Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menargetkan pertumbuhan industri kertas dapat tembus mencapai 10% (year-on-year/yoy) pada 2024.

Ketua Umum APKI Liana Bratasida mengatakan, optimisme pertumbuhan tersebut ditopang kinerja eskpor yang cemerlang. Hal ini dibuktikan dengan ekspor yang meningkat 12% pada 2023 dibandingkan tahun sebelumnya.

"Jika pemenuhan bahan baku terlaksana dengan semestinya tanpa ada hambatan, industrial pulp dan kertas optimistis dapat tumbuh pada kisaran 10% di tahun 2024," kata Liana kepada Bisnis, (22/2/2024).

Adapun, kontestasi politik pada 2024 menjadi momentum pertumbuhan dan perbaikan kinerja industri kertas yang sempat melambat pada akhir tahun 2022.

Pertumbuhan kinerja industri kertas sempat melambat pada kuartal IV/2022, setelah mencetak rekor pertumbuhan tertinggi pascapandemi sebesar 6,58% pada kuartal III/2023.

Liana memproyeksi pertumbuhan permintaan kertas selama Pemilu 2024 dapat meningkat, didorong oleh kebutuhan material kampanye dan pemenangan. Bahkan, dia melihat permintaan kertas pada Pemilu 2024 akan lebih tinggi dibandingkan Pemilu 2019.

"Aktivitas kampanye yang meningkat ini diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan ini, menjadikan tahun politik sebagai peluang bagi industri kertas," pungkasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri kertas dan barang dari kertas tumbuh 4,52% yoy pada 2023, meningkat dari tahun sebelumnya dengan pertumbuhan 3,73%.

Untuk dapat mewujudkan target tersebut, pengusaha industri pulp dan kertas berharap kesiapan pemerintah menangani proses perizinan impor bahan baku yang belum tersedia di dalam negeri.

Adapun, kebutuhan impor garam industri bagi industri pulp dan kertas, yakni sebesar 725.000 ton pada tahun 2024. Liana menyebutkan, PI untuk garam industri baru saja diterbitkan baru-baru ini.

Namun, dia menyebut ada keterlambatan penerbitan PI selama 1,5 bulan dari jadwal semestinya. Padahal, stok garam industri disebut mulai menipis untuk produksi.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com