Perluasan pasar ekspor di sektor tekstil dan produk tekstil Indonesia (TPT) dinilai kian signifikan pada tahun depan, seiring rencana pemangkasan bea masuk ke Amerika Serikat menjadi 5 persen.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan tarif itu turun sekitar 6% sebab biasanya dikenakan bea masuk sebesar 11%. Hal itu diyakini menjadi peluang besar bagi industri TPT nasional.

Apalagi, sebutnya, perang dagang membuat pasar AS tertutup bagi sejumlah negara lain.

“Katanya tahun depan sudah bisa dimulai, garmen kita masuk ke AS dengan tarif bea masuk 5%. Tentunya ini, kan, peluang kita untuk masuk ke AS,” ujarnya dalam acara Multi Stakeholder Forum bertajuk 'Upaya Mengoptimalkan Pemakaian Bahan Baku Dalam Negeri untuk Produk TPT Indonesia', di Pelalawan, Riau, Jumat (6/9/2019).

Industri sepatu tanah air terus menggenjot peluang ekspor. Meski persaingan di tingkat global semakin ketat, namun kualitas produksi sepatu lokal tetap terjaga.

Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Sepatu Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri menuturkan, saat ini posisi ekspor Indonesia berada di urutan ketiga setelah China dan Vietnam. Namun kompetisi mulai menguat di mana negara seperti Kamboja mulai menguat ekspornya.

"Ekspor sepatu Indonesia (2018 kemarin) sekitar US$ 5,1 miliar, sementara Kamboja sudah mendekati US$ 4 miliar," sebutnya kepada Kontan.co.id, Senin (26/8).

Oleh karena itu, Firman berharap industri ini dapat didorong dengan regulasi yang meningkatkan competitiveness-nya.

Kementerian Perindustrian menyatakan produksi alas kaki dan tekstil dan produk tekstil (TPT) bisa mendorong pertumbuhan industri manufaktur hingga mencapai 7 persen.

Padahal, menurut Badan Pusat Statistik dalam Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Agustus 2019, pertumbuhan produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang (IBS) pada kuartal II/2019 adalah 3,62 persen year-on-year.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian Muhdori menyatakan pada kebijakan nasional 2020-2024, ada sejumlah target yang harus dilakukan untuk mencapai pertumbuhan pada kisaran 4,8 persen sampai 7,0 persen.

Industri otomotif merupakan salah satu sektor andalan dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui capaian ekspornya.

Sasaran ini berdasarkan pada peta jalan Making Indonesia 4.0, bahwa industri otomotif bagian dari lima sektor manufaktur yang mendapat prioritas pengembangan, agar mampu menghasilkan produk yang berdaya saing global dalam kesiapan memasuki era industri 4.0.

“Kami optimistis, sektor industri otomotif bisa menjadi primadona untuk mendongkrak ekspor nasional. Targetnya pada tahun 2030, industri otomotif di Indonesia ada yang menjadi champion, baik itu untuk produksi kendaraan internal combustion engine (ICE) atau electrified vehicle (EV),” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Harjanto di dalam keterangan pers, Kamis (15/8).

Kementerian Perindustrian memproyeksikan bisnis industri baterai kendaraan listrik di dalam negeri akan semakin tumbuh dan berkembang. Hal ini seiring implementasi Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

"Apalagi di dalam regulasi tersebut, mendorong pengoptimalan konten lokal, yang sekaligus nantinya untuk meningkatkan daya saing dan memperdalam struktur industri kita," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya, Kamis (29/8).

Menurut Menperin, salah satu hal penting dalam percepatan industri kendaraan listrik adalah penyiapan industri pendukungnya sehingga mampu meningkatkan nilai tambah industri di dalam negeri. Misalnya, penyiapan industri Power Control Unit (PCU), motor listrik dan baterai.

Inovasi sektor hulu dan antara di industri makanan dan minuman (mamin) perlu dipacu agar produk dalam negeri lebih berdaya saing.

Adhi S. Lukman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), mengatakan inovasi merupakan kunci di industri mamin, terutama di sektor hulu dan intermediate atau antara. Pasalnya, saat ini sektor tersebut dinilai sangat ketinggalan dibandingkan dengan negara lain.

Hal ini terlihat dari besarnya impor bahan baku dan bahan penolong untuk industri mamin hilir. Gandum, misalnya, 100% masih diimpor begitu pula dengan komoditas lain seperti garam, susu, bawang putih, dan bahan perasa yang porsi impornya antara 60% hingga 90%. Adapun, untuk produk hilir di Indonesia sudah baik dengan porsi impor yang hanya 7%-8%.