Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan nonmigas atau manufaktur tumbuh 5,15% (year-on-year/yoy) pada 2025. 

Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi sejak pandemi Covid-19 dan di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11% yoy. Selain itu, industri pengolahan juga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada 2025. 

“Jika dilihat dari sumber pertumbuhan ekonomi secara kumulatif tahun 2025, dari sisi lapangan usaha terlihat industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,07%. Angka ini merupakan yang tertinggi selama 4 tahun terakhir,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam rilis berita resmi statistik pada hari ini, Kamis (5/2/2026).

BPS mencatat bahwa pertumbuhan industri pengolahan didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri.

Amalia lantas memerinci bahwa industri makanan dan minuman tumbuh 6,39% didukung oleh peningkatan produksi beras, minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya, serta terjaganya kapasitas produksi industri makanan. 

Pertumbuhan industri pengolahan juga didorong oleh industri logam dasar yang tumbuh 15,71%, sejalan dengan tingginya permintaan luar negeri, terutama untuk komoditas logam dasar besi, baja, dan mulia.

Selain itu, juga ditopang oleh industri kimia, farmasi dan obat tradisional yang tumbuh 8,35%. Amalia menuturkan, pertumbuhan ini didorong seiring dengan permintaan domestik pada komoditas kimia dasar dan produk farmasi pada segmen obat dan produk kesehatan lainnya.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com