Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berencana untuk memberikan insentif bagi pabrikan yang mendapatkan sertifikasi industri hijau.

Kepala Pusat Industri Hijau Kemenperin Teddy Caster Sianturi mengatakan sertifikasi industri hijau memiliki derajat yang sama dengan standar nasional Indonesia (SNI).

Menurutnya, terdapat 13 standar yang harus dipenuhi pabrikan untuk mendapatkan sertifikasi tersebut. Namun demikian, jumlah pabrikan yang baru mendapatkan sertifikasi industri hijau baru mencapai 33 pabrikan dari sekitar 28.000 industri kecil dan menengah yang terdaftar di Pusat Industri Hijau Kemenperin.

"13 standar itu disusun berdasarkan [masukan] kalangan industri itu sendiri, asosiasi, dan pengamat. Jadi, kalau industri sendiri yang menyatakan [standar] itu terlalu tinggi, berarti dia tidak ikut menyusun," katanya kepada Bisnis, Rabu (22/1/2020).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis kinerja industri pengolahan nonmigas masih fase ekspansi pada triwulan I/2020, sehingga diperlukan langkah-langkah strategis guna memacu sektor manufaktur agar lebih berdaya saing global.

“Contoh upayanya adalah menjaga ketersediaan bahan baku untuk keberlangsungan produktivitas, seperti gas industri. Apabila gas industri ini tersedia dan didukung dengan harga yang kompetitif, kami meyakini industri akan bisa terbang tinggi,” kata Menperin lewat keterangannya di Jakarta, Selasa.

Agus juga menyebutkan komoditas lainnya seperti garam dan gula masih banyak dibutuhkan oleh pelaku industri di dalam negeri.

"Jadi, kebutuhan industri terhadap komoditas itu sebagai bahan baku memang nyata. Kalau terjamin pasokannya, tentu dapat meningkatkan utilitas,” ujarnya.

Industri pengolahan masih konsisten memberikan kontribusi terbesar ekspor nasional dengan menyumbang ekspor senilai 126,57 miliar dolar AS atau 75,5 persen dari total ekspor Indonesia yang menyentuh angka 167,53 miliar dollar AS pada Januari-Desember 2019.

“Pemerintah memang sedang fokus menggenjot nilai ekspor untuk memperbaiki neraca perdagangan kita. Oleh karena itu, sektor manufaktur memiliki peranan yang sangat penting guna mencapai sasaran tersebut,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lima sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap capaian nilai ekspor industri pengolahan sepanjang tahun 2019, yaitu industri makanan menyumbang (21,46 persen), industri logam dasar 17,37 miliar dolar AS (13,72 persen), industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia tercatat 12,65 miliar dolar AS (10 persen), industri pakaian jadi menembus 8,3 miliar dolar AS (6,56 persen), serta industri kertas dan barang dari kertas yang menyetor 7,27 miliar dolar AS (5,74 persen).

Industri pengolahan diyakini akan kembali menggeliat pada kuartal I/2020 didukung oleh kenaikan volume pesanan barang dan volume pesanna barang input.

Berkaca dari Survei Kegiatan Dunia Usaha dari Bank Indonesia, pada kuartal IV/2019 dunia usaha tumbuh positif meskipun melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Berdasarkan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada kuartal IV/2019 tercatat sebesar 7,79%, lebih rendah dari 13,39% pada kuartal III/2019.

Berdasarkan sektor ekonomi, ekspansi kegiatan usaha tertinggi terjadi pada sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan dengan SBT 3,01%, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran dengan SBT 2,76%, diikuti oleh sektor Jasa-jasa dengan SBT 2,51% didusul sektor Pengangkutan dan Komunikasi dengan SBT 1,06%.

Pada sisi lain, sejumlah sektor terindikasi mengalami kontraksi yaitu sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan & Perikanan dengan SBT -2,03% dan sektor Pertambangan dan Penggalian dengan SBT -1,25.

Industri jamu dan obat tradisional bertumbuh di atas 6% pada 2019.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam mengatakan realisasi itu masih terbilang positif sebab berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

"Industri jamu di Indonesia masih memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional. Pada 2019, sektor industri obat tradisional mampu tumbuh di atas 6% atau pertumbuhannya di atas pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (16/1/2020).

Khayam menjelaskan industri jamu di dalam negeri memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh sebab didukung ketersediaan bahan baku yang sangat melimpah. Menurutnya, ada lebih dari 30.000 varietas yang tergolong tanaman obat dan berkhasiat yang dapat dimanfaatkan ke dalam berbagai formulasi dan varian produk jamu.

Menurutnya, saat ini sudah ada lebih dari 1.200 pelaku industri jamu. Dari jumlah itu, sekitar 129 pelaku usaha masuk dalam kategori industri obat tradisional (IOT).

Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) memproyeksikan industri mainan mampu tumbuh 7,5% di sepanjang 2020. Proyeksi tersebut turun jika dibandingkan pertumbuhan di 2019 sebesar 10%.

Ketua Umum Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) Sutjiadi Lukas menjelaskan memang benar proyeksi industri mainan turun karena pengusaha mainan tidak berbicara muluk-muluk.

"Saat ini kami bisa berusaha dengan aman saja sudah bagus dan ada untung sedikit saja itu sudah baik karena adanya persaingan dagang," jelasnya kepada Kontan.co.id, Senin (13/1).

Asal tahu saja, pada tahun lalu industri mainan dalam negeri khawatir dengan masuknya mainan impor yang tidak berlabel Standard Nasional Indonesia (SNI) lewat platfom online. Meski demikian, Sutjiadi menegaskan saat ini seluruh mainan impor sudah berstandar SNI.

Adapun di sepanjang tahun ini industri mainan tetap harus menghadapi tantangan berupa permintaan pasar yang lesu sehingga impor mainan turun sekitar 10%.