Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis bahwa Indonesia masih menjadi negara tujuan utama investasi khususnya bagi sektor industri manufaktur, lantaran didukung oleh ketersediaan pasar yang besar dan bahan baku yang melimpah.

“Sejumlah investor skala global telah menyatakan minatnya untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi mereka guna memenuhi kebutuhan di pasar domestik hingga ekspor,” kata Agus di Tokyo, Minggu.

Keunggulan lainnya, Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) industri yang cukup banyak dan kompetitif.

Hal ini sejalan dengan fokus pemerintahan Presiden Jokowi pada periode keduanya, yang ingin meningkatkan kualitas SDM dalam upaya mewujudkan visi Indonesia maju. Selain itu, target merebut peluang dari momentum bonus demografi.

Industri kosmetik dan perawatan tubuh diperkirakan masih memiliki prospek yang baik di tahun 2019.

Ketua Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi), Sancoyo mengatakan bahwa kondisi perekonomian nasional masih terbilang kondusif untuk menunjang penjualan produk-produk kosmetik dan perawatan tubuh (personal care).

“Saya rasa prospek penjualan produk-produk kosmetika dan personal care di Indonesia adalah baik mengingat jumlah penduduk, jumlah kelas menengah yang meningkat, dan konsumsi per kapita yang maish rendah,” ujar Sancoyo kepada Kontan.co.id (08/11).

Optimisme yang serupa juga dijumpai pada perusahaan perawatan kesehatan global, Johnson and Johnson Indonesia. Country Leader of Communication & Public Affairs, PT Johnson  & Johnson Indonesia, Devy Yheanne menjelaskan bahwa Indonesia merupakan pangsa pasar yang besar dalam industri kecantikan.

Pertumbuhan industri makanan dan minuman pada 2020 ditargetkan melampaui 9%, setelah pada tahun ini diperkirakan hanya mencapai 8%. Salah satu pemicunya adalah kenaikan produksi sejumlah subsektor.

Abdul Rochim, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, mengatakan kinerja industri makanan dan minuman (mamin) pada tahun ini cukup dipengaruhi sejumlah faktor pada semester I/2019, termasuk agenda pemilihan umum. Pada periode itu, katanya, investor bersikap menunggu untuk berekspansi.

Pada 2020, jelasnya, sejumlah faktor itu dinilai tidak akan mengadang kinerja industri lagi sehingga mampu bisa lebih baik.

"Kami berharap di atas 9%. Terbuka dua digit, sebab memang lebih kondusif," ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Rochim menilai akan terjadi peningkatan produksi di sejumlah subsektor mamin pada tahun depan. Salah satunya, jelas dia, adalah produksi gula yang meningkat dengan peningkatan kapasitas di sejumah pusat prdouksi.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprediksi industri pelumas dalam negeri mampu tumbuh 3%-4% hingga akhir tahun. Sementara, hingga semester I 2019, industri pelumas telah mencatatkan ekspor sebesar US$ 147,56 juta.

Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin, Muhammad Khayam menjelaskan pertumbuhan industri ini ditopang oleh standarisasi kualitas pelumas lewat Standar Nasional Indonesia (SNI) ditambah dengan naiknya jumlah populasi kendaraan dan penggunaan pelumas di sektor industri manufaktur.

"Penggunaan pelumas saat ini masih didominasi industri otomotif, tapi kan yang butuh pelumas tidak hanya industri ini. Salah satu yang paling banyak pakai pelumas dari industri alat berat, pabrik, bahkan PLN membutuhkan pelumas untuk pendingin trafo," jelasnya saat ditemui Kontan di Cikarang, Kamis (7/11).

Khayam bilang penyerapan pelumas oleh industri lain akan semakin gencar setelah Kementerian Perindustrian memberlakukan SNI pelumas secara wajib dan mulai efektif pada 10 September 2019.

Kementerian Perindustrian memperkirakan pertumbuhan industri makanan dan minuman mencapai delapan persen hingga akhir 2019, di mana angka tersebut di bawah target yang dibidik kementerian itu.

“Saya berharap masih di atas delapan persen. Kayaknya agak berat kalau di angka sembilan persen, apalagi dipengaruhi semester I-2019,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim di Jakarta, Senin.

Rochim menyampaikan pertumbuhan industri makanan dan minuman pada semester I12019 hanya berkisar 7,4 persen di mana angka yang terbilang jauh di bawah target tersebut dipengaruhi oleh perhelatan pemilihan umum.

“Pada semester I kita tahu ada pileg dan Pilpres sehingga investor agak sedikit mengering, menunda dulu, wait and see istilahnya. Setelah semester satu mulai memperlihatkan pertumbuhan yang cukup signifikan,” ungkap Rochim.

Angkanya kembali naik signifikan pada triwulan III-2019 yang mencapai 8,33 persen, sehingga diharapkan pertumbuhannya terus meningkat hingga pada triwulan IV-2019.

Industri tekstil dan pakaian jadi  merupakan sektor manufaktur yang mencatatkan pertumbuhan paling tinggi pada triwulan III tahun 2019 sebesar 15,08%. Capaian tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi 5,02% di periode yang sama.

“Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri tekstil dan pakaian sebagai satu dari lima sektor manufaktur yang sedang diprioritaskan pengembangannya terutama dalam kesiapan memasuki era industri 4.0,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resminya, Rabu (6/11).

Menperin Agus menegaskan, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional semakin kompetitif di kancah global karena telah memiliki daya saing tinggi. Hal ini didorong lantaran struktur industrinya sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir.

“Kinerja gemilang dari industri tesktil karena sejalan dengan tingginya permintaan di pasar domestik, yang tercermin dari peningkatan produksi di sentra produksi tekstil dan pakaian jadi, khususnya wilayah Jawa Barat,” ungkapnya.