Dahulu kala di kastel nan jauh di tengah hutan, ada tiga remaja yang hidup bersama karena jati diri mereka dirampas oleh Penyihir Bayangan.

Anak lelaki yang terjebak di dalam kotak berkata, “Kita harus menemukan kembali jati diri kita agar tak bertengkar dan hidup bahagia.”

Mereka menaiki mobil kemah untuk mencari jati diri mereka.

Di perjalanan mereka bertemu Ibu Rubah yang sedang menangis di ladang yang dipenuhi salju.

Anak lelaki yang selau memakai topeng menanyakan Ibu Rubah, “Kenapa kau terus menangis?”

Ibu Rubah menjawab, “Aku kehilangan anak di ladang salju ini. Saat menggendongnya di punggungku, aku terlalu sibuk mencari makan.”

Melihat Ibu Rubah terus menangis, sambil memukul-mukul dadanya, anak lelaki pun mulai mengeluarkan air mata yang hangat.

Setelah beberapa lama salju meleleh dan mereka berhasil menemukan anak rubah yang membeku tertimpa salju.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan, dan bertemu dengan badut yang menari tanpa busana di ladang bunga berduri.

Tong Kosong bertanya pada badut itu, “Kenapa kau menari dengan segenap hati di ladang yang penuh duri?”

Badut itu menjawab, “Dengan begini orang-orang akan memperhatikanku.”

Namun orang-orang tetap tidak memperhatikannya. Itu hanya membuatnya kesakitan.

Lalu tong kosong memasuki ladang bunga berduri dan mulai menari bersama sang badut.

“Karena aku adalah tong kosong, tertusuk duri tak membuatku terluka.”

Sesaat setelah Tong Kosong mulai berlari dan menari, terdengar suara yang sangat nyaring dari dalam tubuhnya.

Orang-orang mulai berkumpul setelah mendengar suara itu, lalu menonton mereka menari sambil bertepuk tangan.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan untuk mencari jati diri yang hilang.

Di perjalan, Penyihir Bayangan yang jahat muncul di hadapan mereka.

Lalu dia menculik Anak Bertopeng yang mengeluarkan air mata untuk Ibu Rubah dan Tong Kosong yang menari bersama badut.

“Mulai sekarang kalian tak bisa hidup bahagia,”

Setelah dikutuk, mereka dikurung dalam goa yang gelap.

Anak Kotak menemukan mereka usai beberapa hari. Namun dia tak bisa masuk goa karena pintu masuknya terlalu sempit.

“Bagaimana ini? Jika ingin masuk ke dalam goa, aku harus melepaskan kotak ini.”

Pada saat itu, dari dalam goa terdengar suara anak Bertopeng. “Pergilah yang jauh, jangan mencemaskan kami. Penyihir bayangan akan kembali.”

Namun, Anak Kotak dengan berani melepaskan kotak yang digunakannya dan bergegas memasuki goa yang gelap itu untuk menyelamatkan Anak Bertopeng dan Tong Kosong.

Setelah keluar dari goa, Anak Bertopeng dan Tong Kosong melihat wajah Anak Kotak yang dipenuhi lumpur dan tertawa terbahak-bahak.

Mereka terus tertawa. Topeng milik Anak Bertopeng jatuh setelah dia tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.

Tong kosong yang membebani putri itu juga ikut terjatuh.

Melihat mereka berdua menemukan jati dirinya, anak lelaki yang melepas kotaknya berkata,

“Aku bahagia.”

    Apa yang dirampas oleh Penyihir Jahat bukan jati diri mereka yang sesungguhnya. tapi keberanian untuk mencari kebahagiaan.

Sumber: https://iphincow.com