Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menetapkan target rasio kontribusi industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 18,66 persen pada tahun 2026. “Target ini menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok di atas 8 persen sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto,” kata Agus di kompleks parlemen, Jakarta, Senin, 7 Juli 2025.

Selain meningkatkan kontribusi manufaktur terhadap PDB, ia juga menargetkan pertumbuhan PDB sektor manufaktur 6,52 persen pada 2026. Kemudigan investasi di sektor manufaktur diharapkan mencapai Rp852,9 triliun dengan produktivitas tenaga kerja mencapai 129,3 juta orang per tahun. 

Selain itu, sektor manufaktur juga ditargetkan berkontribusi sebesar 74,85 persen terhadap total ekspor nasional. Untuk mewujudkan target tersebut, Agus menekankan perlunya dukungan anggaran yang memadai sesuai prioritas kebutuhan.

Sektor manufaktur Asean menunjukkan kontraksi pada akhir semester I/2025. Bahkan, disinyalir tren pelemahan akan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya seiring dengan penerapan kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. 

Laporan S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index™ (PMI) manufaktur Asean tercatat di bawah 50,0 selama 3 bulan berturut-turut. Pada Juni 2025, PMI manufaktur Asean berada di angka 48,6, turun dari 49,2 pada bulan Mei 2025. 

Ekonom S&P Global Market Intelligence Maryam Baluch mengatakan, sektor manufaktur Asean mengakhiri semester pertama tahun ini dengan catatan kurang baik, indeks headline turun ke posisi terendah dalam 46 bulan. 

Kondisi ini tak lain dipicu indeks produksi yang terus mengalami kontraksi, serta pesanan baru, aktivitas pembelian, dan ketenagakerjaan yang turun tajam.

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Indonesia pada Juni 2025 masih berada dalam fase ekspansi dengan capaian sebesar 51,84. Meskipun sedikit lebih rendah dibanding bulan Mei 2025 (52,11) dan periode Juni tahun lalu (52,50), kinerja ini memperlihatkan ketangguhan sektor manufaktur nasional dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan persaingan dipasar domestik.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, menyampaikan bahwa pelemahan IKI dipicu oleh penurunan variabel produksi yang menurun ke 46,64, sementara variabel pesanan justru naik signifikan ke 54,21. Hal ini mencerminkan kehati-hatian pelaku industri dalam merespons kenaikan permintaan melalui produk yang telah diproduksi sebelumnya. “Meski ada perlambatan, 18 dari 23 subsektor masih berada di zona ekspansi, dan 18 subsektor yang ekspasi tersebut berkontribusi sebesar 92,2% terhadap PDB industri nonmigas triwulan I-2025. Jadi, industri manufaktur Indonesia masih ekspansif pada bulan Juni 2025 disebabkan karena 18 subsektor yg kontribusi PDB besar berada pada fase ekspansif,” jelas Febri.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan industri manufaktur dalam negeri tetap ekspansif di tengah perang tarif dan eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah antara Iran dan Israel.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif di Jakarta, Senin, menyatakan hal itu tercermin dari rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada bulan Juni yang tetap berada di fase ekspansif yakni di angka 51,84 poin.

Angka ini mengalami sedikit perlambatan sebesar 0,27 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 52,11, dan melambat 0,66 poin dibandingkan Juni tahun lalu yang sebesar 52,50.

Meskipun demikian, sektor manufaktur nasional masih menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Meskipun nilai IKI melemah, sektor manufaktur kita tetap resilien dengan 18 dari 23 subsektor tercatat ekspansi, menyumbang 92,2 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas triwulan I-2025,” ujar dia.

Industri manufaktur dinilai masih memiliki peluang untuk tumbuh positif ditengah bayang-bayang tekanan kebijakan tarif Trump hingga kondisi geopolitik. 

Kendati tak dipungkiri, purchasing managers index (PMI) manufaktur pada Mei 2025 kembali terkontraksi di level 46,9 atau turun dari bulan sebelumnya 47,4. Kontraksi indeks produktivitas ini menurun sejak 3 bulan terakhir. 

Ekonom Senior Indef, Tauhid Ahmad menilai laju kontraksi produktivitas industri manufaktur tiga bulan beruntun disebabkan kondisi industri dan pasar dalam negeri yang tidak kondusif. 

"PMI kita dalam tiga bulan terakir dibawah 50 artinya industri ini menggambarkan domestiknya punya problem yang jauh lebih besar dibandingkan kondisi eksternal," kata Tauhid dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun Indef 2025, Rabu (2/7/2025).

Kementerian Perindustrian terus berupaya untuk menjaga ketersediaan garam industri dalam mendukung aktivitas produksi di sektor industri pulp dan kertas. Melalui upaya ini, diharapkan kinerja industri pulp dan kertas akan semakin berkontribusi signfikan bagi perekonomian nasional.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika menjelaskan, garam industri digunakan dalam Chlor-Alkali CAP untuk memproduksi klorin, natrium hidroksida (NaOH), dan hidrogen melalui proses elektrolisis larutan garam. “Produk-produk kimia dasar ini merupakan bagian penting dalam proses pemutihan, pemecahan serat kayu, pengendalian pH, hingga pembentukan produk akhir dalam industri pulp dan kertas,” kata Putu dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (25/6).

Berdasarkan data bulan Februari 2025, industri pulp dan kertas di Indonesia mencatatkan nilai ekspor sebesar USD8,09 miliar. Rinciannya, industri pulp menyumbang USD3,56 miliar, sementara industri kertas mencapai USD 4,44 miliar.