Midea Electronics Indonesia secara resmi mengundang para dealer utama untuk mengunjungi pabrik kulkas yang berlokasi di Indonesia sebagai bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam memperkuat investasi, produksi lokal, dan dukungan terhadap pertumbuhan industri elektronik rumah tangga di Tanah Air.
Kehadiran pabrik kulkas ini menjadi tonggak penting bagi Midea Electronics Indonesia setelah sebelumnya menghadirkan pabrik air conditioner (AC) pada 2024 dan pabrik mesin cuci pada 2025 di Indonesia. Pabrik ini juga menjadi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia yang mampu memproduksi side-by-side refrigerator serta chest freezer dalam satu fasilitas produksi terintegrasi.
Berlokasi di kawasan industri Suryacipta Karawang, pabrik kulkas terbaru ini dibangun di atas lahan seluas lebih dari 150.000 meter persegi dengan kapasitas produksi tahunan yang direncanakan mencapai lebih dari 2 juta unit per tahun.
Ancaman gangguan pasokan cip global akibat potensi mogok massal karyawan Samsung Electronics, dinilai dapat menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk mempercepat pembangunan industri semikonduktor domestik.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang dapat menjadi modal pengembangan industri semikonduktor, mulai dari pasar domestik yang besar, kebutuhan data center yang terus tumbuh, hingga cadangan mineral strategis seperti pasir silika, kuarsa, nikel, dan timah.
“Di tengah pergeseran rantai pasok global dan strategi diversifikasi investasi global, Indonesia memiliki peluang untuk mengambil posisi yang realistis, tapi juga kompetitif, terutama pada segmen upstream hingga midstream supply chain,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (18/5/2026).
Dia menjelaskan, pasir silika dan kuarsa dapat diolah menjadi silikon sebagai bahan utama wafer semikonduktor. Sementara nikel dan timah, memiliki peran penting dalam proses assembly, packaging, dan ekosistem elektronik modern.
Kementerian Perindustrian terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten dan berdaya saing guna mendukung percepatan industrialisasi nasional. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan infrastruktur kompetensi, salah satunya dengan penyelenggaraan Pelatihan Asesor Kompetensi Angkatan 1 Tahun 2026.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, sektor industri manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional sekaligus salah satu sektor penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, kebutuhan terhadap SDM industri yang kompeten dan tersertifikasi menjadi semakin penting.
“Pembangunan industri nasional membutuhkan dukungan investasi, teknologi, dan SDM yang kompeten. Karena itu, Kemenperin secara konsisten menyiapkan program pembangunan infrastruktur kompetensi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri yang profesional dan berdaya saing,” kata Menperin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (25/5).
Kementerian Perindustrian terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri untuk meningkatkan daya saing sektor manufaktur nasional di tengah dinamika global yang kian kompetitif. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan pendidikan vokasi berbasis industri, sehingga lulusan yang dihasilkan semakin adaptif dan selaras dengan kebutuhan dunia usaha saat ini.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, sektor industri manufaktur tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional dengan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB). Kinerja tersebut tercermin dari sumbangsih industri pengolahan sebesar 19,07 persen terhadap PDB pada triwulan I 2026. Sektor ini juga tumbuh 5,04 persen (y-o-y) dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi 1,03 persen.
“Pemerintah terus berupaya menjaga momentum pertumbuhan industri manufaktur nasional. Salah satu kuncinya adalah menyiapkan SDM industri yang kompeten, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mampu bersaing di tingkat global,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (19/5).
Pemerintah Kota Bontang, Kalimantan Timur, siap memproduksi asam lemak (fatty acid) sebagai bahan baku penting pembuatan industri manufaktur mulai kosmetik, sabun, detergen, plastik, tekstil, pelumas, hingga produk perawatan pribadi, baik untuk memenuhi kebutuhan nasional maupun global.
"Proyek ini ditargetkan mampu mendongkrak nilai tambah komoditas kelapa sawit Indonesia, sekaligus memangkas ketergantungan industri dalam negeri terhadap produk impor," ujar Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang Muhammad Aspian Nur di Bontang, Kaltim, Jumat.
Hilirisasi ini dipilih karena asam lemak merupakan produk hilirisasi oleokimia dengan permintaan global tinggi.
Terlebih, saat ini industri oleokimia dunia berada dalam sektor yang terus tumbuh positif.
Konsumsi produk turunannya diproyeksi tumbuh rata-rata 7 persen per tahun, terutama didorong oleh permintaan pasar Asia dan Eropa.
Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) bersama Perhimpunan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) terus memperkuat ekosistem industri kecil dan menengah (IKM) kosmetik nasional melalui pengembangan kemitraan dan perluasan rantai pasok lokal. Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan daya saing industri kosmetik nasional di tengah pertumbuhan pasar yang semakin dinamis, baik di tingkat domestik maupun global.
Industri kosmetik nasional menunjukkan pertumbuhan yang positif dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), jumlah industri kosmetik dalam negeri meningkat dari 1.292 industri pada tahun 2024 menjadi lebih dari 1.500 industri pada akhir 2025.
Sebesar 90 persen dari jumlah tersebut merupakan sektor IKM. Selain itu, nilai ekspor industri kosmetik juga mengalami kenaikan dari USD417 juta pada tahun 2024 menjadi USD473,8 juta pada tahun 2025.
Page 2 of 161




