Industri makanan dan minuman diproyeksi tumbuh di atas 5 persen sepanjang 2021.

Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kementerian Perindustrian, Supriadi optimistis target tersebut dapat tercapai. Pasalnya, makanan dan minuman merupakan sektor prioritas yang diproyeksi akan pulih dengan cepat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal II/2021, industri makanan dan minuman tumbuh 2,95 persen secara year-on-year, naik dari 2,45 persen pada triwulan sebelumnya. Sementara itu secara quarter-to-quarter industri ini tumbuh 2,37 persen.

"Saya masih tetap optimis pertumbuhan industri mamin tahun ini bisa mencapai [pertumbuhan] di atas 5 persen, karena industri ini merupakan industri yang menjadi andalan pertumbuhan dan yang diharapkan dapat recovery lebih cepat," katanya kepada Bisnis, Senin (6/9/2021).

Supriadi menyebut untuk pulih dengan cepat dari pandemi pemerintah telah memberikan insentif bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP) untuk impor bahan baku seperti kentang, jagung, susu, dan lain-lain. Upaya ini diharapkan dapat menjaga stabilitas kinerja industri makanan dan minuman di masa pandemi.

Sementara itu, Supriadi memandang dampak fluktuasi harga crude palm oil (CPO) sepanjang tahun ini tidak terlalu berdampak signifikan terhadap kinerja industri. Menurutnya, permintaan industri hilir seperti biskuit, susu, kopi, olahan ikan, daging, dan sebagainya, dapat menutupi dampak kenaikan harga CPO.

"Kami lebih fokus pada upaya-upaya recovery industri mamin hilir yang permintaannya semakin meningkat," ujarnya.

Hal yang sama diungkapkan Yuni Gunawan, Corporate Secretary PT Mayora Indah Tbk. (MYOR). Menurutnya, kenaikan harga CPO tidak memberi tekanan secara langsung terhadap ongkos produksi perseroan.

Hal ini terutama karena dalam produksinya Mayora menggunakan minyak kelapa yang biasanya harganya mengikuti CPO.

"Kami tidak menggunakan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku. Untuk periode kali ini, harga coconut oil ikut naik, meskipun tidak setinggi kelapa sawit," kata Yuni.

Dia melanjutkan, kenaikan harga tersebut hanya salah satu bagian dari biaya material sehingga tidak signifikan memengaruhi kinerja yang tahun ini ditarget tumbuh 10 persen.

Adapun sepanjang paruh pertama tahun ini, MYOR membukukan penjualan bersih sebanyak Rp13,15 triliun, naik 18,68 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2020 sebesar Rp 11,08 triliun.

Pada periode yang sama, penjualan ekspor Mayora naik sebesar 28,85 persen menjadi Rp5,41 triliun. Perusahaan mencatat porsi ekspor dari total pendapatan mencapai 41,14 persen.

Pembatasan wilayah yang masih melanda sejumlah negara di Asia, yang merupakan tujuan utama ekspor Mayora, dinilai tak akan mengganjal kinerja pengapalan emiten berkode MYOR ini.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com