Permintaan yang hilang sekitar akhir semester I/2020 membuat pertumbuhan nilai ekspor alas kaki konsisten melambat hingga Agustus 2020. Namun demikian, industriawan optimistis realisasi pertumbuhan nilai ekspor alas kaki akhir 2020 tetap berada pada zona hijau.

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menyatakan hal tersebut dipicu oleh mulai bergeraknya proses produksi di pabrikan alas kaki berorientasi ekspor. Dengan kata lain, pabrikan alas kaki lokal telah mendapatkan permintaan untuk kebutuhan pasar awal kuartal IV/2020.

"Kemungkinan data [pertumbuhan ekspor alas kaki] September 2020 akan menurun [lagi], tapi kondisi sekarang sebenarnya sudah ada perbaikan di pabrik [berorientasi ekspor]. Mungkin baru tercermin pada Oktober 2020," kata Direktur Eksekutif Aprisindo Friman Bakrie kepada Bisnis, Selasa (15/8/2020).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menekankan bahwa produktivitas bisa beriringan dengan protokol kesehatan selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pihaknya telah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menegakkan penggunaan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) pada PSBB penuh kedua di DKI Jakarta.

"Secara berkala kami selalu memantau laporan IOMKI dan meningkatkan koordinasi dengan perusahaan, pemerintah daerah, TNI/Polri untuk mendukung industri dapat bekerja dengan baik dan selalu menaati protokol kesehatan," katanya kepada Bisnis, Kamis (10/9/2020).

Agus menegaskan bahwa aktivitas di pabrikan tetap mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 9/2020. Adapun, IOMKI menjadi dasar beroperasinya pabrikan selama pandemi Covid-19.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memacu Industri baja untuk mendongkrak ekspor, karena industri tersebut terus menunjukkan daya saing dengan mampu menembus pasar ekspor sekaligus memperlihatkan permintaan pada sektor tersebut masih tumbuh meski dalam tekanan dampak Covid-19.

“Kami sangat mengapresiasi PT Tatametal Lestari sebagai salah satu produsen baja nasional yang di tengah pandemi tetap dapat melakukan ekspor,” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) KemenperinTaufiek Bawazier saat pelepasan ekspor 1.200 ton baja ke Pakistan, di kawasan industri Cikarang, Jawa Barat, Senin.

Dalam keterangan tertulis, ia mengungkapkan pemerintah terus berupaya meningkatkan pertumbuhan industri baja nasional dengan mendorong terciptanya iklim usaha industri yang kondusif dan kompetitif guna meningkatkan utilisasi serta kemampuan inovatif pada sektor tersebut.

Kementerian Perindustrian mendorong peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk produk-produk manufaktur Indonesia sebagai upaya untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya resesi di Tanah Air.

“Satu-satunya jalan adalah substitusi impor melalui peningkatan TKDN dan peningkatan utilisasi,” kata Sekjen Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono dihubungi di Jakarta, Rabu.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), impor bahan baku dan penolong mengalami penurunan 17,99 persen pada Januari-Juli 2020 menjadi 60,12 miliar dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni 73,31 miliar dolar AS.

Selain itu, impor barang modal juga mengalami penurunan 18,98 persen pada periode yang sama tahun ini menjadi 12,96 miliar dolar AS dibandingkan pada Januari-Juli tahun lalu yang mencapai 16 miliar dolar AS.

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendata telah ada sedikit peningkatan rata-rata utilisasi di industri mebel. Walaupun belum signifikan, asosiasi meramalkan tren perbaikan akan terus berlanjut hingga akhir 2020.

Sekretaris Jenderal HIMKI Abdul Sobur mengatakan saat ini median utilisasi industri mebel berada di kisaran 40 persen. Angka tersebut membaik dari angka pada April 2020 yang berada di kisaran 20 persen.

"Tren akan naik meski tidak signifikan. Kami prediksi terutama awal tahun depan akan lebih tinggi [tingkat utilisasi industri mebel nasional]," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (13/9/2020).

Sobur menyampaikan peningkatan utilisasi per September 2020 tersebut disebabkan oleh peningkatan permintaan dari pasar global. Menurutnya, peritel di pasar global meyakini bahwa pandemi global yang terjadi saat ini dapat diatasi awal 2021, tepatnya sekitar Februari-Maret.

Pelaku industri baja menilai permintaan produk sudah mulai meningkat kendati pandemi Covid-19 belum berlalu dari Bumi Pertiwi saat ini.

Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim mengatakan hal itu dikarenakan APBN sudah mulai turun sehingga mulai terjadi transaksi. Tak hanya itu, konsumsi rumah tangga yang sebelumnya menahan diri juga sudah mulai ada.

"Demand sudah membaik, semoga sustain meski belum 100 persen normal atau di kisaran 60-80 persen dari normal tergantung jenis produknya," kata Silmy kepada Bisnis, Selasa (8/9/2020).

Silmy sebelumnya juga mengemukakan utilisasi pabrikan baja mulai membaik per Agustus 2020. Namun, pertumbuhan utilisasi industri baja dinilai tidak akan bertahan hingga akhir tahun.