Industri manufaktur nasional ditargetkan dapat tumbuh 6,89% pada 2026. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi 2024 sebesar 4,75% dan proyeksi 2025 yang mencapai 5,93%. 

Target kinerja tersebut tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025-2029 melalui Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 41 Tahun 2025. 

Dalam Renstra tersebut, target laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas tahun ini cukup agresif jika dibandingkan dengan realisasi kinerja yang stagnan dalam beberapa tahun terakhir. 

Bahkan, secara historis, laju pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas tak pernah melampaui capaian pada 2011 yang tembus 7,46%. Dalam 1 dekade, rata-rata pertumbuhannya hanya tumbuh di kisaran 4%-5%.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), data realisasi pertumbuhan industri pengolahan nonmigas secara kumulatif hingga triwulan III/2025 mencapai 5,17%. Angka ini pulih dari periode yang sama tahun sebelumnya 4,71%.

Di samping itu, dokumen tersebut juga mengungkap bahwa kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap PDB nasional masih terjebak di angka 17,32% yang menjadi baseline 2024.

Laporan dari BPS menunjukkan sektor industri pengolahan masih menjadi penggerak utama ekonomi kuartal II/2025. Adapun, sumbangsihnya terhadap PDB mencapai 18,67% (year-on-year/yoy). 

Jika dilihat secara tahunan, capaian kuartal kedua tahun ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya, yakni 18,52% yoy pada kuartal II/2024 dan 18,25% pada kuartal II/2023. Angka tersebut terus tumbuh sejak terperosok ke level 17,84% yoy pada 2022. 

Sayangnya, kontribusi manufaktur periode baru ini masih cenderung stagnan, bergeming jika dibandingkan sedekade lalu atau kuartal II/2015 yang mampu tembus ke angka 20,91% yoy. 

Angka ini menunjukkan peran manufaktur yang masih melambat dan sulit menembus angka psikologis 20% seperti yang dinikmati Indonesia pada masa lalu. 

Pemerintah memang menargetkan rasio industri terhadap PDB merangkak naik ke level 18,17% pada 2025 dan 18,66% pada 2026. Namun, terdapat tantangan di mana sektor-sektor kunci yang seharusnya menjadi motor penggerak justru mengalami kontraksi sejak 2024. 

Misalnya, industri alat angkutan tercatat anjlok hingga minus 2,10%, sementara industri mesin dan perlengkapan juga terkoreksi minus 0,42%. 

Di sisi lain, dalam dokumen tersebut menunjukkan bahwa fondasi untuk mencapai pertumbuhan 6,89% pada 2026 masih rapuh akibat tingginya ketergantungan impor bahan baku. 

Dalam renstra perindustrian terbaru disebut rasio impor bahan baku tertentu masih sangat dominan, yang membuat struktur biaya industri nasional rentan terhadap gejolak nilai tukar dan gangguan rantai pasok global. Tanpa substitusi impor yang masif, target pertumbuhan tinggi tersebut berisiko terhambat oleh beban biaya produksi.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com