Industri manufaktur Indonesia dinilai masih bisa menunjukkan kekuatannya sebagai penopang perekonomian nasional, kendati mendapatkan hantaman dari pandemi Covid-19.

Direktur Jenderal Ketahanan Perwilayahan dan Akses Industri Internasional Kemeterian Perindustrian Dody Widodo mengatakan, hal itu tercermin dari adanya beberapa sektor industri justru mengalami peningkatan di atas 10 persen.

“Meskipun sebagian besar berada dinilai minus, namun beberapa di antaranya, bahkan industri kimia, farmasi dan obat tradisional tercatat tumbuh 14,96 persen selama kuartal III,” katanya seperti dikutip dari siaran persnya, Jumat (20/11/2020).

Dia melanjutkan, industri lain yang mengalami peningkatan, meskipun berada di angka yang lebih kecil adalah industri logam sebesar 5,19 persen dan industri pengolahan seperti jasa reparasi, pemasangan mesin dan peralatan sebesar 1,15 persen.

Kementerian Perindustrian mendorong Strategi Nasional (Stranas) Kecerdasan Artifisial atau Artificial Intelligence (AI) yang diluncurkan BPPT sejalan dengan Kebijakan Industri Nasional 2020-2024 dan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional 2015-2035.

“Stranas AI juga perlu sejalan dengan roadmap Making Indonesia 4.0 yang kini menetapkan tujuh sektor industri prioritas, yaitu industri otomotif, elektronik, makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, kimia, farmasi, serta alat kesehatan,” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Kemenperin, lanjut dia, berharap implementasi Stranas AI dapat menekan impor teknologi, dengan mengoptimalkan kemampuan anak bangsa dalam segala bidang, khususnya penerapan aplikasi AI sektor industri, yang sejalan dengan target subtitusi impor 35 persen pada tahun 2022.

Produksi industri kertas pada 2002 dinilai masih akan tumbuh positif secara tahunan. Namun demikian, pabrikan dipaksa untuk melakukan diversifikasi dan pergeseran produksi karena pandemi Covid-19.

Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mendata volume produksi pulp akan naik sekitar 7 persen menjadi 10,8 juta ton pada akhir 2002, sedangkan volume produksi kertas diharapkan akan tumbuh 0 persen atau sama dan realisasi 2019 di level 13,6 juta ton. Perlambatan produksi tersebut disebabkan oleh menurunnya permintaan kertas tulis selama pandemi Covid-19.

"Umumnya, industri dapat mencari alternatif dengan diversifikasi peralihan untuk produksi kertas sebagai penopang industri kesehatan seperti kertas tisu ataupun produksi masker.

Permintaan sepeda nasional sepanjang 2020 melonjakan. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian akan menggenjot peningkatan kapasitas industri sepeda nasional.

DPermintaan sepeda nasional sepanjang 2020 melonjakan. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian akan menggenjot peningkatan kapasitas industri sepeda nasional.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin Taufik Bawazier mengatakan pihaknya akan berusaha untuk meningkatkan pangsa sepeda lokal pada 2021.

"Setidaknya telah menyiapkan dua langkah," katanya kepada Bisnis, Kamis (12/11/2020).

Kementerian Perindustrian mencatat investasi sektor manufaktur kian moncer di tengah tekanan berat akibat pandemi Covid-19, dengan mampu merealisasikan nilai investasi sebesar Rp72,3 triliun sepanjang triwulan III 2020 atau naik 69,3 persen dibandingkan periode sama 2019.

"Dari nilai investasi tersebut, sektor industri pengolahan berkontribusi sebesar 34,6 persen terhadap total investasi Indonesia pada triwulan III 2020 yang mencapai Rp209 triliun," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian R Janu Suryanto lewat keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

Janu merinci selama triwulan III 2020, penanaman modal dalam negeri (PMDN) untuk sektor industri pengolahan senilai Rp19,5 triliun atau naik 34,3 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memaparkan potensi dan peluang industri agro yang sepanjang triwulan III tahun 2020 memberi kontribusi signifikan terhadap PDB sektor pengolahan nonmigas sebesar 52,94 persen.

“Di tengah pertumbuhan industri nonmigas yang terkontraksi 4,20 persen, industri makanan dan minuman masih tumbuh positif sebesar 0,66 persen. Kami terus berupaya meningkatkan kinerjanya,” kata Menperin Agus di Jakarta, Selasa.

Menperin menyebutkan sub-sektor industri agro yang memberikan kontribusi besar pada PDB sektor pengolahan nonmigas pada triwulan III-2020 yakni industri makanan dan minuman ( 39,51 persen), industri pengolahan tembakau (4,8 persen), industri kertas dan barang dari kertas (4,22 persen), serta industri kayu, barang dari kayu, rotan dan furnitur (2,84 persen).