MENTERI Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai kinerja sektor manufaktur nasional sepanjang 2025 berada pada level cukup baik, bahkan mencatat capaian historis dengan pertumbuhan yang melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Agus mengatakan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas (IPNM) tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sejak triwulan II hingga triwulan III-2025. Kondisi tersebut menjadi yang pertama kali terjadi dalam 14 tahun terakhir.

“Ini pertama kalinya dalam 14 tahun sejarah Republik, pertumbuhan manufaktur bisa berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Dan memang seharusnya seperti itu,” kata Agus dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.

Ia menegaskan pemerintah selama ini mendorong agar sektor manufaktur menjadi motor penggerak ekonomi, bukan justru tertarik oleh pertumbuhan ekonomi secara umum.

Pada triwulan III-2025, pertumbuhan IPNM tercatat sebesar 5,58 persen secara tahunan (year on year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,04 persen. Agus optimistis pada triwulan IV-2025, pertumbuhan IPNM tetap berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional, menunggu rilis resmi data Badan Pusat Statistik (BPS).

Dari sisi kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), IPNM tetap terjaga pada level tinggi. Pada triwulan III-2025, kontribusi IPNM mencapai 17,39 persen atau senilai Rp 1.053,56 triliun berdasarkan harga berlaku. Sementara berdasarkan harga konstan, kontribusinya berada di kisaran 18,70 persen atau setara Rp 644,17 triliun.

Kinerja ekspor manufaktur juga menunjukkan penguatan. Secara kumulatif pada periode Januari–November 2025, ekspor IPNM tercatat sebesar US$ 205,93 miliar, atau sekitar 80,27 persen dari total ekspor nasional. Neraca perdagangan IPNM mencatat surplus sebesar US$ 35,95 miliar.

“Ini mencerminkan penguatan daya saing produk manufaktur Indonesia di pasar global,” ujar Agus.

Dari sisi investasi, sepanjang triwulan I hingga III-2025, realisasi investasi di sektor IPNM mencapai Rp 552 triliun, atau sekitar 38,5 persen dari total investasi nasional yang sebesar Rp 1.434 triliun.

Sementara itu, jumlah tenaga kerja di sektor IPNM hingga Agustus 2025 mencapai 20,26 juta orang, setara 13,83 persen dari total tenaga kerja nasional yang berjumlah 146,54 juta orang.

Tingkat utilisasi industri manufaktur pada periode Januari–November 2025 tercatat sebesar 61,89 persen. Agus menilai angka tersebut menunjukkan masih besarnya ruang ekspansi industri nasional untuk mengoptimalkan kapasitas produksi.

Kondisi tersebut sejalan dengan tingkat optimisme pelaku industri yang masih terjaga, meski mulai menunjukkan moderasi di akhir tahun. Agus mengungkapkan, berdasarkan survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang akan dirilis dalam waktu dekat, IKI Januari 2026 mengalami kenaikan cukup tinggi dibandingkan Desember 2025 yang berada di level 51,9.

“Artinya optimisme pelaku industri masih sangat baik,” kata Agus. 

Adapun dari sisi Manufacturing Value Added (MVA), Agus menyebut pada 2024 nilai MVA Indonesia mencapai US$ 265,07 miliar, jauh melampaui rata-rata MVA dunia yang berada di kisaran US$78,73 miliar.

Sumber: https://www.tempo.co