Pemberian insentif bagi industri ma­nufaktur dengan skenario lokalisasi bisa berdampak lebih besar pada ekonomi dibandingkan skema tanpa komponen lokal. Pasalnya, kebijakan tersebut mampu memperkuat rantai pasok domestik dan menciptakan nilai tambah di dalam ne­geri. 

Namun, efektivitas ke­bijakan ini mensyaratkan pengawasan ketat agar komponen lokal benar-be­nar diproduksi di Indone­sia, bukan sekadar impor yang diberi label lokal. Tan­pa kontrol tersebut, insentif berisiko kehilangan tujuan strategisnya dan hanya menjadi subsidi tanpa efek industrialisasi yang nyata.

Pengajar Fakultas Eko­nomi dan Bisnis (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menilai pemberian insentif bagi industri manufaktur dapat mendorong pertum­buhan ekonomi secara le­bih berkelanjutan karena sektor ini berpotensi be­sar menciptakan lapangan kerja, terutama pada indus­tri padat karya. Menurut­nya, insentif sebaiknya ti­dak hanya difokuskan pada industri otomotif, tetapi juga mencakup sektor ma­nufaktur lainnya, dengan penekanan pada penggu­naan komponen lokal.

Skema insentif berba­sis lokalisasi dinilai me­miliki dampak ekonomi yang lebih besar, asalkan komponen lokal tersebut benar-benar diproduksi di dalam negeri, bukan se­kadar impor yang dilabeli sebagai buatan Indonesia. “Ke depan penguasaan tek­nologi dan pengembangan research and development (R&D) harus didorong un­tuk bisa menghasilkan pro­duk lokal yang kompetitif,” ungkap Esther kepada Ko­ran Jakarta, Senin (12/1).

Sektor manufaktur men­jadi tulang punggung per­ekonomian Indonesia de­ngan kontribusi sekitar 18-19 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB). Industri pengolahan juga menjadi penyumbang ter­besar ekspor nasional, yak­ni sekitar 74,3 persen pada 2024 serta menarik inves­tasi sekitar 42,1 persen dari total penanaman modal pada 2024.

Sebelumnya, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Eko­nomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menilai insentif otomotif berbasis lokalisasi kompo­nen memberikan dampak ekonomi lebih kuat diban­dingkan skenario baseline, dengan potensi tambahan PDB sekitar 4 triliun rupiah pada 2026 hingga 21 triliun rupiah pada 2030 serta pen­ciptaan puluhan ribu la­pangan kerja.

Dosen Magister Eko­nomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko menga­takan, lokalisasi kompo­nen atau perluasan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) jelas akan mening­katkan kegiatan produksi di sektor otomotif dan tentu saja peningkatan penyerap­an tenaga kerja dan penda­patan nasional. Namun, dia memperingatkan persoalan kualitas dan quality control serta kompatibel nya kom­ponen terhadap industri besarnya.

“Oleh karena itu konsep lokalisasi komponen ha­rus dalam perspektif jangka panjang,” ucap Suhartoko, Senin (12/1).

Sumber: https://koran-jakarta.com/