Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa kawasan industri memegang peranan strategis sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di tengah dinamika tantangan geoekonomi dan geopolitik global. Hal tersebut disampaikannya dalam agenda Fullday Penguatan Pendataan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri (KI) Menyongsong Sensus Ekonomi 2026 di Jakarta, Rabu (18/12).

Menurut Agus, kinerja sektor industri manufaktur nasional atau Industri Pengolahan Non Migas (IPNM) terus menunjukkan tren positif dan menjadi penopang utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan IPNM pada Triwulan III Tahun 2025 mencapai 5,58 persen (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,04 persen.

“Industri manufaktur masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, dengan sumbangan sebesar 1,04 persen. Ini menegaskan peran strategis sektor industri dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Agus.

Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) menyebut kinerja produksi industri galangan kapal tahun ini tumbuh hingga 15% dibandingkan tahun lalu. Hal ini dipicu penguatan pasar domestik. 

Ketua Umum Iperindo Anita Puji Utami mengatakan, sejumlah pengusaha pelayaran hingga angkutan penyeberangan nasional telah memiliki kesadaran untuk memanfaatkan kapal hasil produksi domestik. 

"Tahun depan kami berharap ini dengan tadi, pasar pembuatan kapal ikan maupun yang lainnya, bisa meningkat lagi di 10% minimal sehingga kita bisa ikut support pertumbuhan ekonomi nasional," kata Anita saat ditemui di Seminar Nasional Industri Perkapalan, Kamis (11/12/2025). 

Tak hanya dari segi produksi, industri galangan kapal juga terus mengalami pertumbuhan 30% dalam 3 tahun terakhir. Saat ini, anggota Iperindo tercatat mencapai 265 perusahaan di sektor maritim. Anita menargetkan jumlah industri galangan akan tumbuh 20% tahun depan.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis investasi di sektor industri manufaktur akan meningkat signifikan dalam lima tahun ke depan. Hal ini seiring implementasi kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) serta Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menargetkan investasi sektor manufaktur bisa meningkat hingga dua kali lipat dalam lima tahun ke depan. Oleh karena itu, pihaknya mengajak BUMN dan BUMD serta kementerian dan lembaga (K/L) gencar meningkatkan penggunaan produk lokal.

"Dengan efektivitas program-program P3DN bahwa investasi di sektor industri manufaktur itu akan meningkat dua kali lipat dalam lima tahun ke depan. Tentu kami sangat membutuhkan dukungan dari semua kementerian, lembaga, BUMN, maupun BUMD," ujar Agus dalam Business Matching di Kemenperin, Jakarta Selatan, Senin (15/12/2025).

Pertumbuhan sektor manufaktur Indonesia sebesar 5,58 persen (yoy) pada kuartal III-2025 menunjukkan momentum yang kuat. Namun peningkatan produktivitas perlu diimbangi dengan standar keselamatan dan ketahanan operasional yang lebih tinggi.
 
Hal ini membuat Synergy Solusi Group (SSG), mitra solusi di bidang Kesehatan, Keselamatan, Keamanan, Lingkungan, Energi, dan Keberlanjutan (Health, Safety, Security, Environment & Energy/Sustainability-HSSEE), memperluas perannya di Manufacturing Indonesia 2025 yang berlangsung pada 3–6 Desember di JIExpo Kemayoran.
 
Tahun ini, SSG hadir sebagai strategic partner Pamerindo Indonesia untuk menghadirkan ekosistem One Stop HSSEE Solutions bagi lebih dari 39 ribu pengunjung industri yang diperkirakan hadir.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut bahwa Indonesia mencatat capaian penting di sektor manufaktur global. Hal ini terlihat dari capaian Manufacturing Value Added (MVA) yang dirilis Bank Dunia dengan nilai MVA Indonesia tembus US$ 265,07 miliar atau Rp 4.400 triliun (kurs Rp 16.600).

Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-13 dunia, melampaui rata-rata MVA global yang hanya US$ 78,73 miliar. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, MVA merupakan salah satu cara mengukur kinerja manufaktur sebuah negara.

"MVA yang dicatat oleh Indonesia itu pada tahun 2024 tercatat US$ 265 miliar, jauh di atas rata-rata MVA yang dicatat oleh dunia yang hanya US$ 78,73 miliar. Dan angka ini memposisikan Indonesia pada tingkat atau peringkat ke-13 global," sebut Agus dalam agenda Business Matching 2025 di Kemenperin, Jakarta Selatan, Senin (15/12/2025).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memacu penyelesaian nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) mengenai kerja sama industri antara Indonesia dan Rusia. Langkah ini dilakukan melalui Indonesia–Russia Business Forum dan Business Matching yang berlangsung di Moscow, Rusia.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melakukan kunjungan kerja ke Rusia pada Senin (8/12/2025) untuk menghadiri agenda tersebut. Menperin juga menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Industri dan Perdagangan Federasi Rusia, Anton Alikhanov.

Agus menyampaikan kerja sama industri antara Indonesia dan Rusia memasuki babak baru yang lebih konkret dan terarah. "Berbagai topik bilateral telah kami bicarakan seperti penguatan kerja sama pada industri manufaktur, halal, teknologi nirawak, dan lainnya. Penandatanganan serta finalisasi MoU ini menjadi landasan penting untuk memperluas kolaborasi teknologi, riset, dan penguatan daya saing industri nasional,” kata Agus dalam rilis yang disiarkan pada Selasa (9/12/2025).