yustinus menambahkan, penjualan kaca lembaran untuk sektor properti mengalami kenaikan penjualan sebesar 5% year on year (yoy). Ia bilang, pertumbuhan ini mengikuti dinamika kondisi makro nasional. Sementara itu, sektor otomotif mengalami kenaikan penjualan sebesar 3% yoy.

Industri keramik berpotensi memanen permintaan yang cukup besar di semester dua tahun ini. Libur panjang dan gelaran pesta demokrasi yang berdampak pada perlambatan proyek pembangunan di berbagai daerah awal tahun ini memang berdampak bagi penjualan keramik nasional.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto mengatakan, usai pemilu pasar bakal bergairah kembali. Sebab sepanjang kuartal I 2019, para pengusaha masih wait and see dengan ketidakpastian gejolak ekonomi dan politik saat itu.

Apalagi sejak safeguard untuk keramik China mulai diberlakukan, impor dari Negeri Tirai Bambu mulai berkurang 30% di tahun ini dan menstimulus beberapa produsen keramik agar mulai berbenah.

Kementerian Perindustrian terus memacu industri kosmetik dan obat tradisional agar menjadi sektor andalan yang berkontribusi besar terhadap nilai ekspor nasional dan mampu melakukan substitusi impor. Langkah strategis ini diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara inklusif.

"Industri kosmetik dan jamu bisa menjadi ujung tombak yang baru bagi sektor manufaktur dan ekonomi nasional, karena terdiri dari multiplayer. Jadi, industri ini sifatnya inklusif atau banyak masyarakat yang bisa mengembangkannya," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya yang diperoleh Kontan.co.id, Rabu (3/7).

Menperin mengungkapkan, postur skala industri kosmetik di Indonesia saat ini didominasi hingga 95% dari industri kecil dan menengah, sedangkan sisanya merupakan industri besar. Dari industri skala menengah dan besar ini, beberapa sudah mampu mengekspor produknya ke luar negeri seperti ke kawasan ASEAN, Afrika, dan Timur Tengah.

Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi Republik Korea Sung Yun Mo menyambut baik investasi besar sejumlah perusahaan Korea ke Indonesia dan berharap bisa turut memperkuat industri kecil menengah (IKM) di Tanah Air.

Hal itu disampaikan Sung Yun Mo dalam pertemuan dengan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Seoul, Rabu (26/6/2019).

Investasi besar yang sudah masuk a.l. Lotte Chemical dengan oil refinery untuk feedstock petrokimia, Posco dengan infrastruktur dan fasilitas pendukung Pelabuhan Patimban maupun LRT/MRT DKI. Ada juga LG dengan klaster ICT untuk mendukung Making Industry 4.0.