Kementerian Perindustrian menanggapi kritik dari ekonom mengenai pertumbuhan industri pada triwulan II tahun 2025 yang dirilis oleh BPS tidak sejalan dengan hasil PMI manufaktur Indonesia yang dilansir oleh S&P Global. Menurut Kemenperin, kinerja gemilang sektor industri pada triwulan II-2025 sudah sesuai dengan sejumlah data dan indikator yang valid seperti laporan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) dan Prompt Manufacturing Index-Bank Indonesia (PMI BI) serta capaian investasi dan ekspor sektor industri.

“Bahwa angka pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan industri manufaktur yang dirilis oleh BPS sudah akurat. Hal ini tervalidasi melalui hasil IKI Kemenperin dan PMI BI (Bank Indonesia) yang menyatakan bahwa industri manufaktur selama kuarta II 2025 selalu di atas level 50 atau berada dalam fase ekspansif. Beberapa indikator lainnya, pada belanja modal investasi sektor manufaktur juga naik,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief di Jakarta, Rabu (6/8).

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2025 naik ke 52,89, meningkat 1,05 poin dibandingkan capaian Juni 2025 (51,84). Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan capaian ini mencerminkan sektor industri tetap berada di jalur ekspansi, di tengah tekanan global dan perlambatan ekonomi di negara mitra dagang utama seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, Jepang, dan Tiongkok.

Juru bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif menyebut peningkatan IKI Juli 2025 didorong oleh peningkatan seluruh variabel pembentuk indeks. Indeks pesanan naik jadi 54,40 (naik 0,19 poin), indeks persediaan mencapai 54,99 (naik 1,29 poin), dan indeks produksi mencapai 48,99 (naik 2,35 poin), meski masih berada di bawah ambang ekspansi.

"Kenaikan variabel pesanan mencerminkan adanya peningkatan permintaan, baik di luar negeri maupun di pasar domestik, yang didukung oleh kebijakan pro-industri seperti Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2025 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

Sektor industri pengolahan atau manufaktur tetap menjadi tulang punggung dan motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia melihat capaian pada triwulan II 2025.

Pada periode ini, sektor manufaktur mencatatkan pertumbuhan mencapai 5,68 persen (year-on-year), melampaui capaian pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,12 persen. 

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa pertumbuhan industri pengolahan mengalami lonjakan signifikan dibandingkan periode sebelumnya. 

“Jika kita bandingkan, pertumbuhan pada triwulan II 2025 ini jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2025 sebesar 4,55 persen, bahkan jauh lebih tinggi dari triwulan II tahun lalu sebesar 3,95 persen,” ungkapnya, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Rabu (6/8).

Gaya hidup sehat kini bukan sekadar pilihan, melainkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tren masyarakat saat ini. Akhirnya, semakin banyak individu yang menyadari pentingnya menjaga kebugaran tubuh, yang turut mendorong permintaan terhadap produk-produk pendukung aktivitas fisik tersebut.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus meningkatkan potensi dan peluang bagi sub sektor industri yang bergerak di bidang produksi pakaian olahraga, sepatu olahraga, alat olahraga, sepeda, dan aksesorisnya serta makanan dan minuman sehat. Salah satu upaya untuk memacu pengembangan dan perluasan akses pasar bagi sektor-sektor industri tersebut, Kemenperin menggelar Pameran Merdeka Fest 2025 di Plaza Pameran Industri, Gedung Kemenperin, Jakarta pada 29 Juli – 1 Agustus 2025.

“Pameran Merdeka Fest tidak hanya menjadi ajang promosi produk-produk unggulan IKM dalam negeri, tetapi telah berkembang menjadi platform strategis yang menyatukan semangat nasionalisme, inovasi industri, dan gaya hidup sehat,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sambutannya pada pembukaan Pameran Merdeka Fest 2025 di Jakarta, Selasa (29/7).

Industri makanan dan minuman (Mamin) berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, industri tersebut berkontribusi 7,2% terhadap PDB nasional.

"Industri makanan dan minuman adalah sektor strategis yang berperan penting dalam menopang perekonomian nasional. Berdasarkan data BPS, kontribusi sektor ini pada Triwulan I 2025 mencapai 41,15% terhadap PDB Industri Non-Migas, serta 7,2% terhadap PDB nasional," katanya dalam pembukaan Business Matching Speciality Indonesia 2025 di Gedung Kemenperin, Jakarta, Senin (4/8/2025).

Periode Januari hingga April 2025, industri makanan dan minuman mencatatkan ekspor sebesar US$ 14,66 miliar atau Rp 239,95 triliun (kurs Rp 16.300). Sementara itu, angka impor tercatat berada di angka US$ 4,23 miliar atau Rp 68,94 triliun.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat ada 1.641 perusahaan yang sedang membangun fasilitas produksi baru dengan nilai investasi mencapai Rp 803,2 triliun. Hal ini terjadi pada semester I 2025 berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).

Tenaga kerja yang terserap pada industri baru dibangun tersebut diperkirakan mencapai 3,05 juta orang. Menurut Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, angka ini jelas jauh lebih besar dari jumlah PHK yang disampaikan oleh Kementerian lain ataupun asosiasi pengusaha.

Febri memang membantah tudingan yang menyebut bahwa badai PHK masih terjadi di sektor industri manufaktur. Menurutnya, isu PHK harus dilihat secara proporsional, didukung data yang akurat dan analisis serta penjelasan lebih komprehensif.