Para pelaku industri dalam negeri masih melaporkan tingkat optimisme yang cukup tinggi terhadap kondisi iklim usaha di Indonesia, meskipun di tengah dampak kontraksi perekonomian nasional. Namun demikian, aktivitas manufaktur ini diyakini akan semakin bergeliat apabila ada kebijakan pro-industri untuk perlindungan industri dalam negeri, apalagi peluang permintaan pasar domestik yang begitu besar.  Tekanan persepsi akibat dinamika perang tarif juga sudah mulai dirasakan oleh beberapa industri dalam negeri terutama yang berorientasi ekspor pada negara-negara yang sedang perang dagang.

Optimisme pelaku industri Indonesia tersebut tercemin dari laporan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Maret 2025 yang masih berada di level ekspansi, dengan berada di angka 52,98. Tetapi capaian ini mengalami perlambatan 0,17 poin dibandingkan Februari 2025 atau melambat 0,07 poin dibandingkan dengan Maret tahun lalu.

Pemerintah berencana melakukan deregulasi perizinan investasi di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) guna meningkatkan daya saing industri serta menarik lebih banyak investor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa sektor padat karya ini memiliki peran penting dalam perekonomian nasional.

“Sektor padat karya yang terutama tekstil, produk tekstil, kemudian juga apparel itu kontribusi terhadap ekonomi Indonesia besar karena ekspor lebih dari US$2 miliar, tenaga kerjanya hampir 4 juta orang,” ujar Airlangga di Kantor Presiden, Rabu (19/3/2025).

Menurutnya, di tengah potensi itu, masih terdapat hambatan dalam perizinan yang perlu disederhanakan untuk menarik investor ke sektor tekstil.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indonesia baru memiliki 33 pabrik modul surya (solar photovoltaic/PV) dengan kapasitas tahunan sebesar 4,3 gigawatt (GW) dan kapasitas per modul surya sebesar 720 Watt Peak.

Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kemenperin, Solehan, mengatakan pemerintah terus mendorong investasi pada energi baru terbarukan (EBT), salah satunya industri sel surya dan modul surya, dalam upaya mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060.

Solehan mengatakan, pasar untuk produk modul surya mulai tumbuh dengan pesat, antara lain dari pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baik ground mounted maupun floating, dan tumbuhnya permintaan dari PLTS atap (solar rooftop) baik dari sektor rumah tangga, komersial, maupun industri.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) sepanjang 2024. Pertumbuhan ini sejalan dengan perkembangan realisasi investasi yang dicatatkan sektor mamin.

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, realisasi investasi sektor mamin mencapai Rp 110,57 triliun pada 2024. Capaian ini menandai minat investor terhadap industri mamin dalam negeri.

"Investasi sektor industri makanan dan minuman masih bertumbuh dan diminati oleh para investor. Hal ini terlihat dari perkembangan realisasi investasi di sektor Industri makanan dan minuman yang mencapai Rp 110,57 triliun pada tahun 2024," kata Faisol dalam sambutannya pada pembukaan Bazar Ramadan 2025 di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Selasa (18/3/2025).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menggelar Silaturahmi Nasional Kawasan Industri 2025. Mengusung tema “Peningkatan Daya Saing Kawasan Industri untuk Memacu Pertumbuhan Ekonomi 8%”, kegiatan ini menegaskan peran penting kawasan industri dalam mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi, agar sejalan dengan visi pemerintahan Presiden Prabowo untuk membawa Indonesia keluar dari middle-income trap.

“Saat ini, kita memiliki 168 kawasan industri yang beroperasi. Kita perlu memastikan daya saing dan investasi terus meningkat agar dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029,” kata Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dalam sambutannya di Jakarta, Selasa (18/3). Wamenperin juga menegaskan bahwa kawasan industri bukan sekedar lokasi industri, tetapi juga sebagai pusat ekosistem industrialisasi yang mendorong produktivitas nasional.

Kinerja ekspor industri pengolahan atau industri manufaktur di Indonesia mengalami kenaikan per Februari 2025, di tengah maraknya isu pemutusan hubungan kerja (PHK) para buruh atau kelas pekerja di Tanah Air.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, nilai ekspor industri manufaktur per Februari 2025 senilai US$ 17,65 miliar atau naik 29,56% dibanding bulan yang sama pada tahun lalu, dan dibanding Januari 2025 naik 3,17%.

"Komoditas yang mendorong kenaikan ekspor sektor industri pengolahan pada Februari 2025 secara month to month adalah minyak kelapa sawit meningkat 47,57%, mesin untuk keperluan umum yang meningkat 105%, dan juga barang perhiasan atau barang berharga yang meningkat 14,83%," kata Amalia saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (17/3/2025).

Amalia mengatakan, bila dikaitkan dengan permasalahan tenaga kerja di sektor industri itu, perlu dikaitkan dengan data-data yang tercakup di dalam Survei Angkatan Kerja Nasional atau Sakernas.