Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri manufaktur tumbuh 5,32% pada triwulan II-2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%. Sektor tersebut menjadi penyumbang terbesar bagi perekonomian nasional dengan kontribusi hampir seperlima dari total ekonomi Indonesia. 

“Indonesia adalah salah satu negara pertama yang membuat instrumen kebijakan untuk menjaga keberlangsungan industri manufaktur dari dampak pandemi,” ujar mantan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan pers, Senin (26/10/2026).

Menurut keterangan tersebut, pemulihan industri manufaktur didukung sejumlah kebijakan pada masa pandemi COVID-19, antara lain Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI), insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP), serta penguatan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Menteri Perindustrian (Menperin), Muhammad Sarmuji menargetkan pertumbuhan industri nasional terus meningkat hingga melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Target tersebut menjadi salah satu arah penguatan sektor manufaktur pada dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Sarmuji mengatakan, industri perlu terus diperkuat agar dapat menjadi penopang utama pembangunan ekonomi nasional. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga berupaya meningkatkan kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Perindustrian akan terus bekerja untuk menjadi backbone bagi pembangunan, khususnya pembangunan ekonomi di bawah kepemimpinan Pak Prabowo-Gibran,” kata Sarmuji saat ditemui, Selasa (20/10/2026).

Ia berharap kontribusi industri terhadap PDB dapat meningkat seiring dengan penguatan kinerja sektor manufaktur. Selain itu, pertumbuhan industri diharapkan mampu berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

Industri manufaktur Indonesia mencatat pertumbuhan 5,32% pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%. Kinerja ini memperlihatkan peran industri manufaktur dalam menopang perekonomian, didukung peningkatan investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja setelah pandemi Covid-19.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri manufaktur menjadi salah satu sektor dengan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Sepanjang 2025, sektor ini tumbuh 5,15%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11%. Industri manufaktur juga menyumbang 80,27% ekspor nasional pada tahun yang sama dan menyerap 20,26 juta pekerja.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai Indonesia berhasil menjaga kinerja industri manufaktur selama masa pandemi, meskipun pemulihannya belum sepenuhnya merata. “Meski belum sepenuhnya pulih, tergambar dari PMI (purchasing manager index) yang mayoritas bertahan di zona ekspansif pascapandemi,” ujar dia dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).

Denyut aktivitas manufaktur Indonesia mencatatkan performa positif pada triwulan III 2026. Industri pengolahan nasional terus menunjukkan penguatan dan makin kokoh berada di zona ekspansi, menepis bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global.

Bank Indonesia (BI) mencatat angka Purchasing Managers’ Index Bank Indonesia (PMI-BI) berada di level 52,28 persen. Angka ini melonjak tajam dibanding raihan triwulan sebelumnya yang mengendap di posisi 51,43 persen.

Sebagaimana diketahui, patokan indeks di atas ambang 50 persen menandakan sektor industri berada dalam fase pertumbuhan alias ekspansi.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa moncernya angka PMI-BI ini sejalan dengan potret riil lapangan usaha di Tanah Air.

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan pentingnya memperkuat industri perkapalan nasional melalui peningkatan kapasitas produksi kapal baru, optimalisasi fasilitas reparasi, serta penguasaan teknologi galangan kapal. Upaya ini menjadi langkah strategis untuk memanfaatkan besarnya potensi industri maritim Indonesia sekaligus memperkuat daya saing industri perkapalan dalam negeri.

“Potensi galangan kapal kita sebenarnya luar biasa, baik untuk memproduksi maupun mereparasi kapal. Indonesia adalah negara yang dihubungkan oleh laut. Kebutuhan terhadap transportasi kapal sangat besar, baik kapal penumpang maupun kapal pengangkut barang. Karena itu, kalau Indonesia tidak kuat di bidang ini, sebenarnya kita rugi sekali,” kata Menperin pada acara Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Dewan Pengurus Pusat (DWP) Institusi Industri Perkapalan dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO) Masa Bakti 2026–2030 di Jakarta, Selasa (20/10).

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur pada kuartal III-2026 meningkat. Bahkan lebih ekspansif dari kuartal sebelumnya.

Pada Senin (19/10/2026), Bank Indonesia (BI) melaporkan aktivitas industri pengolahan yang dicerminkan dengan Prompt Manufacturing Index (PMI) untuk periode kuartal III-2026 berada di 52,28%. PMI-BI di atas 50% menandakan aktivitas yang berada di zona ekspansi.

Bahkan ekspansi sektor manufaktur lebih mantap ketimbang kuartal II-2026 dengan PMI-BI sebesar 51,43%.

"Berdasarkan komponen pembentuknya, komponen Volume Persediaan Barang Jadi, Volume Produksi, dan Volume Total Pesanan tercatat meningkat dan berada pada fase ekspansi. Berdasarkan Sublapangan Usaha (Sub-LU), PMI-BI pada sebagian besar Sub-LU juga berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada Industri Barang Galian Bukan Logam, diikuti Industri Makanan dan Minuman, Industri Logam Dasar, Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik, serta Industri Tekstil dan Pakaian Jadi," papar laporan BI.