Kementerian Perindustrian terus meningkatkan daya saing industri kemasan nasional melalui penerapan standardisasi dan sertifikasi. Upaya tersebut diyakini menjadi salah satu kunci untuk memacu kualitas produk, memperluas akses pasar, serta memperkuat posisi industri kemasan Indonesia dalam rantai pasok global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, penguatan daya saing industri kemasan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui inovasi produk dan teknologi, tetapi juga dengan memastikan setiap produk memenuhi standar mutu dan sertifikasi yang diakui.
"Langkah ini penting untuk meningkatkan kepercayaan pasar, memperluas akses perdagangan, dan memperkuat posisi industri nasional dalam rantai pasok global," kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (16/7).
Menurut Agus, perkembangan industri kemasan saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada aspek estetika maupun perlindungan produk. "Industri ini juga dituntut mampu memenuhi standar mutu, keamanan, serta berbagai ketentuan regulasi yang terus berkembang, termasuk meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap keamanan dan kehalalan produk," ungkapnya.
Pemerintah Indonesia memanfaatkan Forum Bisnis Indonesia–Rusia pada ajang INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, sebagai bagian dari upaya memperkuat diplomasi industri melalui pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit.
Forum bertema Palm Oil and the Future of Sustainable Energy tersebut menjadi wadah untuk memperkenalkan inovasi industri nasional sekaligus membuka peluang kerja sama investasi, perdagangan, dan pengembangan teknologi dengan Rusia serta negara-negara di kawasan Eurasia.
Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit melalui kerja sama dengan Rusia dan negara-negara Eurasia.
“Melalui inovasi, hilirisasi, dan kerja sama internasional, kami ingin menjadikan industri sawit tidak hanya sebagai penggerak ekonomi nasional, tetapi juga sebagai bagian dari solusi menuju ketahanan energi dan pembangunan industri yang berkelanjutan," ujar Menperin Agus dalam keterangannya di Rusia, Kamis (9/7).
Pelaku industri baja nasional masih optimistis menatap prospek usaha pada semester II-2026. Meski pertumbuhan diperkirakan tidak sekuat sebelumnya, permintaan domestik yang tetap terjaga dan peluang ekspor dinilai masih mampu menopang kinerja industri hingga akhir tahun.
Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, prospek industri baja pada paruh kedua tahun ini masih positif, sejalan dengan ekspektasi pertumbuhan sektor manufaktur meski lajunya lebih moderat.
"Prospek sektor manufaktur pada semester II-2026 diperkirakan masih tumbuh, namun dengan laju yang lebih moderat. Aktivitas manufaktur masih ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari domestik maupun luar negeri," ujar Harry kepada Kontan, Selasa (14/7/2026).
Investor dari kawasan Eurasia kini dapat melihat langsung berbagai lokasi investasi siap bangun yang ditawarkan Indonesia melalui partisipasinya sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026 yang berlangsung pada 6–9 Juli 2026 di Ekaterinburg, Rusia.
Dalam pameran industri terbesar di kawasan Eurasia tersebut, Indonesia menghadirkan lima pengelola Kawasan Industri (KI) dengan berbagai keunggulan, mulai dari infrastruktur terintegrasi, insentif yang kompetitif, hingga konektivitas logistik yang mendukung kegiatan manufaktur.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, keikutsertaan Indonesia menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas kerja sama industri sekaligus mendukung Asta Cita melalui penguatan industrialisasi, hilirisasi, dan penciptaan lapangan kerja.
Peluang investasi Rusia di sektor manufaktur Indonesia masih terbuka lebar, terutama pada industri bernilai tambah tinggi yang sejalan dengan agenda transformasi industri nasional.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan, sedikitnya ada tiga sektor manufaktur yang dinilai paling prospektif untuk dikembangkan bersama.
Sektor pertama yang berpotensi menarik minat investor Rusia adalah mesin industri, industrial engineering, dan advanced manufacturing.
“Indonesia sedang mempercepat modernisasi industri dan peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi manufaktur yang lebih maju,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (13/7/2026).
Kedua, yakni industri hilir berbasis sumber daya alam, khususnya pengolahan mineral. Industri ini dinilai prospektif karena sejalan dengan agenda hilirisasi nasional untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Peluang kerja sama industri Indonesia di kawasan Eurasia semakin terbuka. Untuk memanfaatkannya, Indonesia membawa 16 pelaku industri dari sektor logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika (ILMATE) ke INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, pada 6– 9 Juli 2026, yang akan menampilkan berbagai inovasi, mulai dari teknologi kecerdasan buatan (AI), Virtual Reality dan RFID, industri kapal laut beserta dengan komponen maritim, drone, energi surya, logam besi baja hingga permesinan industri.
“Melalui partisipasi tersebut, Indonesia tidak hanya mempromosikan produk unggulan, tetapi juga membidik kerja sama industri yang lebih konkret melalui perluasan akses pasar, kolaborasi produksi, dan penguatan rantai pasok dengan Rusia serta negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU) dan juga BRICS,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta pada Rabu (2/7).
Menperin Agus menuturkan, keikutsertaan sektor ILMATE di INNOPROM 2026 menunjukkan bahwa kapasitas manufaktur Indonesia terus berkembang dan semakin mampu bersaing di tingkat global.
Page 2 of 166



