Aktivitas industri terutama di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau, seperti Banten dan Jawa Barat terpantau masih berjalan normal. Meski demikian, perusahaan mulai memperketat prosedur keselamatan kerja, khususnya bagi pekerja yang beraktivitas di luar ruangan dan area yang berpotensi terpapar abu vulkanik. 

Sejak Minggu (6/9/2026), abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau tersebar ke sejumlah wilayah, khususnya Jakarta, Banten, Lampung, Jawa Barat, Bengkulu, serta perairan Samudra Hindia. Kondisi ini bahkan mengakibatkan 8 bandar udara ditutup sementara hingga pukul 18.00 WIB, Senin (7/9/2026). 

Meski demikian, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefinm Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono mengatakan, aktivitas operasional dan distribusi industri sejauh ini masih berjalan aman. Menurutnya, kondisi pabrik terutama yang berada di sekitar Cilegon juga masih terkendali.

Akan tetapi, perusahaan meningkatkan perlindungan bagi pekerja yang melakukan aktivitas di luar ruangan. “Kebetulan pabrik di sekitar Cilegon aman dan untuk pekerja di luar ruangan diwajibkan tambah APD berupa masker,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (7/9/2026).

Hal serupa disampaikan, PT Chandra Asri Pacific Tbk. atau Chandra Asri Group. Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group Suryandi mengatakan, perusahaan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi di sekitar wilayah operasional. 

"Keselamatan karyawan dan masyarakat di sekitar wilayah operasional merupakan prioritas kami. Sejalan dengan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, kami terus memperkuat pemantauan dan kesiapsiagaan di lapangan,” tuturnya saat dikonfirmasi Bisnis.

Menurutnya, kegiatan produksi, pengelolaan fasilitas dan infrastruktur, hingga aktivitas logistik dan distribusi masih berlangsung. Perusahaan juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Cilegon dan pemangku kepentingan terkait untuk memantau perkembangan situasi. 

“Hingga saat ini, kegiatan operasional kami tetap berjalan aman dengan berbagai langkah pencegahan dan prosedur tanggap darurat yang telah disiapkan," sebut Suryandi. 

Chandra Asri, katanya secara berkala memonitor informasi dari otoritas berwenang, termasuk laporan harian BMKG mengenai aktivitas gunung dan potensi sebaran abu vulkanik. Perusahaan juga memantau ketinggian air laut di area jetty sebagai bagian dari langkah kesiapsiagaan. 

Selain itu, perusahaan memeriksa kecukupan peralatan tanggap darurat dan melakukan simulasi untuk berbagai skenario, termasuk prosedur penghentian operasional fasilitas secara cepat apabila kondisi mengharuskan. 

Di area operasional, pemantauan kondisi debu atau abu vulkanik dilakukan melalui pemeriksaan rutin dan patroli lapangan. Karyawan juga diimbau menggunakan masker sesuai dengan kondisi di lapangan. 

Suryandi menyebut, Chandra Asri turut memastikan pembersihan filter dilakukan secara rutin serta menjaga ketersediaan filter dan suku cadang kritis untuk mendukung kesiapan fasilitas. 

“Perusahaan akan terus memantau kondisi dan menyesuaikan langkah kesiapsiagaan sesuai dengan perkembangan situasi dengan tetap memprioritaskan keselamatan karyawan, masyarakat dan keberlangsungan opersional,” sebutnya. 

Dari sektor industri baja, Sekretaris Jenderal Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan aktivitas operasional masih berjalan normal meski area perusahaan telah terdampak abu vulkanik. 

Harry mengatakan sejumlah langkah dilakukan untuk menjaga keselamatan pekerja, termasuk pembersihan area dan pengukuran debu menggunakan High Volume Air Sampler (HVAS). 

"Kita mengimbau keselamatan utama. Semua di luar harus bermasker dan kalau pekerja memang pakai masker selalu di dalam pabrik. Kita jaga karyawan semua jangan kena efek pernapasannya," tegasnya. 

IISIA juga terus memantau informasi dari pemerintah mengenai aktivitas maupun sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. 

Industri Konveksi Perketat Produksi dan Pengemasan 
Sementara itu, pelaku industri konveksi juga menyatakan aktivitas produksi masih berlangsung normal. Namun, langkah pengamanan diperketat untuk mencegah abu vulkanik masuk dan menempel pada produk yang sedang diproses. 

Ketua Umum Ikatan pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) Nandi Herdiaman menyampaikan, pekerja tetap diarahkan menggunakan masker selama melakukan aktivitas produksi. "Sampai saat ini aktivitas konveksi masih berjalan normal," kata Nandi. 

Menurutnya, perhatian khusus diberikan pada ruang produksi yang tidak menggunakan pendingin udara. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan potensi abu masuk ke dalam ruangan dan menempel pada pakaian yang sedang diproduksi. 

Oleh karena itu, perusahaan berupaya memperketat perlindungan di area produksi dan membuat ruangan tidak berpendingin udara lebih tertutup untuk mengurangi potensi masuknya abu. 

"IKM lebih diperketat, packingan atau produksi yang dikhawatirkan abu masuk ke pakaian. Kalau tidak hati-hati, takutnya menjadi masalah ketika produk dipasarkan,” tuturnya. 

Waspada Gangguan Berlangsung Lama 
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mewaspadai gangguan rantai pasok industri manufaktur akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, terutama jika gangguan transportasi dan logistik berlangsung dalam beberapa hari. 

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Erwin Aksa mengatakan, industri yang menerapkan sistem just-in-time dan memiliki persediaan bahan baku atau komponen terbatas akan lebih cepat terdampak. "Untuk industri manufaktur, yang perlu diwaspadai adalah apabila gangguan berlangsung cukup lama,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, dampak yang paling nyata saat ini berada pada mobilitas, penerbangan, dan rantai logistik. Pembatasan atau penutupan operasional bandara dapat menyebabkan keterlambatan pengiriman barang, perubahan jadwal produksi dan perjalanan bisnis, serta menambah biaya akibat pengalihan rute. 

Erwin mengatakan gangguan logistik yang berlangsung lebih lama berpotensi menimbulkan backlog dan meningkatkan biaya tambahan yang kemudian memengaruhi rantai pasok industri. 

"Apabila gangguan dapat segera teratasi, dampaknya kemungkinan masih dapat dikelola. Tetapi jika berlangsung berhari-hari atau meluas, backlog logistik dan biaya tambahan akan semakin besar dan mulai memengaruhi rantai pasok industri," tuturnya. 

Selain gangguan logistik, perusahaan di wilayah yang terkena paparan abu secara langsung perlu mengantisipasi dampak terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja. Abu vulkanik juga berpotensi mengganggu mesin, sistem ventilasi, kendaraan, dan fasilitas produksi. 

Hingga saat ini, Kadin belum memiliki data teragregasi mengenai besaran kerugian dunia usaha ataupun kenaikan biaya logistik secara nasional. Erwin menyebut, pihaknya masih memantau perkembangan dan berkomunikasi dengan pelaku usaha serta Kadin daerah. 

Dari sisi operasional, Erwin meminta perusahaan mengaktifkan business continuity plan dengan memetakan stok bahan baku kritis, menambah safety stock bila diperlukan, serta menyiapkan pemasok dan jalur pengiriman alternatif. 

Perusahaan juga perlu berkomunikasi lebih awal dengan pemasok dan pelanggan apabila terdapat potensi keterlambatan agar gangguan tidak meluas ke seluruh rantai produksi. 

Kadin pun berharap pemerintah dan seluruh otoritas terkait terus memberikan informasi yang cepat dan terkoordinasi mengenai kondisi penerbangan, transportasi dan wilayah terdampak. 

“Dalam situasi seperti ini, keselamatan harus menjadi prioritas, tetapi kontinuitas rantai pasok juga harus dijaga agar gangguan sementara tidak berkembang menjadi gangguan produksi yang lebih luas,” pungkas Erwin.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com/