Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung mengalami penguatan belakangan ini. Meski begitu, sebagian produsen tekstil dan garmen optimis kinerja penjualan ekspornya tidak akan terpengaruh oleh fluktuasi pergerakan nilai tukar rupiah secara signifikan.

PT Pan Brothers Tbk misalnya, emiten garmen yang memiliki kode saham PBRX ini mengaku telah mengantisipasi kemungkinan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sekretaris Perusahaan PT Pan Brothers Tbk, Iswar Deni mengatakan bahwa proyeksi pertumbuhan kinerja perseroan dibuat berdasarkan asumsi nilai tukar rupiah pada rentang Rp 13.000 per dolar AS-Rp 14.000 per dolar AS. “Jadi dampaknya tidak terlalu signifikan,” kata Iswar ketika dihubungi oleh Kontan.co.id (31/1).

Dengan adanya tindakan antisipasi ini, perseroan optimis bisa membukukan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 10%-15% dibanding tahun lalu pada tahun ini sebagaimana yang sudah ditargetkan sebelumnya.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendesak pemerintah melakukan intervensi melalui kebijakan guna mendukung peningkatan investasi sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 2019, menunjukkan adanya penurunan realisasi investasi secara Penanaman Modal Dalam Negeri atau PMDN sepanjang 2019 sektor TPT turun 8,2 persen atau Rp290,89 miliar dengan 333 proyek dibandingkan dengan 2018 Rp316,9 miliar dengan 217 proyek.

Ditinjau dari Penanaman Modal Asing atau PMA tercatat lebih baik atau naik 21persen US$73,08 juta dengan 452 proyek dibanding dari 2018 US$60,30 juta dengan 419 proyek.

Sekretaris Jenderal API Jawa Barat Rizal Rakhman mengatakan pada 2020 ini pelaku usaha TPT akan tetap optimistis meski lebih realistis. Untuk itu, ada tiga poin yang ditekankan dalam mendukung peningkatan kinerja.

Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing industri alas kaki di dalam negeri karena memiliki orientasi ekspor. Salah satu langkah strategis yang aktif dijalankan adalah mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) agar mampu menciptakan produk yang bermutu.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto mengatakan sebagai kelompok sektor padat karya dan berorientasi ekspor, industri alas kaki selama ini telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional.

Hal itu tercermin dari capaian nilai pengapalan produk kulit, barang dari kulit dan alas kaki dari Indonesia yang mampu menembus hingga US$5,12 miliar sepanjang 2019.

“Kami tetap optimistis, nilai ekspor alas kaki akan meningkat pada tahun ini. Apalagi dengan adanya peluang investasi industri alas kaki di Indonesia yang semakin terbuka lebar setelah terjadinya perang dagang antara China dan Amerika Serikat,” katanya melalui siaran pers, Sabtu (1/2/2020).

Lambatnya ekonomi global membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2019 diperkirakan hanya 5%. Hal itu karena melambatnya perdagangan dan investasi, di tambah industri manufaktur yang merupakan sektor paling berkontribusi dalam perekonomian domestik juga mengalami penurunan.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia menilai, tren perlambatan global untuk perdagangan dan pertumbuhan ekonomi akan berlanjut pada tahun 2020. Setyono Djuandi Darmono, Founder Jababeka Group mengatakan, artinya target pertumbuhan ekonomi yang diincar pemerintahan sebesar 6%-7% akan menghadapi jalan terjal.

"Namun tidak usah cepat cemas. Dengan pasar yang besar, Indonesia masih akan menjadi daya tarik bagi investor asing untuk berinvestasi. Capaian 6%-7% sebenarnya masih sangat mungkin. Hanya saja perlu adanya gebrakan," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Kamis (23/1).

Lebih lanjut ia bilang, pemerintah harus mempercepat reformasi yang signifikan guna meningkatkan iklim investasi.

Kendati pelaku usaha meyakini investasi industri kimia dan farmasi masih akan melandai tahun ini, tetapi ekonom menilai masih ada peluang untuk bertumbuh.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan pada tahun lalu faktor biaya bahan baku yang meningkat sempat menjadi indikasi utama. Hal itu lantaran terjadi karena fluktuasi nilai mata uang rupiah.

"Akibatnya ada biaya produksi yang naik tahun lalu. Belum lagi di sektor farmasi ada defisit BPJS Kesehatan yang cukup berpengaruh khususnya produsen obat generik," katanya, Kamis (30/1/2020).

Bhima mengemukakan pada tahun ini karena ada proyeksi penguatan dari sisi penguatan kurs rupiah, maka industri kimia dan farmasi berpeluang akan ada perbaikan dibandingkan dengan 2019.

Tentunya, lanjut Bhima, penguatan nilai mata uang garuda harus berjalan konsisten agar tidak kemudian melemah lagi.

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) memperkirakan sepanjang 2020 industri petrokimia mampu tumbuh menjadi 5,2% dibanding tahun lalu yang hanya tumbuh 5%.

Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menjelaskan kenyataannya industri petrokimia hanya tumbuh 5% di sepanjang 2019 dari yang sebelumnya diproyeksikan bisa tumbuh 5,1%.

"Ada beberapa hal yang membuat industrinya agak terhambat padahal dari sisi demand dan potensinya bagus," jelasnya kepada Kontan.co.id, Rabu (22/1).

Fajar menjelaskan pertumbuhannya tapi tidak terlalu signifikan karena ada aturan di daerah yang tidak mendukung industri plastik.

Sejumlah daerah salah satunya Jakarta mulai menerapkan anti plastik sekali pakai di sejumlah tempat seperti toko swalayan dan pasar rakyat harus menggunakan kantong ramah lingkungan per Juli 2020.