Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, industri pengolahan kembali mendominasi dalam kinerja ekonomi nasional sepanjang 2025. BPS mencatat, industri pengolahan menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap PDB nasional sebesar 19,07%.
Pertumbuhan sektor manufaktur selama tiga tahun terakhir positif dan stabil, dari 4,64% di 2023, turun tipis ke 4,43% di 2024, dan naik signifikan menjadi 5,30% di 2025.
Selain itu, dia menilai, sumbangan manufaktur secara konsisten jadi yang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi dibanding sektor lainnya, dari 0,95% di 2023, turun tipis ke 0,90% di 2024, dan lanjut naik menjadi 1,07% di 2025.
“Industri pengolahan tidak hanya menjadi kontributor terbesar, tapi juga mendominasi pertumbuhan ekonomi nasional dibanding sektor lainnya,” katanya melalui keterangan tertulis, Jakarta, Kamis (5/2).
Dia melanjutkan, pertumbuhan itu juga terlihat dari kinerja ekspor industri pengolahan yang persisten tumbuh dari 1,73% di 2023, melonjak ke 6,85% di 2024, dan meningkat lagi menjadi 7,03% di 2025.
Sementara itu, pertumbuhan impor barang dan jasa melambat dari kontraksi 1,24% di 2023, meningkat 8,15% di 2024, dan terkoreksi menjadi 4,77% di 2025. Menurutnya, kenaikan ekspor dan penurunan impor industri pengolahan merupakan bukti penguatan struktur industri pengolahan nasional.
”Jadi berdasarkan data BPS ini, terjadi kenaikan ekspor dan penurunan tren impor dalam tiga tahun terakhir, hal ini membuktikan bahwa penguatan struktur industri nasional sudah terjadi,” jelasnya.
Integrasi Rantai Pasok Industri Kecil-Besar
Agus menekankan, pihaknya berkomitmen memperkuat integrasi industri kecil dalam rantai pasok industri besar dalam negeri untuk menjaga kelanjutan pertumbuhan industri pengolahan 2026, sekaligus meningkatkan pemerataan ekonomi nasional.
”Sesuai arahan Bapak Presiden untuk memperkuat industri kecil, kami akan meningkatkan integrasi industri kecil ke dalam rantai pasok industri nasional. Hal ini tidak saja untuk memperkuat kemandirian industri dalam negeri, tapi juga pemerataan ekonomi nasional,” ujarnya.
Ia menyebut, arah kebijakan pemberdayaan industri kecil ke dalam rantai pasok industri sejalan dengan Asta Cita, khususnya berkaitan dengan penguatan manufaktur nasional sebagai motor pertumbuhan ekonomi, peningkatan nilai tambah sumber daya dalam negeri, penciptaan lapangan kerja berkualitas, serta penguatan kemandirian dan daya saing bangsa.
“Dalam konteks ini, sektor industri pengolahan ditempatkan sebagai penggerak utama transformasi ekonomi menuju struktur ekonomi yang lebih produktif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam kesempatan sama, Menperin juga mengklaim, kontribusi besar manufaktur terhadap PDB nasional 2025 hingga 19,07% membuktikan industri pengolahan tanah air tidak mengalami deindustrialisasi di tengah dinamika global yang menantang.
“Kami juga menyampaikan apresiasi kepada pelaku dalam ekosistem industri yang terus menjaga optimisme untuk terus berproduksi. Publikasi BPS atas pertumbuhan ekonomi nasional membuktikan bahwa industri pengolahan tidak mengalami deindustrialisasi, apalagi deindustrialisasi dini,” pungkasnya.
Sumber: https://www.validnews.id




