Kementerian Perindustrian memacu industri pulp dan kertas untuk terus menggunakan teknologi terkini yang ramah lingkungan agar dapat menghasilkan inovasi berkelanjutan.

Demikian disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara.

"Sampai saat ini, sudah ada 84 perusahaan pulp dan kertas di Indonesia. Indonesia berada di peringkat ke-9 untuk produsen pulp terbesar di dunia serta posisi ke-6 untuk produsen kertas terbesar di dunia," kata Ngakan melalui keterangannya di Jakarta, Senin.

Kementerian Perindustrian menyebutkan pengembangan industri furnitur nasional berfokus pada moderenisasi dan masuknya investasi baru.

Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono menuturkan untuk industri furnitur, teknologi finishing dan desain jadi perhatian untuk dikembangkan. Upaya yang dilakukan di antaranya melalui mendorong modernisasi peralatan furnitur dan pengolahan kayu.

"ini sesuai dengan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) Tahun 2015-2035," kata Sigit, Sabtu (3/11/2018).

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) menargetkan pertumbuhan 8%-9% untuk industri makanan dan minuman (mamin) hingga pengujung tahun ini.

Ketua Gapmmi Adhi S. Lukman menjelaskan perkiraan tersebut jumlahnya cenderung sama dengan nilai pertumbuhan mamin pada 2017 yang sebesar 9,23%.

Pertumbuhan tahun ini didorong beberapa faktor seperti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bisa dipertahankan di atas 5% serta pertumbuhan penduduk tiap tahunnya hingga 4 juta jiwa. Selain itu, faktor perubahan gaya hidup, terutama di perkotaan, turut mendorong kenaikan.

Negeri Ginseng semakin menancapkan investasi ke Indonesia. Setidaknya beberapa sektor diminati, seperti petrokimia dan alas kaki.

Lotte Group misalnya, secara global perusahaan tersebut diketahui siap menggelontorkan investasi senilai total US$ 44 miliar dalam lima tahun ke depan. Indonesia menjadi salah satu yang menjadi sasaran investasi Lotte Group, khususnya di bidang industri kimia.

Salah satu lini bisnisnya, Lotte Chemical Titan akan melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) untuk pembangunan pabrik yang memproduksi nafta cracker pada akhir tahun 2018 ini. Dengan nilai investasi yang rencananya mencapai US$ 3,5 miliar, pabrik ini diharapkan dapat mendukung pengurangan impor produk petrokimia hingga 60%.