Era distrupsi menjalar ke berbagai sektor industri, tak terkecuali industri kemasan yang mulai adaptif terhadap perkembangan zaman. Pasalnya, perubahan zaman serta teknologi membuat tekanan pada perusahaan-perusahaan percetakan offset.

Ahmad Mughira Nurhani, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) menyebut saat ini pelaku usaha di sektor percetakan offset mengalami penurunan. Hal ini merupakan imbas dari era digital yang membuat anggotanya sulit bersaing.

"Saat ini banyak juga anggota kami punya mesin cetak dan mesin cetak digital istilahnya hybrid jadi kami sudah menyikapi pasar yang memang telah berubah," ujarnya di Jakarta, Senin (28/10)

Padahal menurutnya, Indonesia sangat terkenal di kawasan karena memiliki industri kertas yang terbesar di dunia. Sayangnya, cetak offset justru menurun digantikan perannya oleh digital yang kian hari kian menjamur.

Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) memproyeksikan penjualan keramik nasional bertumbuh sebesar 5% secara tahunan atau year-on-year (yoy) di tahun 2019. Optimisme ini didasari oleh prospek penjualan di paruh kedua tahun 2019 yang dinilai lebih baik dari semester I.

“Seperti tren-tren tahun sebelumnya, secara tren permintaan keramik dari segmen menengah ke bawah biasanya meningkat mulai di kuartal III,” ujar Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto kepada Kontan.co.id (22/10).

Kenaikan ini didorong oleh adanya peningkatan kebutuhan keramik untuk perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa), proyek renovasi, dan lain-lain. Selain itu, pembangunan sejumlah proyek infrastruktur di paruh kedua 2019 juga diyakini turut berkontribusi dalam serapan produksi keramik dalam negeri.

Seiring dengan hal tersebut, sejumlah pelaku industri keramik melakukan ekspansi di paruh kedua tahun 2019. Menurut catatan ASAKI, sebanyak delapan produsen keramik diketahui telah menambah kapasitas produksinya di kuartal III 2019.

Gabungan Industri Peleburan Kuningan (Gipelki) menyatakan ada tiga investasi baru pada tahun ini, dua di antaranya akan mulai berproduksi pada awal tahun depan.

Asosiasi menilai masuknya investasi baru tersebut sebagai tindak lanjut arahan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengenai pembatasan ekspor pada awal tahun ini.

Ketua Umum Gipelki Eric Wijaya mengatakan dua investasi pada tahun depan merupakan penanaman modal dalam negeri oleh pemain baru di industri masing-masing senilai Rp90 miliar dan Rp40 miliar. Adapun, investasi lainnya merupakan ekspansi kapasitas terpasang oleh pemain lama lebih dari Rp20 miliar.

“20.000—30.000 ton per tahun penambahan kapasitas dari tiga pabrik ini, berarti sudah hampir 50% dari kapasitas produksi sebelumnya. Tapi, mereka juga masih cek ombak,” katanya kepada Bisnis pekan lalu.

Performa industri kosmetika pada tahun ini dinilai tumbuh positif di tengah pelemahan daya beli konsumen.

Salah satu pendorongnya diprediksi datang dari perubahan gaya hidup konsumen yang kini telah memandang kosmetika sebagai kebutuhan primer dari sebelumnya tersier.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendata ekspor produk kosmetik pada 2018 naik 7,63 persen menjadi US$556,36 juta dari realisasi tahun sebelumnya US$516,88 juta. Adapun, Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) optimistis nilai produksi industri kosmetika dapat tumbuh 6 persen--8 persen hingga akhir tahun ini.

“Kalau dulu cosmetic is a luxury, [sekarang] sudah tidak dan anak muda pun take care of their skin. [Penjualan] kosmetik saat ini seperti busana. Seperti Shopee, yang paling pesat itu [penjualan] kosmetik, saya pikir mencapai sepertiga [penjualan],” ujar Direktur PT Pamerindo Indonesia Juanita Soerakoesoemah di sela-sela ajang Cosmobeaute 2019 kepada Bisnis.

Produk tekstil, kulit dan alas kaki nasional dinilai mampu bersaing dengan barang impor.

Hal itu ditegaskan Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam di sela-sela pembukaan Pameran tekstil, kulit & alas Kaki bertajuk Branding Nasional Kualitas Internasional, Selasa (22/10/2019).

Dia menjelaskan produk-produk nasional itu bisa menjadi pilihan bagi masyarakat sebab kualitasnya tidak kalah dengan produk luar negeri.

"Produk-produk itu bisa menjadi subtitusi impor," ujarnya.

Oleh karena itu, Khayam mengatakan Kemenperin berupaya untuk terus mempromosikan produk tekstil, kulit dan alas kaki hasil karya pelaku usaha lokal. Salah satunya melalui pameran tahunan untuk produk-produk tersebut.

Upaya untuk memaksimalkan investasi dalam negeri dapat ditempuh pemerintah untuk memacu daya saing sektor manufaktur dalam waktu singkat, sembari menyelesaikan hambatan investasi di dalam negeri guna menarik pemodal asing.

Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan potensi penanaman modal dalam negeri (PMDN), khususnya untuk segmen menengah dan kecil, di sektor manufaktur masih besar untuk mendukung hilirisasi yang sejauh ini menjadi masalah.

Apalagi, PMDN berkontribusi jauh lebih signifikan kepada PDB, ketimbang foreign direct investment (FDI) yang hanya menyumbang sekitar 10%.

"Kenapa selalu paremeter keberhasilan adalah FDI. Pemerintah harus fokus melakukan kebijakan konkret yang langsung berdampak pada investasi," ujarnya, Kamis (10/10/2019).