Pemerintah terus berupaya mendorong industri khususnya manufaktur agar dapat mendongkrak perekonomian nasional. Apalagi Indonesia sudah masuk dalam kelompok G-20 dengan kekuatan ekonomi terbesar di posisi ke-16 dunia.

“Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB masih sangat tinggi, karena kuenya juga masih besar. Jadi, perlu didorong untuk terus tumbuh,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi, pekan lalu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sektor industri masih memberikan kontribusi paling besar terhadap struktur produk domestik bruto nasional pada triwulan II/2019 dengan capaian 19,52% (yoy). Sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, industri pengolahan nonmigas tumbuh 3,98% (yoy) pada paruh kedua tahun ini.

Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) menjadi salah satu bisnis air minum yang memiliki banyak pemain. Melihat kinerja di semester satu, diharapkan pertumbuhan bisnis AMDK bisa mencapai 10% atau lebih dari 30 miliar liter air.

"Pertumbuhannya membaik karena  faktor Pemilu yang kondusif, puasa, dan lebaran," kata Ketua Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) Rachmat Hidayat ketika dihubungi Kontan.co.id, Minggu (21/07). Rachmat juga bilang, kinerja AMDK sepanjang semester satu dipengaruhi oleh kondisi tahun sebelumnya yang menunjukkan tren positif.

Asosiasi optimis target tersebut akan tercapai karena masih akan ada faktor-faktor pendorong penjualan lainnya seperti momentum natal dan tahun baru. Walaupun Rachmat melihat momentum tersebut tidak akan mempengaruhi sesignifikan Pemilu dan Lebaran.

Sektor makanan dan minuman (mamin) masih menjadi penyumbang utama dalam realisasi investasi dalam negeri. Namun, penurunan penanaman modal asing (PMA) patut menjadi perhatian pemerintah.

Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), selama periode Januari—Juni 2019 realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) di sektor makanan menduduki peringat keempat dari keseluruhan sektor dengan nilai Rp21,26 triliun, sedangkan PMA menduduki peringkat keenam dengan nilai realisasi US$706,7 juta.

Jika dibandingkan dengan sektor manufaktur lainnya, realisasi investasi industri makanan untuk PMDN merupakan yang tertinggi. Adapun untuk PMA, sektor ini hanya kalah dari industri logam dasar, barang logam bukan mesin, dan peralatannya.

Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) memproyeksikan pertumbuhan penjualan minuman ringan sepanjang tahun ini akan tumbuh sekitar 3%-4% atau berada di level yang tidak jauh beda dengan tahun lalu.

Ketua Asrim Triyono Prijosoesilo mengatakan data yang dikumpulkan asosiasi menunjukkan permintaan minuman ringan hingga Mei 2019 secara keseluruhan masih stagnan jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, Triyono optimistis volume penjualan bakal positif sepanjang 2019. Pasalnya, beberapa anggota asosiasi melaporkan serapan pada momentum Hari Raya Lebaran lalu mengalami peningkatan.

Kementerian Perindustrian membidik nilai ekspor dari industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sepanjang tahun 2019 akan menembus US$ 15 miliar. Target ini meningkat dibanding capaian pada tahun lalu sebesar US$13,27 miliar.

"Kami melihat industri TPT nasional masih tumbuh dengan baik. Apalagi surplusnya signifikan. Kalau masih ada impornya, yaitu bahan baku untuk diolah lagi di dalam negeri sehingga meningkatkan nilai tambah dan mendorong perekonomian nasional," kata Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin, Muhdori dalam keterangan resminya, Senin (22/7).

Kemenperin mencatat kinerja ekspor industri TPT nasional dalam kurun tiga tahun terakhir terus menanjak. Pada tahun 2016, berada di angka US$ 11,87 miliar kemudian di tahun 2017 menyentuh US$ 12,59 miliar dengan surplus US$ 5 miliar. Tren ini berlanjut sampai dengan 2018 dengan nilai ekspor US$ 13,27 miliar.

Pemerintah terus ingin menggenjot industri tekstil dan produk tekstil (TPT) agar bisa berdaya saing dengan global. Hanya saja masih banyak pekerjaan rumah yang belum dibereskan. Salah satunya masalah rantai pasok (supply chain) yang tidak sinkron.

Sekjen Badan Pengurus Nasional Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G. Ismy menjelaskan saat ini permintaan produk hilir yakni garmen terus meningkat. Hal ini karena kebutuhan global dan juga keinginan untuk jadi industri yang berorientasi ekspor. Hanya saja kemajuan garmen tak diikuti industri bahan bakunya.

Salah satu yang disoroti yakni impor yang tinggi pada industri tekstil adalah berupa bahan baku, yaitu produk kain (fabrics). Produk kain yang diprediksinya berupa kain jadi alias kain finished ini merupakan bahan baku untuk kebutuhan industri pakaian jadi (garment).