Rencana Presiden Prabowo Subianto meluncurkan motor listrik nasional dinilai dapat menjadi momentum kebangkitan industri manufaktur Indonesia. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai program tersebut berpotensi mempercepat reindustrialisasi, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional jika didukung kandungan lokal yang tinggi.
Analis Kebijakan Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani, mengatakan sektor manufaktur selama ini masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi. Namun, kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) dinilai belum cukup besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
"Hal ini tentunya menjadi angin segar agar sektor manufaktur bisa kembali terdorong dan menjadi lokomotif penggerak perekonomian nasional, serta menjadi sektor penyerap tenaga kerja yang berkualitas," ujar Ajib dalam keterangan di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pusat manufaktur dunia pada 2045 melalui penguatan sumber daya manusia (SDM) industri yang unggul, kompeten, dan siap kerja.
"Tahun 2045, kita ingin Indonesia memasok dunia, kita ingin Indonesia menjadi pusat manufaktur dunia," kata Agus saat acara Pelepasan Lulusan SMK-SMAK dan SMTI serta Studium Generale di Bogor, Jawa Barat, Kamis.
Menurut Agus, pembangunan SDM vokasi industri menjadi fondasi utama untuk mewujudkan target tersebut. Pendidikan vokasi dinilai sebagai investasi strategis dalam menyiapkan tenaga kerja terampil yang akan menjadi motor penggerak transformasi industri nasional.
Ia menyebut sektor industri manufaktur masih menunjukkan kinerja yang kuat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan tumbuh 5,04 persen pada triwulan I 2026, menyumbang 19,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, serta berkontribusi sekitar 82 persen terhadap ekspor nasional.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong percepatan transformasi digital di sektor manufaktur guna meningkatkan daya saing industri nasional di tengah persaingan global. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memfasilitasi pelaksanaan Proof of Concept (PoC) solusi Industri 4.0 berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada industri farmasi, yang menjadi salah satu sektor prioritas dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pemanfaatan teknologi digital kini menjadi kebutuhan utama bagi industri untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
"Akselerasi transformasi digital dan adopsi teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk mendongkrak efisiensi dan daya saing global sektor kimia dan farmasi kita," ujar Agus dalam keterangannya, Senin (20/7/2026).
Untuk merealisasikan hal tersebut, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) melalui Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 (PIDI 4.0) terus memperluas implementasi teknologi digital di sektor manufaktur melalui berbagai program kolaboratif yang melibatkan pelaku industri dan penyedia teknologi.
Kementerian Perindustrian terus meningkatkan daya saing industri kemasan nasional melalui penerapan standardisasi dan sertifikasi. Upaya tersebut diyakini menjadi salah satu kunci untuk memacu kualitas produk, memperluas akses pasar, serta memperkuat posisi industri kemasan Indonesia dalam rantai pasok global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, penguatan daya saing industri kemasan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui inovasi produk dan teknologi, tetapi juga dengan memastikan setiap produk memenuhi standar mutu dan sertifikasi yang diakui.
"Langkah ini penting untuk meningkatkan kepercayaan pasar, memperluas akses perdagangan, dan memperkuat posisi industri nasional dalam rantai pasok global," kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (16/7).
Menurut Agus, perkembangan industri kemasan saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada aspek estetika maupun perlindungan produk. "Industri ini juga dituntut mampu memenuhi standar mutu, keamanan, serta berbagai ketentuan regulasi yang terus berkembang, termasuk meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap keamanan dan kehalalan produk," ungkapnya.
Kinerja sektor industri pengolahan Indonesia tetap gencar ekspansi pada kuartal II-2026. Hal itu tercermin dari Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) yang berada di level 51,43, atau masih berada pada fase ekspansi karena berada di atas level 50.
Capaian PMI-BI kuartal II-2026 tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur nasional tetap tumbuh, didukung oleh peningkatan volume produksi, persediaan barang jadi, dan total pesanan.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny, mengatakan hasil tersebut menunjukkan aktivitas industri pengolahan nasional masih terjaga dan diperkirakan akan semakin menguat pada triwulan berikutnya.
Pelaku industri baja nasional masih optimistis menatap prospek usaha pada semester II-2026. Meski pertumbuhan diperkirakan tidak sekuat sebelumnya, permintaan domestik yang tetap terjaga dan peluang ekspor dinilai masih mampu menopang kinerja industri hingga akhir tahun.
Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, prospek industri baja pada paruh kedua tahun ini masih positif, sejalan dengan ekspektasi pertumbuhan sektor manufaktur meski lajunya lebih moderat.
"Prospek sektor manufaktur pada semester II-2026 diperkirakan masih tumbuh, namun dengan laju yang lebih moderat. Aktivitas manufaktur masih ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari domestik maupun luar negeri," ujar Harry kepada Kontan, Selasa (14/7/2026).
Page 2 of 167




