Pemerintah menyakini sinyal pemulihan ekonomi di tahun depan kian positif. Pasalnya, sejumlah indikator menunjukan bahwa ekonomi Indonesia terus membaik menuju 2021. Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, saat ini pelonggaran aktivitas masyarakat membuat ekonomi mulai bergerak.

"Seperti yang disampaikan Presiden Joko Widodo, pemerintah yakin di 2021 akan menjadi tahun yang penuh peluang dan tahun pemulihan ekonomi nasional dan pemulihan ekonomi global," kata Menko Airlangga dalam video virtual di Jakarta, Jumat (11/12/2020).

Sambung dia menambahkan, kontraksi ekonomi pada kuartal II merupakan titik terendah dari tekanan akibat pandemi covid-19. Bahkan dibandingkan negara lain seperti Jerman, Singapura, Meksiko, Filipina, dan Spanyol, pemulihan ekonomi Indonesia merupakan yang paling baik.

Pemangku kepentingan sepakat penurunan tarif gas ke level US$6 per mmBTU dan perlindugan pasar domestik dengan penambahan bea masuk tindakan pengamanan membuat utilisasi industri keramik melonjak, bahkan saat pandemi berlangsung.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat utiiisasi industri keramik anjlok ke kisaran 45-50 persen karena pandemi Covid-19. Namun, angka tersebut naik kembali ke level 65 persen pada November 2020.

"Upaya pemerintah yang telah dilakukan tersebut, sangat mendongkrak pemulihan kinerja industri keramik nasional dan dirasakan juga manfaatnya dengan adanya peningkatan permintaan pasar dalam negeri maupun ekspor,” ujar Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam (Kemenperin) Adie Rochmanto Pandiangan dalam keterangan resmi, Minggu (6/12/2020).

Kementerian Perindustrian akan semakin gencar mendorong percepatan implementasi penggunaan material lokal sebagai bahan baku industri.

Upaya tersebut sejalan dengan gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia dan target substitusi impor 35 persen pada 2022. Guna mencapai sasaran tersebut, salah satu upaya yang dipacu adalah memajukan industri serat alam.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meminta para pelaku industri di Indonesia agar terus meningkatkan penggunaan bahan baku lokal dalam proses produksinya.

"Optimalisasi terhadap potensi sumber daya lokal industri berbasis serat alam, nantinya dapat menunjang aktivitas industri yang berkelanjutan dan berkualitas di dalam negeri," katanya melalui siaran pers, Minggu (13/12/2020).

Melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), dia menyebut salah satu unit kerjanya yakni Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta bekerjasama dengan Dewan Serat Indonesia (DSI) untuk mendorong penggunaan serat alam sebagai bahan baku bagi industri terkait.

Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) menyatakan rata-rata utilisasi nasional pabrikan keramik pada kuartal IV/2020 akan melonjak. Selain itu, performa ekspor keramik sepanjang 2020 diyakini akan lebih baik secara tahunan.

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengatakan utilisasi pabrikan pada kuartal IV/2020 akan mencapai 68 persen. Adapun, angka tersebut lebih tinggi dari utilisasi pabrikan sebelum pademi Covid-19 di posisi 65 persen.

"Sudah 5-6 tahun terakhir permintaan keramik peak-nya selalu di kuartal III dan kuartal IV. Tahun ini kami tidak berani ekspektasi kuartal III dan kuartal IV bisa [peak] karena pandemi belum berakhir. Tapi, penurunan tarif gas menurut kami memberikan impact," katanya kepada Bisnis Rabu, (3/12/2020).

Edy menghitung rata-rata utilisasi pabrikan sepanjang 2020 akan jatuh ke level 56 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dari rata-rata utilisasi pabrikan per 2019 yakni 65 persen.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih membidik sektor Industri Kecil Menengah (IKM) menyumbang 21 persen terhadap pertumbuhan industri nasional tahun ini.

"Kalau kontribusi IKM bisa sama di 21 persen, kami bersyukur. Ini akan dihitung nanti ya, pada triwulan I tahun depan," kata Gati dalam konferensi pers yang digelar secara virtual di Jakarta, Kamis.

Menurut Gati, jika dilihat dari kontribusi sektor IKM terhadap output industri pengolahan nonmigas tiga tahun terakhir, angkanya masih rendah yakni sekitar 20,5 persen pada 2017. Kemudian pada 2019 kontribusi IKM meningkat menjadi 21 persen, di mana angka tersebut dinilai masih rendah.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebutkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada November yang menembus level ekspansif 50,6 atau naik hampir tiga poin dibanding Oktober di angka 47,8.

Lonjakan PMI manufaktur Indonesia yang dirilis IHS Markit tersebut, didorong oleh peningkatan produksi karena pesanan bertambah signifikan selama tiga bulan terakhir, terutama karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta pada Oktober.

“Ini merupakan kabar gembira dari sektor industri. Kenaikan PMI merupakan indikasi ekonomi, khususnya sektor industri, mulai berekspansi menjelang akhir tahun dengan indeks di atas 50,” kata Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono di Jakarta, Selasa.