Investor asal Taiwan disebut mulai melirik peluang pembangunan basis produksi chip di Indonesia. Pengembangan industri tersebut dinilai terbuka dalam 10 tahun ke depan, seiring percepatan pembangunan ekosistem industri baterai nasional. 

Executive Director CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan sejumlah investor Taiwan telah datang untuk meminta masukan terkait peluang masuk dan membangun basis produksi chip di Indonesia. 

“Dari beberapa yang saya temui, terutama salah satu yang cukup antusias adalah investor dari Taiwan. Mereka sering datang untuk minta advice kaitannya untuk masuk membangun basis produksi chip yang ada Indonesia,” kata Faisal dalam acara MediaMIND 2026 bertema “Hilirisasi Nikel dan Optimasi Nilai Tambah dalam Negeri” yang digelar secara daring, Senin (14/9/2026). 

Meski demikian, Faisal mengaku belum mengetahui sejauh mana tindak lanjut dari ketertarikan investor tersebut. Menurutnya, peluang pengembangan industri chip di Indonesia cukup besar apabila didukung kepastian pasar dan minat investasi yang berkelanjutan.

“Sangat memungkinkan menurut saya dalam 10 tahun ke depan, kuncinya cuma satu kalau pasar sudah jelas dan investor sudah mulai lirik-lirik,” ujarnya. 

Faisal menilai perkembangan industri baterai nasional yang berjalan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya menjadi sinyal positif bagi pengembangan industri chip. Dia mengatakan, pembangunan industri dari sektor hulu hingga hilir membutuhkan konsistensi kebijakan pemerintah.

“Kalau kita melihat dari benchmarking yang baterai sudah lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Kuncinya pemerintah punya appetite yang sama untuk industri ini. Sebagaimana turunan daripada nikel ke baterai, karena ini butuh konsistensi,” katanya. 

Di sisi lain, President Director Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif mengatakan gangguan pasokan chip dunia telah diperhitungkan dalam proyeksi pengembangan ekosistem baterai untuk 10 tahun ke depan. 

Menurut Aditya, dampak gangguan chip tidak secara langsung berada pada baterai, melainkan lebih berkaitan dengan sistem pengelolaan baterai atau Battery Management System (BMS). Sistem tersebut berperan dalam mengatur dan memantau kinerja baterai. 

“Kalau chip dampaknya bukan ke baterainya, lebih ke BMS. Jadi dampaknya terhadap adopsi keseluruhan. Tapi itu punya dampak langsung terhadap baterainya sendiri,” jelasnya. 

Aditya menambahkan bahwa ketergantungan terhadap satu penyedia chip mulai terdiversifikasi. Selain itu, sumber pasokan bahan baku juga mulai berkembang sehingga risiko gangguan pasokan dinilai masih dapat diatasi. 

“Kita melihat ke depan terkait dengan chip ini, ketergantungan terhadap satu provider saja sudah mulai terdiversifikasi sekarang. Pasokan bahan baku juga sudah mulai ada bibit-bibit baru yang tumbuh. Jadi kita lihat ke depan kans tersebut bisa di-overcome cukup besar,” tuturnya.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com