Kinerja industri pengolahan nonmigas yang tumbuh sekitar 5,15% pada 2025 dinilai masih mencerminkan daya tahan sektor manufaktur di tengah tekanan global. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ariyo DP Irhamna mengatakan laju tersebut belum cukup kuat untuk mendorong akselerasi pertumbuhan tanpa pembenahan struktural, terutama dari sisi biaya produksi dan daya saing industri. 

Menurutnya, meskipun manufaktur tetap menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan pangsa sekitar 19%, kualitas pertumbuhannya masih menghadapi sejumlah keterbatasan. 

“Manufaktur kita tetap ekspansif, tetapi ruang untuk melompat lebih tinggi cukup terbatas kalau persoalan strukturalnya belum dibenahi,” ujar Ariyo kepada Bisnis, Kamis (12/2/2026).

Ia menjelaskan, selama konsumsi rumah tangga masih mampu tumbuh di kisaran 5% dan investasi tetap terjaga, sektor manufaktur akan terus bergerak positif. Namun, tanpa perbaikan menyeluruh, pertumbuhan tersebut cenderung stabil dan moderat, bukan melaju cepat seperti yang dibutuhkan untuk mendorong transformasi ekonomi. 

Salah satu kendala utama, lanjutnya, berasal dari tingginya biaya logistik dan energi yang masih membebani pelaku industri. Struktur ongkos produksi di Indonesia dinilai belum cukup kompetitif dibandingkan sejumlah negara pesaing di kawasan, sehingga membatasi ruang ekspansi industri, khususnya untuk pasar ekspor.

Selain itu, produktivitas tenaga kerja juga masih menjadi tantangan besar. Ariyo menilai peningkatan keterampilan dan adopsi teknologi di tingkat industri belum merata, sehingga efisiensi produksi belum optimal. 

“Tanpa lonjakan produktivitas, sulit bagi industri kita untuk bersaing hanya mengandalkan pasar domestik,” tuturnya. 

Dari sisi inovasi, persoalan tidak hanya berhenti pada penelitian dan pengembangan, tetapi juga pada tahap komersialisasi. Banyak hasil riset dalam negeri belum sepenuhnya terhubung dengan kebutuhan industri, sehingga belum memberi dampak signifikan terhadap peningkatan nilai tambah manufaktur. 

Di tengah fragmentasi rantai pasok global, Indonesia juga menghadapi tekanan dari melambatnya permintaan dunia. Kondisi ini membuat peluang ekspor tidak sekuat beberapa tahun lalu, sehingga manufaktur domestik perlu mengandalkan penguatan pasar dalam negeri sekaligus peningkatan efisiensi untuk menjaga daya saing. 

Untuk itu, Ariyo menilai reformasi kebijakan menjadi kunci agar sektor ini tidak hanya tumbuh secara nominal, tetapi juga semakin berkualitas. Kepastian regulasi, penyederhanaan perizinan, serta kebijakan yang konsisten dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor dan mendorong ekspansi industri jangka panjang. 

Di sisi lain, dukungan pembiayaan untuk adopsi teknologi juga perlu diperluas, terutama bagi pelaku industri skala menengah. Modernisasi mesin dan proses produksi diyakini dapat memangkas biaya sekaligus meningkatkan kualitas produk agar lebih kompetitif di pasar global. 

“Kalau pembenahan struktural ini tidak dilakukan, manufaktur kita akan tetap tumbuh, tetapi sulit benar-benar tancap gas,” ujarnya. Menurut dia, reformasi biaya produksi dan peningkatan produktivitas menjadi prasyarat utama agar sektor manufaktur dapat berperan lebih besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com