Kementerian Perindustrian menilai kontribusi industri pengolahan masih menjadi yang terbesar terhadap struktur produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 19,98 persen pada kuartal I/2020.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam mengatakan pemerintah telah melakukan pemetaan kepada sektor-sektor industri yang terpukul karena pandemi Covid-19.

Pemerintah pun bertekad memacu kinerja sektor industri agar terus mendorong roda perekonomian, tetapi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

"Dari banyaknya sektor yang terimbas, ada beberapa sektor yang tetap memiliki permintaan tinggi yang bisa memperkuat neraca perdagangan," katanya melalui siaran pers, Selasa (5/5/2020).

Khayam mengemukakan pemetaan tersebut mulai dari sektor industri kecil, menengah sampai skala besar. Secara ringkas, 60 persen dari industri terpuruk, 40 persennya adalah insustri yang moderat dan demand tinggi.

Nilai investasi industri pengolahan sepanjang tiga bulan pertama 2020 sebesar Rp64 triliun menunjukkan pertumbuhan sebesar 44,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sepanjang kuartal I/2019, investasi industri pengolahan tercatat Rp44,2 triliun. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengaku fokus terus berupaya mendorong agar industri manufaktur tetap bergerak dalam memacu roda perekonomian nasional.

“Pada kuartal I/2020 ini, nilai investasi industri manufaktur memberikan kontribusi yang signifikan, hingga 30,4 persen dari total investasi keseluruhan sektor Rp210,7 triliun,” katanya, dalam keterangan tertulis, Senin (27/4/2020).

Adapun kontribusi realisasi investasi manufaktur datang dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp19,8 triliun serta penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp44,2 triliun.

Jumlah sumbangsih tersebut melonjak dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun lalu, yakni PMDN sekitar Rp16,1 triliun dan PMA (Rp28,1 triliun).

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan industri pengolahan masih tumbuh positif sebesar 2,06 persen pada kuartal I/2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kinerja industri pengolahan tercatat positif. "Ada beberapa kategori industri alami kontraksi," katanya, Selasa (5/5/2020).

Adapun penyebab utama melambatnya pertumbuhan industri pengolahan nonmigas terlihat dari perlambatan komposisi impor bahan baku yang terlihat negatif. Suhariyanto mengatakan dari sisi ekspor komoditas industri pengolahan nonmigas juga mengalami perlambatan.

Fenomena utama yang memengaruhi kinerja industri pengolahan kuartal I/2020 adalah industri makanan dan minuman yang tumbuh melambat sebesar 3,94 persen. Menurunnya kinerja industri mamin disebabkan menurunnya demand luar negeri, terermin dari kontraksinya ekspor komoditas mamin.

"Industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh 5,59 persen yang didukung oleh peningkatan produksi barang kimia dan obat-obatan untuk memenuhi permintaan luar negeri dan melonjaknya permintaan domestik akibat mewabahnya virus corona," tambahnya.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa industri pengolahan di tanah air masih mampu menunjukkan geliat yang positif di tengah tekanan dari dampak pandemi COVID-19.

Hal ini tercermin melalui capaian nilai ekspor sepanjang triwulan I tahun 2020, hingga mengalami surplus pada neraca perdagangan.

“Industri pengolahan mengalami tekanan mulai Maret 2020 akibat COVID-19, namun data ekspor industri pengolahan memberikan optimisme untuk tetap bertahan,” kata Menperin lewat keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menperin mengungkapkan, kinerja pengapalan sektor manufaktur nasional pada tiga bulan pertama tahun ini meningkat 10,11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sepanjang triwulan I-2020, ekspor dari industri pengolahan menembus angka 32,99 miliar dolar AS, sedangkan nilai impornya tercatat sekitar 31,29 miliar dolar AS.

“Sehingga terjadi surplus sebesar 1,7 miliar dolar AS. Bahkan, ekspor industri pengolahan pada triwulan I-2020 memberikan kontribusi signfikan hingga 78,96 persen terhadap total ekspor nasional yang mencapai 41,78 miliar dolar AS,” katanya.

Pelaku bisnis petrokimia optimistis potensi ekspor polimer atau bahan baku plastik menjadi bantalan untuk bertahan dalam menghadapi dampak virus corona atau Covid-19.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan di tengah pandemi Covid-19 kabar baik dari perekonomian China yang mulai puliha. Pasalnya, landainya permintaan dalam negeri akan diimbangi dengan ekspor ke sejumlah negara yang mulai pulih.

"Tidak lama lagi India juga akan [industrinya] dibuka kabarnya, artinya ini jadi peluang kami untuk cepet-cepetan mengambil pasar lain setelah memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dari hitungan kami, industri hulu dengan utilisasi yang masih normal dikisaran 90 persen saat ini akan mampu mengekspor polimer 30.000 ton mininal per bulan," katanya kepada Bisnis, Senin (4/5/2020).

Ekspor industri pengolahan mencatatkan kinerja positif dengan kinerja mencapai US$32,99 miliar, atau tumbuh 10,11 persen sepanjang kuartal I/2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan atas kinerja ekspor-impor industri pengolahan kuartal I/2020tercatat surplus sebesar US$1,7 miliar. Pasalnya, sepanjang kuartal I/2020, nilai impornya tercatat sekitar US$31,29 miliar.

“Industri pengolahan mengalami tekanan mulai Maret 2020 akibat Covid-19, namun data ekspor industri pengolahan memberikan optimisme untuk tetap bertahan,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (22/4/2020).

Adapun, atas kinerja moncer tersebut, ekspor industri pengolahan pada triwulan I/2020 memberikan kontribusi signfikan hingga 78,96 persen terhadap total ekspor nasional yang mencapai USD41,78 miliar.