Kinerja manufaktur Indonesia mulai merangkak naik. Laporan S&P Global memperlihatkan data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat menjadi 50,0 pada Mei 2026 dari bulan sebelumnya yang berada di level 49,1. 

Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengatakan perolehan tersebut secara angka mengindikasikan kondisi operasional yang mulai stabil. Namun, indikasi stabilitas ini berpotensi hanya ilusi. 

Pasalnya, indeks manufaktur hanya ditopang oleh permintaan baru dari pasar domestik, yang mengindikasikan konsumen lokal menimbun stok untuk mengantisipasi gejolak harga di masa depan. 

Secara eksternal, ekspor turun selama tiga bulan berturut-turut dengan tingkat kontraksi paling tajam sejak Agustus 2021 akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan tingginya harga bahan baku di pasar global. Kondisi ini selaras dengan surplus neraca perdagangan April 2026 yang merosot ke level US$ 89,1 juta, terendah sejak defisit pada masa pandemi pada April 2020.

Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai penguatan industri bahan baku domestik menjadi kunci untuk menjaga daya tahan industri manufaktur nasional di tengah meningkatnya tekanan biaya produksi akibat dinamika global.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan tekanan terhadap industri manufaktur mulai terlihat sejak Maret 2026 setelah sebelumnya aktivitas industri masih relatif kuat pada Januari-Februari.

“Kalau kita melihat secara triwulan I secara keseluruhan agregat masih positif, masih 5 persen,” kata Faisal kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat industri pengolahan tumbuh 5,04 persen secara tahunan pada triwulan I 2026 dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.

Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global pada Mei 2026 tercatat sebesar 50,0 atau naik dibandingkan capaian bulan April 2026 yang berada pada level 49,1.

Menurut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), peningkatan tersebut menandakan kondisi operasional sektor manufaktur nasional kembali berada pada ambang ekspansi setelah sebelumnya mengalami kontraksi ringan.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa kenaikan PMI manufaktur Indonesia menunjukkan daya tahan industri nasional di tengah berbagai tantangan global, terutama gangguan rantai pasok dan ketidakpastian pasokan bahan baku impor.

"Peningkatan PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 mencerminkan respons industri dalam menjaga keberlangsungan produksi di tengah dinamika global yang masih berlangsung. Pelaku industri melakukan langkah antisipatif dengan memperkuat stok bahan baku guna memastikan kegiatan produksi tetap berjalan dalam beberapa bulan ke depan," ujar Agus Gumiwang dalam siaran pers, Rabu (3/6/2026).

Kinerja sektor manufaktur nasional masih menunjukkan tren ekspansif pada Mei 2026. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Mei 2026 naik menjadi 53,56 dari bulan sebelumnya 51,75. 

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief mengungkapkan, kenaikan IKI mencerminkan optimisme pelaku industri di tengah ketidakpastian global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Salah satu faktor pendorongnya adalah keputusan Presiden Prabowo Subianto yang tidak menaikkan harga BBM subsidi. 

“IKI Mei 2026 justru naik signifikan dari 51,75 pada April menjadi 53,56 pada Mei 2026 atau meningkat 1,81 poin. Ini menunjukkan tingkat kepercayaan pelaku industri manufaktur nasional masih sangat kuat,” ujar Febri dalam konferensi pers rilis IKI Mei 2026 melalui siaran YouTube, Selasa (26/5/2026).

Menurut Febri, kebijakan menahan harga BBM subsidi membuat inflasi tetap terkendali dan menjaga daya beli masyarakat, sehingga permintaan domestik terhadap produk manufaktur meningkat. Kemenperin mencatat inflasi tahunan April 2026 berada di level 2,42% secara tahunan, sedangkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tetap optimistis di level 123.

LEMBAGA pemeringkat dunia, Standard & Poor's Global Ratings (S&P), melaporkan Purchasing Managers’ Index atau PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 naik secara bulanan menjadi 50,0 alias kembali ke zona ekspansi. PMI Manufaktur pada April tercatat 49,1.

Pada bulan kelima ini, panelis mencatat perusahaan mengalami kenaikan pesanan, tetapi di saat yang bersamaan kekurangan bahan baku produksi. “Perekonomian manufaktur Indonesia masih mengalami tekanan selama Mei, karena produksi terhambat oleh kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan ketersediaan input,” kata ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dalam laporan tertulis, Selasa, 2 Juni 2026.

Penerimaan pesanan baru tercatat meningkat selama dua bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan tertinggi sejak Februari.

Kinerja permintaan utamanya didorong perbaikan permintaan domestik. Sementara itu, kinerja ekspor turun semakin tajam. Penjualan internasional menurun selama tiga bulan berjalan dengan tingkat kontraksi paling tajam sejak Agustus 2021.

Midea Electronics Indonesia secara resmi mengundang para dealer utama untuk mengunjungi pabrik kulkas yang berlokasi di Indonesia sebagai bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam memperkuat investasi, produksi lokal, dan dukungan terhadap pertumbuhan industri elektronik rumah tangga di Tanah Air.

Kehadiran pabrik kulkas ini menjadi tonggak penting bagi Midea Electronics Indonesia setelah sebelumnya menghadirkan pabrik air conditioner (AC) pada 2024 dan pabrik mesin cuci pada 2025 di Indonesia. Pabrik ini juga menjadi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia yang mampu memproduksi side-by-side refrigerator serta chest freezer dalam satu fasilitas produksi terintegrasi.

Berlokasi di kawasan industri Suryacipta Karawang, pabrik kulkas terbaru ini dibangun di atas lahan seluas lebih dari 150.000 meter persegi dengan kapasitas produksi tahunan yang direncanakan mencapai lebih dari 2 juta unit per tahun.