Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pelaku industri dalam menerapkan Industri Hijau untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan tetap meningkatkan kemampuan dan daya saingnya.

Menteri Perindustrian Agus G. Kartasasmita meminta industri harus mengimplementasikan standar sustainability yang dapat dicapai dengan penerapan industri hijau. Industri hijau menjadi ikon industri yang harus dipahami dan dilaksanakan, yaitu industri yang dalam proses produksinya menerapkan upaya efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya secara berkelanjutan.

Sementara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Rahadi menilai satuan kerja di bawah lingkungan BPPI harus cepat berinovasi dan berkontribusi dalam mengantisipasi perkembangan kebutuhan industri, khususnya dalam meningkatkan daya saing serta mendukung kebijakan pengembangan industri berkelanjutan.

Aktivitas industri manufaktur di Tanah Air terus berupaya bangkit menembus fase ekspansif, sehingga Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik pada Desember 2020 mencapai 51,3 dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di posisi 50,6.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut peningkatan indeks itu didukung adanya pertumbuhan pesanan baru, yang mengacu ekspansi solid, sehingga menjadikan kenaikan PMI manufaktur tercepat kedua dalam sejarah survei selama hampir sepuluh tahun.

“Ini capaian yang luar biasa, saya berterima kasih kepada para pelaku industri yang tetap berusaha semaksimal mungkin mengoptimalkan sumber daya yang ada di tengah keterbatasan yang ada. Hal ini juga menunjukkan bahwa langkah-langkah kebijakan Kementerian Perindustrian mampu mendorong hal ini,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) menyatakan kondisi industri karet awal 2021 mendapatkan berkah pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19.

Dampak dari penyakit gugur daun karet (GDK) dan pemulihan sektor manufaktur di China dinilai menjadi pendorongnya.  

Ketua Umum Dekarindo Azis Pane menyatakan permintaan pada Januari 2021 telah naik sekitar 5-6 persen dari kondisi normal. Azis menduga hal tersebut disebabkan oleh naiknya permintaan ban dari Negeri Panda sekitar 5-10 persen pada awal tahun.

"Artinya, industri otomotif di China sudah mulai bagus. Di dalam negeri baru [industri] sepeda motor yang bagus, tapi [permintaan dari kendaraan] roda empat belum seperti yang diharapkan," katanya kepada Bisnis, Rabu (6/1/2021).

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari IHS Markit periode Desember 2020 kembali melaju menjadi 51,3 naik dari November 2020 yang berada di posisi 50,6.

IHS Markit menilai bulan terakhir pada 2020 itu telah menunjukkan perbaikan lebih lanjut pada kondisi bisnis di sektor manufaktur Indonesia. Pertumbuhan pesanan baru dipercepat, mengacu pada ekspansi lain pada output yang tergolong terrcepat kedua dalam sejarah survei hampir sepuluh tahun.

Direktur Ekonomi IHS Markit Andrew Harker mengatakan perusahaan Indonesia secara umum memiliki akhir positif untuk 2020, dengan data PMI terbaru menunjukkan kenaikan dua bulan berturut-turut pada output dan pesanan baru.

Meski begitu, Harker menyebut jalan masih panjang mengingat gangguan parah yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, tetapi produsen tetap yakin dengan prospek tahun ini.

"Dari segi yang kurang positif, tingkat kapasitas begitu rendah sehingga terjadi penurunan ketenagakerjaan lebih lanjut, sementara gangguan rantai pasokan yang meluas menghambat upaya untuk mengamankan bahan baku.

Ekonom menilai investasi sektor hulu untuk mendukung gairah manufaktur Tanah Air sangat diperlukan guna memenuhi sisi ketersediaan dan keterjangkauan pelaku industri dalam meminimalkan risiko jika distrupsi kembali seperti pada awal 2020.

Kepala Center of Industry, Trade, and Investment Indef Andry Satrio Nugroho mengatakan hal tersebut saat ini juga disadari oleh banyak negara, di mana pandemi telah membuka mata agar melepas ketergantungan pasokan bahan baku dari China.

"Industri kita celakanya sekitar 70 persen bahan baku masih diimpor mayoritas dari China, sehingga seperti awal pandemi kemarin yang juga dirasakan negara lain, bahkan ketika kasus Covid-19 belum masuk kuartal I/2020 industri sudah terganggu," katanya kepada Bisnis, Selasa (5/1/2021).

Pelaku industri kimia dasar menilai tahun depan sejumlah tantangan besar masih akan menghadang.

Hal itu sejalan dengan proyeksi Kementerian Perindustrian yang mencatat pertumbuhan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia tahun depan 3,68 persen lebih rendah dibanding proyeksi pertumbuhan tahun ini 5,20 persen.

Ketua Umum Asosiasi Kimia Dasar Anorganik (Akida) Michael Susanto Pardi mengatakan analisa kami memang pertumbuhan tahun depan mungkin akan lebih rendah dari tahun ini.

Menurutnya, ada sejumlah kunci pendorong untuk pertumbuhan tahun depan tetapi yang paling penting adalah efektifitas vaksin. Pasalnya, hal itu akan memberikan rasa aman untuk masyarakat keluar rumah, bekerja, dan ujungnya pengeluaran di sektor riil seperti makanan, baju, dan lainnya.