Pelaku industri memproyeksikan realisasi investasi pada tahun ini akan lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada tahun lalu. Adapun, tren dominasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) diperkirakan berlanjut hingga akhri tahun ini.

Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) mencatat rata-rata nasional utilitas parik baja saat ini di kisaran 20 persen - 25 persen. Asosiasi meramalkan penanaman modal asin (PMA) pada tahun ini akan stagnan lantaran investasi pada industri baja sebelumnya belum beroperasi secara optimum.

"Belum ada perubahan signifikan [pada tren pananaman modal pada industri baja] karena PMA yang dierikan izin operasi [sebelumnya] belum fully operated," kata Wakil Ketua UmumIISIA Ismail Mandry kepada Bisnis, Senin (20/4/2020).

Ismail menyatakan perlu adanya penyesuaian pembayaran tarif energi saat pandemi Covid-19 berlangsung. Menurutnya, hal tersebbut dapat meringankan beban pabrikan agar dapat tetap beroperasi dan menjaga arus PMDN.

Kementerian Perindustrian mengatakan pelaku industri merespons positif upaya pemerintah memberikan kemudahan dalam mendapatkan surat izin operasional dan mobilitas kegiatan industri di saat pandemi COVID-19, seperti dari industri makanan dan minuman (mamin) di mana produknya sangat dibutuhkan pada masa tanggap darurat wabah virus corona.

“Dalam masa kedaruratan kesehatan akibat COVID-19, industri dan perusahaan kawasan industri tetap dapat menjalankan kegiatan usahanya dengan memiliki izin operasional dan mobilitas kegiatan industri,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangannya di Jakarta, Senin.

Direktur Relasi Ekternal PT Mayora Indah, Johan Muliawan menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap tim Kemenperin, terutama kepada Menteri Perindustrian.

“Kemenperin sangat cepat merespons semua aturan dan semua yang berkaitan terhadap kesehatan di masa kedaruratan COVID-19,” kata Johan.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan kegiatan industri yang masih beroperasi terus menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19.

"Sebetulnya prinsipnya adalah bagaimana kita bisa memastikan bahwa kegiatan ekonomi melalui industri manufaktur itu bisa tetap berjalan, namun tetap harus menjalankan protokol kesehatan,” kata Menperin Agus Gumiwang Kartasamita saat menggelar konferensi virtual di Jakarta, Kamis.

Menperin memaparkan sektor manufaktur merupakan tulang punggung perekonomian di Indonesia, sehingga sebisa mungkin dapat terus berjalan di situasi saat ini.

“Kita tidak boleh karena wabah ini kita shutdown, kita matikan kegiatan industrial,” kata Menperin.

Namun Menperin memastikan perusahaan yang telah diberikan izin untuk tetap beroperasi tetapi tidak menerapkan protokol kesehatan, akan ditindak tegas dan bisa dicabut kembali izinnya.

Asosiasi Rantai Pendingin (ARPI) menyatakan pertumbuhan instalasi rantai pendingin tahun ini akan tetap lebih tinggi dari tahun lalu. Pasalnya, industri rantai pendingin sama sekali tidak memiliki restriksi pada masa pembatasan sosial berskala besar (PBSS).

Direktur Eksekutif ARPI Hasanuddin Yasni mengatakan pihaknya merubah target pertumbuhan pemasangan rantai pendingin pada tahun ini dari maksimal 7 persen menjadi sekitar 5 persen. Namun demikian, target tersebut tetap lebih tinggi dari realisasi tahun lalu yakni sebesar 4,61 persen.

"Kuartal I/2020 ini [produksi] istilahnya masih erlangsung normal. Sekarang masih dalam pengerjaan dan instalasi, cuma dalam kuartal II/2020 mereka [beberapa buyer] menunda, setidaknya sampai setelah Lebaran," katanya kepada Bisnis, Senin (6/4/2020).

Hasanuddin mendata produksi dan instalasi rantai pendingin pada kuartal I/2020 mencapai 2 persen secara tahunan, sedangkan kuartal II/2020 pertumbuhannya akan melambat menjadi 1 persen. Namun demikian, Hasanuddin menyampaikan pabrikan tetap optimistis produksi dan pemasangan rantai pendingin hingga akhir tahun dapat tumbuh sekitar 6 persen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan sektor manufaktur yang sedang tertekan dampak virus corona, dapat memanfaatkan momentum untuk melakukan penyesuaian dan reformasi dalam menyambut masa depan industri.

Menurut Agus, optimisme tersebut telah didukung oleh hasil riset IMF yang menyebut hanya ada tiga negara yang masih akan memiliki pertumbuhan ekonomi positif yakni China, India, dan Indonesia.

"Negara lain ini menurut IMF akan negatif, artinya kita sudah punya modal untuk nanti rebound lebih cepat dari negara lain apalagi kemampuan bangsa kita besar," katanya, Kamis (16/4/2020).

Menurut Agus, yang terjadi setelah pandemi Covid-19 ini selesai sangat tergantung dengan apa yang diupayakan saat ini. Untuk itu, yang dilakukan pemerintah yakni tetap mengedepankan dua hal penting yakni ekonomi dan kesehatan.

Kementerian Perindustrian meminta pemerintah daerah (pemda) mendukung kegiatan industri tetap produktif selama masa percepatan penanganan pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dengan tentunya harus mengacu pada protokol yang telah ditetapkan pemerintah.

“Dalam masa tanggap darurat pandemi COVID-19, kami meminta semua pihak terutama kepala daerah agar ikut membantu dan mendukung pelaksanaan kegiatan industri yang terkait langsung dengan aspek ekonomi dan sosial,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita lewat keterangannya di Jakarta, Jumat.

Menperin mengungkapkan seiring penetapan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan COVID-19, diharapkan dunia industri turut berkontribusi, terutama berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat.

“Kami berharap pada semua pihak untuk tidak ada pembatasan aktivitas industri, termasuk namun tidak terbatas pada pembatasan gerak karyawan atau jalur distribusi sebelum adanya penetapan status PSBB yang telah disetujui oleh Kementerian Kesehatan,” papar Agus.