Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) menilai prospek industri baja nasional pada 2026 masih dihadapkan pada berbagai tantangan, meski peluang pertumbuhan tetap terbuka di sejumlah segmen dan pasar tertentu. 

Direktur Eksekutif IISIA Harry Warganegara mengatakan kinerja produksi dan ekspor industri besi dan baja sepanjang tahun ini masih berada dalam tahap pemulihan yang terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan industri belum berlangsung merata. 

“Meskipun terdapat peluang pertumbuhan pada segmen dan pasar tertentu, pelaku industri masih menghadapi tantangan struktural,” kata Harry kepada Bisnis, Minggu (11/1/2025). 

Menurut Harry, permintaan baja di dalam negeri belum sepenuhnya kembali ke level normal. Melemahnya aktivitas sektor konstruksi menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju konsumsi baja nasional.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menunjukkan arah yang lebih stabil dan optimistis, menjadi fondasi penting bagi pelaku industri manufaktur, termasuk sektor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Pemerintah dan asosiasi pelaku usaha menilai konsumsi domestik masih akan menjadi penggerak utama perekonomian nasional di tengah dinamika ekonomi global.

Pemerintah melalui kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen.

Secara historis, industri AMDK di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang relatif konsisten dalam satu dekade terakhir, didorong oleh pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya akses air minum yang aman.

Dunia usaha menilai arah kinerja industri manufaktur pada 2026 akan sangat ditentukan oleh kombinasi faktor domestik dan global. Setelah melewati fase pemulihan di 2025, tantangan berikutnya adalah memastikan momentum tersebut tidak berhenti sebagai rebound jangka pendek.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan, setidaknya ada dua faktor utama yang akan membentuk outlook manufaktur tahun depan.

"Outlook 2026 akan sangat dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, efek lanjutan kebijakan 2025, seperti paket stimulus, deregulasi impor, dan pembenahan perizinan. Jika implementasinya konsisten, ini bisa menurunkan sebagian tantangan struktur biaya dan memberi ruang ekspansi manufaktur," ujar Shinta kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (8/1/2025).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksikan investasi yang mengucur ke sektor manufaktur bisa menembus Rp 852,90 triliun pada tahun 2026. Kemenperin menargetkan kucuran investasi tersebut bisa mengungkit pertumbuhan kinerja  dan penyerapan tenaga kerja.

Sub sektor Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) akan menjadi kontributor utama dengan proyeksi investasi senilai Rp 396,3 triliun. Disusul oleh sub sektor industri agro dengan estimasi bisa menarik investasi Rp 251,6 triliun sepanjang tahun ini.

Selanjutnya, Kemenperin memproyeksikan investasi senilai Rp 198 triliun akan mengalir ke sub sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT). Kemudian sub sektor Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) diproyeksikan menampung investasi senilai Rp 6,9 triliun pada tahun 2026.

Sebagai perbandingan, investasi sektor manufaktur alias Industri Pengolahan Non-Migas (IPNM) pada tahun 2025 diproyeksikan sebesar Rp 756,06 triliun. Proyeksi ini mengestimasikan pada kuartal IV-2025 realisasi investasi IPNM bisa mencapai sekitar Rp 204 triliun.

Industri manufaktur nasional ditargetkan dapat tumbuh 6,89% pada 2026. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi 2024 sebesar 4,75% dan proyeksi 2025 yang mencapai 5,93%. 

Target kinerja tersebut tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025-2029 melalui Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 41 Tahun 2025. 

Dalam Renstra tersebut, target laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas tahun ini cukup agresif jika dibandingkan dengan realisasi kinerja yang stagnan dalam beberapa tahun terakhir. 

Bahkan, secara historis, laju pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas tak pernah melampaui capaian pada 2011 yang tembus 7,46%. Dalam 1 dekade, rata-rata pertumbuhannya hanya tumbuh di kisaran 4%-5%.

Pemerintah Indonesia mengklaim hasil kesepakatan tarif resiprokal dagang dengan Amerika Serikat akan menguntungkan industri manufaktur tanah air, termasuk para pekerjanya.

Kesepakatan tarif itu kini telah memasuki babak akhir, setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Ambassador United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer menyelesaikan negosiasi lanjutan, Selasa (23/12/2025), waktu setempat.

Setelah negosiasi dilakukan, Airlangga mengatakan, salah satu kesepakatan krusial ialah pemerintah AS setuju untuk mengecualikan sejumlah komoditas ekspor andalan Indonesia dari pengenaan tarif resiprokal yang per 22 Juli 2025 telah disepakati di level 19%, dari sebelumnya 32%.