Pelaku usaha menyambut baik sejumlah kebijakan strategis yang telah dijalankan oleh Kementerian Perindustrian dalam mendukung aktivitas sektor industri sebagai upaya memacu pertumbuhan ekonomi nasional di tengah masa pandemi COVID-19.

Apresiasi tersebut, salah satunya datang dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Wakil Ketua Umum Gaikindo Jongkie D Sugiarto menyampaikan, saat ini sektor industri otomotif di dalam negeri membutuhkan dukungan dari regulator, khususnya Kemenperin.

“Wabah COVID-19 telah mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat dan berdampak pada operasional serta produktivitas industri otomotif. Walaupun demikian, kami sangat mengapresiasi perhatian dari Kemenperin yang aktif membantu industri otomotif bisa bertahan dalam menghadapi masa sulit sekarang ini,” kata Jongkie lewat keterangannya di Jakarta, Minggu.

Menurut Jongkie, salah satu kebijakan Kemenperin yang disambut positif, yaitu penerbitan Izin Operasional Mobilitas dan Kegiatan Industri (IOMKI) yang dapat menjamin industri untuk tetap produktif sehingga bisa memenuhi kebutuhan pasar.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa sektor industri manufaktur diwajibkan melakukan penyesuaian dalam menghadapi situasi normal baru atau new normal akibat pandemi COVID-19.

"Kita harus siap menghadapi new normal. Ini membuat target-target kita tidak mudah untuk kita capai. New normal itu misalnya, ketika masa-masa normal sebuah industri diperbolehkan untuk melibatkan 100 persen dari pekerjanya di industri itu," kata Menperin saat menggelar konferensi video di Jakarta, Rabu.

Situasi normal yang baru tersebut, lanjut Menperin, akan memengaruhi berbagai hal dalam menjalankan roda perindustrian. Misalnya dengan adanya protokol kesehatan yang baru, maka sektor industri yang mayoritas masih menggunakan sumber daya manusia, akan mengurangi jumlah karyawannya untuk bekerja. Hal itu akan memengaruhi sejumlah target dari industri itu sendiri karena adanya penyesuaian produktivitas para pekerjanya.

"Dengan adanya pembatasan, pasti akan memengaruhi dari timing yang menjadi target kita yang sudah dirumuskan secara baik," ujar Menperin.

Sejak pandemi virus corona (Covid-19), industri pakaian menjadi salah satu sektor usaha yang mengalami penurunan permintaan.  

Namun demikian, pemerintah optimistis peluang ekspornya masih terbuka, termasuk dengan adanya permintaan tinggi bagi produk garmen yang dibutuhkan dalam penanganan wabah Covid-19 tersebut.

Industri pakaian tetap merupakan salah satu sektor manufaktur yang perlu didorong untuk tetap produktif dan berdaya saing. Tahun lalu, industri pakaian menyumbangkan nilai ekspor sebesar US$8,3 miliar.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan, industri garmen memberikan kontribusi besar dalam upaya penanggulangan Covid-19.

“Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada perusahaan garmen yang turut memproduksi alat pelindung diri [APD] yang menjadi pasokan perlindungan diri yang dibutuhkan tenaga medis,” ungkapnya dalam keterangan resmi yang dikutip Bisnis, Senin (1/6/2020).

Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa relaksasi protokol pembatasan sosial berskala besar menjadi kunci terjadinya ekspor alat pelindung diri.

Kemenperin mendata saat ini industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional memiliki kapasitas produksi alat pelindung diri (APD) hingga 54 juta unit per bulan. Adapun, kebutuhan di dalam negeri hanya sekitar 10 juta unit per bulan.

"Disadari atau tidak Indonesia ke depannya bisa jadi produsen APD atau masker kain untuk dunia," kata Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Elis Masitoh kepada Bisnis, Rabu (27/5/2020).

Elis menjabarkan kebutuhan APD petugas kesehatan mencapai 5,5 juta unit per bulan. Adapun, lanjutnya, Kemenperin telah menyiapkan penyangga atau kebutuhan cadangan sekitar 5 juta—8 juta unit hingga akhir tahun ini.

Saat ini produksi APD nasional telah kelebihan suplai lebih dari 40 juta unit APD per bulan. Dia berpendapat produksi APD bisa menjadi titik cerah bagi industri TPT pada masa pandemi saat ini.

Ekspor industri pengolahan masih mencatatkan nilai positif di tengah pandemi COVID-19 dengan 42,75 miliar dolar AS pada Januari-April 2020 atau naik sebesar 7,14 persen dibanding periode yang sama  tahun sebelumnya.

“Neraca perdagangan untuk industri pengolahan pada periode Januari-April 2020 adalah surplus 777,34 juta dolar AS,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Janu Suryanto lewat keterangannya di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan nilai ekspor industri pengolahan pada April 2020 mencapai 9,76 miliar dolar AS dengan volume ekspor sebesar 8,49 juta ton atau naik 2,66 persen dibanding Maret 2020. Adapun sektor industri makanan menjadi penyumbang devisa terbesar pada April 2020 dengan angka 2,35 miliar dolar AS.

“Jika dilihat dari faktor pembentuknya, nilai ekspor industri makanan pada April 2020 didominasi oleh komoditas minyak kelapa sawit sebesar 1,30 miliar dolar AS atau memberi kontribusi sebesar 55,28 persen,” kata Janu.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menilai masa depan sektor manufaktur khususnya makanan dan minuman masih cukup prospektif meskipun pasar terimbas pandemi corona.

Plt. Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Farah Indriani mengatakan sektor manufaktur berpotensi besar untuk jauh lebih meningkat.

Dengan adanya kemajuan teknologi dan internet, proses produksi akan lebih efisien. Di samping itu, Indonesia memiliki keunggulan dari letak geografis dan pasar domestik, sehingga dapat dijadikan hub manufaktur di Asean.

“Angka-angka ini menjadi refleksi bahwa tidak bisa dipungkiri jika pasar domestik Indonesia adalah magnet investasi, khususnya industri makanan dan minuman,” ujar Farah dalam keterangan resminya pada Selasa (26/5/2020).

Meskipun data realisasi investasi BKPM untuk sektor industri makanan pada 5 tahun terakhir menunjukkan adanya fluktuasi, secara rata-rata naik 3 persen per tahun dan tetap berada pada peringkat teratas total realisasi investasi sektor sekunder.